Tadi skype dengan Fida saat ayahnya tidak di rumah karena sebagai ketua RT dan panitia halal bi halal, beliau tampaknya sibuk.
Anyway, Fida minta saya nyanyi. Dia putarkan lagunya .... Entah saya lupa penyanyi dan judul lagunya. Maklum jadul. Karena saya tidak tahu syairnya, dia pun kirim syair lagunya. Ayo Mummy, dia terus meminta, pokoknya sebisa saya katanya. Dia tampak senang banget.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba, dia bilang:
"Mummy, I have a problem" trus cerita masalah teman klpnya yang malas bersihkan kelas sampai dia nangis-nangis sambil cerita. "I am the only one that care about my class" dia sendiri katanya yang peduli dengan kelasnya. Kata temannya kelas sudah bersih, bangku sudah lurus padahal bagi dia belum. Katanya, teman lainnya kerjanya ringan yaitu bersih papan, tulis tgl utk besok, isi tinta spidol. Dia tambah nangis. Saya tanya gimana ya cara ngatasi? Dia terus saja nangis. Beritahu temannya supaya kompak. Dia pun bilang. Sudah, malah temannya bilang ayolah pulang, sudah bersih dst. Dia tidak berhenti nangis. Saya bilang, ngomong ke guru atau bilang ke Ayah. Masih juga nangis. Saya pun bujuk dia, sekolah di sini yuk di South Africa. "No Mummy, I want you to come here" saya malah disuruh pulang.
Trus saya jelaskan Allah maha melihat & Fida dapat poin banyak. Iya katanya, saya tahu itu tapi dia tetap nangis. Akhirnya saya cerita kasus kesabaran Nabi Muhammad. Dia terdiam, wajahnya mulai berubah, dia mulai menghapus air matanya, malah dia ikut nambahin apa yang dipahaminya, termasuk cerita bahwa saat idul Fitri, salah satu isi ceramahnya, bahwa kita harus selalu berbuat baik bahkan termasuk pada orang yang jahat ke kita sekalipun. Wah nyambung ternyata cerita saya nih. Begitulah pikirku. Saya lanjut cerita dan dia beberapa kali angkat tangan sebagai pertanda dia minta giliran bicara. Begitulah situasi interaksi saya dengan Fida melalui skype menjelang dia tidur. Akhirnya dia tampak lega, trus bilang "Mummy, thank you very much for your story. I love you very much" and good night. Trus ditegur oleh Kakaknya. Oh iya katanya, dia tersadar bahwa saat malam di Indonesia, di sini masih sore (kami kan beda 5 jam). Jadi tentu saya saja yang bisa bilang good night pada mereka.
Kejadian ini menarik bagi saya dan membawa saya menulis 3 point penting berikut.
- Saya senang sekali dg cara gurunya memberi penugasan dan mengajarkan tanggung jawab pada anak. Saya pun jadi bertambah wawasan. Saya pikir ini akan menjadi sangat bagus jika guru tersebut melakukan monitoring untuk memastikan bahwa setiap anak akhirnya mampu bertanggung jawab. Tentu guru sudah paham bahwa tipe tiap anak berbeda, ada yang rajin, malas, pemalu, terlalu percaya diri. Semua perlu ditangani secara cermat. Berat kan tugas guru SD. Makanya gajinya harusnya memadai:)
- Meskipun anak saya mengalami masa transisi dalam hidupnya, saya merasa senang karena dia belajar dari lingkungan yang berbeda. Kasus kedua anak saya menarik. Saat di Australia, kelasnnya berkarpet dan tiap hari ada yang bersihkan ruangannya termasuk mengepel semua bangku, alat peraga, jendela dll. Setiba di Indonesia, dia mulai hidup dengan lingkungan yang berdebu dan dengan air yang tidak steril bahkan kotor. Saya sama sekali tidak keberatan maklum orang kampung. Tapi dia tentu bermasalah, gatal-gatallah, nahan kencing karena jijik ke toilet, dan merasa terbatas dengan tempat mainnya. Saya berfikir positif karena hal ini adalah training fleksibilitas, hidup di lingkungan yang berbeda. Cuma awalnya, jika Fida tdk mau sekolah, saya turuti saja kemauannya karena dia bilang, "Mummy is my teacher. I don't want to go to school. It's boring". Saya maklum banget situasinya, yaitu dari cara belajar yang amat menyenangkan di Australia ke situasi pembelajaran yang sangat berorientasi pada tes. Saya tak akan memaksa dia seperti orang tua yang pernah saya lihat, anaknya sampai nangis-nangis karena tdk mau masuk kelas. Bayangkan anak SD kelas 1 diberi tes. Saat Fida di Australia (usia sekitar 3 tahun), saya hentikan dia dari playschool karena tidak mau ke sana, merasa tidak nyaman. Ya sudah, kami ciptakan saja lingkungan belajar di rumah, khususnya membiarakan dia main komputer antara lain dengan website yang ada di blognya http://www.fida.maesuri.com/ dan blog Fika http://www.fika.maesuri.com/
- Fida adalah contoh anak yang sangat aktif dan cerewet di depan Ayah Ibunya. Tapi di sekolah, dia lebih di kenal agak pendiam, khususnya ketika dia masih sulit ngomong bahasa Indonesia. Tapi, dia jago sekali mengobservasi dan dia mampu melaporkan hasil observasinya termasuk perilaku temannya, cara ngajar gurunya, termasuk apa yang dilakukan mahasiswa bimbingan saya ketika anak bimbingan saya meneliti di kelas dia. Dia informan yang lumayan bisa saya percayai karena cara penggambarannya jelas dan terdengar murni. Persis seperti cara yang dituntut pada peneliti kualitatif. Jelas gambaran dan letak analisisnya. Jadi tidak heran, jika dia bisa cerita secara runtut film yang dia tonton. Saya selalu senang mendengar cerita dia. Ternyata dari Ayahnya, saya tahu bahwa Fida menilai saya itu pendengar yang baik bagi dia. Saya itu sabar mendengarkan dia. Apa arti dari semua ini? Antara saya dan Fida sudah tercipta ruang yang disebut “zone of comfort”, dia dia merasa nyaman cerita pada saya, termasuk pada ayahnya. Nah, tantangan bagi guru adalah menciptakan zone of comfort ini pada setiap anak. Celakanya, banyak sekali anak yang harus ditangani oleh seorang guru. Nah di sinilah diperlukan ilmu khusus bagaimana menanganinya, tidak hanya sekedar mengajarkan materi pelajaran yang ada di kurikulum. Guru benar-benar perlu fokus pada kelasnya, seperti guru dia di Australia, datang 1 jam sebelum siswa datang dan pulang di sore hari. Setelah itu, tidak ada kegiatan cari tambahan uang. Maklum gaji sudah cukup, bisa makan makanan sehat, bisa beli mobil dst. Sedangkan guru Fida yang sekarang, beliau itu sangat baik dan penuh dedikasi. Tapi saya juga tahu, bahwa beliau masih harus ke sana-kemari demi mencukupi kebutuhan pokoknya. Sungguh beliau lelah, dan belum tentu beliau itu punya asuransi kesehatan. Sungguh guru-guru yang punya komitmen seperti ini memerlukan perhatian khususnya dari pemerintah.
Itulah sedikit cerita tentang Fida. Sedang Fika, dia tampak OK. Dia malah ngasih kejutan ke saya karena katanya, dia berhasil masuk ke kelas cerdas istimewa dengan total nilai rangking 3. Kelas cerdas istimewa atau kadang-kadang disebut oleh masyarakat kelas akselerasi adalah program di SMPN 1 Surabaya, yaitu hanya 2 tahun di SMPN. Sistem semesternya bukan 6 bulan melainkan 4 bulan. Jadi 6 semester di kali 4 bulan, yaitu hanya 24 bulan (1 tahun). Oleh karena itu, dia tampak keberatan diajak pindah sekolah di Afsel.
No comments:
Post a Comment