This is as a space for writing any ideas. These may not brilliant ideas but it may be helpful for myself in many ways
Friday, 14 December 2012
Antara keluarga, sahabat, dan seminar (revised)
Thursday, 13 December 2012
Antara keluarga, sahabat, dan seminar
Kami bersahabat karena punya ketertarikan dan kepedulian yang sama dalam membangun pendidikan. Beliau kadang-kadang mengajak guru utk workshop dan terserah waktu saya, entah Sabtu atau malam minggu, atau bahkan hari Minggu. Terserah juga suamiku. Kalau diijinkan saya bergabung dengan guru-guru tersebut.
Saya senang krn mereka mau kumpul atas inisiatif sendiri dan atas keinginan mrk utk belajar.
Singkat cerita, setelah kami makan malam bersama dan sahabat itu mau pamit, eh dia sampaikan pesan kalau dia dapat amanah mencari pembicara seminar dan saya dimintanya. Kok dadakan? Itu tak biasanya. Yah rupanya karena seminar itu diadakan oleh instansi pemerintah, biasalah katanya, akhir tahun itu, banyak acara dadakan.
Jawab saya terserah suami, bila beliau ijinkan dan siap mengantar. Wah suami balik bertanya ke saya, emangnya bisa siap materinya. Maklum beliau tahu kalau saya banyak kerjaan, apalagi koreksian ujian-ujian mahasiswaku juga belum selesai. Saya hanya membalas dengan senyuman dan sahabat tadi bilang, "jangan ragu, kalau Bu Sitti mesti bisa, karena sudah pengalaman". Suamiku malah bilang, karena pengalaman itu, Bu Sitti justru selalu butuh waktu persiapan dan selalu tak mau memandang remeh. Dia tuh orangnya selalu menyiapkan dengan serius. Akhirnya suami saya terbujuk juga utk merestui saya ke Sumenep. Dia pun siap ngantar.
Terpikir, malam Sabtu, saya akan persiapan. Namun rencana memang tidak selalu terwujud.
Malam Sabtu sehabis makan malam, anakku yang besar tanya:
"Do you have lots of things to before Monday?" Maksudnya, ada banyak nggak sih kerjaan yang harus saya selesaikan sebelum hari Senin. Walau pertanyaan itu tampak murni, saya sedikit sensitif. Wah ada apa? Saat di kepalaku bermunculan list kerjaan yang hrs kukerajakan, saat yang sama, saya juga mikir, barangkali anak saya mau belajar. Sejak kecil, saya memang jarang nungguin anak saya belajar, tapi saat dia mau belajar, saya pasti upayakan melayani, karena kalau kita bantuin dia saat dia sendiri yang ingin tahu, hasilnya efektif.
Supaya tdk bohong, saya tak menjawab kalau saya tak punya kerjaan. Saya jawab, "I have time for you. Even though I am busy, I really have time for you." Dia lantas bilang "but I need 2 hours Mummy". Saya juga bilang, "Ok".
Lalu diperjelasnya, dia tuh ngajak nonton film bersama-sama semua orang di rumah. Walah, kirain apa :)
Dia bilang, itu film ttg pendidikan. Hmmm, anakku tahu betul apa yang menjadi kepedulian utamaku.
Yah, akhirnya kupenuhi. Saya duduk dekat si kecil. Saya bawa Hp dekat saya, pikir bisa nyambi cek email gitu loh atau baca artikel bahan seminar. Si kecil malah ngambilin HP ku trus di simpan. Maksudnya, ya fokus deh. Gitulah, akhirnya kami nonton bareng, eh, malah saya jadi ikut nangis-nangis, seperti anakku juga. Saya benar-benar larut menonton film yang saya lupa judulnya.
Nah, terpikir, hari Sabtulah saya ngerjakan persiapan seminarku. Tapi saya tergoda utk ikut suami dan Om ke service centre Toyota. Suami memang rutin membawa mobil utk service di tempat resmi, demi keamanan dan keawetan kendaraan. Katanya, di sana saya bisa bikin makalah, ada wifi dan ruang kerja yang enak. Tapi kami di sana malah ngobrol banyak hal menarik
Akibatnya apa, saya baru menyiapkan dan serius berpikir utk seminar di malam harinya. Akibatnya malam itu saya pergi tidur setelah jam 2 pagi, dan jam 4 subuh, kami berangkat. Suamiku jadi khawatir dan sedikit stres karena khawatir kalau saya tdk bisa tampil optimal.
Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kami pun tiba. Suamiku kali ini tdk mau meninggalkanku di ruang seminar. Biasanya, kalau ngantar gini, dia tuh cenderung berkeliling mengekplorasi daerah yang dikunjungi, atau bawa kerjaan dan pergi ke mesjid utk mengerjakannya. Kali ini tumben, beliau tinggal bahkan menvideokanku.
Alhamdulillah, seminar berjalan lancar dan rasa ngantuk dan lelah saya hilang saking semangatnya bertemu para guru-guru Sumenep. Kali ini, saya menerima lebih banyak pujian dari suami. Biasanya, agak banyak kritikan membangun. Apa kata saya, "ah gombal, pasti tuh ada maksudnya memujiku". Kalau digitukan, suamiku pasti tambah melucu. Yah sudah umum dikenal orang sih, dia memang suka melucu dan dia cukup mempengaruhi pembawaanku yang cenderung serius. Sekarang, saya kadang2 juga kocak, kata saya, tercemar oleh Pak Ihsan. He he he ...
Inti dari segalanya, saya tak bisa banyak berkiprah tanpa dukungan dan pengertian keluargaku. Karena itu ucapan terima kasih khususku, bukan hanya pada dInas pendidikan, kepala sekolah, atau guru-guru, tapi juga terutama pada suamiku yang terus mendampingiku dalam berkiprah.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Makna silaturahmi
Jumat silaturahmi dengan PR 1. Sehari kemudian silaturahmi dengan Om (orang Jawa - suami dari almarhumah Tante asal Bugis), Minggu silaturahmi dengan para guru di Sumenep dan sahabat Kakak di Pamekasan. Sungguh silaturahmi ini membawa banyak hikmah.
Dengan Bu PR 1 Unesa, saya banyak mendapatkan pencerahan. Saya juga merasakan satu karakter yang patut dicontoh, seorang pejabat yang rendah hati, ramah, ibu yang lembut, cantik, dan sederhana serta memberi pelajaran melalui refleksi diri dan pengalamannya.
Silaturahmi dengan Om membawa kami berdiskusi ttg pentingnya silaturahmi, mendiskusikan hal-hal berkaitan dengan agama, membicarakan contoh kehidupan keluarga yang berkarakter baik dan sederhana, punya anak yang terus berupaya dalam hidup hingga sukses.
Sungguh momen bincang-bincang ini memperkuat ikatan kekeluargaan yang mungkin tampak longgar (tdk saling memperhatikan krn kesibukan masing-masing).
Silaturahmi dengan guru-guru di Sumenep membawa saya semakin mengerti bahwa sungguh dalam hidup ini, kita semua mengharapkan terwujudnya manusia bermoral baik. Diskusi dengan guru seakan mengindikasikan bahwa urusan no 1 dalam hidup ini adalah bermoral atau berkarakter baik. Apa pun semua kita ternyata ingin para anak bangsa kita tdk rusak moralnya.
Momen silaturahmi dengan guru-guru di Sumenep itu juga menambah bukti bahwa banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan kita, dan sayangnya banyak yang memandang keluar (melihat kesalahan di luar dirinya) dan ini perlu digeser menjadi satu pernyataan kuat "kalau begini, apa yang dapat saya lakukan untuk menjadikannya lebih baik. Bagaimana cara supaya saya punya daya utk mengubahnya".
Perbincangan dengan Kepala sekolah dan guru-guru ternyata menunjukkan kesepakatan kami bahwa membangun SDM adalah hal mendesak dan ini memang tidak mudah. Lagi-lagi dibutuhkan kepakaran atau keilmuan dalam melaksanakannya.
Sehabis seminar, saya mengunjungi sahabat Kak Eda di Pamekasan (mantan tetangga kami di Surabaya).
Saya semakin merasakan kesamaan budaya Makassar dan Madura dalam hal "sambutan hangat para tamu". Walau kami baru berjumpa kami kok merasa seperti keluarga dekat. Kami bahkan sempat mandi sore di sana, makan makanan khas Madura, minum kopi. Belum semenit loh di sana, saya sdh menggoda tuan rumah, bahwa suami saya tdk mau pulang ke Surabaya sebelum minum kopi Madura. Ah, serasa keluarga dekat.
Momen ini membawa juga pencerahan bagi saya karena Bapak dan Ibu kawan tersebut membuka TPA gratis di rumahnya dan tiap sore menyiapkan waktunya utk para anak-anak kampung itu belajar mengaji. Bagi kedua ortu itu, urusan menyekolahkan anak sudah beres. Mereka hanya ingin mengisi sisa hidupnya untuk mengabdikan diri membangun pendidikan anak-anak bangsa kita khususnya mereka yang miskin. Jadi anak-anak bisa belajar di sana tanpa dipungut dana pembayaran malah dapat baju seragam yang gratis loh. Ah, kebayang, apakah suatu saat saya juga bisa melakukan hal yang sama atau lebih dari itu. Semoga ya.
Hal lain yang lebih menarik lagi adalah metodenya utk mengendalikan perilaku anak yang suka berlomba-lomba minta giliran atau berlomba-lomba pulang.
Di tempat ini, beliau menerapkan nomor antrian. Anak yang datang cepat dapat kartu antri no 1, dst. Saat pulang, nomor ini juga yang digunakan utk mengajak mereka salaman, demikian juga antrian utk aktivitas selama proses pembelajaran. Metode ini belum pernah kubaca. Bapak itu hanya mengadopsi metode dokter dengan pertimbangan mengatasi perilaku dasar anak. Karena ini, anak jadi tdk ingin telat bahkan berlomba utk datang sebelum waktunya. Luar biasa. Saya mengecek kelasnya, rupanya fasilitas buku terbatas. Insya Allah, buku-buku Fika dan Fida bisa di bawah ke sana. Saya terlalu kagum dengan orang tua kawan saya itu.
Dari pengalaman 3 hari berturut-turut, sungguh, saya harus yakin, tak ada alasan utk mengatakan bahwa kesibukan seseorang membatasi kualitas silaturahmi. Kita harus mengatur kesibukan dan kesibukan tak boleh mengatur kita. Bukankah silaturahmi merupakan sunah rasul alias perintah agama. Untuk apa hidup ini? Bukankah hidup ini hanyalah persiapan hidup bahagia secara kekal di akhirat nanti. Mari promosikan silaturahmi agar kita saling belajar dan tumbuh rasa cinta pada sesama. Semoga Allah selalu membantu kita dalam berbuat baik. Amiin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Banyak sekali. Tapi yang utama, berdasarlah pada masalah yang ada di lapangan, dan masalahnya harus spesifik. Mengapa? Karena penelitian itu utk memahami secara mendalam masalah yang ada, membantu mencari solusi persoalan yang sdg terjadi.
Mengapa harus spesifik? Karena jika tdk, sulit sekali sebab banyak sekali masalah di lapangan. Kita akan kebingungan menjawabnya. Pilihlah masalah yang menarik dan yang mungkin/sesuai kondisi kita.
Misal nih. Kita tahu saat ini banyak anak yang fasih pakai teknologi. Tapi pemakaiannya kurang optimal dlm pembelajaran matematika. Di sisi lain, anak sulit belajar matematika pada topik representasi fungsi. Lah, penelitian terdahulu atau pun pengalaman kita pakai geogebra, itu bisa membantu kita paham secara bermakna ttg grafik fungsi. Nah, kalau menggambar secara manual, siswa bosan, butuh waktu lama, dst
Alasan lain loh, geogebra itu merupakan softwere mahal tapi gratis utk didownload. Mengapa kita tak menggunakannya?
Nah, kalau sudah jelas begitu, kenalilah dan pahamilah fokus penelitian Anda.
Percayalah, kalau kita mau meneliti karena didorong rasa keingintahuan, penelitian jadi menarik. Karena aslinya manusia itu pingin tahu dan suka penasaran. Manusia suka pada tantangan.
Rumuskanlah berbagai macam pertanyaan (istilahnya curahkan semua pertanyaan), misalnya:
- seperti apa geogebra itu?
- mengapa dikatakan bisa membantu membangun berpikir matematika siswa? Seperti apa itu?
- di mana bedanya kalau secara biasa (tanpa geogebra)
- sejauh mana sih orang meneliti ttg itu, apa hasil penelitian terdahulu?
- gimana ngajari anak geogebra?
- Gimana ngajarkan matematika dengan geogebra?
- kalau merancang pembelajaran pakai geogebra, seperti apa?
- di mana kira-kira letak kelemahannya?
Dst.
Asyik kan? Kita akan mencari tahu berdasarkan semua pertanyaan itu. Jika sdh begini, kita terarah dalam mencari atau memilih sumber bacaan.
Jgn sampai, tdk jelas yang mau dicari, kita sdh habisin waktu banyak mencari buku-buku atau informasi.
Di sinilah letak manfaat penelitian, karena jk dilakukan, membawa kita bereksplorasi, memperluas pengetahuan kita, memahami dan mengapresiasi perkembangan ilmu yang ada. Kita akan sadar bahwa kita butuh waktu untuk memahami banyak hal, jadi tdk buang-buang waktu ngobrol hal-hal yang tak bermanfaat atau habisin waktu main di mall, atau habisin waktu dengan FB, nonton film dst.
Karena itulah, pantas bila dikatakan bahwa negara maju itu adalah negara yang banyak mendukung kegiatan penelitian, karena kerja penelitian itu secara jangka panjang dapat membantu secara signifikan pada pemecahan masalah dan pengembangan ilmu.
Jadi kawan, mari biasakan bertanya, ada masalah apa sih dan bagaimana kira-kira menjawabnya?
Saya akan coba sajikan contoh-contoh lain di note berikutnya.
Semoga catatan singkat ini bermanfaat bagi pembacanya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Banyak sekali. Tapi yang utama, berdasarlah pada masalah yang ada di lapangan, dan masalahnya harus spesifik. Mengapa? Karena penelitian itu utk memahami secara mendalam masalah yang ada, membantu mencari solusi persoalan yang sdg terjadi.
Mengapa harus spesifik? Karena jika tdk, sulit sekali sebab banyak sekali masalah di lapangan. Kita akan kebingungan menjawabnya. Pilihlah masalah yang menarik dan yang mungkin/sesuai kondisi kita.
Misal nih. Kita tahu saat ini banyak anak yang fasih pakai teknologi. Tapi pemakaiannya kurang optimal dlm pembelajaran matematika. Di sisi lain, anak sulit belajar matematika pada topik representasi fungsi. Lah, penelitian terdahulu atau pun pengalaman kita pakai geogebra, itu bisa membantu kita paham secara bermakna ttg grafik fungsi. Nah, kalau menggambar secara manual, siswa bosan, butuh waktu lama, dst
Alasan lain loh, geogebra itu merupakan softwere mahal tapi gratis utk didownload. Mengapa kita tak menggunakannya?
Nah, kalau sudah jelas begitu, kenalilah dan pahamilah fokus penelitian Anda.
Percayalah, kalau kita mau meneliti karena didorong rasa keingintahuan, penelitian jadi menarik. Karena aslinya manusia itu pingin tahu dan suka penasaran. Manusia suka pada tantangan.
Rumuskanlah berbagai macam pertanyaan (istilahnya curahkan semua pertanyaan), misalnya:
- seperti apa geogebra itu?
- mengapa dikatakan bisa membantu membangun berpikir matematika siswa? Seperti apa itu?
- di mana bedanya kalau secara biasa (tanpa geogebra)
- sejauh mana sih orang meneliti ttg itu, apa hasil penelitian terdahulu?
- gimana ngajari anak geogebra?
- Gimana ngajarkan matematika dengan geogebra?
- kalau merancang pembelajaran pakai geogebra, seperti apa?
- di mana kira-kira letak kelemahannya?
Dst.
Asyik kan? Kita akan mencari tahu berdasarkan semua pertanyaan itu. Jika sdh begini, kita terarah dalam mencari atau memilih sumber bacaan.
Jgn sampai, tdk jelas yang mau dicari, kita sdh habisin waktu banyak mencari buku-buku atau informasi.
Di sinilah letak manfaat penelitian, karena jk dilakukan, membawa kita bereksplorasi, memperluas pengetahuan kita, memahami dan mengapresiasi perkembangan ilmu yang ada. Kita akan sadar bahwa kita butuh waktu untuk memahami banyak hal, jadi tdk buang-buang waktu ngobrol hal-hal yang tak bermanfaat atau habisin waktu main di mall, atau habisin waktu dengan FB, nonton film dst.
Karena itulah, pantas bila dikatakan bahwa negara maju itu adalah negara yang banyak mendukung kegiatan penelitian, karena kerja penelitian itu secara jangka panjang dapat membantu secara signifikan pada pemecahan masalah dan pengembangan ilmu.
Jadi kawan, mari biasakan bertanya, ada masalah apa sih dan bagaimana kira-kira menjawabnya?
Saya akan coba sajikan contoh-contoh lain di note berikutnya.
Semoga catatan singkat ini bermanfaat bagi pembacanya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Wednesday, 12 December 2012
Konsultasi
Apa kabar Mba, moga kapan-kapan ada waktu utk bincang2.
Maaf nih mau konsultasi soal anak.
Mau infokan, anakku itu keduanya sdh saya ajak ikut belajar nulis ke Mba Sirikit, tapi hingga sekarang masih belum minat.
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan, anakku yang pertama itu kelihatannya betah sekali membaca.
Sebenarnya ada potensi besar utk menulis. Tapi karena lingkungan khususnya di sekolah terbatas kesempatan itu, dia jadi jarang nulis.
Sekalian mau tanya, anakku yang pertama ini suka sekali membaca fairy tales. Dia bisa betah berjam-jam membacanya. Kalau saya tdk punya pengalaman dalam hal ini sehingga tdk tahu betul manfaatnya. Nah, apa saya sebaiknya membiarkan atau mengendalikannya Mba. Kepikiran, baca buku Islam terbatas, tapi baca fairy tales itu luar biasanya banyaknya. Apa manfaat dan kerugiannya ya Mba baca banyak Fairy tales.
Sebagai info tambahan, anakku itu tampaknya rajin belajar. Keduanya suka matematika dan sains. Kalau yang anak pertama, nilai matematika pada umumnya tinggi bahkan sering tertinggi di kelas.
Anak keduaku suka nulis. Saya temukan beberapa tulisannya di IPAD nya. Tapi juga dia tdk tertarik belajar nulis.
Mohon saran ya Mba.
Saya berharap, dua anakku jadi manusia yang baik dan sangat besar manfaatnya buat orang lain atau bagi masyarakat.
Trims sebelumnya.
Salam manis
Sitti Maesuri
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tuesday, 4 December 2012
Mahasiswaku
Perkuliahan di S1 hampir selesai.utk kelas pagi kemarin, tersisa dua kali pertemuan.
Berdasarkan pengamatanku dari proses pembelajaran mahasiswaku di satu kelas, saya membuat beberapa simpulan antara lain:
- kemampuan komunikasi para mahasiswaku semuanya baik. Beberapa kali mereka presentasi, omongnya jelas, sajian idenya juga jelas. Bahkan hari ini, presentasi hasil bedah kontent kurikulum matematika pada topik tertentu dan ide awal pengajaran utk satu materi kecil dapat dipresentasikan dengan lumayan baik dalam waktu 10 menit atau kurang dari 10 menit.
- saya menilai mahasiswaku sungguh-sungguh. Banyak tugas membaca, merangkum, menyiapkan bahan presentasi yang mereka lakukan dalam semester ini. Mereka selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Tak ada satu pun mahasiswa yang mengejar-ngejarku karena keterlambatan mengumpulkan tugas. Tidak ada. Hal ini sangat menggembirakan.
- Dalam diskusi, saya juga melihat mereka saling menghargai. Tak ada yang saling mencaci.
- Kehadiran mereka di kelas hampir 100 persen setiap saat dan dalam setiap pertemuan, nyaris tak ada yang telat masuk kelas.
- mahasiswaku ini semuanya sopan. Tak ada yang seperti cerita kawan saya di luar negeri bahwa mereka seperti bos, mau dilayani dan terkesan kasar. Tak ada itu.
Apa arti fenomena ini bagiku.
Oh sangat berarti. Ini terlalu penting bagiku. Ini membuat diriku optimis. Ini menunjukkan satu peluang besar bahwa pendidikan Indonesia akan bisa lebih maju.
Sudah pernah kukatakan pada mereka, bahwa apa yang kalian pelajari semester ini, mungkin sdh out of date saat Anda keluar dari Unesa. Kurikulum KTSP misalnya yang Anda diskusikan saat ini mungkin akan berbeda sekali saat Anda di lapangan.
Lantas apa yang tersisa. Apa yang urgen? Yaitu proses pembelajaran itu sendiri. Upaya sungguh-sungguh itulah yang akan Anda bawa sebagai bekal masa depan. Kemampuan memecahkan masalah, merumuskan pertanyaan dan upaya sungguh-sungguh menjawabnya. Kemampuan komunikasilah yang jadi modal hidup Anda, juga kerjasama yang baik antara sesama, serta kebaikan hati atau kebaikan diri yang selalu kalian tampakkan.
Lebih jauh saya jelaskan bahwa banyak yang dulu kupelajari saat sekolah, bahkan ada diantaranya yang dapat 100, tetapi banyak yang sdh saya lupakan dan bila Anda tanya, saya belum tentu dapat menjawabnya. Tapi kalau saya diminta mempelajari dan memahaminya, saya percaya diri karena saya sudah terbiasa mempelajari hal-hal baru secara mandiri. Saya juga sudah terbiasa bertanya atau mencari jawaban baik pada diri maupun pada orang lain. Saya sudah percaya atau yakin bahwa dengan upaya sungguh-sungguh kita akan mampu memecahkan masalah, dan saya pun tak merasa ketakutan atau malu, bila upaya saya yang maksimal hasilnya masih terbatas karena saya manusia terbatas. Yang penting bagiku, telah mengoptimalkan usaha dan saya jujur apa adanya.
Penjelasan seperti ini tak ada dalam modul bahkan tak ada dalam silabus perkuliahanku, tapi ini URGEN kusampaikan pada mereka, para calon pendidik bangsa, harapan masa depan saya, masa depan bangsa.
Satu hal menarik lainnya yang harus kuinfokan di sini bahwa lebih 75 persen dari mahasiswa di kelas pagi kemarin adalah wanita. Apa pula artinya?
Wanita!
Saya adalah wanita. Saya dulu membayangkan bahwa peranku terbatas, khususnya hanya melayani suamiku dan menjaga anak-anakku. Studi S2 sdh terlalu cukup bagiku bahkan saat saya punya dua bayi dan punya tanggungjawab berat di kampus dan pada proyek penelitian, saya sempat punya ide berhenti jadi dosen. Saat itu terpikir, untuk apa? Yang paling penting bagiku adalah memelihara bayiku. Walau kemudian saya bersabar dan mendengar nasehat suamiku untuk menjalani peran ganda secara sabar.
Suamiku mendampingiku menjaga bayiku sambil menjalankan tugasku sebagai Ibu dan istri. Suamiku bahkan menomorduakan penyelesaian S2nya demi mendampingi keluargaku. Suamiku bahkan rela melepas status Dosen PNSnya demi keutuhan keluarga kami seperti telah kujelaskan dalam note sebelumnya.
Suamiku (karena terinspirasi oleh dosen wanitanya), dia punya pikiran luas ttg wanita dan dengan pengalamannya membantuku menjaga anak-anakku sejak kecil, dia selalu berkesimpulan bahwa menjadi ibu yang mengurusi anak-anak adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak ringan, sehingga suami harus terjun membantunya dan suami harus menghargai pekerjaan mengurus anak di rumah. Suamiku, karena seorang WANITA, pikirannya berubah. Dia tidak lagi memandang wanita sebagai saingannya (saat S1 dulu, katanya saya dianggap saingannya).
Kembali ke cerita mahasiswaku tadi. Kebanyakan mereka adalah wanita. Wanita berkualitas menjadi kunci cerahnya masa depan. Bila wanita, mahasiswaku, calon guru masa depan, mampu menjadi pendidik yang profesional, sungguh besar pengaruh mereka pada nasib anak bangsaku. Karena itu, terlalu patut bagiku mendoakan mereka, agar mereka semua menjadi wanita yang mulia, karena memelihara dan memuliakan dirinya. Amiin. Semoga mereka terjaga dari pergaulan bebas karena pergaulan bebaslah yang banyak menghancurkan kemuliaan seorang wanita. Sungguh, saat ini mereka belum menjadi siapa-siapa, mereka belum terpandang, tapi 5 tahun kemudian, semoga mereka sudah bisa tampil di masyarakat menjadi motor perubahan, perubahan ke yang lebih baik buat bangsaku, dan semoga mereka menjadi makhluk Allah yang bermanfaat. Amiin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saturday, 1 December 2012
Kesetiaan
Semoga saya sekeluarga dan teman-teman FB terpelihara dari hal tsb.
Katanya lagi, yang selingkuh itu banyak antara bos-bos dan pegawai-pegawai honor atau yang masih muda. Para wanita itu pun tak peduli kalau sang laki-laki ada istri bahkan tak jarang laki-laki juga paham kalau selingkuhannya punya suami. Trus, pikir demi pikir, sepertinya cerita itu bukan tak mungkin. Lantas mengapa semakin banyak orang yang menunjukkan gejala perselingkuhan??? Semoga kita semua selalu lapang dada untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran, termasuk dalam menghindarkan diri pada perselingkuhan.
Kita memang perlu mawas diri. Kita harus berupaya utk tdk membuka kesempatan yang demikian. Karena ada hal yang harus kita yakini, bahwa Allah yang tahu hati kita dan apa pun yang kita lakukan pasti ada balasan. Artinya kita tak perlu takut pada siapa-siapa, tapi harus takut, hanya pada Allah.
Suami saya kemarin bilang, karena itulah, kita harus selalu mengingat akhirat. Jgn khawatir dunia, tapi khawatirlah pada akhirat, karena di akhirat hanya ada dua pilihan, surga atau neraka. Pilihan itu ditentukan dalam kehidupan dunia kita. Di sinilah peran agama. Semoga kami suami istri selalu terjaga. Amiin.
Satu hal, saat saya jauh dari suami, di kepala atau di hati saya selalu hadir suami dan anak. Saya sering melihat pergaulan bebas di sekitar saya. Karena itu, saya sibuk bekerja dan menghindari minta bantuan pada laki-laki. Saya tak pernah mau duduk berdua di kantor dengan lawan jenis, walau itu mungkin hal biasa bagi orang di Afrika Selatan. Bahkan, saat kunjungan 2 minggu kemarin, saya menolak diberi kantor yang di dalamnya berpenghuni laki-laki. Ini mungkin tampak kaku. Tapi semua ini demi upaya menghindarkan diri dari fitnah dan hal-hal negatif. Hal lain, dalam berinteraksi dengan orang lain, saya sesegera mungkin mengenalkan diri bahwa saya sdh bersuami dan punya dua anak dan mengatakan suami saya orangnya baik dan selalu mendukung saya. Ini bukan hanya bicara apa adanya tetapi sekaligus membentengi diri. Ini pun kita harus selalu berdoa agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak baik.
Satu hal menarik, karena saya anak kampungan dan tdk terbiasa dengan pentingnya cincin, saya kadang-kadang tdk pakai cincin. Bahkan suatu ketika saat cincin saya patah, terpaksa jari manis kiri saya tak pakai cincin selama beberapa minggu di Afsel. Suatu ketika ada anak muda di Afsel menegur saya. Entah apa yang ditanyakan. Yang pasti saya bilang, saya segera pulang berlibur ke Indonesia karena sudah kangen dengan suami dan anak. Dia pun kaget dan bilang, apa saya serius saya tuh sdh bersuami. Katanya, saya mengira Anda masih single?
Saya baru menyadari beberapa waktu kemudian, baik cewek maupun cowok mengira saya single karena tak pakai cincin di jari manis kiri. Padahal mrk tak tahu, cincin di jari manis kiri kadang saya lepas utk kenyamanan tak pakai cincin, bahkan kadang saya pindahkan cincin ke jari kanan saat saya bersih-bersih, bukan dengan maksud mengubah indikasi status nikah. Gara-gara inilah, saat pulang ke kampung, saya sengaja ke Makasaar (di Somba Opu) beli satu lagi cincin yang cocok utk jari manis kiriku dan sejak itu, saya selalu berusaha pakai cincin di jari manis kiri.
Saat saya belajar bhs Inggris di Bali, saat pertama kali sering pisah suami dalam seminggu, saya sdh mulai sadar tantangan situasi perselingkuhan. Saya sdh merasakan pentingnya berhati-hati, dan saya putuskan lebih baik belajar sendiri dari pada belajar bersama dengan teman laki-laki. Kalau berkelompok, mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau berdua, tentu bisa berdampak negatif setidaknya terhadap pandangan orang lain. Perilaku saya ini yang mungkin membuat suami mempercayai kesetiaanku hingga kini, walau kadang-kadang saya tetap digodanya.
Saya pikir, perselingkuhan bisa dihindari kalau hal di atas dipertimbangkan. Cara lain adalah dengan terus membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Prinsip kami, suami istri perlu terbuka. Sampaikanlah apa yang disukai dan tidak disukai. Kami juga terbiasa saling cerita tentang aktivitas-aktivitas yang kami jalani sehari-hari. Meskipun suami dan saya berjauhan, contohnya saat saya postdoc di Afrika Selatan.
Bagaimana kalau terjadi salah paham antara suami dan istri. Atau terjadi marah antara suami dan istri? Saya pernah baca, dalam situasi seperti ini, jangan pernah curhat pada orang lain yang berbeda jenis kelamin, misal pada teman cowok. Kalau saya sih, saya hindari curhat kepada siapapun kecuali pada suami sendiri saat saya tidak marah. Atau yang terbaik adalah menulis, memberi kesempatan pada diri saya melampiaskan perasaan secara tertulis, tapi juga saya berusaha memandang persoalan dlm berbagai sudut, dan mengakhirinya dengan pertanyaan: TRUS APA?
Ujung-ujungnya, saya sering berkesimpulan, marah itu tak ada gunanya. Lagian kalau saya marah, tubuh saya jadi lelah karena mungkin syaraf tubuh banyak yang putus. Jadi saya kadang-kadang nimbang-nimbang, kalau nerusin marah, apa manfaatnya, kalau batalin marah apa manfaatnya. Dan tips manjur adalah, ingatlah semua kebaikan pasangan, tampung semua kebaikan itu di memori, tapi hapus semua kelemahan atau kesalahan pasangan di memori.
Yang pasti, kenyamanan dalam keluarga memang menjadikan hidup rumit di luar menjadi terasa ringan saat berkumpul dengan keluarga.
Kalau komunikasi kita baik, kalau rasa sayang selalu kita tunjukkan pada pasangan. Kalau rasa saling pengertian dan saling mendukung pada pasangan terus kita bangun, Insya Allah, kita terhindar dari gejala perselingkuhan. Semoga Allah tetap memelihara kesetiaan kita pada pasangan-pasangan kita karena Allah semata.
Powered by Telkomsel BlackBerry®