Monday, 15 August 2011

Apa keahlian saya? (1)

Mungkin benar juga, kita perlu mengecek dan menganalisis apa kelebihan yg Allah berikan pada kita. Hal ini supaya kita percaya diri dan mau terus berupaya.
1. Kelebihan pertama, sy adalah orang yang serius. Saya tidak ingin kerja asal-asalan. Kadang sy melihat dan mendengar cara kerja orang lain, yang penting jadi, beres, dan ada wujudnya dan tidak mengedepankan kualitas.
Saya adalah orangnya yang tdk begitu. Saya mengedepankan kualitas dan ini adalah kepuasan tersendiri. Rasanya lega jk selesai mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh.

2. Saya tdk mata duitan yang selalu mau menghitung-hitung segala upaya dengan uang. Saya tdk punya target soal uang, misal mau beli ini atau beli itu ..... Tidak sama sekali. Syukurnya kalau mau beli sesuatu, kebetulan sudah ada uang. Tapi jk tidak punya uang, sy juga tdk mikir mau beli. Jadi sy tidak punya target kaya. Saya baru kepikiran mau punya banyak uang jika melihat orang lain menderita, jika menyaksikan orang miskin. Rasanya ingin berbagi yang jauh lebih banyak lagi.

3. Artinya kelebihan lain lagi bahwa saya suka berbagi. Sifat ini telah saya miliki sejak kecil, suka berbagi ide, suka membantu kawan belajar. Sy mungkin dicap orang kaya oleh sebagian orang karena sejak dulu meski tidak kaya, sy suka memberi uang. Rasanya kok senang meski kadang merasa, masih mau nambah lagi. Mengapa ya? Apa sy suka diberi uang oleh orang waktu kecil. Rasanya tidak juga. Yang sy ingat, yg biasa memberi saya uang walau tidak banyak adalah tante saya. Itu pun sy sudah nginap di rumahnya dan bantu membersihkan, mencuci, dan memasak.

Apa ini jiwa Ibu saya. Dulu saat kecil kalau sy mengeluhkan Ibu kok kerja keras ngurusi pesta orang bahkan sering sakit kalau sudah begadang, dia hanya menjawab: Nak, sy tidak punya uang untuk bantu orang. Saya hanya punya tenaga dan hanya itulah yang bs saya sumbangkan. Jk dibandingkan di masa modern ini, tenaga Ibu saya pasti mahal banget. Saya menyaksikan, kadang-kadang Ibu saya tuh tidak tidur semalaman karena memasak dan mempersiapkan pesta. Padahal yang punya hajat masih sempat tidur. Saya pun tidak pernah sekalipun mendengar Ibu sy mengeluhkan orang lain. Dia begitu ikhlas dalam bekerja dan mau memberikan kualitas kerja yang terbaik. Padahal tidak digaji satu rupiah pun. Kadang-kadang kami anaknya yang kecewa, Ibu kok tidak dioleh-olehi makanan sih. Di rumah Ibu sdh kurang sehat, tidak punya makanan lagi. Ibu tidak pernah mau membawa makanan pulang sedikit pun kecuali jika diberi oleh yang punya hajat atau diantarkan ke rumah. Ini mungkin yg disebut menjaga kepercayaan dia pada orang lain.

Ibu, sungguh sy mengagumimu dan sy semakin merasa bahwa engkaulah guruku yg sejati.

Mungkin, kalau Ibu saat kecil seperti saya. Kalau saja Ibu punya kesempatan sekolah seperti anakmu, mungkin Ibu jauh lebih hebat. Mungkin bisa membangun bangsa ini.
Saya ingat, ada keyakinan yang selalu Ibu dan Bapak tanamkan, jangan pernah memberi makanan yang tidak halal pada keturunanmu, karena itu akan merusaknya.

Semoga karena keyakinan dan realisasi keyakinan itulah yg membawa anakmu terpelihara dan selalu diberi kemudahan, selalu dipertemukan dengan orang-orang baik baik saat anakmu studi doktoral di Australia, maupun saat ini, belajar di Afrika Selatan.

Ibuku tersayang yang sekaligus guruku.
Saya mendoakanmu sehat selalu.
Saya tidak berhenti mengagumimu. Semoga hatimu selalu tenang, bahagia.
Insya Allah kita akan bertemu lagi.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment