From: Nomonde Mda
Sent: 13 December 2011 02:04 PM
To: Sitti Patahuddin
Subject: webpage for email.
https://email.wits.ac.za/exchweb/bin/auth/owalogon.asp?url=https://email.wits.ac.za/exchange&reason=0
This is as a space for writing any ideas. These may not brilliant ideas but it may be helpful for myself in many ways
From: Nomonde Mda
Sent: 13 December 2011 02:04 PM
To: Sitti Patahuddin
Subject: webpage for email.
https://email.wits.ac.za/exchweb/bin/auth/owalogon.asp?url=https://email.wits.ac.za/exchange&reason=0
Halo Murni, apa kabar sayang?
Beberapa hari ini saya kepikiran Murni. Trus saya pikir, saya lebih baik sarankan Murni untuk membaca catatan-catatan saya di FB. Banyak yang bilang catatan itu bisa menginspirasi.
Saya berharap Murni bisa sukses ke depan. Kami hanya bisa menyiapkan fasilitas atau kesempatan bagimu. Tapi kunci sukses ada pada kemauan Murni dalam belajar. Ini tergantung pada sikap Murni, tanggung jawab, menghargai waktu, sering evaluasi diri.
Harus ingat, Murni sudah besar. Kami tak mungkin memonitormu. Murni harus belajar memonitor diri sendiri. Bukan lagi saatnya contoh kecil yang dulu terjadi, meja setrika yang sangat berdebu padahal sering dipakai. Jadi Murni harus punya rasa memiliki. Apapun yang ada di rumah, sudah seperti milik sendiri.
Ingat juga, Ayah Fika mengorbankan banyak waktunya demi kita semua, bahkan sekarang beliau yang jemput adik-adikmu. Saya pun di sini kerja keras siang dan malam.
Inilah perjuangan. Yang utama, kita harus bersandar pada-Nya karena Dia adalah saksi terbaik apakah kita melakukan yang terbaik setiap saat dalam hidup kita. Jangan lupa untuk selalu berdoa diberi kemudahan dalam segala urusan. Diridhai oleh Allah atas segala usaha dan kebaikan kita. Harus ikhlas dalam proses perjuangan.
Satu pesan penting saya dan sangat penting. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Manfaatkan fasilitas apa yang ada untuk belajar. Misalnya, akses Internet yang tersedia. Ini kesempatan luas untuk belajar apa saja. Internet menyediakan apa saja saja, hal-hal yang baik tapi juga sampah. Internet bisa membuat kita tambah bodoh (misalnya hanya copy paste, hanya sekedar chatting & FB yang kurang memberi pencerahan, dll) tapi bisa membuat kita cerdas (asal mau mengoptimalkan daya pikir dan daya nalar, dan punya strategi). Sekali lagi kuncinya pada kemauan Murni untuk belajar.
Fasilitas bahkan bisa tidak berarti apa-apa. Misalnya, di rumah, banyak sekali buku-buku bahasa Inggris. Di internet banyak sekali sumber belajar. Nah bagaimana kemajuan bahasa Inggris Murni. Saya juga dulu tidak bisa bahasa Inggris, tapi di belakang pintu, di mana-mana saya tempel kata-kata bahasa Inggris hingga saya bisa menghafalnya. Ini hanya contoh saja bahwa ada kemauan ada jalan.
Nah, persaingan ke depan sangat rumit, sehingga jadilah mahasiswa yang bisa mengatur waktu, punya strategi belajar. Misal, HP, itu bisa buang waktu (jika seperti anak muda lainnya sms melulu atau chatting melulu). Promosi yang mereka siapkan sms gratis hanya untuk kepentingan marketing tapi bisa merugikan kita kecuali jika kita dewasa memanfaatkannya. Jadi harus berusaha mawas diri ya. Karena tantangan yang saya hadapi sangat beda dengan tantangan yang Murni hadapi, jadi saya sama sekali tidak bisa memberi resep tetapi hanya prinsip-prinsip umum saja.
Gitu dulu ya Nak Murni. Semoga manfaat.
Insya Allah tidak lama lagi saya pulang. Duuuuuuuuh benar-benar mau pulaaaaang. Rasanya sudah lelah banget, tetapi saya tetap berusaha manfaatin waktu tersisa di sini. Hanya Allah yang tahu segala perjuangan kita. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dalam kehidupan, dan itu salah satu motivasi saya membangun network lewat FB.
