Tetapi mengapa secara umum masyarakat tidak menyadarinya atau membiarkannya?
Hal ini karena mereka kurang menikmati pendidikan yang benar. Pendidikan yang memahami makna kehidupan. Untuk apa hidup dan hidup seharusnya bagaimana.
Pendidikan yang mengoptimalkan potensi pikir dan potensi hati.
Akibatnya, mereka yang menyaksikan korupsi secara langsung pun tak mampu berkutik.
Mengapa demikian?
Saya mencoba melakukan refleksi mengapa demikian? Setidaknya saya berkaca pada diri saya yang juga pernah tidak sensitif akan fenomena ini.
Simpulan saya, karena sy kurang memahami makna pendidikan itu sendiri.
Selama sekolah baik sejak S1 hingga S2, secara dominan saya hanya mempelajari apa yang diminta dipelajari. Saya membaca apa yang telah di rencanakan oleh guru/dosen untuk dibaca tanpa ada pengaitan yang mencoba memacu kepedulian saya terhadap kehidupan bermasyarakat. Jadi tidak ada ruang yang diciptakan untuk membangun kesadaran akan tanggung jawab kemasyarakatan.
Akibatnya, sy tidak pernah digelisahkan dengan semakin banyaknya kendaraan, semakin banyaknya berdiri mall tempat yang menumbuhkan sifat konsumtif. Saya tidak digelisahkan oleh sampah yang ada di mana-mana.
Hidup dijalani saja. Kebutuhan pokok menjadi pemikiran, bagaimana bisa makan dan beraktivitas "normal".
Saya adalah satu dari contoh individu dan jika individu-individu lainnya demikian, maka hidup seperti itu saja, berjalan apa adanya tanpa suatu kesadaran bahwa kita menghancurkan peradaban bangsa kita.
Mengapa saat ini ada kesadaran, ada kebencian pada para koruptor, mengapa ada kegelisahan, ada pencerahan?
Saya pikir karena saya mulai melihat makna kehidupan.
Mengapa Pancasila yang dulu saya hapalkan, saya sering baca, bahkan unggul dalam acara Penataran P4, tidak menyentuh hati?
Namun saat ini, membaca Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menyebabkan isak tangis dan kesedihan mendalam, memunculkan suatu pemberontakan dalam hati, menyebabkan kebencian yang dalam pada perilaku buruk koruptor.
Saat ini, pernyataan-pernyataan dalam pancasila memuat kata kunci yg luar biasa menyentuh hati: kemanusiaan, keadilan, beradab, persatuan, dst.
Saya semakin merasakan rasa cinta mendalam pada rakyat Indonesia khususnya mereka yang tanpa sadar diinjak-injak haknya.
Pendidikan yang bermakna yang mampu memunculkan kesadaran dan sekolah kita harus dibenahi dan wajib difasilitasi oleh pemerintah, jika kita mau bangsa ini terhindar dari kehancuran.
Masih pertanyaan lagi? Tapi mengapa saya berubah?
Entahlah!
Meski saya hidup di luar negeri (4 tahun di Australia saat studi PhD, dan saat ini di Afrika Selatan). Apapun yg sy alami membawa saya berfikir tentang Indonesia.
Contoh:
Saat saya penelitian di sekolah dasar negeri di Australia. Saya menyaksikan dan merasakan fasilitas yg luar biasa, perpus yg mewah, toilet yg luas dan bersih, alat peraga, lebih dari 3 komputer dalam setiap kelas lengkap printer dll. Saya melihat anak-anak itu, berani bertanya dst. Saya tiba-tiba meneteskan air mata mengingat anak-anak bangsa saya. Mereka berani, mereka juga percaya diri, mereka punya potensi yg sama diberikan Sang Maha pencipta, tapi fasilitas gratis seperti itu sangat terbatas. Mengapa anak-anak Australia itu bisa sekolah gratis dengan fasilitas yg memadai? Mengapa Indonesia tidak?
Ini karena kroni-kroni yang koruptor itu.
Mereka para pejabat koruptor tidak sadar dengan perhitungan yang akan mereka terima dari Allah sebagaimana FirmanNya "kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan".
Islam adalah agama dominan di negara kita tapi itu hanyalah nama dan berbagai ajaran islam diabaikan. Sekali lagi karena kita melalui pendidikan yang kurang bermakna.
Saat ini, sy di Afrika Selatan. Saya melihat mahasiswa yg hidup di residen (rumah-rumah kampus), bersih, lengkap dg berbagai fasilitas. Dari residen ke kampus atau sebaliknya tersedia bis hingga malam. Hari Sabtu dan minggu. Setiap setengah jam atau tiap jam ada bis yang mengantar mereka ke mall. Di mana-mana ada perpustakaan yang nyaman yang terbuka sampai malam, fasilitas olahraga.
Mereka mendapatkan pelayanan yang baik dari dosen dengan sistem penilaian yg transparan.
Melihat ini saya pun sedih memikirkan mahasiswa di Indonesia dari sejumlah perguruan tinggi yang saya ketahui.
Tak bisa saya menghalau bayangan yang sering muncul, mahasiswa yang gelisah menanti dosennya, membayangkan stres mahasiswa akibat pelayanan yg miskin.
Ini karena sistem yang rusak.
Terlepas dari kelemahan personal, sy selaku insider meyakini, teman-teman, kolega, saudara-saudara pelaku sistem ini adalah orang yang sesungguhnya baik. Mereka, jika didalami secara lebih jauh, adalah orang yang baik.
We just, something is missing, akibat dari pendidikan yang kita alami kurang bermakna, kurang mengoptimalkan potensi pikir dan hati mereka.
So what?
Mari kita bekerjasama melawan korupsi dengan berbagai cara, paling rendah yaitu menghindari diri kita untuk ikut korupsi.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment