Thursday, 9 February 2012

Refleksi meeting 2 PCK+curhat

Hari ini saya meeting lebih sejam. Lantas apa kemajuan kami.

Pertama, sudah jelas apa yang akan dilakukan yaitu membaca karya Zazkis, Ball, Rowland. Kemudian menjawab sejumlah pertanyaan kaitan MKfT.
1. apa tujuan penelitiannya atau masalah apa yang ingin mereka atasi/tangani?

2. Apa theoreticak field, mungkin maksudnya teori apa yang mendasarinya. Dia mengacu ke mana dan mengapa?

3. Apa empirical fieldnya? Mungkin maksudnya, apa dukungan empiris yang dia miliki. Apa ini didukung oleh kenyataan di lapangan, apa dia mengacu pada satu penelitian empiris?

3. Apa sebenarnya argumenya, ide apa yang penulis coba sampaikan?

4. Apa yang dia bela, atau apa yang dia lawan, apa yang dia setujui dan apa yang dia tidak setujui.

5. Apa hasil penelitiannya?

6. Pendekatan apa yang mereka lakukan dalam memecahkan masalahnya?

7. Bagaimana disposisi dia? Misal bagaimana dia melihat batasan math dan pedagogy.

Artinya, sudah semakin jelas langkah apa yang harus diambil.

Pada Meeting 1: awal dia mengenalkan idenya utamanya, wawasan secara umum. Ini membawa saya membaca banyak hal sehingga sedikit bisa nyambung.

Pada Meeting 2: (yang tak direncanakan terjadi), kami mendiskusikan apa yang perlu dikerjakan dan kami membahas satu jenis tulisan review sekitar 108 articles.

Eh saya jadi ada ide penelitian. What is the nature of the thesis in math education.
- masalah apa yang mereka kaji?
- pendekatan apa yang mereka lakukan?
- Bagaimana kerangka teorinya?
- bagaimana struktur tulisannya.
- bagaimana ketebalannya, dan mengapa kira-kira tebal.
- bagaimana mereka menarik simpulan
- ketika sama, apa dia berjenis plagiat, seperti apa tuh modelnya.

Nah pakai samplig. Ambil jurusan matematika program pendidikan matematika
Batasii tahunnya misal 5 tahun terakhir?
Sampling 2 PT di Indonesia Timur, Barat, dst.
Tentunya kalau hasil ditulis, jgn sebut nama PT. Boleh juga ada perwakilan negeri dan swasta.

Trus ngapain, apa tujuannya? Apa kontribusinya bagi penulisan skripsi.?
Silahkan di pikirkan lagi? Khususnya ngapain sih kita meneliti sesuatu? Nah sesuatunya ini meneliti karakteristik dari tulisan skripsi mahasiswa.

Lah siapa yang layak melakukan penelitian ini. Ada tim penelitinya diknas'ah?
Yang terbaik sih adalah peneliti yang independent, sehingga pelaksanaan murni sebagai kerjka penelitian.

Ide ini bisa tuh dikembangkan untuk mereviu the nature of PTK yang dihasilkan guru.

We need research informs policy, policy informs researchers. Tapi sebagai dosen Indonesia, adakah ruang dan waktu yang cukup utk melakukan penelitian? Apa orang menghargainya. Seorang Prof yang nyata heb atnya dalam meneliti, mereka masih diberi tugas yang melimpah. Ada ruang yang begitu kondesif. Secara aturan sih ada secara tertulis. Misalnya ada nbatas hanya sekian orang yang dibimbig, sekian SKS sajka mengajar. Tapi ketika aturan itu menjadi alasan keberatan "seorang bisa dengan lantangnya berkata " semua orang sibuk. Semua orang harus menjalankan. Aturan itu tak berlaku dan tak mungkin berlaku di sini" kasarnya, emangnya Anda siapa, jangan kaku. Di Indonesia memang begini.
So what?

Sedikit sj pengalaman di Afsel terlibat proyek penelitian. Ada pimpinan, ada manager, ada manager data, ada admin, ada bendahara (nyaris tak pegang uang sih), karena kan semua lewat relkening. Is manager penelitian tahun lalu dia ngajar, terlibat 50% ngajar dan d0%meneliti, ternyata kerepotanm. Tahun berikutnya, tdk mengajar sama sekali tapi penuh dipenelitian dan ditambah membimbing mahasiswa yang nulis skripsi atau tesis.
Mereka bisa punya suara terhadap pengambil kebijakan. Mereka bisa terb itkan hasil penelitiannya dan tampil di kancah internasional.

seorang kawan bilang gini kalau ikuti aturan di Australia aman, kalau ikuti aturan di Indonesia tidak aman dan tidak nyaman.
Eh, tapi tahu nggak kadang-kadang kalau omongan sudah begini, tanggapan orang lain bisa seperti ini, wah senang ya tinggal di sana kan ceritanya manis-manis. Saja di sana.
Inilah penyakit kita, tidak mau membuka wawasan.

Eh, refleksi meeting tapi malah curhat.

Ok, itulah pikiran.
Karena jika kita bicara seperti ini masuk dalam zone perasaan maka lebih baik, hal seperti tak perlu diungkap di publik. Lebih baik menulis di diary saja atau curhat pada yang bisa dipercaya.
Yang perlu dibuka dipublik adalah yang bisa mencerahkan, yang bisa menginspirasi, yang blebih netral, yang bersifat perjuangan melawan tantangan, yang tdk mengarah pada mendukung satu kubu dan membuat sakit hati di sisi lain.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment