Tuesday, 20 November 2012

Catatan perjalanan dari Joburg

Sekitar 10 jam penerbangan dari Johannesburg ke Singapore. Lumayan lama. Namun penerbangan dengan Singapore Airlines lumayan nyaman karena tempat duduknya agak longgar. Kali ini lebih nyaman lagi karena saya duduk sendiri di jajaran 3 kursi, yang memungkinkan saya berbaring dan meluruskan badan. Saya pun sempat tertidur nyenyak sekitar sejam lebih.

Saya lalu terbangun. Kuperhatikan orang sekitarku. Ada yang sudah terlelap hingga ngorok, ada yang asyik nonton film, main game. Saya sendiri memutuskan utk duduk, berpikir, sambil nulis-nulis. Kali itu saya tak mau berurusan dengan teknology seperti BB, IPAD, monitor video. Saya hanya berselera menulis di kertas. Kunyalakan lampu baca, kubuka meja, serta kurapikan selimut. Kali ini saya tak selera nonton movie walau saya tahu ada banyak movie pilihan. Sesekali saya hanya nengok layar lebar depan dan dari situ saya tahu kecepatan pesawat (a.l. 800 km/jam, suhu udara luar negative 52 derajat dst).

Saya menggunakan kesempatan ini utk memikirkan apa yang ingin saya presentasikan di simposium. Ini harus jelas sebelum mendarat di Indonesia krn saya sadar saya punya banyak tugas menanti, baik mengajar maupun membimbing di Unesa.

Saya mulai menulis sejumlah pertanyaan: siapa sih audience simposium itu, pesan utama apa yang ingin saya sampaikan dan mengapa pesan itu urgen diketahui dan dipahami mereka, dan apa cara terbaik utk menyampaikan pesan tsb?
Saya biarkan jariku menulis apa saja.

Di tengah kesibukan menulis tersebut, sekali-kali saya memencet tombol dan pramugari pun segera datang menawarkan bantuan. Saya minta jus nenas, jus apel, atau jus tomat. Saya memesan snack berupa coklat, vegetarian sandwich, apel.
Tanpa dipanggil pun, pramugari sesekali jalan menawarkan berbagai macam jus atau air putih. Yah, penumpang memang dimanjakan, layaknya sebagai raja atau ratu. Pramugari(a) selalu berwajah ramah dan menunjukkan kesediaannya utk menolong.

Saya jadi ingat perjalanan dengan SQ yang pertama kali loh. Lucu. Saat itu, saya nonton video. Tidak jauh dari tempatku, kulihat anak muda yang sering didatangi pramugari, dibawain makanan dan jus. Saya sempat sih berpikir kalau anak muda itu beli. Ah, saya nggaklah, nunggu jadwal makan berikut.

Lama-lama heran juga melihat org itu tak berhenti ngemil. Lalu ku buka buku menu yang dibagikan di awal-awal penerbangan. Hmmm ternyata utk menu malam disebut refreshment dan kita bebas minta. Beginilah kawan pentingnya membaca atau setidaknya pentingnya bertanya. Atau hikmah yang lebih jauh, kalau kita pelayan, jangan sebatas berasumsi bahwa info yang disediakan itu dibaca. Apalagi dalam era globalisasi dan informasi. Banyak info di luar sana yang bersaing utk dibaca orang.

By the way, jus tomatnya SQ enak banget. Kental dan segar banget.

Ada yang menarik loh. saya menulis di catatan saya "kita perlu belajar dari orang yang lebih tahu atau lebih mampu", tapi saya segera mengkritik ide saya sendiri. Saya nulis lagi, kita bisa kok belajar dari siapa saja, baik dr orang yang dianggap lemah, bodoh, miskin, berpenampilan compang camping. Kita bisa kok belajar dari orang yang punya status sosial rendah. Kok bisa? Saya pun sibuk menjawab pertanyaan diri saya sendiri.
Caranya adalah mencari dan mengambil hikmah dari fenomena tersebut. Misalnya memikirkan: mengapa hal itu bisa terjadi? Apa manfaat berstatus sosial rendah dan apa kerugian. Jika kerugian semata, lantas mengapa itu bisa terjadi dan bagaimana kita lepas dari status tsb.
Lantas apa yang dapat kita lakukan secara individu dan secara sistem.

Artinya, fenomena ini menjadi tantangan dan mencoba menjawab tantangan dalam hidup adalah proses belajar yang signifikan.

Jadi apa belajar itu? Mungkin Anda duduk tertib dan mendengar kuliah dosen, tapi Anda tak belajar. Mungkin Anda sudah memegang diktat berjam-jam dan memegang pulpen, tapi Anda tak belajar, mungkin Anda di kelas dan guru hadir di kelas itu dan sibuk menulis di papan tulis, tapi tak terjadi belajar.

Aneh ya.
Emang definisi belajar itu banyak dan sungguh sulit disepakati arti dari kata itu. Namun bagi saya, belajar adalah aktivitas yang melibatkan pikiran yang membawa perubahan pada diri. Entah perubahan pada pikiran maupun pada perilaku.

Perubahan merupakan inti dari suatu belajar termasuk berubah menjadi lebih banyak mengetahui, berubah ke perilaku yang lbh baik, lebih bersifat humanis.

Saya terus menulis hingga hampir 10 halaman. Beberapa kali saya nulis "back to point" maksud saya saya ngajak diri saya kembali memikirkan makalah, dan bukan yang lainnya. Sesekali saya mendengar pengumuman bahwa akan ada sedikit guncangan. Tapi saya tidak seberapa takut lagi. Perjalanan yang lalu saat saya ke Joburg, goncangan pesawat lumayan keras sampai2 tak ada layanan utk air panas misal teh atau kopi. Saat itu saya panik dan pasrah, terbayang gimana kalau saya tak bisa kembali bertemu keluarga. Cuman saat itu, nenek tua yang duduk dekatku bilang, ah itu nggak ada apa-apanya. Maklum dia jam terbangnya sangat tinggi, sudah keliling dunia. Dia bilang, percayalah, naik pesawat jauh lebih aman dari naik kendaraan di darat. Betul juga ya kawan. Pesawat itu apalagi SQ, kan punya standar keamanan, dipiloti oleh orang profesional, dilengkapi dengan alat canggih. Kata nenek itu, pilot tahu kok bahwa depan sana ada yang kurang bagus sehingga dia akan cari calan lain, kalau perlu mutar-mutar dulu demi menghindari bahaya di depan. Betul juga pikirku. Kalau di tempat kita, kan banyak juga ya yang punya sim tapi belum layak utk itu. Trus, kita hati-hatipun, banyak orang lain hati. Beberapa bulan lalu, kami mengendara dengan hati-hati tapi ditabrak oleh truk dr belakang. Tadi sore saat ngantar tamu dari Selandia baru, kami hati-hati, tapi ada anak muda pengendara motor yang nabrak kaca spion mobil kami dan si anak muda itu loh, nancap motornya padahal lampu merah. Hmmmmm moga-moga tak ada mahasiswaku yang berperilaku di luar sana. Lagi-lagi kawan, kita tuh tak boleh mikirin sulksesnya diri kita saja atau keluarga kita saja, karena kalau pun kita kerja keras utk keluarga kita demi kebahagiaannya, percayalah, kebahagiaan itu ditentukan oleh lingkungan. Kaya, hebat, sukses dalam karir, tapi hidup di tempat yang tak aman, sama aja boong kan.

Udah deh curhatnya.
Itulah teman FB ku, sedikit tentang catatan perjalanan saya dari Johannesburg ke ke Indonesia dua minggu lalu

Sent from my BlackBerry® wireless device

Tuesday, 13 November 2012

Pak Amir

Selamat pagi Pak.
Hope this email finds you well.
Bagaimana dengan RME Pak, semoga terus maju.

Saya hanya mau usul jika seandainya ada perekrutan guru baru utk diajak workshop RME, saya mengusulkan seorang guru SD swasta (sekolah utk siswa menengah ke bawah).
Namanya Pak Amir. Dia masih mudah dan potensial. Dia sudah pernah jadi guru eksperimen salah satu mahasiswa S2 PMRI.

Semoga info ini ada manfaatnya utk kemajuan PMRI.

Hormat saya,
Sitti Maesuri
Sent from my BlackBerry® wireless device

BBM Fida

yakin klo ad 5 ulangan yg dpt 100 yaitu pkn(pasti), IPA(dibagikan hari ini), bhs. jawa 100, english 100, jepang, 100.
[12:57:25 AM] ihsan: yakin klo indonesia nilaix 97. yakin klo ips 98 atau klo bkn 98 berarti kurang dari 98
Sent from my BlackBerry® wireless device

Fw: Thanks so much

I think she is right. I tend to see positive things from other.
Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: Moneoang Leshota <Moneoang.Leshota@wits.ac.za>
Date: Thu, 8 Nov 2012 10:17:33
To: s_maesuri@yahoo.com.au<s_maesuri@yahoo.com.au>
Subject: RE: Thanks so much

Thanks very much Sitti.
Are you on skype, because I would like to keep in touch with you. I am excited for you with the Australia job. Enjoy it my darling.

I will keep working hard on my PhD, and only wish you could be here to see my progress.

One thing for sure is that I am going to miss you and I am going to miss your beautiful nature where you see beauty in people. Don't ever lose that.

Drive back safely, say hello to family and let me know when you get back home.

Love

Moneoang
______________________________
Moneoang Leshota
WITS Maths Connect Secondary Project
Wits School of Education
Private Bag 3
P.O. WITS
2050
South Africa

Tel: 011-717-3247
Fax to email: 0862117563
Home: 011-717-5462

-----Original Message-----
From: s_maesuri@yahoo.com.au [mailto:s_maesuri@yahoo.com.au]
Sent: 08 November 2012 12:12 PM
To: Moneoang Leshota
Subject: Thanks so much

Dear my special friend,
I am going to miss you.
Thanks for every thing.
I really understand that doing PhD is challenging.
But if Sitti can make it, it means you can make it much-much better. Believe me. Just move forward :) I am sorry for not having time to chat a lot with you.
Wish you all the best and also for your family.

My last promise was noodle. I didn't find the special noodles bcos of the time, so I gave you the regular via Lorraine.

Love you Moneoang

Regards,
Sitti

Sent from my BlackBerry(r) wireless device
<html><p><font face = "verdana" size = "0.8" color = "navy">This communication is intended for the addressee only. It is confidential. If you have received this communication in error, please notify us immediately and destroy the original message. You may not copy or disseminate this communication without the permission of the University. Only authorized signatories are competent to enter into agreements on behalf of the University and recipients are thus advised that the content of this message may not be legally binding on the University and may contain the personal views and opinions of the author, which are not necessarily the views and opinions of The University of the Witwatersrand, Johannesburg. All agreements between the University and outsiders are subject to South African Law unless the University agrees in writing to the contrary.</font></p></html>

Fw: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Digest Number 7003

Hi Kak Fika, here is a very interesting story and this could be a true story.
Hope you have time to read it.
Mum
Sent from my BlackBerry® wireless device

From: dikmenjur@yahoogroups.com
Date: 13 Nov 2012 10:05:49 -0000
To: <dikmenjur@yahoogroups.com>
ReplyTo: "No Reply"<notify-dg-dikmenjur@yahoogroups.com>
Subject: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Digest Number 7003

2 New Messages

Digest #7003

Messages

Mon Nov 12, 2012 7:55 am (PST) . Posted by:

"wawan gunawan" wa2n_ictkng

Dulu kita diajarkan apa itu P4?. P4 adalah Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, tapi dulu masih bisa menyisihkan sedikit penghasilan karena harga harga tidak serba selangit seperti sekarang. Sekarang aku mengenal malah P7 ( Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas Pasan).
Salam untuk Guru Honor yang sampai sekarang jadi guru tetap, yaa tetap honor. Mudah mudahan nasib kita akan menjadi lebih baik kedepan. 

________________________________
Dari: Sekhidin <idien08@yahoo.com.sg>
Kepada: dikmenjur <dikmenjur@yahoogroups.com>
Dikirim: Sabtu, 10 November 2012 17:01
Judul: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Balada Guru Honorer


 
BELUM lagi hilang lelahku sehabis mengajar. Istri ku, Ratih, dengan wajah masam sambil berkacak pinggang langsung berujar.
            "Kalau honor Mas mengajar di sekolah hanya 350 ribu sebulan, mana cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Sekarang, kita sudah punya anak, Mas," ingatnya berapi-api.
            Hah..., sebenarnya aku sangat malas meladeni, bahkan bosan. Tiap kali aku menyerahkan honorku. Pasti dia ngomel tak karuan. Seharusnya dia ikut bersyukur. Bulan ini honorku dinaikkan pihak sekolah 50 ribu sebulan dari sebelumnya. Tapi, memang dasar tabiat istriku seperti itu. Bawaannya ngomel melulu. Salah ini diomelin. Salah itu juga diomelin. Nasib...! Nasib...!
            "Ya, mau gimana lagi, Bu. Pihak sekolah hanya mampu membayar Mas segitu." ucapku dengan terpaksa.
            "Mas berhenti saja jadi guru," sahut Ratih enteng. Masih dengan suara cemprengnya yang memekakkan gendang telinga. Kalau harus memilih, mungkin aku lebih suka mendengarkan musik-musik cadas. Dari pada suara Ratih.
            "Maksud Ibu?"
            "Mas cari kerjaan lain saja. Percuma jadi guru honorer. Sudah lima tahun mengabdi, belum juga di angkat jadi PNS."
            Ah, baru sadar aku. Ternyata sudah lima tahun aku menjadi guru honorer, di sebuah sekolah dasar di kampungku. Aku mengajar sejak semester akhir kuliah. Di tahun ke-empat, ku putuskan untuk menikahi Ratih. Sebab dia mau menerima aku apa adanya.
Tetapi, niat hatinya menerimaku dengan apa adanya hanya sampai di tahun pertama. Di tahun ke-dua, apalagi setelah mempunyai anak. Ratih mulai mempermasalahkan penghasilan kecilku sebagai guru honorer. Ia terus menggerutu dan mengomel karena terus kekurangan uang untuk membeli keperluan rumah tangga dan dapur.
Aku tak tahu ini salahku atau salah pemerintah. Kenapa sampai sekarang aku masih belum menjadi PNS? Padahal aku tak pernah ketinggalan mengisi formulir yang diberikan kepala sekolah, untuk mengisi data yang akan dimasukkan ke dalam data base.
Mungkin tak hanya diriku yang bernasib seperti ini. Ratusan, bahkan ribuan guru honorer di daerah lain. Nasibnya juga tak berbeda jauh dariku. Hanya mengharap "Belas Kasihan" Pemerintah agar segera di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti harapan.
"Mau kerja apa? Mas bisanya cuma mengajar," elakku.
Mengajar adalah panggilan jiwa. Aku sangat mencintai profesiku sebagai seorang guru. Aku juga punya harapan untuk memajukan kampung halamanku ini. Dengan menciptakan generasi-generasi yang cerdas melalui ilmu yang ku transfer di bangku sekolah.
"Kerja apa, kek, yang penting penghasilannya lebih besar dari ini." Ratih menghempaskan uang yang tadi ku berikan ke atas meja. Lalu masuk ke kamar, sebab terdengar suara tangisan anakku yang tadi sedang tidur. Mungkin terbangun karena mendengar suaranya ibunya yang nyaring.
Sebelum punya anak, Ratih bekerja di warung makan Haji Bardi, sebagai pelayan. Upahnya cukup lumayan untuk menambah keuangan keluarga. Setelah punya anak, dia berhenti, karena harus merawat bayi kami. Kini hanya aku, satu-satunya menjadi tumpuan untuk menghidupi mereka.
Barulah aku tahu, alasan dia selalu marah-marah tak karuan. Ia ingin aku cari kerjaan lain rupanya. Ah, apakah aku terlalu bodoh selama ini? Sehingga tak mengerti keinginannya. Mungkin, ia ingin seperti tetangga yang lain. Yang segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Bahkan lebih. Mereka bisa beli ini dan itu. Sedangkan istriku?
Namun, aku masih bersyukur. Ratih kuat menyimpan rahasia. Ia tak pernah bercerita ke tetangga akan keadaan rumah tangga kami. Ia selalu dapat berpura-pura, bahwa keluarga kami tak pernah kekurangan. Bahkan, terlihat sangat harmonis. Sehingga banyak keluarga lain yang terlihat iri.
Itu ku ketahui ketika aku mau membeli pisang goreng di warung Acil Rahmah. Tetapi, harus menunggu karena pisang gorengnya belum matang. Seraya menunggu, aku pun di ajak mengobrol warga lain.
"Kamu ini beruntung, Man," kata Bang Salim. "Sudah istri cantik, pengertian lagi," lanjutnya tampak iri.
"Maksud, Abang?" tanyaku bingung. Lalu duduk di sampingnya, di kursi panjang di dekat meja.
"Masa kamu tak paham sih, Man," Acil Rahmah yang sedang membolak-balik pisang goreng dalam wajan langsung menyahut. "Istri kamu, tuh, tak seperti istrinya si Salim ini, yang suka marah-marah minta dibelikan ini dan itu..."
Hup..! Apakah jawaban Acil Rahmah yang spontan ini tak ada maksud untuk menyindirku juga?.
"Aku tak pernah mendengar kalian bertengkar, saat lewat depan rumahmu," kata Bang Salim lagi. "Padahal aku tahu, penghasilanmu sebagai guru honorer, tak lebih besar dariku yang hanya penarik becak....."
Ah, malu juga rasanya. Jadi guru, tetapi, penghasilannya lebih kecil dari penarik becak.
"Dari itu aku berkesimpulan, bahwa istrimu itu orang yang pengertian." Bang Salim meniupkan asap rokoknya dengan kasar ke udara. "Kalau aku, hampir tiap hari bertengkar. Hanya gara-gara masalah duit."
Oh, leganya juga rasanya. Ternyata selama ini tak pernah ada yang tahu keadaan dalam rumah tangga kami yang sebenarnya. Aku memang sering mengalah, bila Ratih sudah mulai mengomel. Ku ambil pancing, pergi ke pematang sawah. Memancing ikan papayu, ataupun saluwang. Bila beruntung, aku bisa dapat 20 ekor lebih. Itu sudah cukup untuk meredam kemarahan Ratih.
Seandainya, sikapku seperti Bang Salim–yang selalu meladeni istrinya bila marah. Dapat di pastikan, di rumahku bakal terjadi "Perang dunia ke-3" bahkan, sampai dua kali dalam sehari.
Ah, bagaimana ini? Apakah memang aku harus berhenti mengajar? Demi memenuhi keinginan Ratih. Pusing.....!.
Suara tangis anakku tak terdengar lagi. Ia sudah tertidur kembali. Tapi....ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Kalau Ratih keluar kamar, pasti dia akan melanjutkan marahnya. Cepat ku ambil joran pancing di belakang rumah.
"Mas.....!" teriaknya.
Aku pura-pura tak mendengar. Terus ku kayuh langkah menuju pematang. Semoga saja aku dapat ikan banyak lagi kali ini.
 
 Sebelum berangkat ke sekolah, aku beranjak ke meja makan untuk sarapan. Saat ku buka tudung saji. Kosong. Tak ada masakkan apapun seperti biasanya. Ku lirik Ratih, dengan cueknya dia menyusui bayi kami.
            "Ibu tak masak?" ku hampiri Ratih. Tanpa senyum, ia langsung menyahut ketus.
            "Mau masak apa? Beras kita hanya tinggal setengah liter. Cukup untuk makan siang saja."
            Aku tak lagi menyahut. Ku tinggalkan saja ia, lalu mengambil buku paket di atas meja. Kalau ku tanya lebih lanjut. Pasti jawabannya, mau beli beras pakai daun pisang. Dengan perut keroncongan, ku kayuh sepeda onthel-ku menuju sekolah.
            Pengeluaran semakin meningkat, seiring semakin besarnya anak kami. Dari mulai popok, susu, bubur, dan pakaian. Ternyata, honorku selama satu bulan, tak cukup lagi untuk membiayai keluargaku selama satu minggu.
***
            Di sekolah, aku mengajar dengan lemas. Perutku terasa sangat lapar. Melilit-lilit. Jam istirahat masih lama. Mau pergi ke kantor guru, untuk minum duluan, malu sama guru-guru yang lain. Dengan sangat terpaksa ku tahan rasa lapar ini.
            "Pak, soal nomor 1, saya tak mengerti," kata salah seorang muridku yang duduk di bangku depan.
            Untuk saat ini, aku jauh lebih senang kalau tak ada satu murid pun yang bertanya, dengan begitu aku tak perlu membuang energiku yang hampir drop ini. Tapi, apa mau di kata, sebagai seorang guru aku harus dengan sabar menjelaskan pada murid-murid agar mereka mengerti.
            "Pak, kok, enggak di jawab, sih!" kata muridku lagi. Kelihatannya dia mau merajuk.
            "I-iya, Bapak akan jelaskan."
            Dengan sisa tenaga yang masih ada, ku mencoba menjelaskan secara perlahan bagaimana cara menyelesaikan tugas latihan yang tadi ku berikan. Semakin lama menjelaskan, suaraku semakin lemah. Sehingga murid-muridku yang duduk paling belakang langsung protes.
            "Pak, nyaringin sedikit dong suaranya. Enggak kedengeran....."
            Kembali ku coba mengangkat suaraku. Agar semuanya bisa mendengar. Kali ini lebih parah lagi. Pandanganku mulai menguning. Berkunang-kunang. Bahkan, huruf dan angka yang ku tulis di whiteboard terlihat buram.
            Krrrrruuuukk! Suara perutku.
            Seiring dengan tawa murid-muridku yang langsung membahana menghantam dinding-dinding  kelas. Aku ambruk ke lantai, dan semuanya gelap.
***
            Bau minyak angin menusuk rongga hidungku. Ku buka kelopak mataku pelan. Warna putih langit-langit ruangan langsung menyapa retinaku. Ku coba mengenali aku berada di mana. Apakah di rumah sakit? Atau di rumah?.
            "Alhamdulillah, Pak Herman sudah sadar, Bapak ada di ruang UKS." suara Kepala Sekolah menjawab keingintahuanku.
            Walaupun masih terasa pusing, ku coba untuk bangun. Duduk di bibir ranjang. Bu Tini, langsung menyodorkan teh panas ke hadapanku.
            "Minum, lah, dulu, biar badanmu bertenaga kembali"
            Tanpa membantah, langsung ku tenggak separo gelas. Ah, sedikit tenang rasanya cacing-cacing dalam perutku.
            "Ini nasi bungkusnya, Pak" Pak Raji tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Menyerahkan sesuatu dalam kresek hitam kepada Kepala Sekolah.
            Kepala Sekolah tersenyum, kembali menghampiriku. "Kata murid-murid, Pak Herman pingsan mungkin gara-gara kelaparan. Jadi kami belikan nasi bungkus ini untuk Bapak."
            Ragu-ragu ku sambut nasi bungkus itu. Ku tatap semua yang ada di ruangan. Semua tersenyum. Ah, jadi malu sendiri. Ketahuan pingsan gara-gara kelaparan.
            Bel jam pelajaran baru kembali berbunyi. Semua guru dan Kepala Sekolah kembali untuk mengajar. Tinggalah aku sendiri di ruang UKS sambil menghabiskan nasi bungkus ini.
            Tiba-tiba aku aku tertegun, teringat wajah Ratih dan anakku. Sanggupkah mereka menahan lapar? Sedangkan aku saja pingsan. Ini baru sehari, bagaimana dengan hari-hari -->?. Pasti akan lebih sering kejadian seperti ini terulang padaku.
            Mungkin, aku harus mengingkari panggilan jiwa. Aku tak boleh egois. Ratih dan anakku merupakan amanah. Tak tega, membiarkan mereka harus mendera lapar karena tak dapat membeli beras dan susu. Sebagai seorang suami tentu tak menginginkan itu terjadi.
            Ratih benar, lebih baik aku berhenti mengajar dan mencari kerjaan lain. Tak ada yang bisa di harapkan dari gaji seorang guru honorer untuk bisa menghidupi keluarga.
Di otakku kini sudah bertebaran kata-kata yang akan ku susun dalam surat pengunduran diri.
Sekhidin
UPTD SMK 2 TEGAL
JL WISANGGENI NO. 1
TEGAL
TELP (0283) 358279 FAX (0283) 350430

website UPTD SMK 2 Tegal : http://smk2tegal.sch.id
blog UPTD SMK 2 Tegal      : http://smk2tegal.blogspot.com
e-mail UPTD SMK 2 Tegal : email@smk2tegal.sch.id
e-mail admin                    : admin@smk2tegal.sch.id
e-mail Pribadi                   : idien08@yahoo.com.sg
milis                                : smkn2tegal@yahoogroups.com

Mon Nov 12, 2012 7:56 am (PST) . Posted by:

"Andi Suandi" diesteem

Sangat miris saya membacanya, memang kita harus bekerja dengan ikhlas sehingga keberkahan yang akan diperoleh, istri yang setia dan anak-anak yang menggemaskan. Tetapi kadang-kadang sebagai manusia biasa kita melihat kontradiksi pada dua sisi tersebut seperti Kisah pak Sekhidin. Saya juga sama pak, honorer TU sudah 7 tahun di sekolah kejuruan negeri, ya tidak jauh berbeda ceritanya. Hanya pesan saya jika memang panggilan jiwa untuk mengajar/honor baik guru/TU sangat kuat tentu kan sudah tahu resikonya, kita harus menggali/mencari/menambah keahlian selain profesi yang kita miliki untuk jam diluar jam honor kita, karena punten pa, HIDUP adalah amanah yang harus diperjuangkan. Tetaplah bersemangat.

________________________________
Dari: SanTri JaYa Malah <santri_jaya@yahoo.com>
Kepada: dikmenjur@yahoogroups.com
Dikirim: Minggu, 11 November 2012 9:33
Judul: Re: Bls: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Balada Guru Honorer


 
Saya bersyukur jadi guru honorer sejak tahu 1995 mengajar sampai sekarang tetap semangat dan regenerasi berjalan terus. Masalah Rizki sampai sekarang hidup serba Pas2an Pas ke Luar daerah bisa. Pas keluar Negeri Bisa. Pas ke Mall bisa.

Salam

Santri Jaya Malah®
________________________________

From: hafidarif@yahoo.com
Sender: dikmenjur@yahoogroups.com
Date: Sat, 10 Nov 2012 23:44:21 +0000
To: <dikmenjur@yahoogroups.com>
ReplyTo: dikmenjur@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Balada Guru Honorer
 
Ya pak sy juga mengajar di swasta jg tp NUPTK sy di negeri krn sy GTT di smk negeri 6 sby, msh belom jelas status sy, krn gtt selalu dianak tirikan ya nasib pak, Alhamdulillah sy syukuri aja pak walau gajinya pas2an utk kebutuhan hidup saya dan istri serta keluarga saya pak
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From: suryana_herman@yahoo.com
Sender: dikmenjur@yahoogroups.com
Date: Sat, 10 Nov 2012 15:57:18 +0000
To: dikmenjur@yahoogroups.com<dikmenjur@yahoogroups.com>
ReplyTo: dikmenjur@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Balada Guru Honorer
 
Kalo saya hampir 12 thn gAk PNS sy gak terlalu berharap jAdi PNS, kAlo dpt syukur gAk gpp, cari sAmpingan ajA pak. Tetap semangAt walau org terdekAt kita ngomel berkAitan dengAn kurangnya materi. KAlo perlu jadikAn ngajar tu hobby...cAri duitnya diluar. Semangat yA...

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From: Susanto Hm <santohm69@yahoo.com>
Sender: dikmenjur@yahoogroups.com
Date: Sat, 10 Nov 2012 21:01:11 +0800 (SGT)
To: dikmenjur@yahoogroups.com<dikmenjur@yahoogroups.com>
ReplyTo: dikmenjur@yahoogroups.com
Cc: santo hm<santohm69@yahoo.com>
Subject: Bls: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Balada Guru Honorer
 
Selamat berjuang Pak Sekhidin....
Perjuangan itu memang berat dan penuh tantangan. Oleh karena itu dibutuhkan keikhlasan !?!?...
Sudah terlanjur kita dapat gelar GURU TANPA TANDA JASA. mau dan harus mau ikhlas.
Kita yang pns pun sekarang juga merasa prihatin dengan kondisi pendidikan sekarang.
Makasih...

________________________________
Dari: Sekhidin <idien08@yahoo.com.sg>
Kepada: dikmenjur <dikmenjur@yahoogroups.com>
Dikirim: Sabtu, 10 November 2012 17:01
Judul: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Balada Guru Honorer


 
BELUM lagi hilang lelahku sehabis mengajar. Istri ku, Ratih, dengan wajah masam sambil berkacak pinggang langsung berujar.
            "Kalau honor Mas mengajar di sekolah hanya 350 ribu sebulan, mana cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Sekarang, kita sudah punya anak, Mas," ingatnya berapi-api.
            Hah..., sebenarnya aku sangat malas meladeni, bahkan bosan. Tiap kali aku menyerahkan honorku. Pasti dia ngomel tak karuan. Seharusnya dia ikut bersyukur. Bulan ini honorku dinaikkan pihak sekolah 50 ribu sebulan dari sebelumnya. Tapi, memang dasar tabiat istriku seperti itu. Bawaannya ngomel melulu. Salah ini diomelin. Salah itu juga diomelin. Nasib...! Nasib...!
            "Ya, mau gimana lagi, Bu. Pihak sekolah hanya mampu membayar Mas segitu." ucapku dengan terpaksa.
            "Mas berhenti saja jadi guru," sahut Ratih enteng. Masih dengan suara cemprengnya yang memekakkan gendang telinga. Kalau harus memilih, mungkin aku lebih suka mendengarkan musik-musik cadas. Dari pada suara Ratih.
            "Maksud Ibu?"
            "Mas cari kerjaan lain saja. Percuma jadi guru honorer. Sudah lima tahun mengabdi, belum juga di angkat jadi PNS."
            Ah, baru sadar aku. Ternyata sudah lima tahun aku menjadi guru honorer, di sebuah sekolah dasar di kampungku. Aku mengajar sejak semester akhir kuliah. Di tahun ke-empat, ku putuskan untuk menikahi Ratih. Sebab dia mau menerima aku apa adanya.
Tetapi, niat hatinya menerimaku dengan apa adanya hanya sampai di tahun pertama. Di tahun ke-dua, apalagi setelah mempunyai anak. Ratih mulai mempermasalahkan penghasilan kecilku sebagai guru honorer. Ia terus menggerutu dan mengomel karena terus kekurangan uang untuk membeli keperluan rumah tangga dan dapur.
Aku tak tahu ini salahku atau salah pemerintah. Kenapa sampai sekarang aku masih belum menjadi PNS? Padahal aku tak pernah ketinggalan mengisi formulir yang diberikan kepala sekolah, untuk mengisi data yang akan dimasukkan ke dalam data base.
Mungkin tak hanya diriku yang bernasib seperti ini. Ratusan, bahkan ribuan guru honorer di daerah lain. Nasibnya juga tak berbeda jauh dariku. Hanya mengharap "Belas Kasihan" Pemerintah agar segera di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti harapan.
"Mau kerja apa? Mas bisanya cuma mengajar," elakku.
Mengajar adalah panggilan jiwa. Aku sangat mencintai profesiku sebagai seorang guru. Aku juga punya harapan untuk memajukan kampung halamanku ini. Dengan menciptakan generasi-generasi yang cerdas melalui ilmu yang ku transfer di bangku sekolah.
"Kerja apa, kek, yang penting penghasilannya lebih besar dari ini." Ratih menghempaskan uang yang tadi ku berikan ke atas meja. Lalu masuk ke kamar, sebab terdengar suara tangisan anakku yang tadi sedang tidur. Mungkin terbangun karena mendengar suaranya ibunya yang nyaring.
Sebelum punya anak, Ratih bekerja di warung makan Haji Bardi, sebagai pelayan. Upahnya cukup lumayan untuk menambah keuangan keluarga. Setelah punya anak, dia berhenti, karena harus merawat bayi kami. Kini hanya aku, satu-satunya menjadi tumpuan untuk menghidupi mereka.
Barulah aku tahu, alasan dia selalu marah-marah tak karuan. Ia ingin aku cari kerjaan lain rupanya. Ah, apakah aku terlalu bodoh selama ini? Sehingga tak mengerti keinginannya. Mungkin, ia ingin seperti tetangga yang lain. Yang segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Bahkan lebih. Mereka bisa beli ini dan itu. Sedangkan istriku?
Namun, aku masih bersyukur. Ratih kuat menyimpan rahasia. Ia tak pernah bercerita ke tetangga akan keadaan rumah tangga kami. Ia selalu dapat berpura-pura, bahwa keluarga kami tak pernah kekurangan. Bahkan, terlihat sangat harmonis. Sehingga banyak keluarga lain yang terlihat iri.
Itu ku ketahui ketika aku mau membeli pisang goreng di warung Acil Rahmah. Tetapi, harus menunggu karena pisang gorengnya belum matang. Seraya menunggu, aku pun di ajak mengobrol warga lain.
"Kamu ini beruntung, Man," kata Bang Salim. "Sudah istri cantik, pengertian lagi," lanjutnya tampak iri.
"Maksud, Abang?" tanyaku bingung. Lalu duduk di sampingnya, di kursi panjang di dekat meja.
"Masa kamu tak paham sih, Man," Acil Rahmah yang sedang membolak-balik pisang goreng dalam wajan langsung menyahut. "Istri kamu, tuh, tak seperti istrinya si Salim ini, yang suka marah-marah minta dibelikan ini dan itu..."
Hup..! Apakah jawaban Acil Rahmah yang spontan ini tak ada maksud untuk menyindirku juga?.
"Aku tak pernah mendengar kalian bertengkar, saat lewat depan rumahmu," kata Bang Salim lagi. "Padahal aku tahu, penghasilanmu sebagai guru honorer, tak lebih besar dariku yang hanya penarik becak....."
Ah, malu juga rasanya. Jadi guru, tetapi, penghasilannya lebih kecil dari penarik becak.
"Dari itu aku berkesimpulan, bahwa istrimu itu orang yang pengertian." Bang Salim meniupkan asap rokoknya dengan kasar ke udara. "Kalau aku, hampir tiap hari bertengkar. Hanya gara-gara masalah duit."
Oh, leganya juga rasanya. Ternyata selama ini tak pernah ada yang tahu keadaan dalam rumah tangga kami yang sebenarnya. Aku memang sering mengalah, bila Ratih sudah mulai mengomel. Ku ambil pancing, pergi ke pematang sawah. Memancing ikan papayu, ataupun saluwang. Bila beruntung, aku bisa dapat 20 ekor lebih. Itu sudah cukup untuk meredam kemarahan Ratih.
Seandainya, sikapku seperti Bang Salim–yang selalu meladeni istrinya bila marah. Dapat di pastikan, di rumahku bakal terjadi "Perang dunia ke-3" bahkan, sampai dua kali dalam sehari.
Ah, bagaimana ini? Apakah memang aku harus berhenti mengajar? Demi memenuhi keinginan Ratih. Pusing.....!.
Suara tangis anakku tak terdengar lagi. Ia sudah tertidur kembali. Tapi....ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Kalau Ratih keluar kamar, pasti dia akan melanjutkan marahnya. Cepat ku ambil joran pancing di belakang rumah.
"Mas.....!" teriaknya.
Aku pura-pura tak mendengar. Terus ku kayuh langkah menuju pematang. Semoga saja aku dapat ikan banyak lagi kali ini.
 
 Sebelum berangkat ke sekolah, aku beranjak ke meja makan untuk sarapan. Saat ku buka tudung saji. Kosong. Tak ada masakkan apapun seperti biasanya. Ku lirik Ratih, dengan cueknya dia menyusui bayi kami.
            "Ibu tak masak?" ku hampiri Ratih. Tanpa senyum, ia langsung menyahut ketus.
            "Mau masak apa? Beras kita hanya tinggal setengah liter. Cukup untuk makan siang saja."
            Aku tak lagi menyahut. Ku tinggalkan saja ia, lalu mengambil buku paket di atas meja. Kalau ku tanya lebih lanjut. Pasti jawabannya, mau beli beras pakai daun pisang. Dengan perut keroncongan, ku kayuh sepeda onthel-ku menuju sekolah.
            Pengeluaran semakin meningkat, seiring semakin besarnya anak kami. Dari mulai popok, susu, bubur, dan pakaian. Ternyata, honorku selama satu bulan, tak cukup lagi untuk membiayai keluargaku selama satu minggu.
***
            Di sekolah, aku mengajar dengan lemas. Perutku terasa sangat lapar. Melilit-lilit. Jam istirahat masih lama. Mau pergi ke kantor guru, untuk minum duluan, malu sama guru-guru yang lain. Dengan sangat terpaksa ku tahan rasa lapar ini.
            "Pak, soal nomor 1, saya tak mengerti," kata salah seorang muridku yang duduk di bangku depan.
            Untuk saat ini, aku jauh lebih senang kalau tak ada satu murid pun yang bertanya, dengan begitu aku tak perlu membuang energiku yang hampir drop ini. Tapi, apa mau di kata, sebagai seorang guru aku harus dengan sabar menjelaskan pada murid-murid agar mereka mengerti.
            "Pak, kok, enggak di jawab, sih!" kata muridku lagi. Kelihatannya dia mau merajuk.
            "I-iya, Bapak akan jelaskan."
            Dengan sisa tenaga yang masih ada, ku mencoba menjelaskan secara perlahan bagaimana cara menyelesaikan tugas latihan yang tadi ku berikan. Semakin lama menjelaskan, suaraku semakin lemah. Sehingga murid-muridku yang duduk paling belakang langsung protes.
            "Pak, nyaringin sedikit dong suaranya. Enggak kedengeran....."
            Kembali ku coba mengangkat suaraku. Agar semuanya bisa mendengar. Kali ini lebih parah lagi. Pandanganku mulai menguning. Berkunang-kunang. Bahkan, huruf dan angka yang ku tulis di whiteboard terlihat buram.
            Krrrrruuuukk! Suara perutku.
            Seiring dengan tawa murid-muridku yang langsung membahana menghantam dinding-dinding  kelas. Aku ambruk ke lantai, dan semuanya gelap.
***
            Bau minyak angin menusuk rongga hidungku. Ku buka kelopak mataku pelan. Warna putih langit-langit ruangan langsung menyapa retinaku. Ku coba mengenali aku berada di mana. Apakah di rumah sakit? Atau di rumah?.
            "Alhamdulillah, Pak Herman sudah sadar, Bapak ada di ruang UKS." suara Kepala Sekolah menjawab keingintahuanku.
            Walaupun masih terasa pusing, ku coba untuk bangun. Duduk di bibir ranjang. Bu Tini, langsung menyodorkan teh panas ke hadapanku.
            "Minum, lah, dulu, biar badanmu bertenaga kembali"
            Tanpa membantah, langsung ku tenggak separo gelas. Ah, sedikit tenang rasanya cacing-cacing dalam perutku.
            "Ini nasi bungkusnya, Pak" Pak Raji tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Menyerahkan sesuatu dalam kresek hitam kepada Kepala Sekolah.
            Kepala Sekolah tersenyum, kembali menghampiriku. "Kata murid-murid, Pak Herman pingsan mungkin gara-gara kelaparan. Jadi kami belikan nasi bungkus ini untuk Bapak."
            Ragu-ragu ku sambut nasi bungkus itu. Ku tatap semua yang ada di ruangan. Semua tersenyum. Ah, jadi malu sendiri. Ketahuan pingsan gara-gara kelaparan.
            Bel jam pelajaran baru kembali berbunyi. Semua guru dan Kepala Sekolah kembali untuk mengajar. Tinggalah aku sendiri di ruang UKS sambil menghabiskan nasi bungkus ini.
            Tiba-tiba aku aku tertegun, teringat wajah Ratih dan anakku. Sanggupkah mereka menahan lapar? Sedangkan aku saja pingsan. Ini baru sehari, bagaimana dengan hari-hari -->?. Pasti akan lebih sering kejadian seperti ini terulang padaku.
            Mungkin, aku harus mengingkari panggilan jiwa. Aku tak boleh egois. Ratih dan anakku merupakan amanah. Tak tega, membiarkan mereka harus mendera lapar karena tak dapat membeli beras dan susu. Sebagai seorang suami tentu tak menginginkan itu terjadi.
            Ratih benar, lebih baik aku berhenti mengajar dan mencari kerjaan lain. Tak ada yang bisa di harapkan dari gaji seorang guru honorer untuk bisa menghidupi keluarga.
Di otakku kini sudah bertebaran kata-kata yang akan ku susun dalam surat pengunduran diri.
Sekhidin
UPTD SMK 2 TEGAL
JL WISANGGENI NO. 1
TEGAL
TELP (0283) 358279 FAX (0283) 350430

website UPTD SMK 2 Tegal : http://smk2tegal.sch.id
blog UPTD SMK 2 Tegal      : http://smk2tegal.blogspot.com
e-mail UPTD SMK 2 Tegal : email@smk2tegal.sch.id
e-mail admin                    : admin@smk2tegal.sch.id
e-mail Pribadi                   : idien08@yahoo.com.sg
milis                                : smkn2tegal@yahoogroups.com

GROUP FOOTER MESSAGE
-------------------------------------------------------------------------
<*> To change settings via email:
<?ol if:digest=1 ?>
    mailto:dikmenjur-normal@yahoogroups.com
<?ol else ?>
    mailto:dikmenjur-digest@yahoogroups.com
<?ol /if ?>
    mailto:dikmenjur-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> Untuk keluar dari mailing list ini, kirmikan sebuah email ke:
    dikmenjur-unsubscribe@yahoogroups.com kemudian reply email konfirmasi yg diterima             

Wednesday, 7 November 2012

Emailing: Bookmarks

Bookmarks Menu

Recently Bookmarked

Recent Tags


Mozilla Firefox

Help and Tutorials

Customize Firefox

Get Involved

About Us

Postdoc journey

Prose, psychopaths and persistence

How to review a journal article: requirements, tips and strategies

How to review a journal article: requirements, tips and strategies

research

I've got some interview data! What next? - YouTube

null

Tips on how to write a paper for an academic journal

AFT - A Union of Professionals - American Educator - Issues Index

American Federation of Teachers public Web site

Taylor & Francis Author Services - Resources for authors

Resources for authors. Help with prepapring your manuscript.

Dunia Islam | Republika Online

Republika Online - Dunia Islam

ict

Michael de Villiers's Dynamic Geometry Sketches

Sketchpad LessonLink - Key Curriculum Press

The Geometer's Sketchpad: Download - Key Curriculum Press

profmd's Home Page.

internet Indonesia

Akses Internet di Indonesia Melampaui Radio dan Surat Kabar | Jagat Pintar - Yahoo!

Baca 'Akses Internet di Indonesia Melampaui Radio dan Surat Kabar' di blog kami Jagat Pintar yang ada di Yahoo!. Aulia Masna | DailySocial Penggunaan Internet di Indonesia telah melampaui media tradisional dan berada di peringkat kedua setalah televisi. Demikian hasil sebuah survei yang diselenggarakan Yahoo! dan TNS di kota-kota di seluruh Indonesia. Meningkatnya ketersediaan paket biaya Internet yang murah … Continue reading →

Download WinDjView from SourceForge.net

WinDjView is a fast, compact and powerful DjVu viewer for Windows with tabbed interface, continuous scrolling and advanced printing options, based on …

My Blog

Perkembangan Anakku

Portfolio Fika Fida

Online Teaching Resources

Diary Pasca PhD (I)

Diary Penelitian PhD [Part 2]

Diary Penelitian PhD

Cerita Kehidupan

Linear Mixed Models for Longitudinal ... - Google Books

This book provides a comprehensive treatment of linear mixed models for continuous longitudinal data. Next to model formulation, this edition puts major emphasis on exploratory data analysis for all aspects of the model, such as the marginal model, subject-specific profiles, and residual covariance structure. Further, model diagnostics and missing data receive extensive treatment. Sensitivity analysis for incomplete data is given a prominent place. Several variations to the conventional linear mixed model are discussed (a heterogeity model, conditional linear mid models). This book will be of interest to applied statisticians and biomedical researchers in industry, public health organizations, contract research organizations, and academia. The book is explanatory rather than mathematically rigorous. Most analyses were done with the MIXED procedure of the SAS software package, and many of its features are clearly elucidated. How3ever, some other commercially available packages are discussed as well. Great care has been taken in presenting the data analyses in a software-independent fashion. Geert Verbeke is Assistant Professor at the Biostistical Centre of the Katholieke Universiteit Leuven in Belgium. He received the B.S. degree in mathematics (1989) from the Katholieke Universiteit Leuven, the M.S. in biostatistics (1992) from the Limburgs Universitair Centrum, and earned a Ph.D. in biostatistics (1995) from the Katholieke Universiteit Leuven. Dr. Verbeke wrote his dissertation, as well as a number of methodological articles, on various aspects of linear mixed models for longitudinal data analysis. He has held visiting positions at the Gerontology Research Center and the Johns Hopkins University. Geert Molenberghs is Assistant Professor of Biostatistics at the Limburgs Universitair Centrum in Belgium. He received the B.S. degree in mathematics (1988) and a Ph.D. in biostatistics (1993) from the Universiteit Antwerpen. Dr. Molenberghs published methodological work on the analysis of non-response in clinical and epidemiological studies. He serves as an associate editor for Biometrics, Applied Statistics, and Biostatistics, and is an officer of the Belgian Statistical Society. He has held visiting positions at the Harvard School of Public Health.

JOURNAL

Mathematics Education Research Journal

An official journal of the Mathematics Education Research Group of Australasia (MERGA), The Mathematics Education Research Journal is an international refereed journal that provides a forum for the publication of research in the ...

ZDM

ZDM is one of the oldest mathematics education research journals in publication. The journal surveys, discusses, and builds upon current research and theoretical-based perspectives in mathematics education. In addition, it serves ...

Journal of Mathematics Teacher Education

The Journal of Mathematics Teacher Education (JMTE) is devoted to research that seeks to improve the education of mathematics teachers and develop teaching methods that better enable mathematics students to learn. The journal ...

Educational Studies in Mathematics

Educational Studies in Mathematics presents new ideas and developments of major importance to practitioners working in the field of mathematical education. It reflects both the variety of research concerns within the field and the ...

ScienceDirect - Teaching and Teacher Education, Volume 27, Issue 8, Pages 1163-1264 (November 2011)

The online version of Teaching and Teacher Education on ScienceDirect, the world's leading platform for high quality peer-reviewed full-text publications in science, technology and health.

Find e-Journal

JTE - Journal of Technology Education

JSTOR: Mathematics in School: Most Accessed

JSTOR: For the Learning of Mathematics, Vol. 29, No. 3, Nov., 2009

Teaching and Teacher Education

Journals in mathematics education, Collaborative Group for Research in Mathematics Education - Southampton

Journals in mathematics education at the Group for Research in Mathematics Education - Southampton

geometry

Euclid' Elements Book I, 23 Definitions, visual illustration. College Geometry, SAT Prep. Elearning

Euclid' Elements Book I, 23 Definitions, a one-page visual illustration of the 23 definitions. College Geometry, SAT Prep. Elearning

Geometry Step by Step from the Land of the Incas, Cuzco, Machu Picchu

Geometry from the Land of the Incas, problems involving circles and triangles. On line Math tutoring Antonio Gutierrez. Inca City on Mars Nasa. Also Cuzco, Lost City of the Incas, Machu Picchu, Inca Trail, Incan Quipu, Nazca Lines, Lord of Sipan, Peru. Travel.

integers

Modeling integers

Learn about modeling integers using red and yellow chips. The lesson is clear and right to the point

Operations on Integers – Addition | | Mathematics and MultimediaMathematics and Multimedia

Operations on Integers – Subtraction | | Mathematics and MultimediaMathematics and Multimedia

Blog Tips | Mathematics and MultimediaMathematics and Multimedia

Photo frame with birthday cake and presents. - photofunny.net

Photo frame with birthday cake and presents.

sA Education

:: The Centre for Development and Enterprise (CDE) :: VALUE IN THE CLASSROOM: The quantity and quality of South Africa's teachers

CDE In Depth, September 2011

NCS Subject Statements

NCS Subject Statements

anakku

TIMSS MATH TEST

learn to draw cartoons step by step lessons - videos and links to drawing sites.

Cartoon Critters offers coloring pages, online coloring, online games, mazes. Learn to draw, stories and music.

Homework: Integer Word Problems

Free PDF download Homework: Integer Word Problems. PrintFu is the PDF search engine for finding PDFs, ebooks, documents and articles

Macam macam kentut (buang gas) | oxana

Apa bedanya Kentut orang Tionghoa dengan Kentutnya Bule ? Tidak ada, sama baunya dan mungkin sama keras bunyinya. Sekali-sekali tidak ada salahnya

Current local time in Indonesia – Kalimantan – Pontianak

Find out current local time in Pontianak – Kalimantan – Indonesia. Get Pontianak's weather and area codes, time zone and DST. Explore Pontianak's sunrise and sunset, moonrise and moonset.

interesting video

Message from the Dalai Lama - Wits University

His Holiness the Dalai Lama cancelled his trip to South Africa following government’s indecision on granting him a visa to visit South Africa. His Holiness the Dalai Lama has recorded a message on video which was sent to all the hosts who invited him to South Africa, including Wits University.

King's College London - Research Staff Profiles

Automatically move or delete older items with AutoArchive - Outlook - Office.com

Increase free space in your account by automatically deleting older messages or moving items that you want to keep but rarely use to an archive data file.

motivation

Brian Tracy: Achieving Goals is Predictable - YouTube

See Brian Tracy solutions at http://www.goals2go.com/articles/brian-tracy-goals.htm . Brian has been a student of success for more than 40 years and he's stu...

Brian Tracy - Time Managment - YouTube

http://focalpointcoaching.com/ - FocalPoint Coaching powered by Brian Tracy

English dictionary & thesaurus, translation from English to Spanish & Turkish and Spanish to English - Cambridge Dictionary Online

Free Online English Dictionary & Thesaurus, translation from English to Spanish & Turkish and Spanish to English and other language resources. Conjugation dictionary. Audio pronunciation. Publisher: Cambridge Univeristy Press.

Paul

Curriculum Vitae Paul Drijvers

Mike's Kitchen, Parktown

fida

Teacher Year 2 Website

BBC - Skillswise - Maths

BBC - Skillswise - Numbers

BBC - Skillswise - Number lines

button only

Prongo.com Games For Ages 6-9

Malawi Visa Requirements Page

Malawi visa application and visa requirements for tourist and business visas for Malawi. Fast expert processing of urgent Malawi visas.

Poundcake and Pink Cupcakes | Flickr - Photo Sharing!

from Amanda at wish-cake.com

online book

Mathematics Education and Technology ... - Celia Hoyles, Jean-Baptiste Lagrange - Google Books

Mathematics Education and Technology-Rethinking the Terrain revisits the important 1985 ICMI Study on the influence of computers and informatics on mathematics and its teaching.  The focus of this book, resulting from the seventeenth Study led by ICMI, is the use of digital technologies in mathematics teaching and learning in countries across the world. Specifically, it focuses on cultural diversity and how this diversity impinges on the use of digital technologies in mathematics teaching and learning. Within this focus, themes such as mathematics and mathematical practices; learning and assessing mathematics with and through digital technologies; teachers and teaching; design of learning environments and curricula; implementation of curricula and classroom practice; access, equity and socio-cultural issues; and connectivity and virtual networks for learning, serve to organize the study and bring it coherence.Providing a state-of-the-art view of the domain with regards to research, innovating practices and technological development, Mathematics Education and Technology-Rethinking the Terrain is of interest to researchers and all those interested in the role that digital technology plays in mathematics education.

Second Handbook of Research on ... - Frank K. Lester, National Council of Teachers of Mathematics - Google Books

Developing Primary Mathematics Teaching: Reflecting on Practice with the ... - Tim Rowland, Anne Thwaites, Peter Huckstep, Fay Turner - Google Books

This book helps readers to become better, more confident teachers of mathematics by enabling them to focus critically on what they know and what they do in the classroom. Building on their close observation of primary mathematics classrooms, the authors provide those starting out in the teaching profession with a four-stage framework which acts as a tool of support for developing their teaching: making sense of foundation knowledge, transforming knowledge, connection, and contingency.

Electronic library. Download books free. Finding boooks

Electronic library. Download books free. Finding boooks | BookFi - BookFinder. Download books for free. Find books

Electronic library. Download books free. Finding boooks

Электронная библиотека. Скачать книги бесплатно. Поиск книг | BookFi - BookFinder. Download books for free. Find books

How We Define Knowledge Solutions: Part One | OutStart Knowledge Solutions Blog | OutStart Knowledge Solutions Blog

eLearning Technology

Thank you for registering for Hot Lava Mobile Free Trial

South African Weather for Johannesburg, Gauteng

South African Weather johannesburg, Gauteng

Video teaching

Inside Teaching - Collections

Welcome to The Gallery of Teaching and Learning

detikFood: Lezat Sehat Setiap Detik

detik.com situs warta era digital

MERGA 2012

Audacity Tutorial for Podcasters

A step-by-step Audacity tutorial.

Journal for Research in Mathematics Education

eJournalPress is mission critical software providing online submission, review and tracking of manuscripts via the Internet. It was designed from the ground up to provide rock solid security, reliability and ease of use.

Google Scholar

Teachers Upfront

Bridge – Linking innovators in education.  South African NGO dedicated to improving the education system

experts

David Cohen

journal Indo

LEMBAGA PENELITIAN UNJ » Petunjuk Bagi (Calon) Penulis JURNAL ILMU PENDIDIKAN (JIP) UNJ

Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP)

E-Journal Universitas Negeri Malang

Fakultas Ilmu Budaya-UGM

IndoMS-JME IndoMS Journal on Mathematics Education

Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP)

Matilda the movie Part 1[HQ] - YouTube

aaaaaaa

JSTOR: Advanced Search

Rina Zazkis » Articles in Refereed Journals

JigZone.com Jigsaw Puzzle Games

Free online jigsaw puzzles with thousands of beautiful pictures and puzzle cuts. Control the level of difficulty for fun by all the family, or a quick distraction at work, or boring days. Send puzzle postcards to friends, puzzle of the day

Math Forum - Ask Dr. Math

Take a 3-digit number and subtract its reverse. Then, take the result and add its reverse. Why is the answer is always 1089, no matter what the initial numbers were?

website WMC

Teachers' Domain: Browse: National K -12 Subject: Algebra

WMCS-maths online resources

Diigo-Bookmarks

ICME

DYNAMIC-KOREA

Dynamic Korea

PUISI UNTUK DE'CITI

Welcome to Singapore Airlines

3MT 2010 Grand Final Winner - YouTube

2010 Victoria University Three Minute Thesis Competition Victoria University Grand Final Winner: Eder Kikianty Thesis Topic: Hermite-Hadamard Inequality in t...

Singapore Airlines

Rotating Faces

hadiah fidafika

http://www.kioshp.com/productprint.php?cat=5&id=6

Ipad Indonesia|Jual Ipad Murah|Beli Ipad|Toko Ipad Online|Grosir Ipad

Ipad,Ipad Indonesia,Jual Ipad,Beli Ipad,Ipad Murah,Toko Ipad,Jual Ipad Murah,Grosir Ipad,Ipad Online

selected website

Roman Numeral Conversion and Self Test

A calculator that can convert between Arabic and Roman numerals and a conversion self test

Most Popular Papers | ACEReSearch | Australian Council for Educational Research Research

SELAMAT DATANG DI "INDAHNYA BELAJAR FISIKA"

Bing Translator

Free translation service for online automatic translation of text and web pages, translating between many languages, including Spanish, French, Japanese, German, Chinese, Italian, Korean, Thai and Russian.

Current local time in Saudi Arabia – Makkah

Find out current local time in Makkah – Saudi Arabia. Get Makkah's weather and area codes, time zone and DST. Explore Makkah's sunrise and sunset, moonrise and moonset.

Consular Services - South African Embassy Jakarta, Indonesia

Information on visas and other consular services provided by the South African Embassy in Jakarta, Indonesia.

ePub-Catalog

conference

Opera Van Java - Lady Gaga.flv - YouTube

Merriam-Webster Online

best word games - Google Search

Word Games - The Best Word Games

best word games online - Google Search

ATCM - Asian Technology Conference in Mathematics

The ATCM 2012 is an international conference that will continue addressing technology-based issues in all Mathematical Sciences.

Anime Download Online - Your #1 Source for Anime, Manga & Drama Downloads

Anime Downloads Online is the biggest subbed anime, drama & manga download provider

Building a University, and Hope, in Ghana : NPR

After nearly 20 years in the U.S., Patrick Awuah left his job at Microsoft and returned to his native Ghana. His goal: to help educate Africa's future leaders in ethics and entrepreneurship.

@Jill-Sitti

created by Jill - Dropbox

Dropbox is a free service that lets you bring your photos, docs, and videos anywhere and share them easily. Never email yourself a file again!

Bookmarks Toolbar

Add bookmarks to this folder to see them displayed on the Bookmarks Toolbar

Most Visited

Getting Started

Latest Headlines

Millennium Web Catalog

Unsorted Bookmarks

Mozilla Firefox Start Page