Hasil tes ini dapat dipercaya sehingga data UNAS bisa dijadikan sebagai baseline data. Proyek pun juga mengembangkam tes awal.
Proyek penelitian 5 tahun ini berupaya mengatasi permasalahan nyata di lapangan.
Tadinya proyek ini di arahkan utk membantu guru khususnya yg siswanya akan ikut Unas.
Namun, ternyata ditemukan bahwa ini akan sulit dilakukan karena gap banyak ditimbulkan dari kelemahan pembelajaran di tingkat sebelumnya.
Jadi jika semacam pipa dari Kelas 7 hingga kelas 12, pipanya bocor sejak di kelas 7. Tentu tidak mungkin kita menutup kebocoran ini hanya di Kelas 12.
Nah, di sinilah pentingnya para peneliti melakukan identifikasi masalah dan mencari solusi.
Ternyata peneliti pun tdk segera dapat menentukan solusi dg cepat dan akurat.
Tadinya mungkin dilihat bahwa masalah ini ada di Kelas 12, tapi setelah melalui pengkajian (melalui tes guru, interview guru, pengamatan langsung di kelas), ternyata baru ketahuan ada kebocoran pipa di Kelas lainnya.
Temuan baru ini yg menjadi acuan dalam memikirkan solusi.
Hal lain misalnya, kita tdk bs terlalu menyalahkan guru ini karena ternyata di masa apartheid dulu, para guru ini umumnya kulit hitam, umumnya hidup di lingkungan yg terbatas, dan menjadi guru terpaksa, atau hanya karena tdk punya uang untuk meniti karir lainnya.
Bisa dibayangkan kan bagaimana kompleksnya.
Prof Adler selalu mengatakan bahwa tidak ada cara sederhana utk menyelesaikan permasalahan ini.
Namun dengan proyek 5 tahun yg melibatkan sekitar 10 tim peneliti yg umumnya mahasiswa S3, 2 postdoc, master students, di tambah mendatangkan sejumlah ahli pend mat internasional dari UK, Australia, Amerika, Belanda, diharapkan dalam 5 tahun, dapat terjadi perubahan yg signifikan.
Prof Adler mengatakan, beginilah kerja peneliti. Bukan untuk membahagiakan pemberi dana atau pengambil kebijakan, namun utk benar2 mengkaji permasalahan dan mengatasinya secara rasional.
Saya menikmati jalannya diskusi setiap minggu, di mana para peserta selalu bersifat kritis. Jika dikatakan bahwa ada perubahan pada guru, tentu menjadi pertanyaan sejauh mana data mendukung.
Proyek penelitian ini sangat menantang. Khususnya jika kita sdh berhadapan dg masalah kritis di sekolah, misal kedisiplinan (siswa diberi buku cetak dan gratis) tapi tdk di bawa ke sekolah, banyak siswa terlambat masuk kelas, atau masalah management kepala sekolah.
Saya benar-benar merasakan apa sebenarnya penelitian itu.
Tentu ini membutuhkan staf khusus.
Utk proyek ini, pimpinan tertinggi adalah Prof. Jill Adler dan saya hanya membantu beliau sambil saya ditraining berbagai aspek penelitian. Setelah itu ada manager data yg juga sekaligus peneliti. Ada staf finance sekaligus admin, dan satu lagi staf admin yg mengurusi banyak hal, termasuk seluruh perlengkapan, komunikasi dg guru, masalah konsumsi dll.
Manajernya sendiri diputuskan untuk dikontrak 100%, artinya beliau tdk mengajar tapi sepenuhnya di proyek dan membimbing S2 dan S1 saja.
Bisa dibayangkan fokus penelitian ini.
Memang sangat sibuk tetapi semua tahu, apa yg harus dilakukan dari hari ke hari.
Prof Adler akan terus mengirim undangan meeting pada setiap orang, contoh, minggu lalu saya diundang meeting dg agenda mendiskusikan hasil review saya pada artikel internasional yg tdk saya ketahui namanya, serta undangan utk pemberian feedback pada Draft artikel sy. Demikian seterusnya. Dalam seminggu, beliau meskipun Professor hanya mengajar 3 jam, dan selainnya super sibuk dg berbagai meeting dg bimbingannya.
Hal yg paling saya senangi adalah perjuangannya utk mewujudkan pendidikan yg lebih baik bagi pihak yg lemah, terbelakang.
Di Afsel ini, banyak sekali sekolah yg bagus, namun masih didominasi oleh orang kulit putih dan orang India. Kata dia, lingkungan mereka membuatnya bahwa mereka butuh belajar. Tanpa susah payah pun kita minta mereka, mereka atau pun keluarganya sdh lumayan mendukungnya.
Tapi bagi mereka yg di masa apartheid itu termasuk kelompok disadvantaged atau terbelakang, melibatkan mereka utk belajar adalah hal yg tdk sederhana.
Demikianlah sekilas pentingnya suatu penelitian sebagai solusi utk membawa perubahan, utk memahami permasalahan sesungguhnya, mengatasi permasalahan nyata di lapangan.
Seharian sy &teman menganalisis buku catatan siswa dr 2 sekolah tsb & menunjukkan guru mengajar hanya25% & 50% dari isi kurikulum. Contoh& soal-soal lumayan bervariasi tp sedikit yg menuntut siswa berfikir tingkat tinggi. Jenis feedback sangat minimal, hanya centang atau kali (B/S). Pertanyaan serius, lantas bagaimana membantu sekolah mrk agar mengalami perubahan?
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment