Akibatnya artikel yg tadinya diduga akan diterima dg minor revision (berdasar hasil bacaan sepintas Prof Adler) ternyata berdasarkan analisa saya dan diskusi dg beliau, diputuskan diterima dengan major revision dg sejumlah rekomendasi mendasar.
Kirain hanya sampai di situ kerjaan saya. Ternyata, saya diminta membuat draft surat ke editor tentang keputusan ini.
Kata Prof Adler. Tidak mudah Sitti untuk menulis 2 halaman hasil review.
Walah, beliau saja bilang tidak mudah, apalagi saya yang masih ingusan. Makanya sy diberi waktu 2 hari, sy minta 4 hari. Akhirnya sepakat 3 hari kemudian harus selesai.
Duh, Prof ini lupa mungkin bahwa saya ini orang Indonesia yg masih belajar. Bukan hanya belajar mengkritisi suatu tulisan tapi juga masih belajar menulis yg padat dan jelas dalam bahasa Inggris. Bukan hanya memberi kritik tapi memberi ide jalan keluar.
Hal lain lagi, dia bilang, sy mereviu artikel itu dg cermat dan mendalam. Sy diminta melakukan hal yg sama utk draft artikel sy. Walah, jelaslah ini lebih sulit lagi.
Tapi itulah pembelajaran, penuh dengan tantangan. Jika mau belajar, hadapi tantangan. Niscaya, kita tidak akan pernah berpikir bahwa kita ini super atau tahu segalanya.
Jadi teringat saat S3 dulu. Saya menganalogikan diri saya sedang memanjat gunung yg sangat tinggi. Kalau gunung itu sy pandangi, sy hampir berkesimpulan TIDAK MUNGKIN SAYA BISA SAMPAI KE SANA. Saat memanjat gunung itu, kadang sy berhenti dan memandang ke atas. Rasanya hampir putus harapan dan kadang-kadang menangis. Too difficult!!! Tapi kata teman saya yg orang Australia, cuma satu saran yg bs saya berikan Sitti "Just do it". Yah sudahlah. Saya panjat saja gunung itu. Meski terengah-engah. Jika capek berhenti sejenak (tapi jangan lama-lama). Demikian seterusnya hingga berhasil memanjat gunung itu dalam waktu yg tepat dg kualitas yg bagus (berdasarkan keputusan penguji). Malah dinyatakan kasus langka karena tidak ditemukan kesalahan bahasa padahal non-native speaker. Maklum, udah ke sana ke mari minta bantuan bahasa, termasuk pada dua nenek yg suka kerja sukarela.
Saya manfaatkan segala daya yg ada di persekitaran saya. Kata supervisor saya, Sitti, I cannot make it easy for you. Tak ada jalan bagi dia untuk mempermudah proses S3, karena proses itu memang sulit.
Rumus kesuksesan S3 (yaitu harus kerjakan disertasi sebanyak 8 jam sehari) TIDAK BERLAKU UTK SAYA. Makanya, tidak jarang, saya harus diperpus sampai jam tutup perpus, yaitu jam 10 malam. Kadang, weekend pun masih ke kampus dan suami nungguin sambil main dekat danau bersama-sama anak-anak. Sungguh suatu proses yang penuh tantangan. Apalagi, jujur saja, hasil tes IELTS sy pas-pasan. Teman kursus saya di Bali pun tahu persis bahwa saya paling lemah di kelas utk bahasa Inggris. Cuma percaya diri saja, jadi paling cerewet nanya di kelas.
By the way, jadi dalam proses membaca dan menulis, bukan hanya logika berfikir yg harus dibangun tapi juga bagaimana menulis dg bahasa Inggris yg benar.
Tapi kerja keras dan kesungguhan selalu tidak sia-sia. Pembimbing saya bangga dg proses yg telah saya lalui. Makanya rekomendasi dia mujarab untuk meyakinkan seorang Prof Adler untuk berani menerima saya di sini. Padahal dia mengenal saya hanya karena dia salah satu penguji disertasi saya.
Tapi tentu ada peran di belakang layar yg tdk mungkin saya tutup-tutupi. Yaitu, perjuangan ini tak terwujud tanpa suami yg selalu mendukung. Dia adalah laki-laki yang selalu saya kagumi. Beliau tak pernah mengeluh sekalipun, dan tidak pernah menunjukkan keberatan setiap saya telp untuk menjemput saya, meski beliau baru saja terpejam matanya.
Dia adalah motivator, penghibur kegalauan dg candanya yg cair, penyumbang ide dll. Peran ganda yg dilakoninya sebagai suami, pendamping anak-anak, pemimpin rumah tangga, penenang hati, teman diskusi, bahkan penelaah hasil kerja saya, dst adalah hal yg tak terpisahkan dari proses PhD saya.
Kebaikan hatinya, multiple inteligence yg dimilikinya dan kepemimpinannya adalah "ingredient" penting dalam perjuangan saya menghadapi tantangan.
Keberaniannya utk meninggalkan pekerjaan PNS demi keluarga adalah hal langka, yg menyebabkan sy tidak pernah mau menyia-nyiakan kepercayaan beliau.
Eh, kembali ke inti cerita sebelum menutup cerita ini, yaitu menghadapi tantangan adalah proses belajar yg sesungguhnya. Untuk proses ini, Allah sudah memperlengkapi kita, jadi lalui proses itu dg sungguh-sungguh. Jika ada salah, itu adalah hal yg sangat normal. Membuat kesalahan adalah bagian dari belajar. Tak ada pembelajaran tanpa kesalahan/kelemahan dan proses belajar itu juga adalah upaya memperbaiki kesalahan, tapi ternyata kesalahan lain muncul. Demikian juga dengan proses menulis ini, pasti ada kelemahannya termasuk tata bahasanya yg mungkin bercampur tata bahasa Inggris dan Indonesia dan mungkin kelemahan struktur tulisan karena ini hanya catatan diary sebelum tidur.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment