Tuesday, 31 January 2012

Ingin meeting dengan JA

Kalau saya diundang meeting,
@apa yang akan saya bawa ke dalam meeting tersebut?
@apa manfaat yang saya harapkan?
@persiapan apa yang perlu saya lakukan?

Let me brainstorm my ideas:
Apa yang harus saya lakukan:
1. Full transcript dari diskusi 1, at the end rumuskan pertanyaan yang ingin diajukan.
2. Planning: calender
Di sini perlu diperjelas apa yang perlu saya kerjakan dalam bulan 2, 3, 4, dan 5. Jika melihat laporan Mercy, saya ingin punya laporan yang cukup significant:
- ikut AMESA
- presentasi SAARSMTE
- submit paper untuk ICME
- submit paper untuk MERGA
- submit paper JRME
- terlibat dalam proyek
- analisis data kualitatif Nvivo
- ikut sejumlah seminar (teachet up-front, phd-weekend, seminar Mark, seminar dengan Prof) dan lain-lain

Apa sih yang bisa membawa saya lebih produktif???

3. Membuat rangkuman review. Apa sih yang saya sdh baca?
- review Ma bab ...
- handbook Sullivan bab ....
- handbook MKiT bab ....
- Nicola ....
- Handbook Asssessing MKT ...
- studi komparatif PCK

Bingung deh. Coba saekarang hampir pukul 3. Apa yang bisa saya kerjakan sekarang hingga jam 3. Baca John Mason lagi deh sekarang.

Ternyata tadi saya baca bab Rowland tentang Knowledge Quartet.
Saya bisa lihat bahwa pendekatan dia berbeda dengan Ball. Dia akhirnya menghasilkan sejumlah indikator atau elemen dari knowledge for teaching.

Apa sebenarnya alasan dia tidak menganut framework yang diajukan oleh Ball, yang notabene juga berkaitan MKiT.
Ini yang dikatakan oleh Prof bahwa keduanya paralel, kedua berbeda, dengan metode berbeda dan tujuan berbeda.

Bisa tidak saya jawab utk keduanya:
- apa motivasi keduanya melakukan penelitian MKiT
- masalah apa yang hendak mereka pecahkan?
- apa pertanyaan spesific mereka dalam penelitian MKiT
- apa asumsi yang mereka anut?
- apa dasar teori atau kerangka teori yang mereka gunakan dan mengapa?
- bagaimana prosedur penelitian mereka termasuk analisis datanya.
- apa temuan mereka?
- apa implikasi dari masing-masing?
- apa keterbatasannya?

Berapa area yang bisa saya eksplorasi?
Shulman
Ball dkk
Rowland
Dr Germany

Berdasrkan waktu

Berdasarkan demografi
Sent from my BlackBerry® wireless device

Nicola

Saya sdh baca sebagian besar dari tulisan Nicola. Ini bermanfaat khususnya membantu saya lebih memahami pembicaraan JA, dan melacak referensi yang ada.

Baru saja saya baca contoh analisis data. Sekarang saya mulai bertanya pada diri saya, seberapa manfaat TF PCK, TPACK di sini.

Ok, kata JA, teori itu penting karena dengan teori itulah, bisa menjadi wahana diskusi yang memberi sumbangsih pengembangan.

Okelah. Peneliti ingin memahami pengetahuan yang diperlukan oleh guru untuk bisa mengajar dengan efektif, untuk bisa membelajarkan siswa, utk membantu siswa mengakses pengetahuan matematika yang mereka butuhkan.

Memahami ini, mengetahui, ini cukup, ini tidak cukup, ini bisa berkontribusi bagi pihak yang bertanggungjawab menyiapkan guru yang berkualitas.

Dengan kita punya teori tersebut, kita juga bisa terbantu dalam merancang MK apa yang dibutuhkan oleh institusi guru.

OoooOps, ada yang menarik loh di pikiran saya, yaitu menginvestigasi orang non-kependidikan yang dikenal sukses, orang Murni matematika yang menjadi guru. Apa sebenarnya yang membawa mereka itu bisa mengajar sukses. Dan ini bisa dibandingkan dengan guru yang punya latar belakang pendidikan. Ah ini hanya ide saja. Bisa melalui survey kerja sama dengan sekolah, mensurvey gurunya.

Kemabali ke Nicola tadi, saya tdk paham benar atau belum memberikan pencerahan. Persoalannya adalah, mengapa TPACK itu dipandang cocok utk menjelaskan fenomena itu. Mengapa LQ dianggap cocok menjelaskan? Lalu apa yang bisa kita pahami dari situ.

I don't know?
Sent from my BlackBerry® wireless device
Terima kasih Mba Nia. Sejauh pengalaman saya, saya selalu takjub dengan kreativitas mahasiswa saya, yang sering jauh di atas perkiraan saya. Rupanya pernah sekali langkah saya tertahan di depan pintu saat bergegas hendak meninggalkan ruang kelas. Seorang mahasiswa minta waktu bicara dan mengatakan bahwa "sudah lama saya sekolah dan sekarang saya sadar bahwa pada diri saya, ada kreatifitas, bahwa saya juga kreatif. Ini menambah keyakinan saya bahwa peserta didik itu sangat potensial. Saya punya kepercayaan tinggi pada peserta didikku, siapa pun dan bagaimanapun kondisinya. Mereka adalah SDM yang jauh lebih kompleks dari SDA. Bukankah SDA sumber daya alam sering membutuhkan alat canggih untuk menggalinya, apalagi SDM, membutuhkan upaya sungguh-sungguh, pengetahuan yang dalam dan bermakna utk menggalinya. Mari kita mengatakan pada siswa kita "I am with you", "I am here for you" Peserta didik kita butuh trust/kepercayaan. Jika dia bercaya, maka kebodohan apa pun akan dia tampakkan, artinya pula, diagnosa penyakit jauh lebih mudah. Tinggal kita yang harus bijak dalam mengambil tindakan. Insya Allah kita terus belajar dari pengalaman sehari-hari kita:)
Sent from my BlackBerry® wireless device

Monday, 30 January 2012

Jangan hina mereka karena ketaktahuannya karena kita juga banyak tak tak tahu

Tidak jarang saya menemukan pengajar/pendidik mengeluhkan peserta ajar/peserta didiknya, bahwa mereka itu terlalu lemah, sulit mengerti, terlalu kurang dan banyak tidak tahunya sehingga sulit dan jadi tidak nyaman mengajarnya. Tidak terkecuali dosen yang kadang mengeluhkan keterbatasan guru-guru yang dihadapinya.

Mungkin kita perlu bertanya dengan sungguh-sungguh dan jujur pada diri kita: apa ini salah? Apakah kalau saya tidak tahu sesuatu, itu salah? Saya terlalu banyak tidak tahunya, bahkan materi yang akan saya ajarkan, kadang-kadang saya juga tidak atau belum tahu. Apa ini salah??? Kenyataannya saya tidak tahu. Kenyataannya, perjalanan hidup ini terus bergerak dari tidak tahu menjadi lebih tahu, atau menjadi lebih paham.
Apa perlu malu mengatakan tidak tahu kalau saya memang tidak tahu? Kenapa malu? Itu adalah hal yang alami yang selalu terjadi dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, saya kadang berkata, beruntunglah kalau sebagai pengajar, kita menemukan kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika misalnya, karena ini sungguh memberi informasi berharga bagi kita sebagai pengajar. Sama beruntungnya ketika dokter bisa segera mendeteksi penyakit pasien, dan tidak perlu menunggu waktu yang lama atau tidak perlu pakai alat canggih dan mahal untuk mengenali penyakit pasien.

Seorang pengajar mengeluh, “kan gara-gara siswaku banyak tidak mengerti, maka saya tak bisa capai target kurikulum!!!” Wah, kita harus tanya diri kita: untuk siapa kita mengajar? Untuk siapa kita mendidik. Apa kita bekerja untuk kurikulum, atau kehadiran kita untuk membantu anak didik kita. Adakah formula bahwa mengajar adalah untuk menuntaskan kurikulum tak peduli anak paham atau tidak? Kan TIDAK ADA ITU!!! Pengajar berabad yang lalu, yang tradisional pun menggunakan waktunya, pikiran dan tenaganya untuk membantu orang lain paham.

Begitu juga dosen yang mengeluhkan hal ini. Iyalah, guru-guru itu banyak tak tahunya. Maka syukur dia ada di hadapan kita, setidaknya memberi indikasi baik bahwa dia mau belajar, dia mau tahu. Jika perlu katakan bahwa kita juga banyak tidak tahunya. Ciptakan kesan dan bangun rasa percaya diri bahwa “asal mau belajar pasti bisa”. Sadarkan mereka bahwa belajar BUTUH WAKTU DAN PROSES.

Lagi-lagi saya ingin mengambil hikmah dari perjalanan hidup saya. Bisakah membayangkan bahwa saya ditakdirkan belajar di luar negeri yang harus pakai bahasa Inggris, harus baca sumber bahasa Inggris, harus nulis pakai bahasa Inggris, sedangkan mengarang cerita bahasa Inggris utk level anak SD saja saya TAK MAMPU. Apa saya mau disalahkan dengan takdir ini, dimana saya mulai belajar bahasa Inggris di SMP, itu pun hanya sedikit, hanya berlatih tensis, berlatih membuat kalimat positif sederhana, mengubahnya ke kalimat negatif dan kalimat pertanyaan. Hingga SMA, saya tidak pernah mengarang cerita dalam bahasa Inggris, hingga akhirnya saya masuk IKIP Jurusan matematika, tentu tidak ada mata kuliah bhs Inggris. Apakah saya mau disalahkan dengan kebodohanku atau kelemahanku itu. Takdir membawaku sekolah di luar negeri.

Saat tiba di Australia, saya menonton TV, saya tak paham apa yang dibicarakan. Apakah saya salah? Saat membaca artikel, saya baca berkali-kali, saya sering buka kamus. Saya kesulitan memahaminya. Akibatnya saya harus berjuang setiap hari. Saya harus belajar keras. Saya harus bersabar. Saya hanya yakin bahwa ada kemauan pasti ada jalan. Itulah proses untuk mengetahui sesuatu, butuh waktu, butuh proses, butuh kesungguhan dan kemauan.

Apa hubungannya dengan cerita keluhan di atas? Bahwa peserta didik yang di hadapan kita, yang penuh keterbatasan buat kita, JANGAN pernah membiarkan diri kita untuk  menghinanya, mencelanya, atau merendahkannya. Tapi jadikan ini tantangan bagaimana membantunya, supaya mereka melihat dirinya punya potensi, punya kapasitas, punya kepercayaan diri bahwa mereka pasti bisa, ASAL MAU.

 

Semoga karena kita mereka paham bahwa belajar itu tidak linier, tidak sederhana, tak beraturan (messy process), BUTUH WAKTU. Semoga mereka akan lebih paham bagaimana cara membelajarkan orang lain, TANPA HARUS TERTEKAN, bahwa seakan hidupnya dan karirnya utk menuntaskan kurikulum.
Mari terus belajar, membelajarkan diri kita, supaya kita semakin sukses dalam membelajarkan orang lain (belajar dalam arti yang sesungguhnya).

 

Pemikiran

Dear Mas Z, saya berpikir kontribusi lain yang bisa sya berikan pada dunia pendidikan melalui website Ifed adalah paparan secara audio misal inti dari hasil bacaan dari sebuah buku, atau paparan seakan berupa kuliah ttg konsep penelitian. Mengapa audio? Karena mungkin filenya lebih kecil dibandingkan video. Jadi katakanlah semacam podcast.

Saya juga mungkin menayangkan slide yang saya bahas, seperti dibanyak yotube.

Sebenarnya sumber banyak tapi dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, lumayan terbatas misal dalam bidang sya berkaitan dengan pembelajaran matematika dan konsep-konsep pedagogi atau konsep penelitian yang bisa menjadi konsumsi para guru dan calon guru.

Sebenarnya ini bisa menjadi satu ide penelitian yang menyapkan sumber-sumber belajar bagi guru yang berbahasa Indonesia.

Tapi persoalan sebenarnya apakah saya punya waktu yang cukup. Boleh jadi ide ini tdk dilakukan sekarang tapi suatu saat nanti. Semoga Allah memberi kekuatan untuk itu.

Sent from my BlackBerry® wireless device

Pertanyaan PCK dll

Inti persoalan adalah apa sebenarnya yang menentukan efektif tidaknya dari suatu pengajaran matematika. Atau sebutlah apa yang mempengaruhi tingkat keberhasilan dari suatu pengajaran matematika. Diskusi lebih jauh adalah kapan dikatakan suatu pengajaran matematika itu berhasil?

Mungkin ada yang mengatakan, yang berhasil ini ditandai dengan mampu tidaknya siswa mengerjakan tes. Tapi pertanyaan lagi? Seperti apa tes yang dibuat itu? Bukankah tes bisa mudah dan bisa sulit. Mana yang lebih berhasil siswa mampu menjawab tes yang kompleks hanya 30% tapi siswa penasaran setelah tes, membawa mereka diskusi yg panjang antar temannya, atau siswanya dapat 100 dengan jenis tes yang hanya menuntut ingat dan prosedur-prosedur rutin yang sebentar lagi juga dilupakan. Atau ada yang mengatakan bahwa pembelajaran yang berhasil itu adalah yang berhasil mencapat standar kompetensi yang ditetapkan kurikulum. Apa itu standar kompetensi? Apakah dia hanya rumusan kalimat ttg apa yang harus dicapai siswa yang bisa diinterpretasikan secara berbeda. Misal, siswa mampu menerapkan rumus abc dalam memecahkan masalah. Masalah yang bagaimana? Mungkin ada yang menginterpretasi soal terapan biasa yang sudah dilatihkan di kelas hingga anaknya cukup mengingat-ngingatnya, atau soal cerita, atau soal yang kompleks yang menuntut pemahaman berbagai konsep berbeda dan memerlukan daya pikir kritis.
Jadi alasan pengajaran efektif yang didasarkan pada pencapaian standar kompetensi juga perlu dicermati secara hati-hati atau secara mendalam.

Permasalahan inilah sebenarnya yang membawa diskusi para ilmuan hingga tataran internasional sejak ratusan tahun lalu. Masalah ini memang tidak sederhana.

Undang-undang menggariskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengajaran yang berkualitas yang juga berarti bahwa pemerintah wajib dong menyediakan guru yang berkualitas. Ini tantangan yang sangat berat pada siapa pun yang duduk di pemerintahan di Indonesia. Fakta yang ada, kebanyakan guru-guru kita dari aspek kualifikasi saja, kebanyakan tidak sarjana, yang mencerminkan tidak cukup untuk memberi pengajaran yang berkualitas dalam era globalisasi yang menambah kekompleksan tugas pengajaran.

Nah untuk itu, saya ingin berbagi kepada pembaca kajian literatur saya tentang bagaimana arena diskusi yang berkaitan dengan pengajaran matematika yang efektif tersebut.
Kajian banyak mengacu pada hasil-hasil penelitian luar negeri (karena tidak mudahnya mendapatkan hasil penelitian dalam negeri ttg kajian ini)-harus tunjukkan upayanya dulu dong!!!.
Kajian ini akan berfokus pada mathematicak knowlewdge in teaching.
Sebagai titik awal, saya berangkat dari tulisan ..... Yang mencoba mengajukan model hasil sintesisnya tentang pengetahuan matematika yang diperlukan guru dalam pengajarannya.

Walau pun secara pribadi sebenarnya, saya berpikir, jika saya jadi guru matematika SMA sekarang ya, saya mungkin bisa menjadi guru yang efektif, guru yang membawa anak saya senang dan termotivasi belajar matematika walau pun yang tak mengauasai betul materi itu karena ketersediaan teknologi. Saya tidak lagi berpandangan bahwa yang akan dipelajari siswa harus ada di kepala saya, tetapi saya berpandangan bahwa bisa saja saya dan siswa saya baru mempelajarinya secara bersama-sama. Pengalaman ini rasanya terjadi pada diri saya, menjadi guru PBM dan dosen bahasa Inggris.

Saya amat sangat senang, dengan pernyataan, knowledge growth in teaching.

Pertanyaan yang hendak saya jawab adalah:
1. Bagaimana sebenarnya teori pengetahuan yang diperlukan oleh guru oleh Shulman? Mengapa Shulman mengajukan ini? Atas dasar apa dia mengajukan konsep pck yang memberi pengaruh besar pada dunia penelitian, hingga lebih ribu dalam 10 tahu mengutip tulisan dia.

2. Bagaimana sebenarnya konsep hasil pengembangan dari Ball dkk yang dia kembangkan dalam proyek penelitian yang lumayan panjang. Ball telah menghasilkan lebih 10 tulisan berkaitan dengan hal, berargumen bahwa konsep yang diajukannya didasarkan pada praktek pengajaran.
Bagaimana sebenarnya jalan cerita proyek dia. Apa kerangka teori, apa asumsi yang digunakan. Apa temuan dan argumennya dan dimana letak keterbatasannya.

Demikian juga yang lainnya
++++
Ooooops.
Saya juga jadi ingat apa yang saya baca bahwa teori ini tdk bisa lepas dari konteks.

Coba ya, kalau mereka menghasilkan indikator tentang ciri guru efektif, yang dikembangkan di negara mereka, tentu tidak mungkin dong kalau saya tidak mengadopsinya. Iya nggak?
Sent from my BlackBerry® wireless device

Konseptualisasi pengetahuan matematika Guru dalam pengajaran

Alhamdulillah, saya sdh baca bab ini. Rasanya paham sih isinya. Artinya bisa mengikuti jalan ceritanya sampai habis. Mungkin seperti nonton film ya, bisa ikuti ceritanya.

Persoalan yang lebih sulit adalah mampukah kita menceriterakan ulang jalan cerita film tersebut tanpa kita mengubah maksud dari sipembuat film.
Nah mampukan saya menceriterakan ulang isi bab ini tanpa mengubah maksud yang disampaikan oleh sipenulis.

Nah saya yakin ini masalah karena:
-Nama penulisnya saya belum bisa ingat
-Nama yang dipaparkannya saja belum bisa ingat hingga 50%
Jadi sepertinya saya perlu membacanya lagi dan membacanya lagi. Itulah proses belajar, butuh waktu, butuh pengulangan utk lebih paham.

Ok, ijinkan aja sih saya cerita pemahaman sepintas yang saya peroleh. Utk selanjutnya, saya akan mengakhiri catatan ini dengan pertanyaan atau pun catatan tindak lanjut.

- penulis mengatakan bahwa ada sejumlah kajian yang berbeda dalam MKiT, atau pengetahuan yang diperlukan oleh guru matematika untuk bisa mengajar secara efektif.

- kajian ini menjadi ramai setelah tulisan dari Shulman bersama kawannya yang menegaskan ada "missing paradigm" dalam penelitian terdahulu dalam bidang ini. Dan dia kenalkan satu istilah baru yaitu PCK. Dia mendaftarkan 7 kategori pengetahuan yang perlu dimiliki guru namun dalam papaernya dia fokus mendisakusikan pengetahuan yang berkaitan kontent, yaitu SMK, kurikulum dan pck. Nah pck ini dianggap suatu yang unik yang menentukan bisa tidaknya guru mengajar matematika yang memungkinkan para siswanya paham, baik termasuk cara representasinya, antisipasi miskonsepsi, keputusan cara menjawab pertanyaan siswa dan lain-lain.

Istilah pck ini menjadi santer. (Ulisan Shulman pun telah dikutip lebih dari sumber, dengan interpretasi dan penhgembangan yang berbeda.

Is penulis mengatakan, jika kita tdk punya konsep yang jelas/seragam, atau dipahami secara bersama-sama (pemahaman yang sama), maka sulit dong untuk menjawab permasalahn penelitian.

Untuk itu kesan saya penulis mencoba mereviu beberapa penelitian utama di beberapa negara yang berbeda, memberi catatan tentang kontribusi dari konsep hasil elaborasi dari penulis lainnya dan sekaligus mengkritisi. Nah saya kira kontribusi inilah yang perlu catat dan kritik apa yang diperoleh oleh masing-masing penulis.

Misal Ball dkk, kontribusinya adalah memberikan bukti penelitian bahwa ada hubungan antara prestasi siswa dan tingkat pengetahuan matematika guru dalam pengajaran. Kontribusi kedua adalah dia mengembangkan alt ukur untuk mengukur pengetahuan matematika guru untuk pengajaran, dalam bentuk soal pilihan ganda.

Ball dan kawan-kawan mengajukan pemetaan pengetahuan berupa diagram yang terdiri dari 2 domain utama yaitu SMK dan PCK. Nah PCK sendiri terdiri dari KCS, pengetahuan ttg isi dan siswa serta KCT, pengetahuan ttg isi dan pengajaran, serta pengetahuan kurikulum. Domain SMK dibagi menjadi 3, SCK, specialised content Knowledge, nah ini saya kira temuan signifikan dan didasarkan pada bukti lapangan. Komponenlainnya CCK, common content knowledge dan knowledge at mathematical horizon. Menari k membacanya karena penulis sekaligus menggarisbawahi bahwa konsep ini masih memerlukan pengembangan karena penulis sendiri masih belum yakin sepenuhnya dengan pengkategorian tersebut.

Nah kajian ini membantu saya utk mendalami satu area konsep yang diajukan oleh Ball dkk.

Ini juga membantu saya mengenali sepintas ttg KQ, yaitu indikator yang dikembangkan di Inggris oleh Rowland dkk. Yang berbasis pada mahasiswa calon guru.

Dan selain itu, dia juga menjelaskan konsep yang diajukan oleh Fennema, yang mengiintegrasikan masalah belief.
Pada akhirnya penulis mengajukan model, lebih cenderung pada berbasis pada model Fennema, dan menarik karena dia ajukan alasan mengapa model ini bagus tetapi juga mengingatkan implikasi atau keterbatasan model ini. Dia tekankan bahwa ketika model ini diterapkan, kita harus memperhatikan konteks budaya setempat. Konsep kunci yang diajukan adalah bahwa ada interaksi antara pengetahuan itu.

Oke, saya kira saya belum menceriterakan isinya secara bagus tapi saya bisa mengatakan, jika And ingin tahu ttg pengetahuan guru matematika yang diperlukan utk bisa mengajar efektif, maka revviu tulisan ini bisa menjadi starting point. Juga ini bisa menjadi satu argumen bahwa kajian cukup mendalam ini lepas dari konteks teknologi.

Nah apa yang bisa saya lakukan.
Baca lagi secara cermat. Hal yang bisa membantu jika ini saya tulis dengan bhs Indonesia dengan 2 alasan: mempertajam pemahaman saya dan kedua bisa saya share ke para pendidik matematika Indonesia, bahkan bisa membantu saat saya mau menulis dalam bahasa Indonesia.
Sent from my BlackBerry® wireless device

Sunday, 29 January 2012

Usul boleh-boleh saja tapiiiiiiii

Dalam hidup ini, kita tentu boleh mengajukan usul. Tapi usul itu kadang diterima dan kadang ditolak. Itulah fenomena hidup. Lantas bagaimana?

Mengusulkan sesuatu memang beresiko. Bisa memunculkan persepsi yang boleh jadi positif tapi boleh jadi negatif. Tergantung bijak tidaknya yang mendengar usul kita.
Namun kita yang mengusulkan harus berpikir positiflah dan tidak perlu risau.
Mengapa?
Karena ada yang Maha Hebat, Yang Maha Tahu, Yang Maha Adil.
Dialah yang paling tahu dan Dia tak pernah lalai dalam menilai.
Dia pasti menilai kebaikan kita atau niat positif kita.

Sebenarnya yang patut juga dicermati adalah, penolakan itu bisa bersifat positif loh. Penolakan bisa didasari pada pemikiran yang logis, rasional. Pemikiran yang sangat bermanfaat untuk diri kita.

So what?
Yah kadang-kadang dalam hidup ini, kita melakukan sesuatu untuk kepuasan diri, kepuasan hati nurani, kebahagiaan. Tapi sudah kodrat kok, bahwa tidak semua keinginan itu dapat tercapai.

Apa sih sebenarnya yang paling urgen bagi diri pribadi saya.
Sebenarnya peningkatan kualitas hidup.
Contoh yang jelas, kemarin saat ke shopping center, saya membeli sesuatu, yang saya kira tak urgen. Nah hal seperti ini yang patut dihindari. Saya harus memikirkan bahwa jika saya hemat utk diri saya, saya bisa lebih banyak berbuat utk orang miskin.

Okelah, keluarga saya masih bisa hidup dengan layak, makan yang cukup, tempat tinggal yang bagus. Tapi, kan banyak sekali orang di luar sana, entah keluarga atau bukan keluarga yang miskin papa, yang makan saja tak ada. Nah, ini loh, saya harus mikir semua itu.

Bahkan, pergi ke tanah suci, mungkin walau kita mampu, masih lebih urgen barangkali untuk memberi makan orang miskin, yatim piatu.

Kepedulian sosial ini yang perlu ditingkatkan. Saya dalam usia 41 tahun ini, sudah saatnya hidup yang jauh lebih sederhana.
Pemikiran bahwa: dulu saya tak punya, dulu saya tak mampu, sekarang saatnya saya menikmati. Saya kira, pemikiran ini sangat TIDAK produktif.

Pleaaaaase, saatnya, saya hidup jauh lebih sederhana, terhindar dari sifat konsumtif. Okelah, saya harus dan harus berjuang menjadi manusia yang lebih sederhana, selalu menghadirkan bahwa di luar sana, banyak orang yang butuh. Dan saya perlu berbuat.
Untuk apa hidup ini. Hidup ini hanya sementara.

Saya kira, saya bisa demikian. Saya bukanlah wanita yang materialistis, yang terlalu perhitungan. Saya sdh menyaksikan kok banyak wanita yang begitu perhitungan, saya Insya Allah tidak. Semoga tidak. Nah, potensi itu sangat posaitif.
Saya ingat tetangga, yang cerewet banget loh pada suaminya, suaminya dimarahi seperti apa karena memecahkan lampu. Padahal suaminya itu, tiap hari bergumul dengan lumpur di empang tapi mungkin wanita itu terlalu merasa diri hebat karena seorang guru SD.

Ada juga, wanita, yang Allah minta ampun kikirnya pada keluarga suaminya, padahal masya Allah suaminya sangat baik, termasuk sangat baik sekali pada keluarga istrinya. Saya menyaksikan dengan nyata, bahkan wanita itu jauh lebih baik pada saya dari pada keluarga suaminya.
Insya Allah, semoga Allah melindungi saya dari sifat yang buruk tersaebut. Insya Allah jika hati kita dekat pada Allah, Allah akan melindungi kita.

Dulu, bagus tuh, saya niatkan setiap dapat uang, sekian persen saya transfer ke ortu (4 orang). Itu keputusan pribadi saya. Ini dilandasi dengan niat baik. Tapi perlu ditingkatkan mungkin.
Jadi saya perlu berefleksi selalu.

Ok, saya perlu juga menyadarkan diri ya, bahwa berbuat itu tidak harus dengan uang. Memberi uang bahkan bisa berakibat buruk jika pemanfaatannya atau prosedurnya salah.

Yang paling utama adalah mengempower orang loh. Artinya saya bisa berkontribusi tenaga, pikiran, waktu. Ini juga mahal sebenarnya. Nah kalau soal uang, kita bisa asal yang tepatlah caranya. Asal bisa berakibat produktif.

Teringat Kaeng almarhum. Beliau contoh yang sangat baik loh. Seingat saya beliau itu pemurah, tapi seingat saya, beliau tak pernah sekalipun memberikan saya uang. Tapi kebaikannya luar biasa. Beliau mencoba membuka jalan pada kami utk sekolah. Saya pernah tinggal di rmhnya, saya layaknya seperti pembantu. Bangun sebelum subuh, bersih rumah, bantuin di dapur dan lain-lain. Tapi bukankah itu proses pendidikan. Saya belajar dari proses itu.

Menarik, Tapi ada tetangga yang sangat miskin, sehingga dia bilang tak bisa masuk SMA. Tak ada uang. Tapi entahlah, setelah bertemu dengan Om, dia sekolah. Entah apa SPPnya dibayarkan? Kok bisa. Tapi kan Om tak pernah bilang kalau dia telah membantunya. Orang itu kini sdh berkeluarga, sdh sarjana dan punya pekerjaan yang bagus.

Hal inilah yang paling penting yang patut saya contoh.
Ok, saya usul tadi sesuatu pada seseorang. Saya bermaksud berbuat baik. Saya bermaksud membahagiakan orang yang terlalu spesial bagi saya. Tapi usul tak diterima. Jalan sendiri bukan hal yang baik. Takutnya kebaikan bisa berakibat keburukan. Jadi tak ada daya. Kembalikan pada-Nya. Banyak kesempatan untuk berbuat baik dalam bentuk lain. Allah Maha Tahu. Saya tdk mau egois karena saya mau hidup bahagia dan membahagiakan, dan dibahagiakan.
Jangan sakit hati. Jangan sedih. Boleh jadi hal baik bagi saya, tapi sebenarnya buruk. Allah kan Maha Tahu. Allah kan Maha Bijak.
Semoga Allah memberikan kesempatan banyak pada saya untuk berbuat hal-hal yang baik dunia akhirat.

Tak usah lagi bicarakan hal tadi, untuk menghindari hal buruk. Saya kembalikan pada Allah. Kita hanya bisa usaha, Tuhan jualah yang menentukan. Kita hanya bisa merencanakan, Allahlah yang menentukan.
Semoga hari-hariku di sini dalam lindunganNya. Semoga Allah terus melimpahkan rejeki halal pada keluarga kami dan semoga rejeki itu berberkah, dan mengantar kami berbuat kebaikan dunia akhirat.

Jangan khawatir, sekali lagi jangan khawatir. Allah Maha Mengetahui segala hal. Berhentilah bersedih. Jangan kecewa. Ingat pesan-pesan pribadi di atas. Itu sangat penting.
Berpikir positif, bahwa usul ditolak demi kebaikan diri. Ingat juga, kalau kita mempercayakan sesuatu pada seseorang, maka percayailah. Sepanjang kita masih percaya, maka berilah kepercayaan. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Amiiiiiiin.
Sent from my BlackBerry® wireless device

Friday, 27 January 2012

‎Chat with Aneesa on 1/14/2012

Participants:
-------------
Sitti Maesuri, Aneesa

Messages:
---------
Aneesa: Slms, I am here at wits in rm L63, until 12 doing reg, come if u can, thx, aneesa
Sitti Maesuri: I have a meeting with Prof Adler at 12 - 13. I'll come soon after my meeting. Is it OK? Thanks
Aneesa: I am free now until 12, can u come now, cos I am going home for jummah prayers etc otherwise, monday then
Sitti Maesuri: Ok. I am coming
Aneesa: Gr8
Sitti Maesuri: Do you have a doctor? I really need a prescribtion of malaria medication. It says that I need to take medicine a day before going to Malawi tomorrow morning. Malawi is malaria zone. I worry so much.:)
Sitti Maesuri: Would you mind please to help me?
Aneesa: U can get from chemist in rosebank, clicks dispensary
Sitti Maesuri: My friend told me that it needs prescription. Mdifferent friend has different prescription. It is too late to know this
Aneesa: Don't need a doctors prescription, but it is expensive bet R600 and R800
Sitti Maesuri: Ok, but isn't it closed now? The price is ok because we have to. So worried
Sitti Maesuri: Do you have other ideas
Aneesa: Unfortunately I can't help, at my sisters place in westrand for the weekend, thinking of what to do??
Sitti Maesuri: I have mosquito repellent. I will use it all the time then. I just read the email yesterday and I didn't think if it's so serious. Thanks Aneesa
Aneesa: Just use plenty of it, and pray nothing bites u! Will they be ok at airport, do u hav yello card
Sitti Maesuri: I have yellow card. If they sell at the airport, I might buy there. Thanks
Aneesa: Go early to travel clinic on ground floor at airport they can help u

Sent from my BlackBerry® wireless device

Thursday, 26 January 2012

Fw: [cfbe] Digest Number 4782

Sent from my BlackBerry® wireless device

From: cfbe@yahoogroups.com
Date: 26 Jan 2012 11:17:18 -0000
To: <cfbe@yahoogroups.com>
ReplyTo: "No Reply"<notify-dg-cfbe@yahoogroups.com>
Subject: [cfbe] Digest Number 4782

Messages In This Digest (4 Messages)

Messages

1a.

Re: [IGI] PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBB

Posted by: "aulia reksoatmodjo" aulia_kpai@yahoo.com   aulia_kpai

Wed Jan 25, 2012 1:30 pm (PST)




Bu Nina,
Itu mah bukan takut ketauan Dinas Pendidikan, tapi alasan untuk tidak diberi kursus.... biasa itumah, sering banget mereka mengatasnamakan Dinas atau Pengawas atas ketidakinginan mereka merubah bahan ajar....

Kalau masalah buku paket, itu sudah diluar kontrol, karena masalah gratifikasi alias pungli alias KKN...

Yang jadi masalah adalah kalau materinya lebih tinggi dari kompetensi yg sewajarnya, kasihan amat muridnya karena ulangan dan UNas kan mengikuti Kompetensi dan SKL yang ada di SNP?

Pak Satria, apakah ada program evaluasi sertifikasi guru? Kalau Kalpataru kan dievaluasi setiap tahun selama 5tahun untuk mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi, kalau u/sertifikassi guru ada ngga ya? Evaluasi sertifikasi lho Pak, bukan u/kenaikan pangkat atau pelatihan..

Salam

--- On Wed, 1/18/12, Imran Sinong <barinox77@gmail.com> wrote:

From: Imran Sinong <barinox77@gmail.com>
Subject: Re: [cfbe] Re: [IGI] PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI
To: cfbe@yahoogroups.com
Date: Wednesday, January 18, 2012, 9:22 AM

Harusnya duduk bersama, membawas kesesuaian kurikulum dengan buku paket yg
dimaksud, idealnya dibahas bersama di KKG.
Kalau merasa deliveri materi yg diberikan dirumah lebih maksimal ya monggo
gak usah belajar di sekolah.

Salam...

Imran.

2012/1/18 Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>

> Takut ketahuan Dinas Pendidikan...?! Dunia pendidikan kita begitu
> menyedihkan dan penuh dengan irasionalitas.
> (Again... What shall we do...?!)
>
> Salam
> Satria Dharma
> http://satriadharma.com/
>
> -----Original Message-----
> From: nina_feyruzi@yahoo.com
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Wed, 18 Jan 2012 01:11:34
> To: <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Subject: Re: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari
> KBBI
>
> Pak SD,
>
> Saya pernah tawarkan semester lalu. Memberikan pelatihan untuk guru2 di SD
> anak saya itu. Gratis. Karena saya ada di komite sekolah itu. Bukan cuma
> itu sih, saya geregetan karena untuk ujian UAS esember kemarin, anak saya
> yang kelas 3 SD itu harus belajar tentang konsep volume membandingkan
> antara liter dan desimeter kubik. Gila!!! Itu kan materi kelas 5 SD.
>
> Usut punya usut, sekolah mengambil bahan itu dari buku paket/cetak yang
> mereka pakai. Saya cek, benar. Lalu saya tanya ke sekolah siapa yang
> membuat materi UAS. Yang membuat adalah KKG masing2 gugus. Walah!!! Itu
> berarti ada ratusan anak SD di lingkungan saya yang mati2an menderita
> belajar itu. Dan itu karena ulah BUKU PAKET!!!
>
> Saya heran, kenapa buku paket itu lolos digunakan di sekolah sih?!?
> Pembodohan massal lewat buku paket.
>
> Perihal pelatihan yang saya tawarkan ke sekolah anak saya, mereka tidak
> mau. Dengan alasan, takut ketauan Dinas Pendidikan. Entah apa maksudnya.
> Hahahaha...
>
>
> Salam,
>
> Nina
> Powered by NinaBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Satria Dharma" <satriadharma2002@yahoo.com>
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Wed, 18 Jan 2012 00:31:26
> To: IGI Milis<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Subject: Re: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari
> KBBI
>
> Nina dan Puti, bagus sekali jika bisa mendatangi sekolah tersebut.
> Tawarkan bantuan. Akan lebih mantap jika para guru di SD tersebut diberi
> pelatihan ttg kurikulum matematika agar tidak nyasar spt ini.
>
> Salam
> Satria Dharma
> http://satriadharma.com/
>
> -----Original Message-----
> From: nina_feyruzi@yahoo.com
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Wed, 18 Jan 2012 00:34:19
> To: <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Subject: Re: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari
> KBBI
>
> Puti,
>
> Mungkin bukan cuma soal IPA. Matematika. Semalam anakku yang nomer dua
> datang dan minta dibantu mengerjakan soal pecahan. Gurunya memberikan PR
> yang menurutku 'gila'. Anakku diminta menuliskan simbol <, >, = untuk
> pecahan seperti ini:
>
> 1. 3/7 ...... 6/11
> 2. 2/9 .... 3/15
>
> Dan berbagai pecahan dengan penyebut ganjil yang angkanya besar-besar.
> Padahal, dia baru seminggu belajar tentang pecahan. Ada 15 soal yang dia
> harus isi dengan simbol, namun susah dia untuk mengerti.
>
> Akhirnya aku membuat visual dari kertas asturo yang masing2 aku buat
> pecahan ukuran perduaan, perempatan, pertigaan, pertujuhan dst. Lalu aku
> minta dia membandingkan pecahan2 itu. Dia terbantu. Tetapi sebetulnya
> ketika membuat pecahan itu aku kesulitan juga membuatnya menjadi pecahan
> persembilan, persebelas, dll.
> Nah, apalagi anakku yang harus membayangkan itu di kepalanya.
>
> Lalu aku berikan juga alat peraga yang kupunya di rumah yang sering aku
> bawa2 kemanapun aku memberikan workshop. Terbantu.
>
> Minggu ini aku mau datang ke sekolah anakku, memintanya membuat pecahan
> pertigabelas atau pecahan2 ganjil lainnya dengan alat peraga. Mau tau, dia
> bisa atau tidak.
>
> Anak yang baru belajar pecahan seharusnya diberi pecahan dengan penyebut2
> genap, sehingga mudah baginya membagi sesuatu dengan konsep sama besar.
>
> Anakku beruntung karena ibunya punya alat peraga itu dan tahu bagaimana
> membantunya. Bagaimana dengan ribuan anak SD lain yang ibunya tidak bisa
> membantunya?
>
>
> Salam,
>
> Nina
> Powered by NinaBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com>
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Tue, 17 Jan 2012 23:01:41
> To: IGI<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Cc: cfbe<cfbe@yahoogroups.com>; sd-islam<sd-islam@yahoogroups.com>
> Subject: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI
>
> PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI
> Oleh Dhitta  Puti Sarasvati
>
> http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/17/pr-ipa-kelas-3-sd-mencari-istilah-istilah-sains-dari-kbbi/
>
> "Aku ada PR susah! Bantuin yah!" kata keponakan saya.
>
> Ternyata, PR keponakan saya (sekali lagi) membuat saya frustasi. Keponakan
> merupakan siswa  kelas 3 di sebuah SD negeri di Jakarta Selatan. PR IPA-nya
> adalah mencari definisi beberapa istilah sains dari Kamus Besar Bahasa
> Indonesia. Istilah-istilah itu adalah :
>
> - Berat
>
> - Ukuran
>
> - Bahan baku
>
> - Luas permukaan
>
> - bentuk-bentuk benda
>
> - kekasaran permukaan benda
>
> - keadaan permukaan lintasan
>
> Untuk PR IPA, saya rasa PR ini sangat tidak tepat.  Dalam konteks ini,
> seharusnya  anak diajak memahami konsep-konsep terkait istilah-istilah di
> atas melalui kegiatan observasi, percobaan, dan lain-lain , bukan sekedar
> menuliskan artinya menurut KBBI.
>
> Arti beberapa kata di atas di dalam  KBBI :
>
> *be·rat 1* *a* besar ukurannya (di antara jenisnya atau benda-benda yg
> serupa): *alat-alat — ,*mobil derek, traktor, dsb; *2* *a* besar tekanannya
> (timbangannya): *peti — itu tidak dapat diangkat oleh tiga orang;* *3*
> *a* payah;
> parah (tt luka penyakit dsb): *akibat kecelakaan itu dia menderita
> luka –;**kalau
> penyakit sudah — susah diobati;* *4* *a* sulit (susah, sukar) melakukannya;
> melebihi ukuran (kekuatan, kemampuan, kesanggupan, dsb): *kematian ibunya
> merupakan cobaan — bagi gadis itu;* *5* *a* sukar digerakkan, seakan-akan
> ditindih atau ditekan (tt anggota badan dsb):*kepala terasa — dan pusing;
> mata terasa — ,*mengantuk; *6* *a* kuat merangsang saraf; keras (tt rokok,
> obat, dsb): *ia suka rokok yg –;* *7* *a*memihak; cenderung: *hatinya lebih
> — kpd kekasihnya dp kpd orang tuanya;* *8* *ki v* hamil:*istrinya sedang dl
> –;* *9* *a* sangat keras (perkiraan, dugaan, dsb): –* dugaanku bahwa dia yg
> salah;* *10* *n* besarnya tekanan suatu benda apabila diangkat, ditimbang,
> dsb; bobot; timbangan: *akibat sakit, — nya berkurang 7 kg;**11* *n Fis*
> gaya
> tarikan yg diderita suatu benda krn massanya dan keberadaannya di dalam, di
> sekitar, ataupun pd suatu sistem massa; bobot; *12* *ki a* susah; celaka:
> *wah,
> kalau ketahuan, — kita;
> *–* pd mata orang lain, ki* disegani (dihormati) orang; –* sama dipikul,
> ringan sama dijinjing, pb*suka duka, baik buruk sama-sama ditanggung;
> *berapa
> — mata memandang, — juga bahu memikul, pb* betapapun menderita orang
> melihat, lebih menderita orang yg mengalami (kesusahan dsb);
>
> *ukur·an* *n* *1* hasil mengukur; *2* panjang, lebar, luas, besar sesuatu;
> format: *kertas dng ~ 34 x 22 cm*; *3* bilangan yg menunjukkan besar satuan
> ukuran suatu benda; *4* *cak* alat untuk mengukur, msl penggaris, meteran,
> jengkal: ~* nya hanya menggunakan jengkal*; *5* *ki*norma:*bertindak tanpa
> ~;*
>
> *ba**·**han baku *bahan untuk diolah melalui proses produksi menjadi barang
> jadi; bahan kebutuhan pokok untuk membuat sesuatu;
>
> *lu·as* *a* *1 *lapang; lebar: *kamarnya — sekali; **2* umum (tt masyarakat
> dsb): *masyarakat –;* *3*merata (terjangkau oleh orang banyak): *berita itu
> sudah tersebar — di kalangan guru di kota itu*; *4*ukuran panjang-lebarnya
> bidang (lapangan, ruangan, dsb): –* kebun itu seratus hektar* *5*
> *ki*banyak
> dan beragam (tt pengetahuan); tidak picik: *orang yg —
> pengetahuannya;**6* dapat
> melihat bebas dan lepas; banglas (tt pemandangan): –* pemandangannya;*
> *7* besar
> atau banyak (tt usaha, pekerjaan, dsb): –* usahanya;*
>
> Secara umum, mencari definisi kata-kata tersebut menurut KBBI tidak
> bermakna apa-apa. Apalagi untuk menjelaskan  'luas permukaan',
> 'bentuk-bentuk benda',  & 'kekasaran permukaan benda'.  Bagaimana cara
> menggunakan KBBI untuk mendefinisikan istilah-istilah di atas? Lagi pula
> apa gunanya?
>
> Bagaimana caranya menjelaskan definisi 'kekasaran permukaan benda' ke anak
> kelas 3 SD. Dulu waktu saya belajar mengenai
> metrologi<http://en.wikipedia.org/wiki/Metrology> kekasaran
> permukaan benda dijelaskan dengan menggunakan gambar tetapi tentu saja itu
> juga kurang tepat untuk diajarkan ke siswa kelas 3 SD.  menggunakan gambar.
> Saya bertanya iseng, mungkin juga sedikit emosi "Kalau gak pakai KBBI boleh
> *gak*?"
>
> Keponakan saya menjawab sambil cemberut, "Gak tahu kata gurunya begitu!"
>
> Saya mencoba berpikir positif. Mungkin guru kelas 3 SD tersebut kebingungan
> mencari cara mengajarkan sains ke muridnya.  Mungkin saya perlu datang ke
> sekolah untuk berbicara dengan sang guru. Siapa tahu saya bisa mengajaknya
> berdiskusi mengenai cara mengajar sains ke siswaSD.
>
> Saya ingat keponakan saya sangat hobi bermain dengan sebuah kursi beroda
> yang ada di rumah saya. Dengankursi tersebut dia suka  meluncur antar ujung
> ruangan.  Kadang membuat pusing karena berisik (dan membuat lantai kotor).
> Tetapi kali ini saya biarkan dia bermain dengan kursi beroda tersebut.
> "Coba sekarang kamu meluncur dengan kursi ini di lantai!"
>
> Dengan senang hati dia meluncur. Saya mengambil karpet yang lumayan tebal,
> "Sekarang kursinya kita taruh di atas karpet ini.Coba meluncur lagi!"
>
> Keponakan saya tertawa-tawa, "Susah!" katanya.
>
> "Kenapa lebih susah?" tanya saya. Saya lalu mengajak keponakan saya meraba
> lantai dan karpet.
>
> "Sama gak rasanya?" saya kembali bertanya.
>
> Keponakan saya menyahut, "*Ngak*! Beda!"
>
> "Apa bedanya?" tanya saya?
>
> "Lebih kasar," katanya.
>
> "Nah itu!" kata saya. Saya lupa mengajaknya mengamati karpet dan lantai
> agar dia bisa memperhatikan bentuk permukaan lantai dan karpet. Tapi saat
> itu sudah pukul 21.30 malam. Besok dia harus sekolah.  Sebelum dia tidur,
> saya melihat catatan IPA keponakan saya. Di sana tertulis :
>
> memantul = gerak benda yang berbalik arah setelah membentur sesuatu
>
> menggelinding = gerak berputar sambil berpindah tempat
>
> jatuh = gerak benda berpindah tempat dari atas ke bawah
>
> berputar = benda bergerak pada porosnya
>
> mengalir = benda yang bergerak maju dari tempat yang tinggi ke tempat yang
> lebih rendah
>
> meluncur = gerak benda berpindah tempat tanpa berputar
>
> tenggelam = gerak benda masuk terbenam ke dalam air
>
> bergetar = gerak benda berulang-ulang dengan cepat
>
> "Kamu dapat arti-arti ini dari mana?" tanya saya.
>
> "Itu nyatet dari guru di papan tulis," jawab keponakan saya.
>
> Iseng saya tanyakan arti sebuah kata yang ada di catatannya, "Coba ini,
> kamu tahu artinya bergetar gak?"
>
> Dia mengangkat bahunya.
>
> "Pinjam penggaris!" kata saya. Saya menaruh penggaris di atas meja.
> Sebagian penggaris menjulur di udara. "Goyangin deh penggarisna!" kata saya
> sambil mencontohkan. Keponakan saya melakukan hal yang sama. Saya
> memindah-mindahkan penggaris. Kadang sebagian besar bagian dari penggaris
> ada di udara dan  kadang kebalikannya. Sebagiannya ada di meja. Saya
> biarkan keponakan saya bermain dengan penggaris, menggetarkannya.
>
> "Itu namanya bergetar! Penggarisnya bergerak bolak-balik. Tapi gak terlalu
> kelihatan tadi!" Saya menggoyangkan badam keponakan saya bolak-balik, "Ini
> kamu juga lagi bergetar!" kata saya. Dia tertawa-tawa.
>
> "Aku ke sekolah *yah* berbicara dengan gurumu. Mungkin minggu depan," kata
> saya pada keponakan saya.
>
> "Jangan! Takut, nanti aku dihukum!" kata keponakan saya sedikit menjerit.
>
> "Aku baik-baik deh bicara sama gurunya," kata saya merayu.
>
> "Gimana bicaranya misalnya?" tanyanya.
>
> "Ngobrol-ngobrol aja. 'Permisi Pak, boleh tanya-tanya tentang pelajaran IPA
> di kelas bapak'. Mungkin begitu.. Baik-baik deh pokoknya."
>
> Keponakan saya mengangguk, "Boleh deh!"
>
> Saya sebenarnya bingung juga. Nanti harus bilang apa yah ke guru SD
> keponakan saya? Tapi yang penting saya datang dulu. Siapa tahu gurunya
> memang butuh teman diskusi mengenai pengajaran di kelasnya.
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> ---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
> Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
> Website: http://www.cbe.or.id
>
> Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
> Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
> Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
> Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
> ----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------Yahoo! Groups
> Links
>
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------Yahoo! Groups Links

[Non-text portions of this message have been removed]

1b.

Re: [IGI] PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBB

Posted by: "Satria Dharma" satriadharma@igi.or.id

Wed Jan 25, 2012 2:06 pm (PST)



Sorry Jeng. Kayaknya belum ada. Yang sertifikasi ini aja masih gratul-gratul.

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

-----Original Message-----
From: aulia reksoatmodjo <aulia_kpai@yahoo.com>
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Thu, 26 Jan 2012 05:29:53
To: <cfbe@yahoogroups.com>
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Re: [cfbe] Re: [IGI] PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI


Bu Nina,
Itu mah bukan takut ketauan Dinas Pendidikan, tapi alasan untuk tidak diberi kursus.... biasa itumah, sering banget mereka mengatasnamakan Dinas atau Pengawas atas ketidakinginan mereka merubah bahan ajar....

Kalau masalah buku paket, itu sudah diluar kontrol, karena masalah gratifikasi alias pungli alias KKN...

Yang jadi masalah adalah kalau materinya lebih tinggi dari kompetensi yg sewajarnya, kasihan amat muridnya karena ulangan dan UNas kan mengikuti Kompetensi dan SKL yang ada di SNP?

Pak Satria, apakah ada program evaluasi sertifikasi guru? Kalau Kalpataru kan dievaluasi setiap tahun selama 5tahun untuk mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi, kalau u/sertifikassi guru ada ngga ya? Evaluasi sertifikasi lho Pak, bukan u/kenaikan pangkat atau pelatihan..

Salam

--- On Wed, 1/18/12, Imran Sinong <barinox77@gmail.com> wrote:

From: Imran Sinong <barinox77@gmail.com>
Subject: Re: [cfbe] Re: [IGI] PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI
To: cfbe@yahoogroups.com
Date: Wednesday, January 18, 2012, 9:22 AM

Harusnya duduk bersama, membawas kesesuaian kurikulum dengan buku paket yg
dimaksud, idealnya dibahas bersama di KKG.
Kalau merasa deliveri materi yg diberikan dirumah lebih maksimal ya monggo
gak usah belajar di sekolah.

Salam...

Imran.

2012/1/18 Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>

> Takut ketahuan Dinas Pendidikan...?! Dunia pendidikan kita begitu
> menyedihkan dan penuh dengan irasionalitas.
> (Again... What shall we do...?!)
>
> Salam
> Satria Dharma
> http://satriadharma.com/
>
> -----Original Message-----
> From: nina_feyruzi@yahoo.com
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Wed, 18 Jan 2012 01:11:34
> To: <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Subject: Re: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari
> KBBI
>
> Pak SD,
>
> Saya pernah tawarkan semester lalu. Memberikan pelatihan untuk guru2 di SD
> anak saya itu. Gratis. Karena saya ada di komite sekolah itu. Bukan cuma
> itu sih, saya geregetan karena untuk ujian UAS esember kemarin, anak saya
> yang kelas 3 SD itu harus belajar tentang konsep volume membandingkan
> antara liter dan desimeter kubik. Gila!!! Itu kan materi kelas 5 SD.
>
> Usut punya usut, sekolah mengambil bahan itu dari buku paket/cetak yang
> mereka pakai. Saya cek, benar. Lalu saya tanya ke sekolah siapa yang
> membuat materi UAS. Yang membuat adalah KKG masing2 gugus. Walah!!! Itu
> berarti ada ratusan anak SD di lingkungan saya yang mati2an menderita
> belajar itu. Dan itu karena ulah BUKU PAKET!!!
>
> Saya heran, kenapa buku paket itu lolos digunakan di sekolah sih?!?
> Pembodohan massal lewat buku paket.
>
> Perihal pelatihan yang saya tawarkan ke sekolah anak saya, mereka tidak
> mau. Dengan alasan, takut ketauan Dinas Pendidikan. Entah apa maksudnya.
> Hahahaha...
>
>
> Salam,
>
> Nina
> Powered by NinaBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: "Satria Dharma" <satriadharma2002@yahoo.com>
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Wed, 18 Jan 2012 00:31:26
> To: IGI Milis<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Subject: Re: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari
> KBBI
>
> Nina dan Puti, bagus sekali jika bisa mendatangi sekolah tersebut.
> Tawarkan bantuan. Akan lebih mantap jika para guru di SD tersebut diberi
> pelatihan ttg kurikulum matematika agar tidak nyasar spt ini.
>
> Salam
> Satria Dharma
> http://satriadharma.com/
>
> -----Original Message-----
> From: nina_feyruzi@yahoo.com
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Wed, 18 Jan 2012 00:34:19
> To: <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Subject: Re: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari
> KBBI
>
> Puti,
>
> Mungkin bukan cuma soal IPA. Matematika. Semalam anakku yang nomer dua
> datang dan minta dibantu mengerjakan soal pecahan. Gurunya memberikan PR
> yang menurutku 'gila'. Anakku diminta menuliskan simbol <, >, = untuk
> pecahan seperti ini:
>
> 1. 3/7 ...... 6/11
> 2. 2/9 .... 3/15
>
> Dan berbagai pecahan dengan penyebut ganjil yang angkanya besar-besar.
> Padahal, dia baru seminggu belajar tentang pecahan. Ada 15 soal yang dia
> harus isi dengan simbol, namun susah dia untuk mengerti.
>
> Akhirnya aku membuat visual dari kertas asturo yang masing2 aku buat
> pecahan ukuran perduaan, perempatan, pertigaan, pertujuhan dst. Lalu aku
> minta dia membandingkan pecahan2 itu. Dia terbantu. Tetapi sebetulnya
> ketika membuat pecahan itu aku kesulitan juga membuatnya menjadi pecahan
> persembilan, persebelas, dll.
> Nah, apalagi anakku yang harus membayangkan itu di kepalanya.
>
> Lalu aku berikan juga alat peraga yang kupunya di rumah yang sering aku
> bawa2 kemanapun aku memberikan workshop. Terbantu.
>
> Minggu ini aku mau datang ke sekolah anakku, memintanya membuat pecahan
> pertigabelas atau pecahan2 ganjil lainnya dengan alat peraga. Mau tau, dia
> bisa atau tidak.
>
> Anak yang baru belajar pecahan seharusnya diberi pecahan dengan penyebut2
> genap, sehingga mudah baginya membagi sesuatu dengan konsep sama besar.
>
> Anakku beruntung karena ibunya punya alat peraga itu dan tahu bagaimana
> membantunya. Bagaimana dengan ribuan anak SD lain yang ibunya tidak bisa
> membantunya?
>
>
> Salam,
>
> Nina
> Powered by NinaBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com>
> Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Date: Tue, 17 Jan 2012 23:01:41
> To: IGI<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
> Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
> Cc: cfbe<cfbe@yahoogroups.com>; sd-islam<sd-islam@yahoogroups.com>
> Subject: [IGI]  PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI
>
> PR IPA Kelas 3 SD : Mencari istilah-istilah sains dari KBBI
> Oleh Dhitta  Puti Sarasvati
>
> http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/17/pr-ipa-kelas-3-sd-mencari-istilah-istilah-sains-dari-kbbi/
>
> "Aku ada PR susah! Bantuin yah!" kata keponakan saya.
>
> Ternyata, PR keponakan saya (sekali lagi) membuat saya frustasi. Keponakan
> merupakan siswa  kelas 3 di sebuah SD negeri di Jakarta Selatan. PR IPA-nya
> adalah mencari definisi beberapa istilah sains dari Kamus Besar Bahasa
> Indonesia. Istilah-istilah itu adalah :
>
> - Berat
>
> - Ukuran
>
> - Bahan baku
>
> - Luas permukaan
>
> - bentuk-bentuk benda
>
> - kekasaran permukaan benda
>
> - keadaan permukaan lintasan
>
> Untuk PR IPA, saya rasa PR ini sangat tidak tepat.  Dalam konteks ini,
> seharusnya  anak diajak memahami konsep-konsep terkait istilah-istilah di
> atas melalui kegiatan observasi, percobaan, dan lain-lain , bukan sekedar
> menuliskan artinya menurut KBBI.
>
> Arti beberapa kata di atas di dalam  KBBI :
>
> *be·rat 1* *a* besar ukurannya (di antara jenisnya atau benda-benda yg
> serupa): *alat-alat — ,*mobil derek, traktor, dsb; *2* *a* besar tekanannya
> (timbangannya): *peti — itu tidak dapat diangkat oleh tiga orang;* *3*
> *a* payah;
> parah (tt luka penyakit dsb): *akibat kecelakaan itu dia menderita
> luka –;**kalau
> penyakit sudah — susah diobati;* *4* *a* sulit (susah, sukar) melakukannya;
> melebihi ukuran (kekuatan, kemampuan, kesanggupan, dsb): *kematian ibunya
> merupakan cobaan — bagi gadis itu;* *5* *a* sukar digerakkan, seakan-akan
> ditindih atau ditekan (tt anggota badan dsb):*kepala terasa — dan pusing;
> mata terasa — ,*mengantuk; *6* *a* kuat merangsang saraf; keras (tt rokok,
> obat, dsb): *ia suka rokok yg –;* *7* *a*memihak; cenderung: *hatinya lebih
> — kpd kekasihnya dp kpd orang tuanya;* *8* *ki v* hamil:*istrinya sedang dl
> –;* *9* *a* sangat keras (perkiraan, dugaan, dsb): –* dugaanku bahwa dia yg
> salah;* *10* *n* besarnya tekanan suatu benda apabila diangkat, ditimbang,
> dsb; bobot; timbangan: *akibat sakit, — nya berkurang 7 kg;**11* *n Fis*
> gaya
> tarikan yg diderita suatu benda krn massanya dan keberadaannya di dalam, di
> sekitar, ataupun pd suatu sistem massa; bobot; *12* *ki a* susah; celaka:
> *wah,
> kalau ketahuan, — kita;
> *–* pd mata orang lain, ki* disegani (dihormati) orang; –* sama dipikul,
> ringan sama dijinjing, pb*suka duka, baik buruk sama-sama ditanggung;
> *berapa
> — mata memandang, — juga bahu memikul, pb* betapapun menderita orang
> melihat, lebih menderita orang yg mengalami (kesusahan dsb);
>
> *ukur·an* *n* *1* hasil mengukur; *2* panjang, lebar, luas, besar sesuatu;
> format: *kertas dng ~ 34 x 22 cm*; *3* bilangan yg menunjukkan besar satuan
> ukuran suatu benda; *4* *cak* alat untuk mengukur, msl penggaris, meteran,
> jengkal: ~* nya hanya menggunakan jengkal*; *5* *ki*norma:*bertindak tanpa
> ~;*
>
> *ba**·**han baku *bahan untuk diolah melalui proses produksi menjadi barang
> jadi; bahan kebutuhan pokok untuk membuat sesuatu;
>
> *lu·as* *a* *1 *lapang; lebar: *kamarnya — sekali; **2* umum (tt masyarakat
> dsb): *masyarakat –;* *3*merata (terjangkau oleh orang banyak): *berita itu
> sudah tersebar — di kalangan guru di kota itu*; *4*ukuran panjang-lebarnya
> bidang (lapangan, ruangan, dsb): –* kebun itu seratus hektar* *5*
> *ki*banyak
> dan beragam (tt pengetahuan); tidak picik: *orang yg —
> pengetahuannya;**6* dapat
> melihat bebas dan lepas; banglas (tt pemandangan): –* pemandangannya;*
> *7* besar
> atau banyak (tt usaha, pekerjaan, dsb): –* usahanya;*
>
> Secara umum, mencari definisi kata-kata tersebut menurut KBBI tidak
> bermakna apa-apa. Apalagi untuk menjelaskan  'luas permukaan',
> 'bentuk-bentuk benda',  & 'kekasaran permukaan benda'.  Bagaimana cara
> menggunakan KBBI untuk mendefinisikan istilah-istilah di atas? Lagi pula
> apa gunanya?
>
> Bagaimana caranya menjelaskan definisi 'kekasaran permukaan benda' ke anak
> kelas 3 SD. Dulu waktu saya belajar mengenai
> metrologi<http://en.wikipedia.org/wiki/Metrology> kekasaran
> permukaan benda dijelaskan dengan menggunakan gambar tetapi tentu saja itu
> juga kurang tepat untuk diajarkan ke siswa kelas 3 SD.  menggunakan gambar.
> Saya bertanya iseng, mungkin juga sedikit emosi "Kalau gak pakai KBBI boleh
> *gak*?"
>
> Keponakan saya menjawab sambil cemberut, "Gak tahu kata gurunya begitu!"
>
> Saya mencoba berpikir positif. Mungkin guru kelas 3 SD tersebut kebingungan
> mencari cara mengajarkan sains ke muridnya.  Mungkin saya perlu datang ke
> sekolah untuk berbicara dengan sang guru. Siapa tahu saya bisa mengajaknya
> berdiskusi mengenai cara mengajar sains ke siswaSD.
>
> Saya ingat keponakan saya sangat hobi bermain dengan sebuah kursi beroda
> yang ada di rumah saya. Dengankursi tersebut dia suka  meluncur antar ujung
> ruangan.  Kadang membuat pusing karena berisik (dan membuat lantai kotor).
> Tetapi kali ini saya biarkan dia bermain dengan kursi beroda tersebut.
> "Coba sekarang kamu meluncur dengan kursi ini di lantai!"
>
> Dengan senang hati dia meluncur. Saya mengambil karpet yang lumayan tebal,
> "Sekarang kursinya kita taruh di atas karpet ini.Coba meluncur lagi!"
>
> Keponakan saya tertawa-tawa, "Susah!" katanya.
>
> "Kenapa lebih susah?" tanya saya. Saya lalu mengajak keponakan saya meraba
> lantai dan karpet.
>
> "Sama gak rasanya?" saya kembali bertanya.
>
> Keponakan saya menyahut, "*Ngak*! Beda!"
>
> "Apa bedanya?" tanya saya?
>
> "Lebih kasar," katanya.
>
> "Nah itu!" kata saya. Saya lupa mengajaknya mengamati karpet dan lantai
> agar dia bisa memperhatikan bentuk permukaan lantai dan karpet. Tapi saat
> itu sudah pukul 21.30 malam. Besok dia harus sekolah.  Sebelum dia tidur,
> saya melihat catatan IPA keponakan saya. Di sana tertulis :
>
> memantul = gerak benda yang berbalik arah setelah membentur sesuatu
>
> menggelinding = gerak berputar sambil berpindah tempat
>
> jatuh = gerak benda berpindah tempat dari atas ke bawah
>
> berputar = benda bergerak pada porosnya
>
> mengalir = benda yang bergerak maju dari tempat yang tinggi ke tempat yang
> lebih rendah
>
> meluncur = gerak benda berpindah tempat tanpa berputar
>
> tenggelam = gerak benda masuk terbenam ke dalam air
>
> bergetar = gerak benda berulang-ulang dengan cepat
>
> "Kamu dapat arti-arti ini dari mana?" tanya saya.
>
> "Itu nyatet dari guru di papan tulis," jawab keponakan saya.
>
> Iseng saya tanyakan arti sebuah kata yang ada di catatannya, "Coba ini,
> kamu tahu artinya bergetar gak?"
>
> Dia mengangkat bahunya.
>
> "Pinjam penggaris!" kata saya. Saya menaruh penggaris di atas meja.
> Sebagian penggaris menjulur di udara. "Goyangin deh penggarisna!" kata saya
> sambil mencontohkan. Keponakan saya melakukan hal yang sama. Saya
> memindah-mindahkan penggaris. Kadang sebagian besar bagian dari penggaris
> ada di udara dan  kadang kebalikannya. Sebagiannya ada di meja. Saya
> biarkan keponakan saya bermain dengan penggaris, menggetarkannya.
>
> "Itu namanya bergetar! Penggarisnya bergerak bolak-balik. Tapi gak terlalu
> kelihatan tadi!" Saya menggoyangkan badam keponakan saya bolak-balik, "Ini
> kamu juga lagi bergetar!" kata saya. Dia tertawa-tawa.
>
> "Aku ke sekolah *yah* berbicara dengan gurumu. Mungkin minggu depan," kata
> saya pada keponakan saya.
>
> "Jangan! Takut, nanti aku dihukum!" kata keponakan saya sedikit menjerit.
>
> "Aku baik-baik deh bicara sama gurunya," kata saya merayu.
>
> "Gimana bicaranya misalnya?" tanyanya.
>
> "Ngobrol-ngobrol aja. 'Permisi Pak, boleh tanya-tanya tentang pelajaran IPA
> di kelas bapak'. Mungkin begitu.. Baik-baik deh pokoknya."
>
> Keponakan saya mengangguk, "Boleh deh!"
>
> Saya sebenarnya bingung juga. Nanti harus bilang apa yah ke guru SD
> keponakan saya? Tapi yang penting saya datang dulu. Siapa tahu gurunya
> memang butuh teman diskusi mengenai pengajaran di kelasnya.
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> ---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
> Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
> Website: http://www.cbe.or.id
>
> Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
> Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
> Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
> Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
> ----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------Yahoo! Groups
> Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------Yahoo! Groups Links





[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]

2.

Science Education Experts Resp... (blogs.scientificamerican.com)

Posted by: "Iwan Pranoto" goldenthunder40175@yahoo.com   ipranoto1

Wed Jan 25, 2012 1:41 pm (PST)



Bedanya presiden pinter dan sedengan itu dapat dibaca dari pidatonya. Tanda bahwa dia paham pendidikan dan dampaknya ke masa depan itu jelas terbaca. Bahkan, dengan eksplisit dia bilang: "To stop teaching to the test." lha, ini kan masalah kita yang utama.

Science Education Experts Respond to Obama's Speech | Budding Scientist, Scientific American Blog Network
http://blogs.scientificamerican.com/budding-scientist/2012/01/25/science-education-experts-respond-to-obamas-speech/

Obama delivering his 2012 State of the Union address

In his State of the Union address last night, President Barack Obama spent less time than in years past discussing his ambitions to reform science education. He referred to his administration's offer to let states opt out of No Child Left Behind (" … grant schools flexibility to teach with creativity and passion; to stop teaching to the test …"). And he brought up the Common Core State Standards in math and language arts which 45 states plus the District of Columbia have now adopted ("we've convinced nearly every state in the country to raise their standards for teaching and learning — the first time that's happened in a generation"). (By the way, a state survey out today from the Center on Education Policy reports that most states believe the new standards will improve students' skills in math, reading and writing but that many are struggling to pay for new curricula and teacher training).

I asked science education experts to weigh in on the president's remarks. More will be sending in reactions throughout the day, so check back. And please leave your own comments below.

Jon D. Miller, Director, International Center for the Advancement of Scientific Literacy at the University of Michigan's Institute for Social Research

President Obama understands both science and education more than any President in American history. His speech on Tuesday night included an important reminder of the importance of funding basic research. This year, he linked the need for expanded scientific and technical education with the revival of manufacturing employment in the U.S. This is an important linkage, but it is the first step in a longer process. The President argues that there are open jobs requiring technical skills and that community college programs can prepare students (younger and older) for these positions. This is a necessary short-term fix, but I expect that the President and Secretary Duncan know that an associate degree is not a ticket for long-term employment. The growth of science and technology will continue to demand higher levels of skill and education and associate degree programs designed in response to this initiative should be built as the first step toward a baccalaureate and post-graduate degrees. It is encouraging to have a President that understands and values both science and education and who welcomes the challenges of the 21stcentury.

Sharon Lynch, Professor, George Washington University Graduate School of Education and Human Development; President-Elect, National Association for Research in Science Teaching

The President's 2012 State of the" Union Speech was more about the economy and jobs than new programs in education. How to see the American Dream fulfilled unless you are the lucky child of a venture capitalist or banker? Social mobility and personal prosperity is likely going to involve work in a high tech industry or one that moves the U.S. closer to energy independence—STEM-related jobs and careers. There are at least twice as many such jobs going unfilled due to a work force that is not sufficiently STEM literate or not located where the jobs are. Increasingly, states and municipalities understand that the New American Community is likely going to involve business-education partnerships, including "Big High Tech Businesses" that produce high value items using new technologies, and linked to local education systems flexible and innovative enough to teach both adults and children. While the President did not dwell on specifics of these partnerships, our work on inclusive STEM-focused high schools suggests three things may be needed. The first challenge is how to ramp up the E (engineering) in STEM education. If the US does not have enough engineers, then it certainly does not have enough K-12 teachers able to teach engineering. This leads to second challenge; provided that we finally adopt (voluntary) common core science standards and assessments, we are also going to need new integrated, coherent K-12 STEM curriculum materials. There hasn't been a major curriculum reform in decades (excepting innovative mathematics curricula). New STEM curriculum tools won't look like those tired textbooks of the past, and put in the hands of creative and innovative teachers, should allow teachers strong in STEM disciplines the freedom to avoid re-inventing the curriculum wheel each day. These new materials would also provide video examples of how to teach integrated STEM. They would use technologies that are commonplace to anyone under the age of 25, introducing students to the boundless world of STEM possibilities, either during the school day or anytime outside of it. It is not hard to imagine bilingual materials that could help English Language Learners access STEM concepts and activities, escaping the isolation of mono-English classrooms. Moreover, these new materials would boost the ability and confidence of elementary school teachers who do not have adequate STEM backgrounds to teach more than reading and math computation. That leads to the third challenge, issues of scale and implementation. Currently each state struggles to produce its own standards, frameworks, assessments and curricula. This is hugely expensive and demonstrably ineffective. Why not provide educators with the choice to use the best set of curriculum materials that the nation can develop, a huge economy of scale? The third challenge is to stimulate local communities to come together to develop innovative variations that match their settings and the needs of their children. Business and community partnerships, including the arts councils and museums, would provide the rigor, the relevance and the relationships that allow all children to have a shot at the American Dream.

Adam V. Maltese, Assistant Professor of Science Education, Indiana University

In his SoTU address President Obama declared "The State of our Union is getting stronger." While he attempted to defend this statement throughout the rest of his speech, education – specifically STEM education – did not get nearly as much focus as it did last year. The President threw out some provocative – but not new – ideas for K-12 including suggestion of a requirement to keep all students in school until they graduate high school or turn 18. The President also said we should keep the good teachers and reward the best. Sure! I'm on board with this, but how do we do this fairly and effectively?

As usual, the speech left me with more questions than answers. The focus of much of the edu-speak within the address was on higher education and higher costs for earning degrees. This is also where one of the President's points raised my greatest concern with relation to STEM issues. President Obama laid down an edict to colleges and universities to halt increases in tuition or risk the loss of funding from taxpayers. While it's not within the purview of the federal government to determine budgets for public institutions of higher education, our state government in Indiana is a few steps ahead of the President and already cut higher ed funding for the last few years. My concern here is that continued reductions in funding will ultimately affect the availability of money to attract top science faculty and students, to build state of the art research facilities, and for educational outreach efforts. Additionally, this will likely impact the availability of internal seed money used to fund ideas and efforts that often lead to the large scale R&D projects the President and other politicians love to tout.

James Gentile, President and CEO of Research Corporation for Science Advancement

U.S. economic preeminence has depended for more than a century on scientific and technological innovation, and President Obama addressed key issues for sustaining our leadership in global innovation. In his "blueprint for an economy that's built to last", he reminded the nation that "innovation also demands basic research" and called on Congress to "support the same kind of research and innovation that led to the computer chip and the Internet." He focused heavily on improving education and job readiness, setting a goal of training "two million Americans with skills that will lead directly to a job", noting that "growing industries in science and technology have twice as many openings as we have workers who can do the job." Citing the role that foreign students play in research labs, he called on Congress to "stop expelling responsible young people who want to staff our labs." And he emphasized his commitment to clean energy, a field ripe for innovation, saying, "I will not cede the wind or solar or battery industry to China or Germany." The foundation that I lead is in the forefront of supporting scientific innovation in solar energy conversion, and the President is right to advocate U.S. leadership in clean energy technologies. Innovation is the key to American jobs.

Francis Eberle, Executive Director, National Science Teachers Association

Last night in his SOTU address, President Obama called for more skilled workers in the science and technology industry and announced a national commitment to training 2 million Americans in these and other areas. He talked about new science and technology innovations needed to help companies grow jobs and about increasing basic research funding in the sciences. The Administration wants to support 600k new science jobs with new clean energy sources that will reduce our dependency on foreign oil. The president is also seeking support from Congress so that engineers can rebuild the roads and bridges that make up our nation's infrastructure. Although science education wasn't mentioned specifically, its pretty clear that the jobs of tomorrow and much of our future depends on STEM, and STEM education.

---
Sent from Zite personalized magazine iPad app.
Available for free in the App Store.
www.zite.com

pakiwan.com

[Non-text portions of this message have been removed]

3.

ROBINHOOD IS STILL ALIVE

Posted by: "Satria Dharma" satriadharma2002@yahoo.com   satriadharma2002

Wed Jan 25, 2012 6:12 pm (PST)





ROBINHOOD IS STILL
ALIVE

Ketika keluarga saya masih miskin dahulu ibu kami
(almarhumah) yang harus pontang-panting mencari cara agar anak-anaknya bisa
makan di rumah. Untunglah kami sering ditolong oleh orang-orang tertentu baik
sanak keluarga atau teman-teman dari orang tua kami.

Ayah kami memang sering tidak ada di rumah karena beliau
terpaksa harus ke luar kota untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarganya.
Beliau memang PNS di Dinas P&K (namanya dulu) Jawa Timur tapi lebih sering
ke luar kota untuk mencari nafkah tambahan bagi 11 orang anaknya. Beliau adalah
PNS yang tidak punya jabatan dan hanya hidup dari gaji yang kecil. Karena tidak
cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya yang besar akhirnya beliau
berinisiatif untuk berwirausaha ke mana-mana. Tentu saja dengan desersi meninggalkan
tugasnya sebagai pegawai P&K. Hal ini jelas menjengkelkan atasan beliau.
Mau dipecat punya anak sebelas, kalau tidak dipecat kok ya kebangetan
kelakuannya sebagai bawahan. Urusan rumah tangga akhirnya ditangani sepenuhnya oleh ibu
kami. Untunglah kami adalah anak-anak yang soleh belaka di rumah.

Suatu ketika rumah kami kehabisan beras untuk dimasak. (Bayangkan
kalau setiap hari ibu saya harus menyediakan makan bagi belasan orang setiap
hari! Kalau punya anak sebelas dan harus makan tiga kali sehari kan berarti 33
piring sehari. Bayangkan kalau setahun…, lima tahun…, sepuluh tahun….! Bisa
modar disuruh mikir makan kami sehari-hari saja. Untungnya kami tidak makan
tiga kali sehari dan porsinya juga tidak sepiring seorang. Seadanya saja
dimakan beramai-ramai.) Suatu ketika (yang sering terjadi) di rumah beras
habis, uang tidak punya, dan tidak ada lagi barang-barang yang bisa dilego pada
tukang loak yang lewat depan rumah (Ia menganggap kami sebagai pemasok utama
bagi bisnis loakannya). Biasanya ada saja keluarga atau teman orang tua kami yang
bisa diutangi. Tapi hari itu semua sudah buntu dan ibu kami berangkat ke kantor
ayah kami di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur untuk ngutang
ke koperasi kantor. Sebetulnya ibu saya agak ragu-ragu untuk ke kantor ayah
kami. Beliau malu datang ke kantor ayah saya karena beliau selalu disindir oleh
teman-teman kantor ayah saya karena ayah saya yang sering 'desersi' tersebut. Lagipula
beliau sadar bahwa beras jatah bulan ini sudah diambil bulan lalu. Tak ada lagi
jatah beras yang bisa diambil. Tapi karena di rumah benar-benar sudah tidak ada
lagi yang bisa dimasak dan juga sudah tidak ada lagi yang bisa dijual untuk membeli
beras maka ibu saya 'mengertakkan giginya' dan membulatkan tekadnya untuk
menghadapi apa saja demi memberi makan ke sebelas anaknya tersebut. Bayangan
sebelas orang anaknya yang kelaparan lebih mengerikan bagi beliau. Kalau harus
malu ya biarlah malu. Bukankah malu itu sudah jadi sarapan paginya orang
miskin? Jadi apalagi yang dikuatirkan? Que sera sera, whatever will be will be
…

Ketika sampai di kantor koperasi dan menyampaikan maksud
beliau untuk mengambil jatah beras, ternyata benar … permintaan ibu saya
ditolak oleh pimpinan koperasi saat itu.

"Apa…? Jatah beras…?!." kata pak
pimpinan tersebut,"Tidak ada."

" Jatah beras Pak Hasyim bulan ini kan
sudah diambil bulan lalu...?! Tidak ada lagi jatah beras Pak Hasyim di sini."

Setelah itu ditambahinya lagi,

"Pak Hasyim itu gimana sih? Kerja
tidak pernah masuk tapi ngutang terus. Pokoknya gak bisa."

Glodak…! Krompyang…krompyang… Pyar
…! (hati ibu saya jatuh berkeping-keping)

Meski sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan
psikologis seperti ini ternyata pertahanan ibu saya jebol juga. Ambrol
pertahanannya. Penolakan dan kecaman pak pimpinan koperasi ini menghunjam telak dan Ibu saya
setengah mati harus menahan tanggul air matanya yang hendak ambrol mengalami kejadian
ini. (Berhati-hatilah! Orang kepepet itu sangat sensitif perasaannya)

Untungnya saat itu datang seorang malaikat penolong yang
bertindak bak Robin Hood. Malaikat penolong itu bernama Om Azis (almarhum,
semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya dan memberinya tempat terbaik di sorgaNya)> Beliau termasuk sanak famili kami yang
kebetulan juga bekerja di sana. Beliau sedang berada di kantor koperasi dan
melihat kejadian tersebut. Dengan sigap beliau berkata,

"Jangan kuatir! Ambil saja jatah
beras saya, Bu Hasyim. Jatah beras saya masih ada."

Bengawan Solo tidak jadi banjir dan
siang itu ibu saya pulang naik becak dari Gentengkali membawa sekarung beras
dengan hati lega. Kami bisa makan lagi beberapa hari dengan sekarung beras
tersebut. Tentu saja ibu saya sangat berterimakasih atas pinjaman beras jatah
tersebut.

Ketika kehidupan ekonomi kami membaik dan kami mengenang
kembali masa-masa sulit, ibu kami seringkali menceritakan kejadian itu. Dan
saya tidak pernah bosan mendengar cerita tersebut. Ada satu hal yang sangat
berkesan bagi saya dari kejadian tersebut yaitu bahwa seseorang bisa menjadi
malaikat atau dewa penolong bagi orang lain dan itu akan dikenang selama hidup
oleh yang ditolong. Keluarga saya jelas telah ditolong oleh Om Robin 'Azis'
Hood dan kami tentu saja sangat berterima kasih telah ditolong pada saat yang
kritis seperti itu. Om Azis bukan hanya meminjami beras sekarung tapi juga
menyelamatkan muka ibu saya. Beliau telah menjadi malaikat penolong keluarga
kami pada saat-saat kritis tersebut dan kami akan mengenangnya sebagai kebaikan
yang harus kami balas dengan satu dan lain cara.

Jadi dalam satu kejadian kritis bagi seseorang (yang kita
tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana) kita bisa menjadi salah satu tokoh
di antara konflik tersebut, the Hero or
the Villain, menjadi Pahlawan atau menjadi Penjahatnya. Dalam hal ini
dengan terpaksa kami menjadikan pak pimpinan koperasi saat itu sebagai
'penjahat'nya. Ibu saya sangat sakit hati pada pak pimpinan koperasi saat itu (tapi
lama kelamaan kemudian mampu melupakannya). Bagaimana pun yang salah memang
ayah kami.  Ia hanya melaksanakan tugas. Tapi sungguh tidak asyik cerita ini jika
yang ada hanya pahlawan tanpa ada penjahatnya kan...?!.
'Melaksanakan tugas' ternyata
bisa membuat kita menjadi penjahatnya. 'Melaksanakan tugas' bisa berarti kita
harus meletakkan nurani kita dan tidak perduli pada situasi yang dialami orang
lain. Alangkah sedihnya jika suatu kali kita harus mengatakan bahwa kita 'hanya
melaksanakan tugas' yang berarti tidak perduli pada apa pun akibatnya pada
orang lain. (Tapi ini memang sebaiknya dibahas tersendiri).

Karena kebanyakan mendengar dan mengalami kisah nyata seperti
ini saya kemudian menjadi terobsesi untuk menjadi Om Robin 'Azis' Hood, Sang Pahlawan yang
selalu sigap untuk membantu rakyat kecil yang tertindas (Kami memang masih
kecil waktu itu dan perut kami selalu tertindas oleh rasa lapar. Jadi jangan
salahkan skenarionya). Saya kemudian selalu berusaha untuk mencari kesempatan
menjadi sosok pahlawan seperti Om Robin 'Azis' Hood, si pembela rakyat kecil
yang kelaparan. Saya ingin membalas kebaikan beliau (yang tidak mungkin bisa
saya balas langsung karena beliau sudah almarhum) dengan cara mencari 'rakyat
kecil tertindas' lain yang bisa saya tolong. Mungkin tidak bisa sedramatis
kisah ibu saya tapi saya berharap minimal ada beberapa keluarga yang bisa saya
tolong dengan cara membagikan beras jatah PNS saya. Saya memang pernah menjadi
PNS selama 12 tahun dan ada saat ketika saya mendapat jatah beras setiap
bulannya. Saya tidak pernah membawa beras jatah saya pulang ke rumah. Beras
jatah tersebut saya kirim pergi ke rumah keluarga lain yang lebih
membutuhkannya. Robin Hood tidak boleh mati karena masih banyak rakyat kecil
yang tertindas dan butuh pertolongannya. Meski demikian, sampai saat ini saya
merasa belum bisa membalas kebaikan Om Azis ini.

Jadi sampai saat ini, bertahun-tahun ketika saya tidak lagi
mendapat jatah beras dari kantor, kami masih berupaya untuk membalas jasa dan
kebaikan Om Robin 'Azis' Hood tersebut dengan membagikan beras dan ubo rampenya
ke minimal 10 orang tetangga kami yang membutuhkan setiap bulan. Saya masih
berharap suatu saat saya mungkin beruntung bisa menolong satu keluarga yang
sangat membutuhkan pertolongan seperti Om Azis menolong ibu saya saat itu. Robin Hood is stil roaming around. Ia
mungkin tidak lagi membawa-bawa panah untuk merampok orang-orang kaya yang
memeras rakyat kecil. Tapi ia masih membagi-bagikan beras bagi yang
membutuhkannya.

Balikpapan, 26 Januari 2012

Salam

Satria Dharma

http://satriadharma.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Recent Activity
Visit Your Group
Dog Fanatics

on Yahoo! Groups

Find people who are

crazy about dogs.

Y! Messenger

PC-to-PC calls

Call your friends

worldwide - free!

Yahoo! Groups

Parenting Zone

Resources and tips

for parents

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------