Friday, 16 September 2011

Fika Fida, thanks lots for your good behavior.

Seperti biasa, suami selalu rutin berbagi cerita tentang anak-anak melalui skype. Maklum, beliau di Indonesia mendampingi anak-anak sedang Ibunya sedang di South Africa. Cuma kali ini, wajah excited alias terheran-heran dari suami masih terbayang. Ibu, aduh, Fida benar-benar membuat saya terkagum-kagum dan excited banget. "Ada apa Yah", saya pun mendesak suami cerita.

Bu, sungguh luar biasa Fida. Murni (nama anak angkat) saya, heran kok Fida (Kelas 4 SD) benar-benar teratur. Ternyata saya cek kamarnya, di sana tertulis jadwal harian yang sangat rinci. "saya kagum sama Fida. Saya bahagia sekali". Begitulah laporan suami.

Trus, saat skype dengan Fida, saya memulai pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Saya bilang "Mum and Dad are so proud of you. You are well managed even though Mummy is not with you."

Mulailah dia bercerita. Katanya dia sekarang harus mengatur waktunya. Trus dia tampak mengingat-ngingat jadwalnya sambil menyebutkannya satu persatu. Saya pun segera menulisnya. Berikut yang sempat saya catat secara terurut.

Pulang sekolah buka kaos kaki
Taruh lunch box di dapur
Keluarkan buku-buku dari tas dan taruh tas
Ganti pakaian
Shalat dhuhur
Makan siang
Belajar dan ngerjakan PR
Jika azan terdengar, segera shalat Azar
Belajar lagi
Jam 4.30 sore pergi mandi
Belajar lagi
Shalat magrib
Siapkan buku untuk besok
Makan malam
Minum vitamin
Belajar
Shalat Isya
Sikat gigi
Sebelum tidur, cek PR apa semua sudah selesai
Belajar lagi
Tidur

"Very good" kata saya. Hanya ada yang kurang rasanya, yaitu tidak terdaftar kerjaan yang di rumah, misalnya lap meja, nyapu. "Fida kan perlu bantu Kak Murni karena Kak Murni juga pasti sibuk kuliah", juga Kakak Fika sangat sibuk (apalagi Fika-kakanya Fida masuk kelas akselerasi) Ternyata pertanggungjawabannya lumayan beralasan. Katanya karena sebentar lagi Fida UTS (ujian Tengah Semester). Saat saya di rumah, saya sering monitor tugas dia yaitu lap meja kaca dan kompor, serta bersihkan kamar sendiri, bahkan lipat/atur baju sendiri. Mungkin kehadiran Mama Murni di rumah kami saat ini membuat kerjaan mereka lebih ringan.

Mengapa kok anak kecil pun bisa mengatur dan memonitor dirinya?

Saat Fika Fida masih kecil di Australia dimana saya sibuk sekolah, ayahnya sibuk kerja, saya sering minta mereka mendaftar kegiatan harian apa yang perlu/harus dikerjakan mulai bangun tidur hingga menjelang tidur. Tugas saya ringan yaitu mencentang & memberi pujian/penghargaan. Daftar itu dalam bentuk tabel & dipajang di pintu kulkas.
Mereka sering mengecek daftar itu. Jadi dia belajar memonitor diri sendiri.
Jadi sudah terbiasa mengatur dirinya. "I know, I know what to do", itu yang sering mereka katakan jika kami bermaksud mengingatkannya. Maklum, anak-anak kan sering tidak bahagia jika dikomandoi.

Karena itu, suatu ketika ada keluarga dari Pangkep Sul Sel datang bermalam ke Surabaya, hampir seminggu. Dia memperhatikan perilaku anak-anak saya dan heran sekali.

Loh, mereka itu tidak perlu diurusi. Bangun pagi-pagi, dia pergi mandi, berpakaian sendiri, dan mempersiapkan perlengakapan sekolah mereka sendiri sedang Ayah Ibunya bisa mengerjakan tugas lainnya.
Lalu dia membandingkan anak-anaknya yang saat itu berusia lebih tua dari Fida (Fida saat itu Kelas 3). Anak beliau yang sudah Kelas 5 atau 6 masih harus diurusi, bahkan untuk sarapan, masih di suap.

Dia heran tapi saya tidak karena kedua fenomena tersebut sudah sering saya lihat. Di Indonesia, saya sering melihat anak-anak tidak mandiri apalagi mereka yang punya pembantu. Mereka masih kecil sudah terdidik secara tidak sengaja menjadi anak yang bergantung pada orang lain. Mereka tidak menyadari bahwa tujuan pendidikan, tak lain adalah untuk membekali mereka agar kelak anaknya mandiri dan mampu memecahkan masalah. Lebih celaka lagi karena anak sudah seperti bos kecil (seenaknya memerintah pembantu dan jarang berterima kasih). Ini semua bukanlah kesalahan anak itu tapi faktor pembiasaan dari orang tua/lingkungan. Sedangkan yang saya temukan di Australia, secara umum, masyarakat di sana tidak punya pembantu. Maklum bayarnya mahal. Perjam mungkin sekitar Rp. 200 ribu atau lebih. Di sekolah TK pun, anak-anak diajari mandiri, termasuk makan sendiri. Semoga yang punya pembantu di rumah waspada dan bisa berefleksi. Pembantu harusnya di didik supaya siap mandiri (tidak lagi jadi pembantu) dan pembantu di didik untuk bisa ikut mendidik anak kita menjadi rendah hati, menghargai orang lain, mandiri, dst.

Sebetulnya saya sendiri juga belajar dari lingkungan sekolah di Australia. Saya terheran-heran melihat anak-anak di sana masih usia 2 tahun bisa makan sendiri. Saya kasihan sekali sama Fida saat di play house di Brisbane, usia sekitar 3 th, karena dia tidak bisa makan tanpa disuap (maklum kebiasaan di Surabaya, pagi dan sore, anak dibawa main keluar rumah sambil disuap). Nah di play house, gurunya mendidik mereka makan sendiri. Maka itu Fida terpaksa berhenti dari play house karena situasi asing tersebut.
Namun saya tetap rutin melihat anak-anak di play house karena tempat itu dekat dari kantor. Saya mencoba mengamati dan belajar dari cara-cara guru-guru di sana mendidik.

Di Indonesia, saya juga sangat sering bilang ke Murni, jangan sampai kehadiran dia di rumah menyebabkan Fika Fida tidak terbiasa bekerja. Jangan sampai dia jadi bergantung. Saya selalu katakan pada Fika Fida, bahwa Ibu dan Ayah belajar, Kakak Murni kuliah dan banyak tugas, maka semua harus punya tanggung jawab di rumah ini.

Cuman lucu, saat saya ke dapur, biasanya mereka bilang tumben Ibu ke dapur. Maklum Murni sudah mengambil alih tugas saya menangani kerjaan di dapur bahkan mengurusi uang belanja mingguan atau bulanan yg terkait dengan keperluan di dapur. Dia sudah cekatan. Trims ya Murni. Sedangkan saya yang punya tanggung jawab masyarakat (ngajar dan bimbingan banyak serta penelitian), dapat memanfaatkan waktu ke hal-hal yang tidak bisa ditangani oleh anggota keluarga lainnya.

Yah seperti itulah, proses belajar mendidik anak. Semoga cerita suami dan Fida di atas dapat mengilhami para orang tua dalam mendidik anaknya. Cerita lainnya dapat dilihat di http://journey.maesuri.com/ atau http://fika-fida.blogspot.com/

Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment