This is as a space for writing any ideas. These may not brilliant ideas but it may be helpful for myself in many ways
Sunday, 31 July 2011
Pindahan
Trims atas semua skenario indah dari-Mu. Ya Allah berilah yang terbaik bagi hamba, baik di sisi-Mu dan baik di sisi saya.
Maafkan segala dosa dan noda hamba. Jadikan Ramadhan ini berberkah bagi keluarga kami semua di Surabaya dan di Sulsel.
Ya Allah, jadikan pula Ramadhan ini menjadi bulan produktif bagi hamba, produktif karya dan amal.
Engkau sungguh pengasih.
Terima kasih ya Allah, sungguh lega krn barang2 hamba sdh dipindahkan.
Hamba bisa fokus sekarang membereskan sisa-sisa yg ada.
Sebagian akan ditaruh di kampus.
Hari ini ya Allah, ijinkan hamba utk lebih produktif,
1. Menyelesaikan draft yearly plan
2. List of conferences
3. Updating of my draft
4. Reading algebra
5. Continue data analysis
6. Learning geometry
Sent from my BlackBerry® wireless device
Saturday, 30 July 2011
letter-WMC teachers
Statistik
Black african: 39.693.000
79,4%
Coloured: 4.424.000
8,9%
Indian or Asian: 1 300 000
2,6%
White: 4 585 000
9,2
Province
1. Eastern Cape
2. Free State
3. Gauteng
4. KwaZulu-Natal
5. Limpopo
6. Mpumalanga
7. Northern cape
8. North West
9. Western Cape
Total penduduk SA: 49 991 000
Pertumbuhan penduduk relatif menurun sejak 2001.
Tapi tampaknya pertumbuhan positif terjadi pada orang India-Asian.
Yg menarik adalah, pertumbuhan kulit putih sejak tah 2001 hingga 2010 menurun, berkisar 0,4 -0,5.
Apa mereka kemudian lebih cenderung berpindah ke negara lain sejak masa apartheid bubar???
Sent from my BlackBerry® wireless device
Mentoring program
Saya datang dan sy beruntung datang karena memberikan pengalaman baru bagi saya. Banyak cerita cuma rasanya blm sempat menuliskannya di sini.
Sekarang sy agak lelah. Mikir mau ke kampus tapi sy juga berfikir utk istirahat demi pemulihan tenaga. Allahu Akbar.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Busisiwa
David webster hall
West campus village
G035
011 717 9642
Sent from my BlackBerry® wireless device
Wednesday, 27 July 2011
Catatan kemarin malam
2. Alat gambar utk pribadi
3. Fully recharge mobile
4. Do the task
5. List the member:
6. Pray before going
7. Learning geomentri: be-confident
8. Anticipating who are there?
9. Reading the interviews
10. Getting to know
For myself:
What questions in the proposal
Thinking about PD
Alhamdulillah, tadi sore sudah hadir PD.
Kesan saya:
1. Guru kurang aktif berpendapat. Mereka juga sibuk bekerja tapi sy tidak tahu sejauh mana pikiran mereka.
2. Apakah karena rancangan kami terlalu mengarahkan sehingga mereka kurang inisiatif.
3. Saya merasa beruntung karena menciptakan kritikal event.
4. Sy membaca ada yg perlu didiskusikan karena Regina menggunakan parent triangle dalam menghasilkan triangle yg baru sehingga itu pun mengarahkan.
5. Ada masalah mengenai urutan, mengapa mesti berurut? Apa yg salah jika tidk berurut? Perlukah diberitahu siswa utk mengurutkannya?
6. Pyramid. Bukan flat.
Catatan: teman-teman telah bekerja keras. Kritik sebaiknya yg bersifat membangun dan jangan negatif karena ini bisa melukai.
Jk kritik blm bisa memberi solusi jelas, mungkin baik jk disimpan saja atau dirumuskan dalam bentuk tanda tanya utk kita pikirkan solusinya.
Hal baik apa bagi sy, saya menunjukkan critical event yg mungkin akan bermanfaat jika didiskusikan secara kelompok.
Saya memperjelas pertanyaan saya, utk memancing.
Muncul pertanyaan baru. Bagaimana jika tdk ada labelnya?
Bagaimana dg contoh penyangkal ini?
Apa yg dilakukan oleh guru jk hal ini terjadi?
Trims ya Allah.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Ada apa besok?
- perlu baca laporan
- perlu cek kembali kasus kongruensi
- perlu ajukan ide utk pertemuan berikut, yaitu diskusi dalam kelompoknya ttg manfaat dan keterbatasan alat peraga ini dan diskusi critical event yg terjadi, dg counter example.
2. Meeting dg Prof.
- masalah proposal
- tanya prioritas reading utk membantu sy memahami secara komprehensif.
- copy referensi yg mendukung sekaligus utk update endnote (yg mana prioritas)
- interview, dll
I've got the sense, but now what are we going to do with the data.
- data analysis using Nvivo and atlas Ti. I have in the laptop but it will be expired soon.
- PhD works.
- asking about issues on Web-based learning resources for teachers.
3. Integer Interest Group
4. Ke West Campus jika waktu cukup.
Artinya saya seharusnya di kampus sebelum jam 8.
Dan sy perlu tidur tapi shalat dulu dan berdoa ya.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Berbagi ide
Saya terlibat dalam sebuah proyek yg cukup besar di Wits di bawah pimpinan Prof. Jill Adler.
Ada 3 sub proyek di dalamnya (1) DMJ, (2) CFP, and (3) ELMP.
Yg pertama utk meningkatkan kemampuan profesionalisme guru, tentunya meliputi materi, cara pengajaran, dan pengetahuan kurikulum. Yang kedua adalah pembelajaran yg berfokus pada kontent (materi matematika) utk pengajaran, dan program mentoring utk siswa SMA kelas 3 yg akan menghadapi ujian nasional tahun ini.
Hal yg menarik adalah sasaran proyek ini adalah sekolah yg punya latar belakang pahit. Kita tahu di masa aparteid sebelum nelson mandela berkuasa, terjadi pengkotak-kotakan, ada kampung khusus kulit hitam, India, kulit putih, kulit warna. Yg disadvantange ini maksudnya kulit hitam, hidupnya melarat, diperlakukan secara tidak adil, bahkan kata kawan sy, dahulu orang kulit hitam dilarang ke luar rumah setelah pukul 6 sore.
Jadi, 10 sekolah yg terdiri sekitar 36 guru ini termasuk terkebelakang dan nilai unasnya pada umumnya rendah, kebanyakan di bawah 50%. Siswanya juga kurang termotivasi belajar mat, ada masalah bahasa karena bahasa Ibu mereka bukan bahasa Inggris, dan gurunya juga jadi guru bukan karena pilihannya tapi sebagian besar terpaksa, misal krn tdk punya uang. Jd mereka tdk bercita-cita jadi guru, dan bahkan ada yg sdh niat akan berhenti jadi guru dalam jangka lima tahun karena merasa gajinya rendah. Mereka mengeluh karena siswa-nya nakal-nakal, tidak mau kerja PR, tdk bawa buku meski sudah disiapin buku, dll. Intinya, masalahnya kompleks.
Nah, saat awal2 saya kerja, sy diberitahu oleh Prof, Sitti, kamu tahu, orang yg sulit belajar atau dibelajarkan adalah orang yg posisinya disadvantaged, ekonominya lemah, keluarganya tdk atau kurang berpendidikan, mereka tdk lihat manfaat pendidikan. Bagi yg sebaliknya, yg keluarga mereka mapan dan melihat pentintingnya pendidikan, mereka bahkan kadang2 tdk perlu intervensi. Mereka bisa dapat jalannya sendiri.
Nah, kata Prof, yg harus kita tangani secara serius adalah disadvantaged ini. Kita perlu intervensi secara terencana dan perlu menganalisis proses intervensi tersebut utk memberikan pemahaman yg lebih mendalam pada kita.
Alhamdulillah. Saya selalu punya niat bekerja utk orang2 yg situasinya kurang beruntung. Dan ini yg membawa sy beberapa kali bertemu dg guru2 Alfatah dan datang kerja di sana, krn muridnya dr masyarakat bawah dan gaji gurunya rendah. Kadang2 saat kami workshop malam, meski mereka semangat, mereka tetap tampak capek karena harus ngelesi demi memenuhi keb pokoknya.
Alhamdulillah. Ternyata di Afsel ini saya sdh mulai terjun dalam pengalaman nyata.
Ok, kembali ke cerita.
Jadi Prof benar-benar fokus menangani orang-orang yg situasinya tdk beruntung di Afsel.
Sebagai tambahan info, banyak sekolah mewah di sini tapi tidak gratis. Mereka mungkin pada umumnya kulit putih dan orang India.
Proyek kedua. Yaitu pemberian pembekalan khusus pada materi matematika yg ada dalam kurikulum, yg ada dalam ujian nasional.
Di samping kami anggota TIM mengembangkan materi, proyek juga mengundang nara sumber baik dari guru yg ahli, pengembang materi ajar, bahkan pakar-pakar internasional yang sudah sangat terkenal dalam bidang pendidikan mat, dari UK, Belanda, Australia. Pakar2 yg diundang juga yg telah melaksanakan program pengembangan guru yg dipandang telah sukses dan tampak hasilnya.
Yg tidak kalah menariknya adalah program mentoring.
Menurut Prof, ada praktek rutin yang sudah sangat kritis di sekolah tersebut. Demi tes, siswa harus masuk pagi-pagi sebelum sekolah dimulai, harus datang sore, dan bahkan hari Sabtu. Anak terus diminta latihan soal.
Data awal telah menunjukkan bahwa banyak konsep-konsep dasar yg tdk dipahami anak dl mat. Operasi bilangan bulat saja masih banyak yg tdk bs, operasi bentuk aljabar yg sederhana pun, mereka tak bisa. Artinya meski anak itu dipaksa belajar pagi, siang malam, bisa diyakini mereka tetap gagal dalam ujian, khususnya jika soal ujiannya berkaitan dengan pemecahan masalah. Anak belajar banyak konsep dalam mat, tapi dia tidak paham hubungan antar konsep. Jadi susah kan???
Di tambah lagi, bagi siswa kulit hitam ini, mereka mungkin tdk punya role model atau panutan dalam keluarganya, karena sejarah telah membawa mereka tidak melihat pentingnya pendidikan. Bahkan mereka melihat cara praktis hidup yaitu banyak orang yg melakukan kriminal, mencuri. Makanya jangan heran, sistem keamanan sgt ketat termasuk di kampus ini (pintui bersusun) pagar berduri). Lain kali saya akan cerita ini krena fenomena ini sangat menarik dan perlu dihayati supaya di negara kita jg semakin lebar gap antara si kaya dan si miskin.
Nah, maka dilakukan program mentoring yg merupakan kerja sama antara proyek dengan mahasiswa2 jurusan matematika. Mahasiswa diminta mewnjadi mentor utk sekelompok siswa. Dan mentor ini juga tampaknya dari kulit hitam yg juga punya latar belakang yg hampir sama dg mereka. Menarika kan? Karena siswa ini bisa berinteraksi dg sesamanya dan diharapkan bisa memberi pengaruh moral, inspirasi. Juga mentor tersebut jadi punya ikatan moral yg mau berbuat utk membantunya.
Jadi siswa tersebut tdk diberi tugas yg rumit tapi mentor menyiapkan waktunya memeriksa PRnya, menjawab soal-soal yg ada di buku paket, tempat mereka curhat, dan lain-lain.
Pelajaran apa yg dapat kita ambil dari sini?
Rupanya kita punya kesamaan dengan cerita di atas. Anak kita dipaksa les sani-sini, demi unas, anak harus masuk pagi-pagi, atau pulang sore. Mereka lelah dan belum tentu paham.
Namun yg berbeda sekali adalah: mereka bisa dengan yakin menggunakan data hasil Unasnya dalam memetakan sekolah-sekolah ini.
Ini yg saya ragukan di Indonesia karena sy sdh berinteraksi dg banyak orang yg menyampaikan ketidakmurnian hasil Unas, baik pihak siswa maupun pihak guru.
Yg sy heran, dari sekian banyak guru yg saya tanya, kok tdk ada yg ngaku siswanya nyontek. Yg mereka sering cerita kesulitan siswa dan masalah belajar siswa.
Dalam konferensi baru-baru ini, ada beberapa presentasi tentanh hasil UNAS. Dikatakan bahwa meski hasilnya belum menggembirakan, namun hal yag sangat positif adalah adanya transparansi dari pihak pemerintah. Sehingga pun mereka bisa menganalisis soal yg mana sj yg siswa tidak mampu mengerjakannya.
Hal positif yg saya lihat di Afsel ini adalah pemerintah mau memanfaatkan pakar-pakar secara profesional. Terbukti kan dengan kesuksesan piala dunia. Dia menggunakan pakar internasional. Dalam pendanaan penelitian pun sangat transparan. Bisa kebayang di Indonesia, berapa potongan tersembunyi yg dilakukan oleh oknum2. Secara tertulis, biayanya besar sekali tapi di belakang layar 'cukup mengerikan' KPK tidak cukup utk menangani korupsi kita. Masyarakat harus dicerdaskan supaya mereka sadar bahwa mereka harus memperjuangkan haknya.
Ah, Indonesia punya banyak orang baik dan pasti bisa maju asal kita mau.
Gitu dulu ceritanya, lain kali disambung.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Memahami proposal Prof. (3)
Oleh karena itu dirancang proyel ELMP yg dimaksudkan utk mementor siswa kelas 12, yg dilakukan secara berkelompok dan mentornya adalah mahasiswa S1 atau pun Pasca. Dan ini bisa memperkuat math pipeline di SMA, antara sekolah dan pendidikan lebih tinggi.
Model ini sebenarnya bagus banget loh utk diterapkan di Unesa dalam membina siswa-siswa SMP Lab dg melibatkan para mahasiswa kita.
Kita bs mengetes kemampuan awal mereka, dan setelah 1 semester program mentoring, kita bisa menilainya lagi. Apalagi jika ini berjalan selama 2 tahun.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Memahami proposal Prof. (2)
Mengatasai masalah pengetahuan matematika utk pengajaran di sekolah.
Jika tdk salah maksudnya begini. Penelitian terdahulu misalnya telah menunjukka ada gap pada pengetahuan mat guru, tapi gap ini bukan akibat dari interpretasi pengajaran pada matematika yang lebih tinggi. Artinya bisa saja guru itu sudah belajar materi matematika yg tinggi misal diskrit, aljabar linier, analysis real, struktur aljabar, dll tapi mereka masih masalah dengan pengetahuan matematikanya. Oleh karena itulah proyek kedua melaksanakan sejumlah pembelajaran mat yang disebut short math courses yg dibangun berdasarkan isi kurikulum.
Saya tdk mengerti:
Paper 1
Paper 2
Optional Paper 3
Additional Math curriculum
Nah, apakah itu yg dimaksud dengan workshop dengan 3 tema tersebut?
Dan dimana letak hubungan antara CFP dan DMJ tersebut?
Sent from my BlackBerry® wireless device
Memahami proposal Prof. (1)
Proposal yg dikembangkan oleh tim ini merupakan respon pada visi tersebut. Ini mencakup 3 proyek yg saling terkait dan masing2 proyek tersebut didasari pada data-data awal (initial base line data).
I. DMJ (the Developing Mathematical Judgement
II. CFP (the Content Focused Project)
III. ELMP (Exploratory Learner Mentoring Project)
DMJ
Adalah suatu PD yang berbasis sekolah, berfokus pada peningkatan pengetahuan profesional guru matematika, yaitu pengetahuan matematikanya, pengetahuan kontent pedagogiknya dan pengetahuan kurikulum yg digunakan dalam pengajaran.
Mengapa ini menjadi fokus? karena kapasitas utk menjudge matematika siswa banyak tergantung pada ketiga aspek tersebut.
Dan tujuan dari PD ini adalah meningkatkan kemampuan judgement guru.
DMJ ini dibangun dari hasil penelitian terdahulu yg diketuai oleh Prof Adler yg disebut Proyek Quantum. Proyek ini berfokus pada mata kuliah-mata kuliah yg cocok bagi guru pada formal degree dan diploma. Namun persoalannya adalah persyaratan titel ini berubah??? Dan tuntutan praktek pengajaran di kelas/sekolah.
Artinya komponen yg berbasis pada sekolah dibutuhkan.
(Benar juga kan, di perkuliahan itu mereka mendalaminya, mengapa demikian, bagaimana sejarah pengajarannya, dll yg semuanya menjadi berharga memberi arahan bagi pengajaran di kelas. Namun, itu kan di kampus. Bagaimana dg pelaksanaan di kelas?
Oleh karena itulah, dilaksanakan pertemuan rutin dengan guru di dalam sekolah, antar sekolah, menelaah pengajaran mereka (jika tdk salah maksudnya pengajaran yg telah dikembangkan utk meningkatkan judgment mat siswa).
Sent from my BlackBerry® wireless device
Monday, 25 July 2011
Belajar apa saja hari ini?
Trus, sy meeting:
- di sana kita berdiskusi materi geometri yg akan disiapkan bagi guru serta aktivitas apa yg diberikan pada guru (Grade 9 & 10)
- ok, Craig dan Andrew menyiapkan aktivitas mengkonstruksi segitiga dengan telah menentukan 3 unsur yg diketahui:
# SSS
# SSA-dia bisa buat SSA, SAS
# SAA-dia bisa buat AAS, ASA
# AAA
Questions:
- what tools do we provide? What technique do we prefer?
1. Pakai kertas tranparansi
2. Pakai kompas
Apa kelemahan dan kelebihan masing-masing?
Yang mana yg lebih mudah salah? Atau yang mana yang lebih akurat?
Kemampuan yg saya pribadi perlu saya bangun:
1. kemampuan melukis menggunakan kompas, khususnya melukis sudut yg kongruen, melukis garis yg kongruen
2. Memahaminya mengapa setelah dilukis, ada jaminan bahwa mereka kongruen.
3. Mampu menjelaskan secara lisan (thinking loudly) tentang cara melukis tsb.
4. Saya perlu baca materi segiempat yg difotocopy dari Andrew.
5. Sy perlu mencermati kurikulum utk grade 9 dan 10, atau sebelumnya dan bisa mencoba membuat mindmapping.
I love studying this dan sy harus banyak belajar.
Learn math as much as you can.
Ide baru apa yg muncul utk sy gunakan di penataran guru.
1. Ide template itu dg menggunakan metode jiplak.
2. Ide belajar melukis yuk! Manfaatkan teknologi utk belajar secara mandiri, dgn skenario dia akan diutus ke daerah yg tdk punya teknologi yg sama dan nantinya mereka diminta utk mengajarkannya. Keberhasilannya adalah kemampuan teman yg diajar melakukan dan menjelaskannya. Dan mereka harus yakin bahwa yg dihasilkan itu benar. So Do it and understand it.
Jk sy sebagai guru, sy akan melakukan ide yg sama. Siswa tsb tentu bs mengulang2 menonton hingga yakin bahwa dia siap dikirim ke desa yg tak berteknologi.
Ini menarik loh.
3. Saya harus mengerjakan soal-soal segiempat yg ada di buku.
4. Tadi setelah magrib, sy juga sempat belajar ttg Nvivo.
Sy perlu bicara dg Prof tentang data apa sj yg dimiliki utk seorang guru.
Sy perlu mencermati pertanyaan penelitian dalam proposal.
5. Apa ya besok?
- email Merrilyn and Shelley.
- baca bahan aljabar
Sent from my BlackBerry® wireless device
Sunday, 24 July 2011
I may email this
Hope this email finds you very well.
I am e-mailing you to ask a question: don't you mind to involve in shaping my papers for JRME/MERJ and JMTE. Because you know exactly the story of my research.
The first paper is about offering a potential model
The second is focusing on factors supporting/inhibiting teacher professional learning using zone theory.
We could be co-authors with Professor Adler.
I have two meetings on this papers and she has guided me and challenged me in shaping my papers.
I am hoping very much that while I am involving in Prof Adler's project, I could also have several international publications from my thesis
I am sure, from this process, I am going to learn a lot and it will help me to be confident for publication.
I attach my notes from meeting 1 and the summary of my meeting 2.
Looking forward to hearing from you.
Kind regards,
Sitti
Sent from my BlackBerry® wireless device
Visa
Sent from my BlackBerry® wireless device
Argumen
Hal yg bs saya lakukan adalah:
* mengidentifikasi kelima fase utk saya bedah, dan membuat beberapa kolom:
K1: Fase dan uraian (belum tahu sejauh mana)
K2: critical events (1 or 2)
K3: ethnography aspects (explain where this method shaped my action)
K4: 5cEPD (how this guided me)
K5: zone theory (ZPD, ZFM, ZPA)
Kejadian kritis apa yg bs saya ingat?
1. Jack menggunakan komputer dg cara .....tdk optimal, koneksi internet tersedia, sebanyak 4 komputer tersedia, dia mengajarkan waktu tdk mengakomodir kemampuan yg berbeda.
Berorientasi pada siswa, ada website yg tdk membatasi siswa, bisa melayani dg yang berbeda, bagi Jack mencari sumber belajar itu hanya buang waktu bagi dia. Dia menerima saya karena kami akan berkolaborasi demi utk siswa2 nya. Jadi berangkat dari alasan siswa, tentu dia akan ....... Sy juga ingin mengenalkan .. Berbagai cara ...
Kami kolaboratif, sy mendukungnya.
Juga sasarannya utk siswa.
Nah supaya ini mudah, sy buatkan blog. Sy juga memperhitungkan keprofesionalannya jadi supaya dia memberi persetujuan, supaya dia lihat. Dia lihat sepintas, tapi dia putuskan dan dia kirim siswa ke saya.
Siswa pun bekerja dan senang, bisa maju dg baik.
Ternyata ini punya efek, yaitu setelah tahu, dia pikir ini berjalan lancar dia jadi tertarik. Dia minta website itu. Ah kalau begitu sukses, namun selanjutnya dia minta saya utk cari yg mana cocok utk berbagai level, tapi kan bukan ini yg saya mau.
Namun apa yg terjadi adalah kirim siswa ke saya. Artinya sy harus kerja dg siswa dong padahal sy mau mempromosikan internet bagi dia. Saya tdk mau jadi pelengkap saja.
Kita juga bisa kaitkan di mana. ZFM, ZPD, ZPA
Kejadian kritis apa lagi.
Pakai internet, tapi bukan dengan cara student centre. Dia pakai dg cara dia dalam mengajar nilai tempat, yg menggantikan stik/tusuk es.
Jadi dg cara ceramah.
Nah ini jadi masalah bagi sy karena sy ragu apakah dg cara ini dapat memperkaya pembelajaran matematika siswa.
Saya terpaksa harus mengambil tindakan. Sy bercerita apa yg disenangi siswanya, yaitu investigasi ketika belajar ttg pengukuran.
Nah inilah kemudian muncul kegiatan investigasi
Hal lain kaitan dg pembuatan tabel.
Bagaimana?.
Ini menarik sekali. Jadi kalau sy bisa petakan kejadian kritis tersebut dan menunjukkan di mana ketiga teori ini membantu dan menjanjikan? Maka paper ini bs selesai Insya Allah.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Hasil meeting ke-2 ttg publikasi (2)
1. Jadi paper saya menawarkan suatu model terintegrasi yang menjanjikan utk dunia pendidikan matematika.
Model ini muncul dari suatu penelitian ethnography tentang program pengembangan guru utk pemanfaatan internet seabagai alat pembelajaran guru atau alat pengebangan keprofesional guru. Penelitian ini didasarkan pada 3 teori yaitu (1) ethnography sebagai metode, (2) 5 ciri PD efektif berdasarkan kajian literatur, dan teori ttg pembelajaran guru yakni zone theory. Nah, dalam paper ini saya akan menunjukkan bahwa ketiganya adalah sangat penting dan menawarkan potensi utk pengembangan guru matematika kaitan dg teknologi.
2. Mengapa paper ini penting? Karena adanya masalah integrasi ICT. Banyak model tapi tdk dikaitkan dg teori pembelajaran guru, atau teorinya tidak eksplisit. Mengapa ethnography, karena ini memungkinkan saya bukan hanya mempelajarinya tapi sy jadi mendapat wawasan yg banyak dan sy bisa menjadi partisipan yg kritis dalam proses PD ini.
3. Jadi di sinilah paper saya. Sy harus menjelaskan mengapa ethnography penting, apa itu ethnography, bagaimana pemahaman sy ttg nilai atau arti pentingnya ethnography, yakni tidak hanya membantu dari dalam, but sesungguhnya saya bisa jadi responsif dan mengembangkan hal-hal dalam proses perjalanan ini. Dan ini berbeda dg ethnographic yg saya kaji sebelumnya. Jadi ini tampak pengembangan pengetahuan baru di sini.
4. Saya juga akan menjelaskan ke-5 ciri model yang harus dikombinasikan dg zone theory.
5. Jadi saya bisa katakan bahwa saya mulai dg satu guru, yang akan menjadi fokus, yaitu membawa dia dari non-user ke user.
6. Saya hanya fokus pada 2 issue kritis yg muncul dari seorang guru yang akan menjelaskan pentingnya teori pembelajaran guru, penting model PD efektif dan ethnography diterapkan secara bersama-sama.
7. Isu kritis pertama adalah .... (Bersambung)
Sent from my BlackBerry® wireless device
Phd artikel
JUST DO IT
1. Saya ingin mengajukan suatu model otentik.
Mengapa model ini penting?
Karena dua hal mendasar.
Pertama, model ini bisa
Sent from my BlackBerry® wireless device
Arah RSBI
1. Salah satu dampak positif adalah banyak yg semakin termotivasi belajar bahasa Inggris.
Memahami bahasa Inggris utk konteks Indonesia yg memiliki sumber2 belajar yg relatif terbatas dalam bahasa Indonesia dibandingkan dalam bahasa Inggris, ini adalah suatu manfaat besar jika bahasa tsb digunakan utk mengakses informasi yg berbahasa Inggris.
Ini berbeda dengan konteks Jepang yang selalu menterjemahkan buku-buku terbaru sehingga mereka dapat mengakses informasi yg upto date meski mereka tidak menguasai bahasa Inggris.
Terlepas dari efek positif di atas efek negatifnya, secara logika akan jauh lebih besar.
1. Bagi guru matematika.
Informasi yg banyak dipahami oleh pihak guru bahwa mereka khususnya guru matematika dan sains diharapkan melaksanakan pembelajaran secara bilingual, bahkan dulu beredar aturan bahwa tahun pertama, bahasa Inggris 25%, tahun kedua 50% dan tahun ketiga 100%.
Guru-guru pun mulai panik, ada yang kursus, pihak perguruan tinggi melakukan pendampingan, mengenalkan tata bahasa Inggris untuk matematika.
Guru pun sudah mulai mengajar matematika dalam bahasa Inggris dengan rasa percaya diri yg rendah apalagi jika sudah ditertawakan oleh siswa atau diminta oleh siswa berbahasa Indonesia saja.
Ini menjadi beban tersendiri pada para guru. Waktu yang seharusnya digunakan fokus pada pembenahan permasalahan pembelajaran matematika menjadi sangat tergannggu akibat hal tersebut.
2. Aspek
Sent from my BlackBerry® wireless device
Hasil meeting ke-2 ttg publikasi (1)
- ttg model PD yg integartif
- fokus pada pck (cuma saat ini belum dibicarakan)
- zone theori.
2. Catatan pertemuan saya sangat membantu dia. Dia bilang saya berpikirnya sangat baik dan catatan tsb membantu dia melihat pikiran saya.
3. Dia punya pikiran tentang bagaimana memulai artikel yang pertama
4. Dia bilang pada artikel mana pun, pertama kita kemukan masalahnya apa, gap nya apa.
5. Pada artikel ini, masalah utama adalah integrasi ICT utk pembelajaran matematika. Ini sudah diketahui banyak orang. Ini masalah yg sudah lama. Guru secara umum jarang menggunakannya.
6. Masalah lainya, sudah banyak model yg telah ada, dengan segala keterbatasan antara lain
- waktunya pendek
- meskipun didasarkan pada teori PD tapi tidak memperhatikan secara cermat mengenai teori pembelajaran guru, yaitu zone theory.
- untuk melihat apakah kajian tentang teori PD yang dikombinasikan dg teori pembelajaran guru tsb PRODUKTIF, maka perlu dilakukan intervensi.
- intervensi ini perlu dilakukan secara ethnographic (dari dalam), karena dengan cara ini memungkinkan saya berinteraksi secara simpatetik tapi juga kritikal.
Artinya:
Saya bisa beraksi dg memperhitungkan dan memahami guru, tapi juga saya bisa kritis terhadap sikap guru memposisikan saya.
Misalnya saat guru memposisikan saya hanya sebagai penyedia website, saya mengambil jarak dan berkata, saya harus melakukan sesuatu.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Saturday, 23 July 2011
Al-Baqarah
Subhanallah, Allah memang meminta kita berbuat kebajikan, tentu kebajika ini bisa dimaknai dg mudah oleh setiap orang karena kita semua diberi hati nurani.
Artinya, jangan pernah ragu berbuat baik tanpa pandang bulu, karena itu perintah dari Allah yg menciptakan kita.
Saya yakin Allah tidak pandang bulu, nah mengapa kita mau pandang bulu. Berbuat lebajikannlah kepada siapa pun.
Maha besar Engkau ya Allah, berilah kekuatan dan kesempatan pada hambat untuk berbuat kebajikan di mana pun hamba berada, termasuk di South Afrika ini. Amiin. Lindungilah hambah karena Engkau Maha Pelindung
Sent from my BlackBerry® wireless device
Baca
Why south african schoolchildren underachieve in reading and mathematics
Brahm fleisch
2008
Sent from my BlackBerry® wireless device
Friday, 22 July 2011
www.msa-rhp.com
Sent from my BlackBerry® wireless device
Draft 1: Pelatihan Guru bisa tak berarti apa-apa
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bisa tak berarti apa-apa karena program ini tidak memenuhi kriteria program pengembangn guru yang efektif antara lain (1) tidak kolaboratif, (2) tidak berorientasi pada kepentingan siswa, (3) tidak cukup untuk memperdalam materi ajar dan cara pengajaran secara tepat.
PLPG adalah salah satu program pemerintah yang digariskan harus dapat memberikan jaminan terpenuhinya standar kompetensi guru (1) pedagogik, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) sosial (sumber buku pedoman PLPG 2011). Pada tahun ini, sebanyak hampir 300.000 guru ditargetkan mengikuti PLPG dan kuota terbanyak adalah Jawa Timur yaitu 45.487 guru.
Terlepas dari segudang permasalahan PLPG sebagai akibat kelemahan pengelolaan, guru-guru yang lolos diundang mengikuti pelatihan 90 jam. Biasanya ini dilaksanakan selama 2 minggu dengan pelaksanaan pelatihan pagi hingga sore hari. Mereka mendapat beberapa materi berbeda yang biasanya dengan nara sumber berbeda setiap harinya. Pelatih PLPG pun telah ditetapkan dalam pedoman PLPG dengan syarat utama adalah dosen. Ini berarti, guru-guru yang mungkin jauh lebih berpengalaman dari dosen pun tidak punya hak untuk menjadi pelatih PLPG yang honornya lumayan menggiurkan bagi seorang PNS.
Berdasarkan pedoman sertifikasi, penyelenggaraan PLPG diakhiri dengan ujian meliputi ujian tulis dan ujian kinerja (praktik mengajar). Ujian tulis untuk mengungkap kompetensi profesional, sedangkan ujian kinerja untuk mengungkap kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Keempat kompetensi ini juga diharapkan dinilai selama proses pelatihan berlangsung.
Berdasarkan aturan tersebut, dapat dibayangkan bahwa peserta PLPG yang mungkin sudah berusia dan tidak selalu dalam kondisi prima, mendapat berbagai tugas yang menuntut mereka kerja lembur. Mungkin untuk setiap pelaksana PLPG tidak seragam, tetapi sebagai contoh Rayon Unesa mewajibkan guru menyiapkan Rencana Pelajaran yang dilengkapi dengan perangkatnya (misalnya media, lembar kerja siswa, lembar evaluasi, dan lain-lain) sebanyak tiga dan akan melakukan peer teaching atau praktek mengajar di depan guru-guru lain yang mungkin agak panik menunggu giliran tetapi terpaksa harus berpura-pura menjadi siswa. Situasi lebih berefek pada kepanikan, kekhawatiran, dan bukan belajar secara lebih menyenangkan.
Pertanyaan serius: Mengapa pelaksanaan PLPG ini tidak efektif?
Program Pengembangan Guru harus kolaboratif
Situasi di atas tidak mencerminkan kolaborasi karena dosen selaku nara sumber dan asesor sedangkan guru sebagai obyek yang dinilai. Meskipun terdapat dosen yang bersikap kolaboratif dan berusaha memberi masukan secara santun, namun bobot kolaborasi tetap kurang memadai. Kolaborasi seharusnya semacam kontrak untuk mencapai suatu tujuan bersama, berkolaborasi untuk benar-benar mengkaji permasalahan nyata hingga merumuskan rencana-rencana strategis untuk menyelesaikan masalah, kemudian dilaksanakan untuk tujuan dan kemanfaatan bersama.
Namun apa yang terjadi, tidak jarang kita mendengar ketegangan guru dan kepanikan, apalagi dalam waktu singkat, mereka mendengarkan model-model pelajaran yang belum pernah didengarkan sebelumnya, cara-cara penilaian siswa yang tidak sederhana dan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya di lapangan (misalnya penilaian yang berorientasi pada UNAS). Mereka pun dituntut mengemas teori-teori yang telah diajarkannya dalam suatu perangkat atau rancangan pembelajaran. Rancangan ini pun harus didemonstrasikan di depan guru-guru lainnya dan akan dinilai oleh dosen. Di mana letak kolaborasi di sini, jika dosen datang layaknya sebagai orang yang lebih pakar dalam pengajaran bidang tertentu, sedangkan guru datang sebagai obyek yang akan dinilai dan ditentukan nasib kelulusannya? Apakah ada jaminan si dosen tersebut bisa mengajar secara lebih baik sedangkan cara pengajaran dosen tersebut belum tentu pernah dievaluasi?
Program Pengembangan Guru harus berorientasi pada siswa (student-oriented)
Cita-cita dasar meningkatkan kualitas guru adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di kelas. Artinya, permasalahan pembelajaran yang dialami siswa seharusnya diatasi. Permasalahan ini bisa bermacam-macam antara lain kesulitan materi misalnya matematika, permasalahan motivasi belajar yang rendah, masalah malasnya siswa mengerjakan PR, atau masalah kesulitan guru mengajarkan materi sehingga anak pun sulit memahaminya. Masalah tersebut perlu dikaji secara bersama dan informasi dari guru sangat berarti bagi dosen. Guru perlu dibantu mengidentifikasi letak permasalahannya, merefleksi segala tindakan yang telah diambilnya, dan secara bersama-sama mencari solusi. Solusi itu pun di kaji dan indikator perubahan kinerja siswa akan menjadi salah tau ukuran pokok keberhasilan.
Dalam PLPG, para guru datang dengan permasalahan yang berbeda, dengan kondisi kelas, siswa dan sekolah yang juga berbeda-beda. Guru yang hanya dilatih dengan suatu metode baru dan telah tampil mengajar di hadapan teman-temannya dan telah mendapatkan kritik (semoga bukan kiritikan pedas!), mereka akan pulang di sekolahnya tanpa membawa perubahan dan dampak pada siswa-siswanya. Tidak jarang siswa bahkan menjadi korban karena telah ditinggalkan oleh gurunya mengikuti PLPG dan lebih celaka lagi ketika banyak guru dari sekolah tersebut mengikuti PLPG dan waktu bersamaan.
Program pengembangan guru untuk memantapkan materi ajar dan pengajarannya
Bukan rahasia, akibat latar belakang studi guru, atau perkembangan pembelajaran dan teknologi, guru harus mengajarkan sesuatu yang belum dia kuasai. Mereka pun dituntut mengajar dengan cara yang berbeda dari apa yang pernah dialaminya (misalnya, dahulunya dia lebih banyak dikuliahi/diceramahi).
Sebagai contoh di matematika, tidak jarang dosen mengeluhkan kelemahan matematika yang dimiliki oleh para guru hingga mereka ragu apakah guru ini layak lulus! Sebaliknya, tidak jarang pula mendengar komentar peserta bahwa dosen mengajarkan model-model pengajaran inovatif dengan cara tidak inovatif. Semua ini memberi keraguan bahwa proses belajar terjadi secara optimal.
Belajar atau memahami sesuatu memerlukan suasana hati menyenangkan, diperlukan waktu yang tidak singkat, dan metode yang mengakomodasi kemampuan peserta yang berbeda-beda. Artinya pengajaran secara seragam tidak dapat membantu guru tersebut belajar. Belajar akan efektif jika dia mempelajari yang dia butuhkan. Belajar dalam kondisi yang lelah yang sangat intensif bisa tidak menghasilkan apa-apa. Memberikan kuliah tentang materi matematika di PLPG dalam waktu singkat bukan hal yang tepat bagi guru tersebut.
Tidak adanya ketiga karakteristik tersebut, maka PLPG yang menghabiskan anggaran yang cukup besar bisa saja hanya menjadi program yang berbasik proyek yang hanya hadir atas dasar keputusan politik yang berkaitan dengan penggunaan anggaran dana pendidikan secara tidak efisien.
Jika pemerintah serius mau meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui peningkatan mutu gurunya, pelaksanaan PLPG ini seharusnya diikuti penelitian dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan ke publik. Sejauh mana efektivitas pelaksanaan PLPG? Sejauh mana pembelajaran PLPG berdampak pada kinerja guru, dan berdampak pada kualitas pembelajaran dan kinerja siswa? Bagaimana guru-guru tersebut mentransformasi pengetahuan mereka dalam kelas nyata? dan lain-lain.
Jika ini hanya dilaksanakan sebagai rutinitas penggunaaan anggaran negara tanpa evalusi yang jelas dan transparan, PLPG tidak memberi harapan utk perbaikan kualitas guru, tidak memberi harapan perbaikan pendidikan Indonesia. PLPG mungkin ada manfaat tetapi dibandingkan dengan biaya yg besar, ini bisa tidak berarti apa-apa. Jika ini mau efektif maka perlu program PD dimana sifatnya kolaboratif, para dosen menjadi lebih profesional karena belajar di lapangan demikian juga guru. (1039 kata)
Thursday, 21 July 2011
Pencerahan
DR. Neville Alexander, Professor Jill adler dan Professor Hamzah Venkat.
Presentasi pertama mencerahkan dengan alasan:
1. Saya terkesan sekali pembukaan pembicaraanya bahwa bahwa kita semua hadir di sini, meskipun kita punya pandangan yg berbeda kita punya kesamaan bahwa kita mau negeri ini menjadi lebih demokratis, bahwa setiap orang punya kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang akan memberi dampak dalam kehidupan mereka. Mereka melihat dirinya punya kesempatan kerja yang luas dan kemampuan utk melakukannya.
2. Saya terkesan dengan kutipan dari seorang pakar linguistik dari Harvard University meski saya tidak bisa mengingat semuanya.
Bahwa anak menggunakan bahasanya ketika dia lapar, ketika dia mengekspresikan emosinya, ketika dia bicara mama papa.
Bahasa anak berbeda dengan bahasa orang dewasa sekitarnya, bahasa anak berbeda dengan bahasa yng digunakan guru dalam pengajarannya.
So what? Gimana anak bisa paham. Iya nggak
3. Sy terkesan dengan pernyataanya bahwa kita bisa membayangkan jika anak atau murid di sekolah diajar dengan bahasa yang mereka tidak pahami, ini merugikan baik dari aspek kognitif, jalan pikir anak, maupun aspek psikologis.
4. Dia kemudian menayangkan film dari berbagai guru suatu proses belajar mengajar dgn bahasa Inggris yang siswa jawab berbeda sekali dengan apa yang ditanyakan.
- dalam video itu juga tergambar siswa yang yang belajar dengan bahasa ibu mereka, tampak bersemangat, nyambung, interaktif dengan wajah yang juga begitu sempurna.
- video yang juga sangat menarik, di sekolah yg tampaknya semua kulit putih dengan bahasa Ibu mereka bahasa Inggris, didatangkan guru yang kelihatan begutu bagua dalam mengajar tapi pakai bahasa afrika lain. Terjadi banyak tanya jawab, tapi tampak lucu, karena tidak nyambung atau salah ucap.
Sejumlah mereka diwawancarai dan antara lain mengatakan, jk sy harus belajar dg bahasa tersebut maka saya akan pergi dari negara ini. Betapa sulit menjawab pertanyaan karena sy sulit sekali memahami maksud guru, dan juga mengesankan pengakuan seorang anak menyatakan sedih karena semua pelajaran dan buku diajarkan dalam bahasa Inggris, dan bagaimana nasib kawannya yg tdk ngerti bahasa tersebut, betapa sulitnya bagi mereka.
Juga sejumlah komentar guru antara lain:
Kesulitan mrk mengajarkan karena faktor bahasa, mereka tdk mengerti bahasa Inggris sedangkan semua pelajaran berbahasa Inggris.
Adalah tidak fair, kita diminta berbahasa Inggris karena kita diminta memahami mereka tetapi mereka tidak mau memahami kita. Ini tidak adil.
Jadi tampak jelaslah di sini pentingnya bahasa.
Hal lain, dikatakan bahwa tidak perlu kita membuktikan bahwa pengajaran terbaik menggunakan bahasa Ibu. Sudah terbukti, orang belanda mengajar dsg bahasa belanda, orang jepang mengajar sdg bahasa mereka dll, mereka sukse dan maju.
Penelitian pun telah menunjukkan bahwa investasi uang yang banyak utk belajar dengan bahasa kedua telah terbukti gagal.
Hal yg juga sangat mengesankan bagi saya adalah pernyataan bahwa ...m eh lupa tadi mau nulis apa.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Fw: What's on @ the Wits School of Education
From: Ruksana Osman <Ruksana.Osman@wits.ac.za>
To: Florence De Braine <Florence.DeBraine@wits.ac.za>
Sent: Thursday, 21 July 2011 5:22 PM
Subject: FW: What's on @ the Wits School of Education
|
|
FW:
From: Sitti Maesuri Patahuddin [mailto:s_maesuri@yahoo.com.au]
Sent: 19 July 2011 08:02 PM
To: Sitti Patahuddin
Subject:
Chapter ini ditulis oleh Prof Adler.
Tulisan lumayan tinggi tingkatannya bagi sy. Entah karena ini sesuatu
yang baru bagi sy atau ini lumayan abstrak karena pada tatanan teori.
Tapi biarlah sy mencoba memaknainya dan menantang diri saya dengan
sejumlah pertanyaan.
1. Pesan apa sih terpenting yang hendak disampaikan oleh penulis.
Biarlah sy menerkanya:
- dia mungkin mau mau mengatakan pengetahuan apa yang dipakai di
lapangan. Misal dari dua kasus yg dia tunjukkan, bahwa guru mengajarkan
prosedur yg baginya penting, misal karena berdasarkan butir tes yg
selalu muncul. Jadi misal dalam menggambar grafik persamaan linier,
tentukan saja koordinat titik potong sumbu x dan sumbu y. Pasti itu
benar, tanpa menjelaskan kok demikian ya.
Kasus yg cukup kontras yaitu mengedepankan pada pendekatan investigasi
yg membawa anak pada pekerjaan membuktikan.
Artinya, kedua guru tersebut membelajarkan siswa pada cara yang berbeda
dan keduanya membuka ksesempatan pada siswa secara berbeda dalam
memasuki dunia penalaran matematika.
Lalu apa hubungannya dengan istilah resources. Nah di sini salah satu
sumber pengetahuan penting adalah guru itu sendiri, pemahaman guru pada
matematika dan cara pengajarannya.
Nah apa sih hikmahnya bagi diri sy pribadi? Yaitu ketika kita bicara
dalam tataran pengajaran matematika, kuncinya ada pada guru sehingga
pandangan siswa ttg mat itu sendiri bisa beragam.
Apa yg sebenarnya terjadi pada mahasiswa PPL sy adalah, bahwa sering
sekali apa yang mereka pelajari di kampus tdk bisa diterapkan di PPL
karena mereka merasa metode yg paling mungkin adalah guru menjelaskan
dan siswa mengerjakan soal-soal yang ada. Apa hubungannya?
2. Coba saya lihat lagi
Dia berbicara textual resources dan digital resources.
Menjadi pertanyaan apakah textual res ini maksudnya non-digital?
Bagaimana dg text yg sifatnya digital.
Dia menjelaskan bahwa resource sebagai kata benda dan juga kata kerja.
Masuk di akal, kata benda yaitu sumber2 belajar tapi jika kata kerja
yaitu bekerja atau berinteraksi dg sumber2belajar, bagaimana dia
memahaminya dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi cara pengajaran
matematikanya.
3. Menurutnya apa yg menarik bagi Prof adalah:
- mat apa yg diajarkan dan bagaimana matematika diajarkan?
- pengetahuan profesional apa yg digunakan dan bagaimana penggunaannya
dalam pengajaran mat?
- dan bagaimana ini mempengaruhi jenis pembelajaran yg disiapkan oleh
guru tersebut?
4. Dia menjelaskan ttg sumber-sumber pengetahuan
Dia mulai menyajikan makna yg luas dari R., yang terdiri:
-Human resources
-material resources
- everyday resources (money)
Social and cultural resources
-theoretical resources
Namun yg menjadi perhatian utama di sini adalah:
- human resources, yakni guru itu sendiri, pengetahuan dasar yg ia
miliki dan yang yang dipraktekkannya.
Pernyataan yang menarik adalah:
Apa yang menjadi masalah pada pembelajaran dan pengajaran adalah bukan
hanya pada sumber2 apa yg tersedia, yang mana yg diambil guru dr sumber
yg ada, tetapi yang lebih signifikan dari itu adalah bagaimana berbagai
sumber itu dapat dan perlu tampak atau tak tampak. Tampak artinya bisa
dilihat atau tersedia sehingga mungkin utk digunakan. Tak tampak artinya
dilihat melalui obyek matematika yg dimaksudkan dari materi matematika
tertentu atau represenatsi verval).
Ini perlu sy tanyakan pada Prof, maksudnya sebenarnya apa.
Saya setuju bahwa yg penting bukan hanya tersedianya sumber2 belajar,
bukan hanya pada apa yg digunakan guru, tetapi untuk siswa dapat
mengakses matematika, mempelajari matematika maka yg sangat perlu
bagaimana semua resources itu tampak bagi anak, bisa diakses oleh anak,
atau tidak tampak tapi tetap bisa diakses oleh anak.
Mungkin secara konkrit adalah, bukan hanya tersedia sumber itu, tapi
bagaimana kejelasan sumber itu. Artinya juga bukan hanya guru perlu
hadir di kelas sehingga bisa ditanyai oleh siswa, bisa digunakan
membantu siswa, tetapi juga guru itu perlu paham tentang apa yg
sesungguhnya perlu dipahami oleh siswa itu. Obyek matematika yg perlu
bagi siswa.
Ada teori Bernstein yg baru bagi saya. Menurut Prof, implikasinya adalah
pengetahuan matematika dibentuk oleh institusi sekolah, kurikulum, dan
oleh aktifitas pengajarn di dalamnya. Konsekuensinya diperlukan suatu
matode atau cara melihat pengetahuan yg digunakan dl pengajaran.
Ada pernyataan yang sangat menarik bahwa pedagogik discourse berproses
melalui pedagogic judgement.
Artinya ketika guru dan siswa berinteraksi ada sesuatu pesan/obyek yg
tersampaikan dan ketika ada masalah berkaitan obyek tersebut maka cara
penyelesaiannya didemonstrasikan. Ketika guru menyiapkan kesempatan utk
terlibat mempelajari obyek itu, maka pada setiap langkah guru2 tsb
membuat keputusan bagaimana meresponsiswa, apa yg ditawarkan berikutnya,
atau apa langkah berikut, berapa lama ini dibicarakan dan seterusnya.
Menurut Davis, semua pedagigic judment itu menyampaikan kriteria tentang
apa yg dimaksud matematika.
Misal saja: siswa mengatakan. Utk menyelesaikan itu pindahkan semua suku
sg variabel x ke kiri dan konstantanya ke kana. Ada guru yg menyatakan
itu cukup, ada yg tidak.
Apa yg dimaksud valid tdk pernah netral.
Dia juga menjelaskan 4 domain of knowledge. Ini sangat penting karena
ini kemudian yg digunakan dalam menjelaskan dua kasus itu.
Aha, pebelajaran berharga di sini adalah bahwa Prof hanya memuat sedikit
data penelitian utk menjelaskan teorinya.
Juga menarik karena dari sejumlah besar kerjaan itu, maka ada bagian yg
menjadi latar belakang dan fokus, namun mampu memberi kejelasan ttg
kedalaman penelitian, dan disini fungsi dari footnote tersebut.
Ok, kembali ke laptop.
Tampaknya sy perlu cari dan tahu lebih banyak ttg pedagogic discourse
oleh Basil Bernstein.
Nah ada 4 domain of knowledge:
1. Math k
2. Everyday k
3. Professional k
4. Curriculum k
Math knowledge:
* math object has properties, math actv follow convention
* procedural knowledge, actv-rehearsing
* math justification can be empirical
* math just involve generalasation and proving.
Domain kedua pengetahuan/praktek sehari2 yg belum tentu sesuai dg konsep
mat.
Domain ketiga, teacher's own professional knowledge/experiencial
knowledge
Curriculum knowledge.
Satu pernyataan dalam penutup,
Jika kita ingin memperbaiki pendidikan guru mat, kita perlu memahami
makna potensial yg dibuka atau ditutup dalam konteks sekolah.
Perlu paham bagaimana yg dipelajari di PT berhubungan dg apa yg
dipelajari di sekolah.
Ini juga bermanfaat bagi kita penyedia PD tentang kesesuaian intervensi
yg kita berikan pada para guru.
Sent from my BlackBerry(r) wireless device
<html><p><font face = "verdana" size = "0.8" color = "navy">This communication is intended for the addressee only. It is confidential. If you have received this communication in error, please notify us immediately and destroy the original message. You may not copy or disseminate this communication without the permission of the University. Only authorized signatories are competent to enter into agreements on behalf of the University and recipients are thus advised that the content of this message may not be legally binding on the University and may contain the personal views and opinions of the author, which are not necessarily the views and opinions of The University of the Witwatersrand, Johannesburg. All agreements between the University and outsiders are subject to South African Law unless the University agrees in writing to the contrary.</font></p></html>
Geometri
Hal yg sama bisa juga terjadi pada guru umumnya.
Nah yang perlu dikaji adalah apa perlunya belajar geometri? Mengapa dia begitu penting dipelajari.
Keyakinan ini kemudian akan mendrive semangat saya utk berkontribusi dalam mengembangkan pembelajaran geometri.
Ide mentah apa yang ada dikepala saya ketika sy diminta utk membantu guru-guru melatih berfikir, melatih berkomunikasi, melatih mengajukan pertanyaan, melatih membuat definisi, bernalar dll.
Misalnya saja, saya menampilkan gambar segitiga.
Saya meminta mereka mengajukan pertanyaan tentang segitiga itu.
Maka muncul pertanyaan:
1. Apa nama bangun segitiga itu?
2. Apa jenis segitiga tersebut?
3. Berapa sudut segitiga tersebut?
4. Apa saja unsur2 segita itu?
5. Bagaimana cara melukis segitiga itu atau segitiga yang tepat sama dengan segitiga itu?
6. Bagaimana cara memperbesar segitiga itu sehingga besarnya menjadi dua kali lipat?
7. Bagaimana cara memperkecil segitiga tersebut sehingga besarnya menjadi setengah segitiga tsb.
8. Berapa panjang sisi segitiga tersebut.
9. Adakah syarat dari 3 ruas yang disediakan utk dapat membuat segitiga?
10. Jika koordinat dari titik sudut segitiga tersebut ditentukan, bagaimana cara menentukan persamaan garis tersebut.
11. Dapatkah saya melukis sebuah lingkaran yang terbesar yang berada di dalam segitiga tersebut? Bagaimana caranya?
12. Dapatkah saya melukis lingkarang terkecil yang memuat segitiga tersebut?
13. Jika no 11 dan 12 dapat dilakukan, bagaimana menentukan pusat lingkarannya? Dan persamaan lingkarannya.
14. Bagaimana melukis garis bagi, garis berat, garis tinggi dari segitiga tersebut?
15. Jika segitiga tersebut dicerminkan terhadap salah satu sisinya, bangun apa yang terbentuk dari segitiga dan cerminnya tersebut? Simpulan apa yang bisa diambil dari pencerminan suatu segitiga (dengan berbagai jenisnya) itu terhadap salam salah satu sisinya.
16.Bangun ruang apakah namanya yang mempunya 3 bidang sisi yang berbentuk segitiga.
17. Apakah segitiga tersebut dapat membentuk tesselasi? Mengapa iya mengapa tidak?
18. Bagaimana menentukan bahwa suatu segitiga lain kongruen dengan segitiga tersebut?
19. Bagun ruang apakah namanya yang bila diiris secara mendatar, permukaan hasil irisannya membentuk segitiga.
20. Tentukan minimal 5 rumus untuk mencari segitiga tersebut.
Nah bukankah kegiatan membuat pertanyaan itu menarik.
Misalnya: saya minta mereka membuat soal sebanyaknya2nya.
Setelah itu mereka bikin galery presentation.
Mereka memeriksa pertanyaan orang lain, melingkari pertanyaan apa yang muncul dari kelompok mereka yang berbeda dari kelompok mereka.
Hikmah:
- seseorang dapat belajar dari observasi pertanyaan tersebut.
- dia harus juga berfikir, apa sama atau tidak.
- dari pertanyaan itu kita bersama-sama munculkan topik2 apakah yang terkait dari munculnya pertanyaan tersebut. Mereka jadi menyadari hal ini yang perlu saya pelajari, yang saya tahu dan yang belum saya tahu.
- mereka bisa melihat keterkaitan topik-topik matematika itu.
* ini juga memodelkan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam berfikir, membawa anak2 mereka utk berinteraksi satu sama lain, dan membawa mereka FUN tanpa ketakutan.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Tuesday, 19 July 2011
Saatnya beralih ke publikasi saya.
1. Chapter book hasil reviu saya, baik hasil koreksi, pertanyaan yg patut sy ajukan, rangkuman pemahaman saya (cuma ini perlu saya rangkum dalam bahasa Inggris)
2. Hasil mencermati data kuesioner dan data interview, sebagai contoh Pumy. Beberapa kesan sy (bisa juga sy rangkum dalam bahasa Inggris), ide yg muncul ttg efek workshop AMESA, dan penasaran sy sebenarnya dg bagaimana dia menggunakan internet. Pandangan dia positif, tapi sejauh mana. Bagi sy, dia tipe guru yang potensial utk maju.
Sy pun jadi tertarik dg istilah uptake.
Ok, utk urusan meeting dgn bahan di atas sudah jelas.
Nah kembali ke kerjaan publikasi sy karena ini urgen loh.
Perasaan sy ini kok tdk ringan tapi kata Prof, justru itu yg perlu saya pelajari.
Jalan keluar yg bisa saya tawarkan adalah:
1. Membaca kembali transkrip pertemuan pertama
2. Membaca bahan pertemuan pub kedua
3. Mendengar atau membaca transkrip pertemuan 2
4. Mencoba brainstorming lagi utk ide2 draft berikutnya.
Moga-moga menghasilkan outline dari draft ke-2. Amin. Bukankah kita selalu caja butuh proses utk mencapai sesuatu.
Apa kata Margaret? JUST DO IT!!!
Sent from my BlackBerry® wireless device
Ringkasnya gimana?
Andai nih, sy ditanya, apa toh yg dibaca kok serius amat!!!
Trus sy jawab apa dong.
Gini aja, Prof ini nulis tentang pengetahuan apa (berdasarkan sumbernya) yang terpakai oleh guru dalam pengajaran matematika.
Jadi pengetahuan itu suatu yg dinamis dan terus berkembang. Kita juga secara terus memberi dampak pada pembentukan pengetahuan.
Yg terjadi bisa sj bukan pengetahuan mat yang disampaikan tapi pengetahuan sehari-hari yg umum dipakai orang yg belum tentu sesuai namun bagi guru berdasarkan pengalam itu bisa membantu siswa namun boleh jadi itu menjadi hambatan di tingkat selankutnya.
Artinya apa kita perlu dong tahu apa yg terjadi di lapangan dan jik itu tidak bersesuain dg math atau jika itu bisa menghambat pada pemahaman math secara utuh, kita perlu menjadikan pertimbangan dalam memberi intervensi pada guru.
Misal saja sistem coret, nah guru perlu ditantang utk itu, atau menunjukkan sesuatu yang mungkin pada akhirnya mereka melihat di mana letak kelemahan.
Hal penting lainnya, kita sebenarnya melakukan judgement setiap dalam proses pengajaran, pengambilan keputusan bagaimana menjawab, apa yg perlu dilakukan dalam. Langkah selanjutnya, berapa lama.
Artinya apa dong. Apa kita perlu menekankan pada ini dan membawa guru utk memeriksa jdgemennya itu, misal dg melihat pengajaran melalui video atau melibatkan dalam pembelajaran yg dia rasakan dan dia bandingkan.
Pelajaran lain adalah cara mengemas tulisan.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Chapter-Prof Adler
Tulisan lumayan tinggi tingkatannya bagi sy. Entah karena ini sesuatu yang baru bagi sy atau ini lumayan abstrak karena pada tatanan teori.
Tapi biarlah sy mencoba memaknainya dan menantang diri saya dengan sejumlah pertanyaan.
1. Pesan apa sih terpenting yang hendak disampaikan oleh penulis.
Biarlah sy menerkanya:
- dia mungkin mau mau mengatakan pengetahuan apa yang dipakai di lapangan. Misal dari dua kasus yg dia tunjukkan, bahwa guru mengajarkan prosedur yg baginya penting, misal karena berdasarkan butir tes yg selalu muncul. Jadi misal dalam menggambar grafik persamaan linier, tentukan saja koordinat titik potong sumbu x dan sumbu y. Pasti itu benar, tanpa menjelaskan kok demikian ya.
Kasus yg cukup kontras yaitu mengedepankan pada pendekatan investigasi yg membawa anak pada pekerjaan membuktikan.
Artinya, kedua guru tersebut membelajarkan siswa pada cara yang berbeda dan keduanya membuka ksesempatan pada siswa secara berbeda dalam memasuki dunia penalaran matematika.
Lalu apa hubungannya dengan istilah resources. Nah di sini salah satu sumber pengetahuan penting adalah guru itu sendiri, pemahaman guru pada matematika dan cara pengajarannya.
Nah apa sih hikmahnya bagi diri sy pribadi? Yaitu ketika kita bicara dalam tataran pengajaran matematika, kuncinya ada pada guru sehingga pandangan siswa ttg mat itu sendiri bisa beragam.
Apa yg sebenarnya terjadi pada mahasiswa PPL sy adalah, bahwa sering sekali apa yang mereka pelajari di kampus tdk bisa diterapkan di PPL karena mereka merasa metode yg paling mungkin adalah guru menjelaskan dan siswa mengerjakan soal-soal yang ada. Apa hubungannya?
2. Coba saya lihat lagi
Dia berbicara textual resources dan digital resources.
Menjadi pertanyaan apakah textual res ini maksudnya non-digital? Bagaimana dg text yg sifatnya digital.
Dia menjelaskan bahwa resource sebagai kata benda dan juga kata kerja.
Masuk di akal, kata benda yaitu sumber2 belajar tapi jika kata kerja yaitu bekerja atau berinteraksi dg sumber2belajar, bagaimana dia memahaminya dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi cara pengajaran matematikanya.
3. Menurutnya apa yg menarik bagi Prof adalah:
- mat apa yg diajarkan dan bagaimana matematika diajarkan?
- pengetahuan profesional apa yg digunakan dan bagaimana penggunaannya dalam pengajaran mat?
- dan bagaimana ini mempengaruhi jenis pembelajaran yg disiapkan oleh guru tersebut?
4. Dia menjelaskan ttg sumber-sumber pengetahuan
Dia mulai menyajikan makna yg luas dari R., yang terdiri:
-Human resources
-material resources
- everyday resources (money)
Social and cultural resources
-theoretical resources
Namun yg menjadi perhatian utama di sini adalah:
- human resources, yakni guru itu sendiri, pengetahuan dasar yg ia miliki dan yang yang dipraktekkannya.
Pernyataan yang menarik adalah:
Apa yang menjadi masalah pada pembelajaran dan pengajaran adalah bukan hanya pada sumber2 apa yg tersedia, yang mana yg diambil guru dr sumber yg ada, tetapi yang lebih signifikan dari itu adalah bagaimana berbagai sumber itu dapat dan perlu tampak atau tak tampak. Tampak artinya bisa dilihat atau tersedia sehingga mungkin utk digunakan. Tak tampak artinya dilihat melalui obyek matematika yg dimaksudkan dari materi matematika tertentu atau represenatsi verval).
Ini perlu sy tanyakan pada Prof, maksudnya sebenarnya apa.
Saya setuju bahwa yg penting bukan hanya tersedianya sumber2 belajar, bukan hanya pada apa yg digunakan guru, tetapi untuk siswa dapat mengakses matematika, mempelajari matematika maka yg sangat perlu bagaimana semua resources itu tampak bagi anak, bisa diakses oleh anak, atau tidak tampak tapi tetap bisa diakses oleh anak.
Mungkin secara konkrit adalah, bukan hanya tersedia sumber itu, tapi bagaimana kejelasan sumber itu. Artinya juga bukan hanya guru perlu hadir di kelas sehingga bisa ditanyai oleh siswa, bisa digunakan membantu siswa, tetapi juga guru itu perlu paham tentang apa yg sesungguhnya perlu dipahami oleh siswa itu. Obyek matematika yg perlu bagi siswa.
Ada teori Bernstein yg baru bagi saya. Menurut Prof, implikasinya adalah pengetahuan matematika dibentuk oleh institusi sekolah, kurikulum, dan oleh aktifitas pengajarn di dalamnya. Konsekuensinya diperlukan suatu matode atau cara melihat pengetahuan yg digunakan dl pengajaran.
Ada pernyataan yang sangat menarik bahwa pedagogik discourse berproses melalui pedagogic judgement.
Artinya ketika guru dan siswa berinteraksi ada sesuatu pesan/obyek yg tersampaikan dan ketika ada masalah berkaitan obyek tersebut maka cara penyelesaiannya didemonstrasikan. Ketika guru menyiapkan kesempatan utk terlibat mempelajari obyek itu, maka pada setiap langkah guru2 tsb membuat keputusan bagaimana meresponsiswa, apa yg ditawarkan berikutnya, atau apa langkah berikut, berapa lama ini dibicarakan dan seterusnya.
Menurut Davis, semua pedagigic judment itu menyampaikan kriteria tentang apa yg dimaksud matematika.
Misal saja: siswa mengatakan. Utk menyelesaikan itu pindahkan semua suku sg variabel x ke kiri dan konstantanya ke kana. Ada guru yg menyatakan itu cukup, ada yg tidak.
Apa yg dimaksud valid tdk pernah netral.
Dia juga menjelaskan 4 domain of knowledge. Ini sangat penting karena ini kemudian yg digunakan dalam menjelaskan dua kasus itu.
Aha, pebelajaran berharga di sini adalah bahwa Prof hanya memuat sedikit data penelitian utk menjelaskan teorinya.
Juga menarik karena dari sejumlah besar kerjaan itu, maka ada bagian yg menjadi latar belakang dan fokus, namun mampu memberi kejelasan ttg kedalaman penelitian, dan disini fungsi dari footnote tersebut.
Ok, kembali ke laptop.
Tampaknya sy perlu cari dan tahu lebih banyak ttg pedagogic discourse oleh Basil Bernstein.
Nah ada 4 domain of knowledge:
1. Math k
2. Everyday k
3. Professional k
4. Curriculum k
Math knowledge:
* math object has properties, math actv follow convention
* procedural knowledge, actv-rehearsing
* math justification can be empirical
* math just involve generalasation and proving.
Domain kedua pengetahuan/praktek sehari2 yg belum tentu sesuai dg konsep mat.
Domain ketiga, teacher's own professional knowledge/experiencial knowledge
Curriculum knowledge.
Satu pernyataan dalam penutup,
Jika kita ingin memperbaiki pendidikan guru mat, kita perlu memahami makna potensial yg dibuka atau ditutup dalam konteks sekolah.
Perlu paham bagaimana yg dipelajari di PT berhubungan dg apa yg dipelajari di sekolah.
Ini juga bermanfaat bagi kita penyedia PD tentang kesesuaian intervensi yg kita berikan pada para guru.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Pumy
Beberapa catatan penting saya:
1. Dia punya latar belakang mat di college dan latar belakang IT krn berhenti jd guru math lalu kuliah IT.
2. Menjadi guru baginya kebetulan krn keinginannya mau jadi pekerja sosial atau psikolog, tapi karena nilai mat memenuhi dan saat dia temani kawannya interviu, dia juga jadi ikut. Jadi katanya bukan dia milih mat tapi mat milih dia
2. Dia sangat positif pandangannya pada dirinya. Dia pandang dirinya mampu, pintar dan pekerja keras. Apa yg dia pelajari dia yakin bisa
3. Pengalaman belajar mat di SMA tdk baik, dalam hal ini guru matnya suka sekali menghukum siswanya. Jadi guru itu kejam, dan dia tdk cocok dg perilaku tersebut dan dia juatru mau sebaliknya, menciptakan lingkungan yg kondusif bagi siswanya.
4. Baginya, yang penting dimiliki oleh seorang guru adalah mampu menginspirasi siswanya. Dan menurutnya di situ letak lelebihan dia karena dia mampu menginspirasi dan berusaha menjelaskan secara jelas.
5. Baginya mat adalah bahasa yg harus dipahami utk bisa masuk dunia mat, juga sebagai permainan dg aturannya sendiri dan ini perlu disenangi spy sukses dalam permainan, demikian juga puzzle, sehingga setelah mengerjakan puzzle kita jadi puas dan bilang, aha saya bisa dan mau lagi. Dia pun setyju math adalah sainsm Yang sangat tidak disetujuinya adalah jk math dipandang sebagai gunung.
6. Tentang pengetahuan mat, kesan sy di paling percaya diri dengan materi aljabar yg berkaitan dg prosedur, dia kurang yakin dgn soal2 cerita. Menurutnya dulu kurang ditekankan dengan masalah soal cerita tersebut. Dia juga kurang yakin dg Geometri dan peluang. Tapi dia mulai jatuh hati pada Geometri transformasi karena seorang datang ke sekolah dan memodelkan pengajaran transformasi.
Intinya, dia pun siap mengajar Kelas 12 asal dia percaya diri atau menguasai materinya.
7. Dia senang dengan proyek ini karena menurutnya, dia sdh membenahi sejumlah miskonsepsi dan memantapkan pemahaman matematikanya serta metode. Hanya sayangnya, karena program ini belum begitu sejalan dg program pengajaran mereka.
8. Dari soal yg mengukur SMK dia, tampaknya masih belum mantap dengan soal2 non rutin. Mungkin pada konsep aljabar, dia sangat mampu menyelesaikan soal2 dg prosedur2 rutin tetapi jika digali konsep dasarnya, tampaknya dia masih kurang mampu
A. Masalah soal cerita utk suatu persamaan linier, dia masih salah
B. Masalah penyelesaian dg grafik, dia tdk melihat betul instruksi bahwa kedua ruas menyatakan fungsi
C. Masalah menyelesaikan persamaan kuadrat, konsep-konsep dasar tampaknya belum mantap. Ini banyak terjadi karena kebiasaan mengikuti prosedur tanpa memahami konsep yg mendasarinya.
D. Utk pck, tampaknya lumayan, dia bisa membedakan menyelesaikan dan menyederhanakan.
Cuma dia tidak menyadari tentang keliling lingkaran
9. Hampir lupa, pandangannya tentang pekerjaan guru sangat kuat, bahwa orang yg pintar mat belum tentu bisa menjadi guru yang baik, artinya tentang pekerjaan guru perlu dipelajari secara khusus
10. Baginya guru yg baik pertama adalah mampu mendiagnosa kesalahan siswanya, karena ini sdh terkait dg faktor lain misalnya memberi asesmen karena dg ini bs diagnosa kesalahan siswa, demikian juga dg memilih masalah di buku utk diberikan ke siswa.
Yg kedua adalah menkover kurikulum dan regular asesmen. Keduanya terkait karena menyelesaikan target kurikulum penting tapi jk selesai tanpa ada evaluasi, maka percuma.
Dia hanya tdk setuju dg ciri guru yg terlalu strik dg buku paket.
So what I can learn from this?
- guru ini potensial utk berkembang.
- sy mengenal guru ini dikonferensi dan tampaknya dia punya kepribadian yg ramah, perhatian yang layak dimiliki oleh seorang guru
- dia juga sungguh2, sy lihat dia serius mengikuti konferensi dan exited dg presentasi ttg integer, presenter dari Amerika. Dugaan saya adalah presenatsi menggunakan koin. Mungkin ini salah satu yg perlu saya laporkan ke Prof, jika mungkin memberi space baginya menjelaskan materi yang diperolehnya.
- utk guru ini, sy kira yg utama hanya pada dukungan penguasaan materi math dan cara pengajarannya.
Hal yg nyata bahwa dia perlu mengajarkan sesuatu yg dia sendiri masih lemah, dengan metode yg dia sendiri belum tentu tahu.
- dia sebenarnya potensial utk belajar dari website.
Yg penting bagi sy adalah bagaimana ketersediaan internet bagi dia dan sejauhmana pemanfaatannya selama ini. Dia setuju sekali bahwa internet bs bantu utk siapkan LKS.
Sent from my BlackBerry® wireless device
Monday, 18 July 2011
Draft Jawa Pos
2. Seperti kita tahu pada tahun ..... Sebanyak guru yang ditargetkan mengikuti PLPG sebagai satu jalur utama utk dapat label guru yang profesional/tersertifikasi. Terlepas dari permasalahan siapa yg pantas disertifikasi, siapa yg mendapat giliran, mereka yang terpilih diundang mengikuti PLPG (......), selama ..... Hari dan menjadi narasumber adalah dosen-dosen dari institusi yang ......yg ....punya ..... Syaratnya adalah mereka ..... Dan siapa mereka yg pantas ..... Juga masalah tersendiri yang perlu dicermati.
Mereka pun mengikuti pelatihan pagi hingga sore hari (jam) denga mendapat beberapa materi berbeda yang kemungkinan dengan nara sumber yg berbeda.
Mereka akan. Mendapat berbagai tugas yg mungkin harus lembur mengerjakannya karena fasilitator diminta mengumpulkan nilai. Mungkin tdk seragam utk setiap PT, mereka harus menyiapkan RPP sebanyak 3 dan harus melakukan peer teaching, praktek mengajar didepan kawan-kawannya, kawan lain ug mungkin agak panik menunggu giliran, terpaksa harus berpura-pura menjadi siswa. (Mungkin itulah setting ceritanya)
3. Situasi ini tdk mencerminkan kolaborasi. Karena dosen seperti asesor dan guru sebagai obyek, tidak berkolaborasi utk benar2 mengkaji permasalahan di lapangan atau kelemahan guru yg saat ini dimiliki.
Situasi ini tidak berorientasi ......
Tidak ke pck
Tidak adanya tiga karakteristik tsb, maka PLPG tidak memberi harapan utk perbaikan kualitas guru, sekaligus perbaikan pendidikan Indonesia.
Dia bisa saja hanya sesuatu formalitas yg dijalani dr program pemerintah yag lagi-lagi tdk didasari pada kajian mendalam tentang, apa dan bagaimana menciptakan guru yang efektif. Kita kembali terjebaik dalam aktivitas suatu kepalsuan dalam menjalankan mewujudkan cita-cita mencerdaskan bangsa.
3
Sent from my BlackBerry® wireless device
Bismillahir rahmanir rahim
Saat ini sudah jam 10 lebih. Mengapa? Pikiran melayang ke mana-mana.
Saya merasakan ada kegelisahan dg perkembangan terkini di Universitas sy tentang perumusan tujuan pembelajaran dengan sistem abcd yang memunculkan persepsi yg beragam. Yang celaka adalah jika itu menjadi rumusan yg sulit dimaknai. Ini karena kita mau menerima sesuatu tanpa bertanya mengapa harus begitu, apa manfaatnya, apa konsekwensinya. Bahkan referensi itu tidak didiskusikan sejauh mana implikasi dalam praktek pengajaran.
Ini membuat sy sedikit emosi bermaksud menulis di milis, namun sy juga menimbang apakah seharusnya sy menulis dalam bentuk ilmiah sehingga kemudian posisinya jelas yaitu dalam suatu debat ilmiah.
Bagaimana sebenarnya hakekat perancangan pembelajaran?
Demikian juga masalah penelitian yg justifikasi ttg sesuatu efektif. Dia kemudian menentukan sekian menit lalu menentukan toleransi, lalu jk dalam toleransi tersebu, maka menjadi ewfektiflah.
Mengapa di sini terlalu tertarik apakah suatu ewfektif atau tidak, bukan pada pemahaman apa yang kemudian anda dapatkan dari situ, masalah apa yang muncul.
Sy pun tdk bisa menahan pikiran sy yang lari ke mana-mata, yaitu niat untuk menulis di koran tentang PLPG
PLPG dapat tak berarti apa2.
Mengapa sy ingin bicara pada pemerintah untuk mencermati program ini, perlu diseriusi, perlu diikuti dengan suatu penelitian dari berbagai aspeknya dengan metode yang cermat.
Bukankah kita perlu tahu apa yang mereka pelajari di sana? Bagaimana mereka membawa atau mentransformasi pengetahuan mereka dalam kelas nyata, bagaimana peningkatan kinerja? Dan lain-lain.
Sy juga ingin menyampaikan pesan pada pada para trainer bahwa dosen tidak menjamin. Utk menghadapi, bukan hanya diperlukan memahami materi matematika misalnya tetapi juga pedagogi. Namun bagaimana jika dosen tersebut yang dalam pembelajarannya didominasi oleh metode ceramah atau dosen tersebut sendiri tdk beruapa meningkat keprofesaionalannya.
Jk demikian apa ini kemudian b isa menjanjikan?
Apa yang diperlukan guru. Dia memang harus punya kualifikasi tertentu.
Terlepas dari soal teknis, siapa yang pantas di sertifikasi dan yg tidak pantas, pelaksanaan PLPG itu sendiri. Bisa tak berarti apa-apa. Ini adalah gaya lama yang hanya menghabiskan uang dan bersifat palsu.
Mengapa?
PD perlu bersifat kolaboratif. Di mana letak kolaborasi di sini, dosen datang layaknya sebagai orang yang lebih pakar dalam pengajaran bidang tertentu, sedangkan guru datang sebagai obyek. Tidak jarang guru mwengikuti PLPG tersebut penuh ketegangan, apalagi di akhir mereka akan di tes. Guru akan diminta membua RPP dan melakukan peer teaching. Bisa membayangkan.
Yang mungkinsaat itu baru belajar tentang suatu teori dan suatu materi yang belum mantap, lalu mereka pun harus mengajar. Apakah ada jaminan si dosen tersebut bisa mengajar.
Kolaborasi diperlukan adalah para dosen dan praktisi guru yang tahu liku2 kehidupan muridnya, yang mengahadapi persoalan nyata. Denga segudang metode, tapi kadang-kadang karena karakter siswan konteks sekolah yg berbedan apa yg didapatkan di PLPG tak punya makna apa-apa dan dampak.
Ya Allah, ijinkan hamba menulis ke koran.
Jadi argumen apa yg bisa sy kemukakan?
1. PLPG mungkin ada manfaat tetapi dibandingkan dengan biaya yg besar, ini bisa tidak berarti apa-apa.
2. PLPG tidak memenuhi kriteria penting suatu program pengembangan guru, yaitu kolaboratifM yang terajadi sebaliknya
3. PLPG tidak memenuhi progran yang berorientasi pada siswa, segalanya utk peningkatan belajar siswa.
4. Meningkatkan pemahaman materi dan aspek2 penting dalam pengahjaran materi tersebut misalnya ......
Yang terajadi kadang keluhan lemahnya materi dan kebimbangan apakah ini pantas lulus atau tidak? demikian juga saebaliknya keluhan kita diajar berbagai model tapi kok dosaennya sendiri lebih banyak ceramah.
Lantas apa solusinya?
Jika ini diadakan dengan kseungguhan maka ini seharusnya berbasis penelitian, diikuti dg penelitian
Jika ini mau efektif maka perlu program PD dimana sifatnya kolaboratif, para dosen menjadi lebih profesional karena belajar di lapangan demikian juga guru.
Sent from my BlackBerry® wireless device