Wednesday, 31 August 2011

Suratan takdir (1)

Siapa mengira sy bisa ke benua Afrika.
Masih segar di ingatan, saat di sekolah dulu. Sy tdk pernah kepikiran akan menginjakkan kaki di Jawa apalagi keluar negeri!!! Apalagi ke benua Afrika.

Saya hanya berpikir, semoga bisa ke IKIP sehingga bisa menjadi guru. Itu pun bercita-cita jadi guru di desa atau di pulau, karena sy berharap disayangi oleh masyarakat.

Bagi saya, tanah Jawa itu hanya mimpi. Jakarta adalah kota wah, mungkin bagaikan NewYork di pandangan anak muda sekarang.

Oleh karena itu, saat pertama ke Jawa, banyak sekali keluarga yg mengantar ke pelabuhan. Termasuk saat pertama mau naik pesawat terbang.
Berapa mobil yg mengantar.

Di akhir S1, sy mulai terbayang sy akan banyak tinggal di rumah dan jk dapat jodoh, akan menjadi ibu rumah tangga. Sy tdk pernah punya cita-cita yang tinggi.

Ternyata, apa yang saya bayangkan sangat berbeda dengan apa yang terjadi. Rejeki beasiswa (uang rakyat tentunya) telah merubah segala yg tdk mungkin menjadi mungkin.
Hanya beberapa hari setelah wisuda, saya berangkat S2 ke tanah Jawa tepatnya di Surabaya.
Di akhir S2, yang terpikir adalah pulang ke kampung mengabdikan ilmu dan berharap bisa menjadi dosen di Makassar.

Saat ada yg mengusulkan, utk jadi dosen di Surabaya, seketika itu pun sy menolak. Saya punya pikiran yg sangat sempit "mengapa mau tinggal di Jawa, mengapa mau memintarkan orang Jawa, padahal mereka sdh maju sedangkan Sulsel tertinggal. Sy mau pulang mengabdikan diri di tanah kelahiran.
(Catatan: Tentu pikiran sempit itu sdh tdk ada lagi. Terbukti, banyak org Jawa dekat dgn keluarga sy, mrk suka ke rumah, kami masak dan makan bersama. Saya orang Makassar tapi dikelilingi/dekat dengan orang Jawa. Mahasiswa sy orang Jawa dan sy sangat mencintai dan menyayangi mereka, dan sy selalu berupaya melakukan yg terbaik buat mereka. Sy cinta Indonesia dan orang Indonesia. Alhamdulillah).

Back to the story.
Kok terus tinggal di Jawa?
Kok bisa jadi dosen Unesa?
Mantan Rektor IKIP Surabaya menawarkan sy menjadi dosen. Kata beliau, ini bukan KKN. Anda potensial dan kami tahu kualitas Anda. Padahal saat itu, nama sy sebagai calon dicoret oleh pegawai sebab adanya edaran dari pusat bahwa yg bisa diterima jadi dosen adalah orang mat murni.

Di depan saya, Pak Rektor bicara dg beberapa staf pegawai, "jika Maesuri akhirnya ditolak di pusat, kami akan memperjuangkannya, jika perlu kami menghadap Pak menteri."

Terbayang kan? bagaimana perasaan saya saat itu, yang masih lebih dari separuh keinginan utk pulang ke Makassar, akhirnya mendengar itu, saya pasrah apa yg akan terjadi. Saya pasrah pada kehendak Allah.

Setelah saya sah jadi dosen Unesa, bbrp orang di Surabaya heran dan tak percaya, saya bisa jadi dosen Unesa tanpa bayar satu sen pun?

Apa sih hikmah cerita ini?
Ada hikmah besar sebetulnya yg bisa kita pelajari.

Bahwa, dalam situasi mana pun, berupayalah melakukan yg terbaik. Maksimalkan usaha dan tampil terbaik. Mantan rektor tadi hanya pernah mengajar saya sekali, tapi sy benar2 mempersiapkan dan ingin tampil super. Dia terpukau dg presentasi sy dan memberi pujian serta langsung diberi A.
Tentu persiapan sy serius. Saya sering merekam latihan presentasi saya, dan mengecek kejelasan serta ketepatan waktu.
Jadi kuncinya adalah pada kerja keras, keseriusan dan kesungguhan.

Sama saja saat sy di Australia dan di Afsel saat ini. Saat di Aussie, Head of school dan supervisor sy beberapa kali ngomong ke saya, We'd love to have you Sitti here. jadi semacam tawaran utk mau kerja di sana. Tapi identik dg pikiran lama, sy INGIN pulang ke negara saya mengabdikan ilmu saya.

Jadi kalau selama lebih 2 tahun ini, sy sangat sibuk dan menikmati kerjaan mengajar, membimbing, dll di Indonesia bahkan sy sering bawa kerjaan pulang ke rmh (untung suami sangat paham bahkan mendukung), itu adalah wujud dari janji hati yg paling dalam "I am going and back for Indonesian teachers"

Jadi bekerjalah terbaik dg niat yg positif dan mengedepankan niat karena Allah Ta'alah.

Faktanya, belum 2 bulan di Afsel, sy sudah ditawari perpanjangan kontrak. "We love you Sitti. We want you to work with us" Bahkan tadi Bu Dekan pun bilang, kami butuh dosen pend mat di sini. Mengapa tidak melamar saja jadi dosen di sini? Saya tersenyum dan berterima kasih.

Saya pikir, Andai suatu ketika, sy memutuskan utk kerja di luar negeri, maka pertimbangan utama yang harus saya lakukan adalah: apakah kerja di luar negeri memberi posisi strategis dan peluang besar utk mengabdikan diri saya pada bangsa Indonesia.

Kenyataan: Sy bekerja di Jawa, tidak menghentikan pengabdian sy pada tanah kelahiran sy. Banyak orang Sulsel bahagia karena kami kerja di Jawa. Ada manfaatnya kami di Jawa.

Apa kasus tersebut analog jika saya kerja di luar negeri.

Anyway, entahlah. Sy tdk tahu suratan takdir sy. Jadi kita lakukan sj yg terbaik semata karena ini semua amanah dari Sang Maha Berkehendak.

Oh, sekian dulu catatan saya. Sudah jam 1 lebih. Harus istirahat, karena besok ada project meeting dan ada workshop utk guru-guru sampai sore.
Sent from my BlackBerry® wireless device

Tuesday, 30 August 2011

My writing

Dear darling,
I cannot say to myself that I am struggling to write because I haven't tried my best.

In writing the intro:
1. I would say that the internet has offered many potential and challenges.
I will describe shortly its potential (a source for info, a tool for communication & collaboration). I will also highlight the challenges particulary in terms of the nature of the internet itself.

2. I will argue that internet give new demands for their teaching work for several reasons:
- digital students
- policy maker to push them to use it.
- they were not prepared for that.

3. As a results, many studies about how to support teachers to be able .... Through PD program and the results were mixed. While many teachers found it useful such as, understand better the constructivist, fun using the internet, ..... Others consistently pointed that teachers cannot easily embrace it. Many questions were remain, for them that already learn internet, how they used it for their. Own professional learning or work? How this could be implemented in the real classroom, what factors support or inhibit them from using it.

Jadi sy perlu paparkan bahwa ini loh yg sudah dilakukan? Dan ini loh yg masih jadi tanda tanya.

Saran:
Jangan stuck menulis. Jk tdk bs dari bab pendahuluan maka kerjakan dari bab metode atau bahkan dari bab Hasil.

Sent from my BlackBerry® wireless device

Knowing mathematics for teaching by Ball dkk (Part 1)

Di halaman pertama penulis menyatakan kepeduliannya tentang pentingnya guru memahami matematika yg akan diajarkannya.

Di katakan bahwa di USA, kurikulum telah direformasi, telah ditulis standarisasi, dst. Namun semua itu terletak pada guru.
Kenyataan bahwa banyak guru sekolah dasar di Amerika yg lemah pemahaman matematikanya padahal pemahaman ini sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan dalam pengajaran, pemanfaatan bahan ajar yg ada, kemampuan dalam menilai siswa secara berkelanjutan, memberi penekanan, menentukan urutan penyajian dst.

Permasalahan adalah guru-guru tersebut kurang mendapat bekal utk mengajar matematika.

Beberapa solusi yg biasa dikemukakan berbagai pihak menurut Ball dkk a.l.
- guru perlu belajar lebih banyak matematika, misalnya diberi pelajaran tambahan,
- harus dites dan harus bisa ambil pendidikan mat tambahan dan harus bs lulus
- perlu menyiapkan guru yang menguasai mat yg akan digunakakan dalam pekerjaannya nanti
- mengusulkan mata kuliah metode pengajaran matematika yg akan diajarkan di kelas, materi kurikulum dan tentang berpikir siswa.
- bahwa calon guru harus yang cerdas dan kompeten dalam mat karena ini akan terbukti efektif dalam membelajarkan siswa.
- ada pula yg berargumen bahwa tidak banyak yg dipelajari ttg pengajaran matematika yg efektif dalam perkuliahan pendidikan matematika.

Dalam paper ini, Ball dkk membahas tentang skop dan sifat dari pengetahuan matematika yg dibutuhkan utk mengajar.
Pertanyaan yg muncul adalah:
- apakah para guru membutuhkan pengetahuan tentang kalkulus lanjut? Aljabar linier? Aljabar abstrak? Persamaan differensial? Variabel kompleks untuk bisa sukses mengajar siswa SMA, SMP, atau pun siswa SD?

Ataukah guru hanya perlu tahu topik-topik yang akan mereka ajarkan kepada siswa?

Alternatifnya, apakah ada pengetahuan profesional tentang matematika untuk pengajaran, yang mengkaji pekerjaan guru dalam kaitannya dengan materi kurikulum, pengajaran, dan siswa.
Sent from my BlackBerry® wireless device

Alasan beli BB utk family

1. Komunikasi dg suami harus intensif sehingga kami tetap dekat.
2. Utk kepentingan pendidikan anak. Sy berharap mereka bisa berlatih menulis apa saja dengan menggunakan blog.
Misal: menuliskan:
- kegiatan apa yang paling menyenangkan hari ini?
- kinerja apa yg bagus yg dilakukan hari ini
- hal apa yang masih kurang memuaskan
- Buku apa yg dibaca hari ini dan apa inti dari bacaan itu. Mengapa menarik atau mengapa tidak
Jadi BB sebagai alat menulis bagi mereka di mana pun mereka berada.

3. Menjadi media bacaan. Sy bs siapkan komik atau cerita rasul utk anak

4. Bisa dipakai mengaji dan membaca terjemahan

5. Bisa utk main game melatih kecerdasan

6. Bisa dipakai nonton video pembelajaran

7. Utk komunikasi dg suami ttg pembelajaran yg perlu dilakukan Fika dan Fida.

8. Manfaat lainnya, mereka sudah terbiasa berinteraksi dg teknologi sehingga tidak akan kaku dalam memanfaatkan teknologi, apalagi mereka pakai laptop sejak masih kecil, Fika pada usia 4 tahun dan Fida pada usia 2 tahun.

Kelemahan apa yg mungkin muncul?

1. Persaingan antara kakak dan adik karena keduanya ingin memakainya.
2. Bisa sj lebih banyak dia pakai utk having fun tanpa terlibat dalam proses pembelajaran
3. Bisa sj digunakannya utk banyak nonton video

Kelemahan ini seharusnya dapat diatasi atas kerjasama yang baik dengan suami. Suami sy biasanya punya ide cemerlang.
Sent from my BlackBerry® wireless device

Reading Pierre Bourdieu (1)

Apa yang dapat dipahami dari buku sosiolog ini?

1. Definisi dari konsep kunci yg ditawarkan oleh PB dan bagaimana masing-masing konsep itu didefinisikan oleh PB

2. Latar belakang dan sejarah dari setiap konsep tersebut

3. Siapa penulis lainnya yang dapat dihubungkan dg konsep ini dan bagaimana perbedaan konsep tsb dg yg dikemukakan oleh PB

4. Kapan dan dimana PB menggunakan konsep tersebut dan mengapa?

5. Bagaimana pengembangan konsep ini sepanjang pengkajiannya dan bagaimana konsep ini berhubungan dg bidang lainnya misal antropologi, filsafat dll

6. Bagaimana kemungkinan konsep2 ini dapat diadaptasi dan diterapkan dalam topik lain dlm ilmu-ilmu sosial dan mengapa? Dan isu apa yg dapat muncul dari penerapan ini.

Saya kira buku ini perlu saya baca untuk membantu saya memahami fenomena sosial khususnya yang sedang terjadi di Indonesia.
Memahami konsep ini mungkin akan menginspirasi saya dalam berfikir langkah apa yang dapat saya lakukan untuk mengurangi gap yang terjadi di Indonesia, antara si kaya dan si miskin, antara pengambil kebijakan dan masyarakat biasa, antara sekolah kaya dan sekolah miskin.

Tujuan pendidikan adalah utk menciptakan kesejaheteraan bersama dan bukan hanya untuk sekelompok orang saja.
Sent from my BlackBerry® wireless device

Hari yg mulia

Hari ini banyak yg merayakan lebaran. Mereka berlibur, bertemu sanak saudara, bahkan berpesta dg penuh kegembiraan.

Bagaimana dg sy? Karena di Afsel, baru akan dirayakan besok, maka besok sy baru ikut dengan kawan merayakannya.
Artinya, hari ini masuk kerja.
Well. Ikhlas, itulah yg harus sy terapkan. Apa yg ada dihadapan kita, itulah yg kita jalani.

Sekarang pukul 09.30. Apa yg bisa sy kerjakan hari ini?
Saya akan melanjutkan mereviu artikel. Jk kemajuannya OK, nanti malam sy akan email Jill mengenai hal ini.
So just do it. Do it!
Insya Allah
Sent from my BlackBerry® wireless device

Hadiah lebaran

1. Suasana lebaran yg berbeda.
- di masa saya dan kesan hingga sekarang ... Hingga memaksakan diri utk pulang.
- masa anak saya
Lebaran di kota
Lebaran di Australia
Lebaran di South Africa.

2. Bangga campur sedih
Dan keputusan bawalah mrk ke mall. Ternyata mereka tetap tidak beli baju baru. Hanya ingin buka puasa Pizza

3. Harapanku

Sekarang akhir agustus. Artinya 3,5 bulan lagi sy pulang utk holiday.


Sent from my BlackBerry® wireless device

Monday, 29 August 2011

FW: Maths challenge - I Hate Maths

Cerita yang sangat menarik:
Dear all,

Below, with permission, we forward you Carola's entertaining response to
the August I Hate Maths problem. Carola is busy looking for other people
to talk to about her thinking on the problem - so please, join her and
join us in the conversation!

A reminder that your answers have to be emailed or put in the I Hate
Maths mailbox in Marang Block by 31 August.

Next Monday - 5 September, we will have an informal lunchtime meeting,
1-2pm in M4, for all interested where we talk about the problem, the
different solution methods we have received, and the mathematical ideas
underlying the problem. Bring your sandwiches and your brain! We look
forward to talking!


Maths challenge response
CS

As a learner

I am reminded of my weekly visits to my mother and how long it takes to
get
to Pretoria and how short the actual visit feels and I think that an
hour to
spend with her would be too short. Then I wonder why the question limits
the
visit to an hour, even if it is 'just' an aunt. Maybe the aunt is too
weak
and the visitors will exhaust her, so then I would leave earlier or
maybe the
aunt has not had the energy to feed herself, in which case I would
prepare
(or go out and buy) some food and stay longer. So how can the question
be
so emphatic about staying only one hour? And then the time it takes to
get
there - well, it depends on the traffic. I can take me 40 minutes when
the
highway is clear and 1 1/2 hours when it is blocked and anyway I drive
at
120km/h whenever I can, not 35. who on earth drives anywhere at 35km/h?
Even if there are a lot of robots in the suburbs and the robot catches
me at
red each time, I get closer to 50 or 60km/h before I need to slow down
again.

When I finally get to the maths part of the question, I am stumped -
this
has to be a trick question. It's obvious: its the same. The two
journeys balance each
other out. Its 5km/h more in one case and 5km/h less in the other, and
so
the average speed has to be 30km/h (25+35=60 divide by (where on earth
is
that symbol on the keybord?) 2=30, so its 30 km/h, so travel time is
half an
hour because one hour is 60 minutes. Aagh, but what if that 'obvious
logic
is wrong? What if they wanted a more mathematical answer, an answer
that
didn't just stare me in the face? An answer that requires mathematical
equations? I have forgotten how to do maths equations - I can only do
sums
where the answer is obvious and then I work backwards to find out what
the
appropriate equation could be. And I can't remember what the formulas
for
speed and velocity are. I will be completely embarrassed if my answer
to
this simple primary school maths problem is wrong. I better go and
check
with Ingrid - she's a maths fundi. But come to think of it - I haven't
seen
her this week, I only saw her for a few minutes after she came back from
the
conference. Better go and check if she's alright. Just avoid this
feeling
of sinking embarrassment.

As an assessor
and someone who has spent a lot of time designing assessment tasks and
teaching students to think about more open-ended assessment tasks, I
think:
this question does not work. It is not clear what is being tested - the
maths of speed and time or empathy for sick aunts? And what would the
correct
answer be: choosing the formula for working out the problem, accurate
numeracy in the various steps of working it out, an accurate final
answer?
And should the answer include the time spent with the aunt or just the
travel time? I would advise that all the story part be left out so that
its
just the maths part that remains and that the maths part be clarified.

As an employee of the Wits School of Education
I remember my total delight at hearing this challenge for the first
time,
the playfulness of the endeavour to engage verbal people with maths and
see
if it is possible to break down the barriers between the verbal and
numerical worlds. I remember the 'seriousness' of the presentation as
if we were all
school children sitting in front of an intimidating maths teacher. I
wanted to do
this with a non-maths colleague, but she had no time to space. But then
I notice that I have also been avoiding the challenge for nearly a
month,
and if I don't do it soon I will be too late for a deadline yet again.
And
this is a frivolous, fun deadline - what about all the essays that I
have to
hand back this afternoon and have not marked yet? That is a serious
deadline and here I am playing around with fun. Aaagh, why can I never
get
my priorities right?
<html><p><font face = "verdana" size = "0.8" color = "navy">This communication is intended for the addressee only. It is confidential. If you have received this communication in error, please notify us immediately and destroy the original message. You may not copy or disseminate this communication without the permission of the University. Only authorized signatories are competent to enter into agreements on behalf of the University and recipients are thus advised that the content of this message may not be legally binding on the University and may contain the personal views and opinions of the author, which are not necessarily the views and opinions of The University of the Witwatersrand, Johannesburg. All agreements between the University and outsiders are subject to South African Law unless the University agrees in writing to the contrary.</font></p></html>

catatan reviu (3)

Saran lainnya dalam melakukan reviu artikel adalah menjawab pertanyaan berikut:
Tujuan
Artikel ini untuk menjawab pertanyaan apa?
Teori
Apakah ada kerangka teorretis yang eksplisit? Jika tidak apakah ada asumsi teoretis yang diberikan?
Konsep
Apa konsep utama yang termuat dalam artikel ini? Apakah konsep utama itu telah didefinisikan secara jelas?
Argumen
Apa argumen utama dari tulisan ini? Apakah ada hipotesis khusus yang diberikan?
Metode
Metode penelitian apa yang digunakannya?
Bukti-bukti
Apakah bukti-bukti telah diberikan? Apakah cukup bukti-bukti tersebut?


Literatur
Bagaimana tulisan atau penelitian ini bersesiuaian dengan literatur yang lebih luas?
Kontribusi
Seberapa penelitian ini bisa membantu mengembangkan pengetahuan kita pada bidang yang dikaji ini?
Style
Seberapa jelas bahasa, gaya dan ekspresi dari penulis?
Simpulan
Asesmen menyeluruh secara singkat.

Catatan Reviu (2)

Strategi yang disarankan oleh penelaah yang berpengalaman
1.      Bekerjalah dari hasil cetakan sehingga bisa dengan mudah membuat catatan atau bekerja tanpa harus bergantung pada komputer
2.      Bacalah paper tersebut. Jika papernya sudah ditulis dengan bagus, maka kita mungkin bisa memberi sarang-saran yang lebih rinci bahkan termasuk salah ketik atau stylenya. Tapi jika tulisannya kacau, maka kita bisa menuliskan secara garis besar. Jika tidak bagus, minta saja mereka untuk menuliskan ulang.
3.      Kalau sudah positif di terima, maka cek jurnal terbaru untuk dibandingkan stylenya, atau cek petunjuk penulisan jurnal.
4.      Tulis ref no.
5.      Nomori komentar sehingga mudah bagi penulis mengikutinya.
6.      Berilah tanggapan yang positif sebanyak mungkin yang Anda bisa sebelum memberi kritik secara santun
7.      Beri tanggapan secara umum mencakup:
a.       Pendekatan secara menyeluruh
b.      Metode statistik yang digunakan
c.       Interpretasi hasil
d.      Kualitas dari sajian atau tulisan
8.      Kemudian berikan tanggapan yang lebih rinci dengan mencantumkan nomor halaman dan nomor baris/kalimat. Mulai dengan hal yang paling serius kemudian disusul dengan hal-hal kecil.
9.      Hasil reviu bisanya sepanjang 1-2 halaman dengan spasi satu. Hasil reviu yang paling panjang yang pernah ditulis oleh reviewer ini adalah 5 halaman dan terpendek 10 garis.

catatan reviu (1)

Berdasarkan bacaan dari website  http://dpannell.fnas.uwa.edu.au/reviews.htm , maka dalam mereviu suatu artikel, hal-hal umum yang perlu saya jawab adalah:
1.       Apakah judulnya secara jelas merefleksikan isinya? Apakah judul tersebut singkat dan padat (artinya tidak ada kata-kata yang tidak efektif)?
2.       Apakah panjang dari tulisan ini sudah sesuai dengan jurnal ini? Perlu pengecekan panjang abstrak dan isi untuk ESM.
3.       Apakah isi tulisan ini bermanfaat sehingga waktu yang berharga ini pantas untuk kita alokasikan waktu untuk membacanya.
4.       Dari kalangan pembaca mana yang akan mendapatkan keuntungan dari membaca tulisan ini?
5.       Apakah penulis telah cukup mereviu literatur-literatur terkait yang telah ada?
6.       Apakah kamu tahu suatu referensi yang mungkin penulis ini akan berminat menjadi rujukan atau bahan diskusi?
7.       Apakah referensi yang tercantum telah ditulis berdasarkan style yang diharapkan?
8.       Apakah semua referensi yang tercantum dalam isi juga sudah tercantum di daftar referens? Demikian sebaliknya?
9.       Apakah format dari heading, table, dan gambar sudah sesuai dengan style jurnal?
10.   Apakah simpulan yang diambilnya didukung oleh data?
11.   Apakah alternatif-alternatif penjelasan dari temuan juga disajikan? Apakah tulisan ini seharusnya diperpendek?
12.   Apakah tulisan ini tersusun dengan baik?
Kualitas dari tulisan
  • Kejelasan tulisan adalah sesuatu yang sangat penting. Apakah kita ahli atau tidak ahli dalam bidang tersebut, kita seharusnya dapat memahami isi dari tulisan.
    • Oleh karena itu, baca dengan cermat setiap paragraph. Apa ada yang agak membingungkan? Jika ya, minta penulis memperjelasnya. Tentu penulis akan menghargai jika kita bisa memberi masukan perbaikan, namun ini tidak wajib kita lakukan.
    •  
  • Apakah paragrafnya flow, mengalir dengan mulus? Apakah tulisan itu dapat dibaca dengan mudah? Apakah kamu dapat memberi saran perbaikan?
  • Apakah ada pengulangan yang tidak perlu? Apakah kamu dapat menyarankan kalimat/phrase/kata yang perlu dihilangkan?
  • Apakah penulis telah menyediakan cukup contoh yang akan membantu pembaca memahami maksud penulis? Apakah kamu dapat menyarankan contoh yang perlu dimasukkan oleh penulis?
  • Bagian mana dari tulisan ini yang Anda paling sukai?
Tabel dan Gambar
  • Apakah semua tabel dan gambar benar-benar diperlukan? Jika ya, apakah dapat dipahami? Jika tidak, apakah anda dapat menyarankan format lain? Apakah Anda menyarankan tambahan tabel atau gambar?
  • Apakah gambarnya berkualitas baik untuk tujuan reproduksi.
  • Apakah keterangan tabel dan gambarnya jelas
 
Penjelasan Tambahan
Dalam surat ke editor, kita akan memberi keputusan diterima tidaknya. Hal penting yang harus dilakukan:
v  Secara singkat, cantumkan alasan penerimaan atau pun penolakan. Misalnya:
o    Signifikansi dari kontribusi penulis
o    Kualitas dan ketelitian dari analisis data
o    Kejelasan sajian tulisan
o    Pentingnya dalam hal praktis
o    Keaslian
o    Orisinalitas
o    Kedalamam dan kesesuaian kajian untuk jurnal yang dituju.
v  Untuk komentar bagi penulis, pisahkan dari surat ke editor
o    Pastikan bahwa komentarnya rinci dan jelas dan bersifat konstruktif.
o    Bersifat konstruktif, meskipun kita menolak tulisan itu.
o    Beri saran tentang
§  Panjang tulisan
§  Susunannya
§  Tabel
§  Gambar
§  Dan referens
§  Nomori komentar untuk mempermudah penulis.
v  Reviu yang berkualitas seharusnya menuliskan kelebihan dan kelemahan dari tulisan ini karena penulis perlu tahu hal baik apa yang telah dilakukannya dan hal apa yang kurang.
Kata-kata kita harus sopan. Dari pada mengatakan ada kesalahan fatal atau kesalahan serius, lebih baik mengatakan perlu perhatian mendasar atau masalah utama atau penting yang memerlukan perhatian.