Listen to http://vimeo.com/21687973
Beberapa hal penting:
70% jurnal ditolak (mungkin tidak dikirim ke reviewer). Oleh karena itu kita harus tahu dan yakin bahwa yang kita tulis itu sesuai dengan jurnal.
Hal lain yang bermanfaat dilakukan oleh peneliti atau penulis baru adalah menulis reviu dari suatu buku.
Jika kita mengirim ke jurnal yang tidak cocok, maka itu berarti mungkin kita akan merugi waktu hingga 6 bulan.
Perlu juga merefer ke artikel dari jurnal yang kita tuju karena akan memberi kesan bahwa kita familiar dengan jurnal mereka, juga akan meningkatkan impact factor mereka.
Abstrak harus bagus betul demikian juga judulnya.
Pokoknya harus mengikuti style yang mereka tentukan.
10 alasan penolakan:
1. Tidak sesuai dg skop jurnal
2. Bukan jurnal
3. Terlalu panjang/pendek
4. Melanggar konvensi
5. Poor English
6. No new contribution
7. Tidak konteks
8. Poor theoretical framework
9. ,,,
10. rude
Yah, begitulah kemudahan interkasi sekarangJ
http://chatvibes.com/downloader.php?f=VRL
Let me focus on fraction:
- what have we known:
# the internet has a potential to enhance maths learning due to .... (Ref)
# the responses of students in using the Internet in maths learning were positive such as fun (Ref), interactive (Ref) .....
For those case, the language of websites was the same as learners' language. The exploration on how non-native English learners benefited from the availability of English maths websites has not been the focus of the study.
This paper is going to present a case from Indonesian context where teachers and learners in "RSBI school" were advocated by the new policy to learn maths in English where English was not their first or second language. In this situation, the researchers worked together with teachers to design fraction lesson using the Internet. There were 12 students selected to join the maths teaching experiments by teachers. They were Grade 7 students who were struggled with fraction based on the diagnostic test and the justification of maths classroom teachers. These learners actually have learned fraction since Grade 4 - 6 but in Indonesian language. By involving these learners into teaching using math english website, we expected that this would help them with the math english vocab as well as helping them in understanding the maths ideas.
Despite the positive responses of teachers to this learning using websites and new experiences for them as well as the positive responses of learners and engagement physically, we need to analyse these phenomena. Several critical issues were emerged in the teaching experiments. First, by observing the pizza representation of a/b and b/c, a,b,c,d are consecutive whole number, some learners conclude the 5/6 and 6/7 are the same. The observed what displayed on the screen were similar, and they certainly could not verify their conclusion because it was pictures on the screen.
Here the affordances of the websites that it could represents the fraction easily and quickly compared if we have to cut a circle model. However, in comparing, some critical problem could happened.
Another issue to discuss is the language factors. Students stated that the language used in the selected websites were easier than in their textbook. The visualisation, and the colors made it special for them.
However, the math talk seemed were not optimal, because their limited English. To help the learners, the teachers then spoke English followed by Indonesian translation and this became lack of flaw.
This study was just a new experiences for teachers and learners. If they must learn maths using English while they were still learning English, this seems another solution to open access to math learning for students. In fact, teachers themselves found websites became a good learning tool for themselves, learning maths and English at the same time. Maths teachers admitted that they were not confident in teaching maths with English, and other resources are limited, Then this Internet is another promise as a solution in this context.
The maths language is actually different from daily language, means that we may understand some aspect of maths ideas without having adequate English. (This is particularly for teachers who have learn/teach math).
Sent from my BlackBerry® wireless device
Pura-pura email Prof. {ini hanyalah draft]
Dear Prof,
I have been spending timing reading the ICME study. I also read your writing “The dilemma of transparency: Seeing and seeing through talk in the mathematics classroom”. I enjoyed reading it.
There are two interesting have came into my mind.
First, I would like to open a discussion: Is the Internet as a solution or a new challenge for mathematics teaching in Indonesian context?
What I mean by “Indonesian context”
- Maths teachers have been facing a new demand as a result of the Goverment policy. Math and science teachers in particular were advocated to teach in English. Even though the learners who came to those schools were tested in English as an addition to National exams. In short, they must learn maths in English even though no students have an English background (non-English native).
- Another challeng is that they must have a good skill in ICT therefore, the goverment provide funding for ICT infrastructure, allowing students to have access to the Internet.
- In this situation, the availability English textbook is very limited. One textbook was available, is the translation of the Indonesian textbook and unfortunately, they contained some issues quality in content and language.
Here, I was thinking, despite my personal disagreement to this situations, I was concern about the limited access of students to mathematics. Maths learning itself is complex and even more complex when we demand them to use the lnaguage in which they are very limited.
Here, my study about the uses of the Internet as a tool for maths learning is relevant. As a result, I was proposing an idea how to make use the Internet as one solution to open access or to improve access to English maths for students in particular.
The proces to do this, we introduced teachers with mathematical websites.
[interesting, they could responded well, the language of maths is general in many ways/understandable even though you do not know English very well, since the representation of math in different context, however the challenge for them, what mathematical ideas do they want students understanding and how this website will helped the students.
The next step was discussing with teachers in designing the lesson plan, since they were the person who knows the situation at schools, the learners. However, the researchers visited the school to make sure that the infrastructure available to conduct the maths learning using the Internet.
The experiment were conducted for 3 days, and the teachers chose about 10 learners across 5 classes. The criteria was the learners who struggled in maths learning including the basic math such as fractions, while the learners were started to learn algebra.
We realise that they found it difficult in learning maths and and we certainly believed that this would bocome more complicated when they must learn from teachers who were not able communicating well maths in bilingual or in English.
During the experiments, there are several critical incidents need to be discussed. While teaching math using the Internet can enhance math learning of students (ref), in this situation, even though the lesson were designed carefully by both teachers and researchers, the visual representation of fraction were interpreted differently by the learners [described!]. This required the discussion. Here where the language seems constrain the rich discussion. Teachers (as advocated to teach in English or if not in bilingual) resulted No flowing.
The complexity of this learning .... Unfortunately, the policy didn’t followed by a valid research about how effective of the teaching math in bilingual. Despite some positive impact such as more people want to learn English, realise that English is one important tool to have access to knowlege or better education.
The second interesting case was the development of lesson plan in integrating the Internet.
We did experiment, where we were teachers.
This interesting in terms of the developing country context with that kind of policy.
In designing lesson, many things were antisipated such as:
- The nature of connectivity, instable
- The consideration of learners tendency to visit the website that not relevant for the math laerning in that day
- The challenge to involve learners in learning, not only clicking and make the teacher loose on what they were doing.
- Anticipation on the limitation of their English.
There were two lesson plans and they were exprimenting to the same group of learner. 6 learnet grouped into 2 groups. This paper will discusse the nature of the lesson and they were quite different mainly because of the nature of 2 different website that we included in the lesson plan. Interestingly the animation available constrainted students thinking or lead them to make limited generalisation and this was not a part of our lesson design.
Ya Allah, semoga bisa ketemu ide cemerlang
1. Perjelas dulu tujuan paper ini, yaitu membuka diskusi apakah Internet menjadi solusi atau tantangan baru dalam pembelajaran matematika ketika guru dihadapkan pada situasi:
a. Kebijakan RSBI yang mengharapkan pembelajaran matematika dilaksanakan menggunakan bahasa Inggris, di mana bahasa tersebut bukan bahasa sehari-hari dari guru dan siswa.
b. Sumber pembelajaran berupa teksbook berbahasa Inggris sangat terbatas, yang ada satu teksbook yang merupakan hasil terjemahan teksbook berbahasa Indonesia, yang isinya sendiri diakui mengandung kelemahan baik dari sisi bahasa maupun isi.
c. Pada saat yang sama, bagi sekolah-sekolah yang yang dilibatkan dalam RSBI atau mengembangkan dirinya sebagai RSBI di legitimasi dengan fasilitas yang tersedia, termasuk tersedia komputer dan akses internet, sehingga tidak jarang ditemukan siswa-siswa pada sekolah itu membawa laptopnya sendiri dan mempunyai akses Wifi di sekolah tersebut.
d. Dan hasil eksplorasi penulis, bahwa tak terhingga banyaknya resurces yang tersedia, termasuk yang berkualitas, dengan segala kelebihannya (ref)
e. Tuntutan lainnya bagi para guru Indonesia adalah adanya lesson plan yang secara tertulis dan sering diasosiakan dengan lesson plan dengan format yang ditentukan.
f. Dalam kompleksitas ini, penelitian penulis sangat relevan yang pemanfaatan internet untuk pembelajaran matematika, tetapi dalam konteks di mana pengguna dapat memahami bahasa Inggris karena sumber yang dimaksud dalam penelitian semuanya berbahasa inggris. Eksplorasi terhadap sumber-sumber belajar yang tersedia secara gratis sangat terbatas dengan kualitas yang rendah berdasarkan hasil eksplorasi 2004-2008.
2. Saya perlu menyajikan konteks studi ini seperti disebutkan di atas
3. Dengan demikian, muncul ide bagaimana menawarkan ini kepada guru seingga dengan keterbatasan bahasa yang mereka miliki khususnya keterbatasan dalam komunikasi bahasa Inggris, mereka tetap membuka akses yang luas pada pembelajaran matematika.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
Pengenalan website pada pada para guru-guru dengan cara sebagai berikut. [catatan bahwa bahasa matematika memang sifatnya general sehingga bagi guru yang belum menguasai sejumlah kosa kata bahasa inggris dapat mengikuti ide-ide mereka.
[deskripsikan secara singkat]
Merumuskan langkah-langkah pembelajaran, merancang lesson plan bersama guru-guru.
Deskripsi pelaksanaan pembelajaran
Diskusi pada hal-hal kritis
- Meskipun anak senang, terlibat aktif ketika belajar dengan internet
- Diskusi sulit terjadi, sulit disimpulkan apakah ini akibat dari bahasa atau kemampuan anak dalam mempersepsikan representasi itu yang keliru.
- Jika dikatakan bahwa dengan adanya multirepresentasi pada internet, tidak berarti secara otomatis dapat membantu guru karena dengan adanya kenyataan bahwa siswa membuat simpulan yang berbeda.
- Hal kritis ini membutuhkan komunikasi yang fluent.
Saya bisa menyajikan dua event, di mana penulis menjadi guru bagi tiga siswa, sedangkan moment kedua adalah penulis bersama guru mengembangkan lesson plan dan gurulah yang melaksanakannya.
Ide baru:
· Kasus penelitian Alhikmah bisa diangkat untuk paper ICME, dengan fokus, apa artinya mengintegrasikan internet dalam pembelajaran matematika dengan konteks RSBI, dimana banyak hal yang harus dipikirkan.
· Kasus penelitian Lamongan bisa diangkat untuk paper ICME yang mendiskusikan tentang apakah Internet sebagai solusi atau tantangan dalam konteks RSBI.
Yang menjadi pertanyaan, framework apa atau teori apa yang akan saya gunakan sebagai kacamata dalam melihat persoalan ini.
Apakah kacamata soal merancang pembelajaran matematika menggunakan Internet
Atau
Soal TPACK? Dst.
Satu hal yang wajib saya garis bawahi, bahwa menggunakan bahasa Ibu diakui adalah bahasa yang terbaik untuk mempelajari, tetapi memancing mereka atau mengkondisikan mereka untuk belajar bahasa Inggris dan memahaminya adalah pertimbangan yang beralasan karena tidak bisa dipungkiri, akses pada ilmu pengetahuan, kemajuan, sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang atau institusi (khususnya negara berkembang) yng berbeda dengan Jepang). Ketika mereka mencanangkan kompetisi di dunia Internasu=ional maka penguasaan bahasa Inggris menjadi keharusan dan ini sering diintervensi dari kepentingan politik (ini sih dungaan saya saja – kaitan kemana uang itu akan dialokasikan] Pendidikan yang berkualitas masih dikuasi oleh negara yang bukan bernahasa indonesia atau Malaysia.
Since the internet access was very limited in Indonesia in 2004, I decided to conduct my study in Australian primary school where access has been available. I eventually conducted an ethnography study to explore how could the Internet be optimised for teacher PD. I worked with a teacher who integrated, using it for professional learning and integrating it in her classroom in daily basis even though only two computers were connected to the Internet (See Patahuddin, 2006). I then worked with another primary school teacher who have much more well-resourced, with 4 computers in the classroom and all connected to the Internet with relatively fast connection. However this teacher had not used it, he even admitted that accessing Internet was time consuming. I ended working with him for 8 months using ethnographic intervention, meaning, promoting the Internet in a natural setting (See Patahuddin, 2008; 2010).
This research shows that ..... (Patahuddin, 2008)
Another question, what are then the implication of this study for Indonesian context.
Internet growth has been fast in many country (ref). This is also happened in Indonesia. Even though, it is difficult to have data about ..... But I can notice this from ...... My visting to several schools confirmed that many students ever access Internet even though the dominant I notices was chatting, facebook. They have as a part of ICT lesson. No learners used it for learning maths. Math teachers that I asked also did not know about it.
Anothet situation, a new policy ....
Even though I personally disagree with this, realising the complexity of math teaching and language could be a significant barriers (ref), the teachers at schools responded in many ways, such as seeking help for ... Designing lesson plan, focused on how to open the lesson, how to communicate, what were the English .... Many fact that were funny, e.g. In triabgle, the same feet as the translation of "sama kaki".
One criteria ..... The many training how to use the ICT, browsing, emailing,
So what Sitti.
Cerita menarik, tapi pelajaran apa yang Anda ingin sampaikan.
Apa kelanjutan ceritanya.
Sent from my BlackBerry® wireless device
[Curhat Part 2]
Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang terbaik buat hamba. Bantulah hamba dalam menemukan ide terbaik dalam presentasi ICME ini.
Bisakah saya bicara tentang kurikulum sekolah kaitan dengan internet?
Coba saya buka Endnote, dan baca artikel.
Let me quote this “To justify the expensive and time-consuming task of integrating technology into education, teachers must identify specific contributions that technology can and should make to an improved education system” (Roblyer & Edwards, 2000, p. 12).
Mengapa internet menjadi penting di Indonesia. Mengapa dalam konteks Indonesia dengan kebijakan pada RSBI menjadikan pentingnya mengekploitasi internet. Apakah ini menjadi solusi, atau apakah ini hanya bumbu dalam kehidupan mereka?
Teori apa yang bisa saya gunakan untuk menjelaskan fenomena yang ada di Indonesia saat ini?
Ok orang ini mengatakan bahwa mengintegrasikan teknologi mungkin menjadi mahal bahkan memerlukan waktu yang lebih panjang. Artinya apa? Jika internet ini pada akhirnya perlu dipilih, maka guru tentu harus melihat kontribusi teknologi kaitan dengan apa yang diajarkannya.
Ya Allah, saya benar-benar melihat bagaimana guru-guru itu kesulitan dalam memilih topik penelitian yang memungkinkan mereka mengintegrasikan teknologi akibat ketidaksesuaiannya dengan kurikulum.
Akhirnya, sekarang pukul 10.37. Saatnya tidur, tapi saya berakhir dengan sesuatu ketidakpastian. Saya akhirnya baca satu artikel tentang digital manipulatives. Mereka memulainya dengan menjelaskan peranan manipulatives, apa yang harus dilakukan agar manipulatives menjadi alat belajar efektif. Akhirnya penulis punya ide penelitian tindakan, namun yang dilaporkan di sini adalah hasil survey online pada para guru tentang penggunaan VM, yaitu tanggapannya. Lumayan menarik tulisan tersebut
So what is for me. NOT CLEAR
[Curhat Part 1]
Ya Allah, sebelum saya tidur, saya hanya ingin curhat. Bahwa saya benar-benar bingung sekarang tentang paper apa yang akan saya presentasikan pada ICME dan PME.
Coba sekarang saya hanya bicara soal ICME karena 7 hari lagi deadline. Sebelumnya, saya kira dengan adanya perpanjangan satu bulan maka saya bisa menyelesaikan paper saya. Tapi ternyata belum juga hingga sekarang.
Bahkan sekarang saya tidak perlu lagi berpikir tentang paper melainkan hanya abstrak dengan isi maksimum 500 kata. Rtinya satu halaman saja dengan spasi 1.
Hingga malam ini saya tidak jelas.
Dari tesis, saya sudah mempresentasikan beberapa hal yang menarik antara lain:
- Presentasi bagaimana Ann menggunakan internet untuk PDnya dan pengajaran matematika (MERGA di Canberra)
- Saya juga sudah presentasi tentang upaya-upaya yang telah saya lakukan dalam membantu jack memanfaatkan internet (Brunei)
- Saya juga sudah bicara tentang faktor penghambat dan pendukung pemanfaatan internet pada kasus Jack dan Ann – dengan menggunakan teori (MERGA Brisbane)
- Saya juga sudah bicara tentang tentang ethnography menggunakan framework 5cEPD (MERGA di Fremantle)
- Saya sudah bicara tentang apa ya saat di EARCOME Malaysia. Saya lupa.
- Saya akan bicara di SAARSMTE tentang integrated model ICT PD. Dan ini sudah saya kembangkan menjadi suatu paper dan telah saya kirim ke JRME. Alhamdulillah.
Nah sekarang saya mendapat peluang untuk berangkat ke ICME dan PME dengan pendanaan WMC. Tapi saya benar-benar bingung tentang apa yang akan saya presentasikan.
Saya tidak punya ide yang jelas.
Beberapa pikiran yang pernah muncul, yaitu:
- Saya ingin menunjukkan dua contoh kontras pemanfaatan internet oleh Jack dan Ann. Argumen apa yang akan saya ajukan di sini. Tidak jelas!!!!!
- Saya sering berfikir bahwa saya telah melakukan penelitian ICT di Indonesia dan telah memanfaatkan ICT dalam banyak hal sebagai contoh:
o Saat di SD Lab, ketika guru workshop dengan guru, kami pun mendapatkan ide-ide berbagi bagaimana memanfaatkan internet untuk pembelajaran matematika bagi siswa, untuk mereka memanfaatkan untuk membuat LKS dan seterusnya.
o Saat bersama guru-guru RSBI, saya telah mengenalkan mereka sejumlah website, dan bagaimana cara mengenalkannya?
o Saya juga sudah merancang suatu pembelajaran ICT dan mempraktekkannya dengan Alhikmah.
o Saya pun sudah bekerja dengan Bu Rini, Bu Sulasih dan guru-guru lainnya dalam penelitian memanfaatkan internet untuk pembelajaran.
Sekarang apa yang ingin saya katakan.
Apa sebenarnya yang paling menarik?
Saya ta mengerti.
Saya juga mempunyai pengalaman yang lumayan unik bagaimana menfasilitasi anak saya belajar dengan teknologi.
Apa sebenarnya yang layak saya ceritakan pada khalayak?
Apa sebenarnya yang urgen dari perjalanan saya dengan ICT.
Saya pribadi mempunyai pengalaman yang nyata, bagaimana saya mengekploitasi internet. Saya seperti Ann (pikiran saya begitu) memanfaatkan internet sehingga dalam keadaan sulit, saya punya banyak jalan. Dia adalah guru saya, teman saya, partner saya, dan saya bisa memecahkan banyak masalah dengan kehadirannya.
Hidup saya berbeda secara total saat keci dulu atau saat saya di sekolah, di mana saya hanya berharap belajar dari guru, mengetahui sesuatu dari guru.
Tapi kini, melalui internet, saya bisa mendapatkan banyak guru, yang bisa saya atur, yang bisa saya eksploitasi, yang bisa saya manfaatkan sesuai keinginan saya.
Lalu apa? Sebagai seorng PhD, pelajaran apa yang kini dapat saya bagi kepada khalayak.
Pelajaran apa yang kini dapat saya bagi kepada para peneliti.
Mengapa saya ingin menulis sesuatu dari tesis saya.
Satu alasan utama adalah bahwa saya ingin memanfaatkan yang telah ada.. Saya sudah punya tulisan. Saya tidak perlu menuliskan dari awal. Itu alasan utama saya. Karena menulis dari awal mungkin adalah suatu hal yang sulit apalagi bahasa Inggris bukanlah bahasa asli saya. Namun kadang-kadang saya berfikir bahwa jika pun saya mengambil kasus Indonesia, asal ide saya jelas, maka saya tetap akan mampu menuliskannya, khususnya jika ada yang bisa membantu saya dalam mereviu tulisan saya.
Ada juga sebenarnya hal yang menarik.
Yaitu bahwa saya berangkat dari konteks Indonesia. Saya meneliti saat Internet masih jarang di Indonesia. Pemicu utama untuk meneliti ini karena saya merasakan manfaatnya di tengah-tengah sulitnya akses. Saya pun meneliti di Australia, tapi saya terpaksa hanya mampu mengahukan pertanyaan tentang apa implikasi untuk Indonesia. Karena saat itu saya tidak mungkin melakukan penelitian internet yang aksesnya masih lambat dan saya tak mungkin meninggalkan keluarga saya di Australia (boyong keluarga bolak-balik ke Indonesia Australia).
Tapi ada pertanyaan yang saya ajukan, apa implikasinya?
Nah apa jawaban saya terhadap hal tersebut?
Apa kenyataan yang telah saya hadapi?
Okelah, saat saya pulang, internet pun mulai tumbuh kembang. Ada tuntutan baru bagi guru-guru di Indonesia untuk menggunakan ICT, untuk menyampaikan pengajaran matematika dalam bahasa Inggris. Ide ini tentu tidak sesuai dengan pikiran saya. Tapo polici bergulir. Apa yang dapat saya lakukan? Tindakan apa yang telah saya lakukan.
Sungguh ini adalah kenyataan yang menarik untuk saya cermati.
Tapi kemudian, apa yang bisa saya katakan pada mereka?
Apa artinya bagi mereka. Tentu saya tidak mungkin hanya asal bicara?
Ok, coba saya fokus pada apa yang telah saya lakukan di Indonesia.
- Wajah lingkungan saya sungguh berbeda.
- Saat sebelum saya meninggalkan kampus saya untuk studi di Australia (2004), belum ada satu pun dosen yang memnggunakan laptop. Kami hanya menggunakan komputer yang jumlahnya pun cukup terbatas. Apalagi mahasiswa saya.
- Sepulang saya dari Australia, wajah kampus berubah. Hampir semua dosen punya laptop. Laptop bukanlah barang langka. Bahkan mahasiswa juga banyak yang punya laptop, bahkan mereka pun sudah bisa mengakses internet di taman-taman. Suatu wajah yang sangat berbeda. Pada saat yang sama adanya kebijakan RSBI menyebabkan bahasa Inggris menjadi semakin penting, sehingga di Unesa pun di buka kelas RSBI, di mana mahasiswa diharapkan untuk presentasi dalam bahasa Inggris setidaknya presentasi bahasa Indonesia dengan slide dosen maupun mahasiswa dalam bahasa Inggris. Mahasiswa pun mengekploitasinya dengan sejumlah ancaman bagi saya, yaitu adanya mahasiswa yang punya slide dalam bahasa Inggris tapi sebenarnya mereka tidak begitu memahaminya. Akses internet pun di sediakan untuk sekolah-sekolah khususnya mereka yang bertitel RSBI. Walapun banyak hambatan, ini menjadi satu ciri dan tuntutan.
Bidang saya tentu menjadi sangat relevan.
Again, what I can say then in this part.
It’s a beuatiful story but how I could shape this story.
I really need a help of Prof Adler, but she is very busy. It seems impossible to drive her thinking different things. But then who can I talk with?
Saya benar-benar bingung.
Bagaimana jika saya tidak usah menulis paper? Rugi banget. Mumpung ke ICME, harus ada paper dong.
Aplikasi Sudoku for free: http://itunes.apple.com/us/app/sudoku-free-hd-the-brainteaser!/id469346386?mt=8
Tips menggunakan ipad:
http://www.techsupportalert.com/content/ipad-tips-and-tricks.htm#Type-Faster
Informasi tentang ipad apple:
1. http://www.apple.com/za/ipad/from-the-app-store/
Selected website:
International Mathematical Olympiad (IMO)
http://www.bmoc.maths.org/home/imo.shtml
http://www.imo-official.org/problems.aspx
http://www.imo-official.org/results.aspx
http://www.bmoc.maths.org/home/bmo.shtml
Prepare for British Mathematical Olympiad Round
http://www.imo-official.org/country_individual_r.aspx?code=IDN
Magazine: http://www.m-a.org.uk/jsp/index.jsp
http://www.m-a.org.uk/jsp/index.jsp?lnk=259a
Alhamdulillah, this is a good progress. I can print it then forget this for a while.
I know that I still need to read about PD and update the references. I also need to read about ICME-ICT studies.
I am hoping to send this to Jill Saturday night or Sunday morning.
So then I can continue my interview analysis and think back about ICME.
Also to read the ICME book.
Regards,
Sitti