Wednesday, 31 August 2011

Suratan takdir (1)

Siapa mengira sy bisa ke benua Afrika.
Masih segar di ingatan, saat di sekolah dulu. Sy tdk pernah kepikiran akan menginjakkan kaki di Jawa apalagi keluar negeri!!! Apalagi ke benua Afrika.

Saya hanya berpikir, semoga bisa ke IKIP sehingga bisa menjadi guru. Itu pun bercita-cita jadi guru di desa atau di pulau, karena sy berharap disayangi oleh masyarakat.

Bagi saya, tanah Jawa itu hanya mimpi. Jakarta adalah kota wah, mungkin bagaikan NewYork di pandangan anak muda sekarang.

Oleh karena itu, saat pertama ke Jawa, banyak sekali keluarga yg mengantar ke pelabuhan. Termasuk saat pertama mau naik pesawat terbang.
Berapa mobil yg mengantar.

Di akhir S1, sy mulai terbayang sy akan banyak tinggal di rumah dan jk dapat jodoh, akan menjadi ibu rumah tangga. Sy tdk pernah punya cita-cita yang tinggi.

Ternyata, apa yang saya bayangkan sangat berbeda dengan apa yang terjadi. Rejeki beasiswa (uang rakyat tentunya) telah merubah segala yg tdk mungkin menjadi mungkin.
Hanya beberapa hari setelah wisuda, saya berangkat S2 ke tanah Jawa tepatnya di Surabaya.
Di akhir S2, yang terpikir adalah pulang ke kampung mengabdikan ilmu dan berharap bisa menjadi dosen di Makassar.

Saat ada yg mengusulkan, utk jadi dosen di Surabaya, seketika itu pun sy menolak. Saya punya pikiran yg sangat sempit "mengapa mau tinggal di Jawa, mengapa mau memintarkan orang Jawa, padahal mereka sdh maju sedangkan Sulsel tertinggal. Sy mau pulang mengabdikan diri di tanah kelahiran.
(Catatan: Tentu pikiran sempit itu sdh tdk ada lagi. Terbukti, banyak org Jawa dekat dgn keluarga sy, mrk suka ke rumah, kami masak dan makan bersama. Saya orang Makassar tapi dikelilingi/dekat dengan orang Jawa. Mahasiswa sy orang Jawa dan sy sangat mencintai dan menyayangi mereka, dan sy selalu berupaya melakukan yg terbaik buat mereka. Sy cinta Indonesia dan orang Indonesia. Alhamdulillah).

Back to the story.
Kok terus tinggal di Jawa?
Kok bisa jadi dosen Unesa?
Mantan Rektor IKIP Surabaya menawarkan sy menjadi dosen. Kata beliau, ini bukan KKN. Anda potensial dan kami tahu kualitas Anda. Padahal saat itu, nama sy sebagai calon dicoret oleh pegawai sebab adanya edaran dari pusat bahwa yg bisa diterima jadi dosen adalah orang mat murni.

Di depan saya, Pak Rektor bicara dg beberapa staf pegawai, "jika Maesuri akhirnya ditolak di pusat, kami akan memperjuangkannya, jika perlu kami menghadap Pak menteri."

Terbayang kan? bagaimana perasaan saya saat itu, yang masih lebih dari separuh keinginan utk pulang ke Makassar, akhirnya mendengar itu, saya pasrah apa yg akan terjadi. Saya pasrah pada kehendak Allah.

Setelah saya sah jadi dosen Unesa, bbrp orang di Surabaya heran dan tak percaya, saya bisa jadi dosen Unesa tanpa bayar satu sen pun?

Apa sih hikmah cerita ini?
Ada hikmah besar sebetulnya yg bisa kita pelajari.

Bahwa, dalam situasi mana pun, berupayalah melakukan yg terbaik. Maksimalkan usaha dan tampil terbaik. Mantan rektor tadi hanya pernah mengajar saya sekali, tapi sy benar2 mempersiapkan dan ingin tampil super. Dia terpukau dg presentasi sy dan memberi pujian serta langsung diberi A.
Tentu persiapan sy serius. Saya sering merekam latihan presentasi saya, dan mengecek kejelasan serta ketepatan waktu.
Jadi kuncinya adalah pada kerja keras, keseriusan dan kesungguhan.

Sama saja saat sy di Australia dan di Afsel saat ini. Saat di Aussie, Head of school dan supervisor sy beberapa kali ngomong ke saya, We'd love to have you Sitti here. jadi semacam tawaran utk mau kerja di sana. Tapi identik dg pikiran lama, sy INGIN pulang ke negara saya mengabdikan ilmu saya.

Jadi kalau selama lebih 2 tahun ini, sy sangat sibuk dan menikmati kerjaan mengajar, membimbing, dll di Indonesia bahkan sy sering bawa kerjaan pulang ke rmh (untung suami sangat paham bahkan mendukung), itu adalah wujud dari janji hati yg paling dalam "I am going and back for Indonesian teachers"

Jadi bekerjalah terbaik dg niat yg positif dan mengedepankan niat karena Allah Ta'alah.

Faktanya, belum 2 bulan di Afsel, sy sudah ditawari perpanjangan kontrak. "We love you Sitti. We want you to work with us" Bahkan tadi Bu Dekan pun bilang, kami butuh dosen pend mat di sini. Mengapa tidak melamar saja jadi dosen di sini? Saya tersenyum dan berterima kasih.

Saya pikir, Andai suatu ketika, sy memutuskan utk kerja di luar negeri, maka pertimbangan utama yang harus saya lakukan adalah: apakah kerja di luar negeri memberi posisi strategis dan peluang besar utk mengabdikan diri saya pada bangsa Indonesia.

Kenyataan: Sy bekerja di Jawa, tidak menghentikan pengabdian sy pada tanah kelahiran sy. Banyak orang Sulsel bahagia karena kami kerja di Jawa. Ada manfaatnya kami di Jawa.

Apa kasus tersebut analog jika saya kerja di luar negeri.

Anyway, entahlah. Sy tdk tahu suratan takdir sy. Jadi kita lakukan sj yg terbaik semata karena ini semua amanah dari Sang Maha Berkehendak.

Oh, sekian dulu catatan saya. Sudah jam 1 lebih. Harus istirahat, karena besok ada project meeting dan ada workshop utk guru-guru sampai sore.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment