Tapi sejak jam 1pm tadi, saya berhenti memikirkannya karena saya ikut acara Teacher Upfront.
Menarik sekali karena di sana didiskusikan ttg guru, ttg hak dan tanggung jawab.
Saya sangat senang dg semua pertanyaan dan komentar.
Lantas pelajaran apa yang saya dapatkan dari diskusi ini?
1. Ini membawa saya berpikir ttg suatu hal serius yaitu guru dan pendidikan.
2. Saya berpikir, kita atau saya sibuk berpikir tentang guru, pentingnya peran guru, besarnya tanggungjawab guru, sungguh guru pantas diposisikan secara terhormat, tapi di luar sana, entah berapa banyak guru yang memikirkan hal ini.
Entah berapa banyak guru yang menyadari pentingnya posisi dan pekerjaan mereka.
Maju mundurnya bangsa ini sangat ditentukan oleh guru.
Apakah, kita mau menyadari pentingnya posisi kita apabila orang lain melihatnya seperti itu.
Apakah kita baru akan melihat pentingnya pekerjaan kita ketika orang lain mau menghargainya, atau ketika pemerinta atau yayasan mau menggaji kita secara pantas.
Saya juga bertanya-tanya, bagaimana caranya supaya para guru melihat pekerjaannya sangat terhormat, sangat penting?
Saya dididik untuk menjadi seorang guru, tapi saat saya kuliah dulu, saya pun tak berpikir bahwa saya sudah ingin banget jadi guru. Perasaan saya biasa. Menjadi guru mungkin adalah panggilan buat saya. Karena saya senang melihat Bapak saya, disayangi oleh masyarakat, khususnya saya rasakan ketika saya pergi ke suatu pulau. Masyarakat seolah memperebutkan saya, ingin membawa saya ke rumahnya karena tahu bahwa saya adalah anaknya Tuan guru. Saya hidup di pulau yang jauh itu saat saya bayi.
Saya juga senang ketika saya berkunjung ke suatu pulau di mana Kakak ipar saya mengajar. Ketika kami berjalan berkeliling pulau tsb, semua yang kami temui mengajak Ibu guru (kakak) saya mampir. Sungguh, saya merasakan kecintaan masyarakat dan siswa-siswa mereka.
Jadi rasa cinta itu sajalah yang ada. Rasa senang. Tapi saat itu, saya tidak pernah berfikir bahwa pekerjaan guru begitu penting. Dia menjadi salah satu kunci utama utk membawa negeri kita sejahetera, lebih adil, maju. Dia akan membawa kita jauh dari kemiskinan.
Saat ini, saya merasakan hal yang sangat berbeda. Rasanya, profesi gurulah yang paling penting. Tak ada profesi yang bisa mengalahkannya.
Profesi guru ada di hati saya. Hingga saat saya melamar beasiswa S3, saya pasrah pada-Nya dan saya berkata dalam hati. Ya Allah, saya pergi untuk guru-guru dan saya akan kembali untuk guru-guru.
Tapi tahukan jeritan hati saya. Tahukan mengapa saya selalu meneteskan airmata, hingga menangis sejadi-jadinya di kamar, tahukan mengapa saya sangat sedih? Karena saya tahu bahwa diluar sana, betapa banyak guru yang menodai profesi guru. Mereka tidak mengajarkan kejujuran, bahkan mecontohkan ketidakjujuran. Mereka tidak memikirkan masa depan anak didiknya, tapi hanya memenuhi kebutuhan, menjalankan rutinitasnya sebagai seorang guru yang digaji bulanan.
Mereka bukannya mengajarkan bagaimana supaya anak-anak didik kreatif dan justru mematikan kreatifitasnya.
Mereka tidak memberi anak-anak tersebut inspirasi agar kelak bisa menjadi guru yang mencintai anak-anaknya, yang akan membawa anak indonesia cerdas dan sejahtera, tetapi malah menimbulkan opini bahwa tak ada yang menarik bila menjadi seorang guru.
Saya cinta profesi guru. Saya cinta pada para guru-guru. Tapi ketika saya temukan cerita atau fakta guru yang kurang beretika, saya berduka, saya sedih.
Sungguh, saya menghadapi tantangan nyata dalam hidup ini. Apa yang harus saya lakukan utk membangun rasa cinta yang mendalam pada para anak-anaknya di kelas maupun di sekolah mereka.
Jika rasa cinta itu ada, maka saya yakin kita akan memanfaatkan waktu dan energi kita utk menjadi guru yang baik.
Guru yang baik bukan hanya baik hatinya tapi guru yang mau sungguh meningkatkan kualitas dirinya karena ingin mencetak anak masa depan yang cerdas, yang percaya diri, yang jujur, generasi yang akan membawa bangsa kita maju, adil, sejahtera.
Saya sebagai orang biasa, yang tak punya kedudukan, yang bukan pengambil kebijakan, tak mampu menjanjikan imbalan pada para guru. Saya hanya mampu meminta, berharap agar teman-teman guru tercinta mau meningkatkan kualitas dirinya demi anak didik kita. Tak ada kata tidak tahu. Tak ada kata pesimis. Kita mau jadi guru yang berarti bagi kehidupan anak, kita pasti bisa.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment