Sunday, 4 September 2011

Dituliskan tesisnya? Wah gawat!

Tdk bisa dipungkiri kenyataan bahwa ada pihak yg bekerja utk menuliskan skripsi atau tesis untuk orang lain. Sy juga dulu pernah ditawari dg imbalan uang yg cukup menggiurkan.

Alhamdulillah, Allah masih menjaga sy sehingga terhindar dari perbuatan yg tidak patut itu.

Kita perlu bertanya: mengapa sih perlu menulis skripsi atau pun tesis apalagi disertasi.
Untuk apa? Mengapa dia menjadi syarat utama untuk bisa menyelesaikan suatu jenjang akademik?

Coba kita cermati, dengan dana beasiswa ADS yg totalnya sekitar 2 miliar rupiah utk membiaya studi PhD sy. Dengan dana itu, selama 4 tahun, saya tidak kuliah, dan saya hanya wajib menghasilkan satu karya, yaitu sebuah disertasi.
Hanya disertasi???

Kok sebegitu pentingnya?
Kok perlu skripsi? Kok perlu tesis?
Ini yg perlu dipikirkan, direnungkan secara mendalam, dan perlu dipahami. Mengapa dia menjadi syarat penting akademik?

Artinya, seorang yg studi S1 dan tdk menghasilkan skripsi, dia sebenarnya tidak pantas menyandang gelar sarjana. Demikian juga, yg studi S2 tapi tdk mampu menghasilkan tesis, dia itu tidak pantas menyandang gelar master. Apalagi yg studi S3 tapi tidak mampu menghasilkan disertasi, dia amat tidak pantas menyandang gelar Doktor atau PhD.

Jk mau tahu jawabannya, mengapa hasil karya tersebut begitu penting, sebenarnya gampang. Tanyai sajalah orang-orang yang sudah menyandang gelar tersebut dan mereka itu yang mengerjakan skripsi, tesis, disertasi dg benar.
Mereka akan mampu menggambarkan tantangan dan manfaat setelah melalui proses menulis karya ilmiah tersebut.

Sebelum tahun 70-an pun, seorang yang menyandang gelar doktor atau master, mereka itulah yang dipandang sebagai guru. Karena artinya mereka itu sudah mampu menunjukkan bahwa dia mempunyai pemahaman yang mendalam tentang bidang yang dikajinya dan mampu mengkomunikasikan pemahamannya.

Inilah 2 unsur utama yang diperlukan dalam penulisan karya ilmiah itu, yaitu paham apa yang dibicarakan dan mampu menjelaskan pada orang lain. Tentu menjelaskan secara lisan juga OK, tapi kan tidak mungkin dilakukan setiap saat. Tidak mungkin dilakukan secara efektif dan efisien. Jadi harus dalam bentuk tertulis.

Menulis S,T,D adalah suatu proses belajar yg sangat diperlukan. Mengapa kok banyak yg telat atau bahkan gagal menuliskannya. Karena proses ini menuntut pembelajaran dalam banyak aspek, termasuk kemampuan untuk mengatur waktu, strategi belajar, personal bahkan interpersonal. Proses ini sebenarnya suatu ujian. Uji ketekunan, kesungguhan, kedisiplinan, kejujuran dll. Dia adalah proses yg sulit tapi menjanjikan dan sangat bernilai.

Jadi wajar saja, bagi mereka yg menyandang gelar ini, tapi dengan S,T, D yang dibuatkan oleh orang lain, mereka tidak akan menjadi orang yang percaya diri dalam hidupnya. Mereka tampil gagah tapi sebenarnya tidak kompeten dalam dunia akademik. Dia tidak akan mampu tampil berargumen dengan kuat, karena dia tidak melalui proses latihan membangun argumen.

Bagi mereka yang mau-maunya bekerja menuliskan S,T,D orang lain, mereka juga pasti tidak merasa bahwa itu perbuatan yg benar. Saya duga, mereka hanya berusaha mencari alasan yg menjustifikasi bahwa pekerjaan itu malah membantu orang lain. Padahal ini perbuatan yg gawat. Mengapa? Sy akan jelaskan nanti.

Mereka pasti gelisah juga, kecuali jk sdh ditutup pintu hatinya oleh Allah.

Mengapa kok menuliskan karya ini utk orang lain tidak benar? Menulis S,D,T itu tdk sederhana. Tapi kok sipembuat/sipenjahit itu bisa mengerjakan dalam waktu yg cukup singkat?

Tentu karena melalui proses yang tidak benar. Apalagi di era globalisasi ini, sungguh mudah copy paste. Apalagi melalui internet, ada sejumlah pihak2 yg menjual DVD/CD berisi skripsi, tesis, dll.


Saya jadi teringat nih, pernah mereviu tulisan seorang doktor yg kacau balau. Saat itu, beliau diminta menulis modul untuk Proyek BERMUTU. Tulisan mahasiswa bimbingan saya yg S1 jauh lebih berkualitas dari tulisan si Doktor itu. Sy temukan beberapa paragraf yg berulang dan idenya tidak jelas. Meskipun si Doktor dan koleganya itu muji2 feedback saya, sy sdh bisa menilai kualitas doktornya dan mungkin dia juga malu. Tapi kok bisa jadi Doktor?

By the way, selama 2,5 tahun di Indonesia (setelah saya PhD dan sebelum berangkat S3), saya membimbing lebih 20 mahasiswa S1+S2, sy merasakan bahagia (apa pun kualitas karyanya), karena sy melihat kerja keras mantan mahasiswa bimbingan saya. Saya melihat bahwa mereka telah melalui proses belajar yg penuh tantangan karena adanya tuntutan menulis skripsi atau pun tesis ini.
Dua diantara mantan bimbingan S1 saya sedang di Australia (wow, sy bahagia dg prestasi mereka), satu di Palembang dan Insya Allah segera S2 di Belanda). Ketiganya dengan beasiswa.
Ketiganya melalui proses menulis skripsi yg serius dan sungguh-sungguh.
Inilah buah dari kerja keras mereka. Saya percaya, mereka akan mampu melalui tantangan meskipun tantangan itu tidak ringan. Mereka adalah masa depan bangsa. Inilah alasan utama, sy mau bekerja keras dan serius dalam proses pembimbingan, demi masa depan bangsa.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment