Assalamua’alaikum wr.wb.
Ikut acara staff meeting di School of education di Wits Afsel, mungkin sekitar 150 orang yang hadir, mereka menyambut staf yang baru, melakukan perpisahan karena ada yang berhenti/pindah kerja.
Menarik sekali karena para pejabat terkait melakukan pekerjaannya dengan sangat bertanggung jawab. Mereka para Professor, mereka akademisi yang punya jiwa kepemimpinan dan pelayanan terbaik buat masyarakat kampus. Misalnya, coordinator penelitian, mereka melaksanakan sejumlah kegiatan seminar yang gratis untuk para mahasiswa S3nya, mengundang pakar untuk menfasilitasi workshop analisis data. Mereka ingin memastika bahwa School of Education member yang terbaik untuk mahasiswa, bahwa mereka membangun keterampilan penelitinga yang “strong”. Mereka juga menfasilitasi pembuatan proposal agar mendapatkan dana grant dari luar.
Mereka menyajikan perkembangan mahasiswa, masalah yang perlu ditangani dan upaya-upaya/strategi yang perlu dilakukan dalam mengatasi permasalahan.
Tahu nggak? Head of schoolnya cantik. Dia pejabat, sekaligus Ibu rumah tangga dari 3 anak (tanpa ada pembantu dan sopir mobil). Luar biasa. Saya kebetulah sudah pernah ke rumahnya karena beliau orang islam dan mengajak saya lebaran. Saya bantu dia sekedarnya saat itu antara lain menggoreng udang dan membantu dia cuci piring dan bantu mereka membereskan sehingga dapur dan segala perabotan kembali di simpan dalam lemari. Anaknya yang laki-laki (sudah SMA) malah protes banget loh, kok Sitti jadi ikut kerja keras. Padahal, yang saya cuci itu tak banyak karena kebanyakan piring, gelas dll cukup dimasukkan dalam mesin cuci piring, saya hanya bantu mereka cuci panci.
Tapi di luar dugaan beberapa kali ketemu beliau, pasti dia terima kasih sudah ikut bantu dan bahkan bilang ke supervisor saya, kalau tak ada Sitti, wah tak terbayang deh. Nah saya lihat, beliau itu dalam setiap pertemuan, mesti menyampaikan penghargaannya/apresiasi kepada semua staf, staf yang kerjanya di bidang admin, ICT, atau pun akademik, dll. Dia selalu mengatakan tak mungkin saya kerja sendiri.
Tadi adalah ketiga kalinya saya mengikuti meeting di mana ada staf yang pindah kerja. Mesti ada 1 orang yang membacakan kinerja dan sumbangsih mereka, sehingga bagi saya itu berefek menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Bahkan hal yg mungkin kecil bagi kita itu disebutkan dalam acara perpisahan, misalnya “dia penolong sekali sampai-sampai pernah menolong si ini saat mobilnya macet”.
Fenomena ini sebenarnya pertama kali kulihat saat di Brisbane. Saat ini saya hanya bantu angkat kursi, eh namaku pun turut di sebut di meeting. Sungguh budaya terima kasih dan apresiasi itu saya saksikan di Australia dan di Afrika Selatan dalam pertemuan-pertemuan informal maupun formal. Saya kira saya juga bertemu dengan orang yang berkarakter sama di negeri saya, Cuma jumlahnya tak banyak. Yang bahkan sering mengecewakan ketika mereka malah tak bersyukur dengan kerja yang telah dilakukan orang lain. Seseorang sudah kerja keras malah dicela. Entah mengapa itu sering terjadi. Entah mengapa kita sering tidak mengapresiasi kerja keras seseorang, apalagi kerja sedikit yang tidak tampak di mata kita. Apakah kita sudah terbiasa manja, terbiasa terpenihi kebutuhan, terbiasa jadi bos, terbiasa punya pembantu rumah tangga. Saya tidak tahu. Para sosiolog yang bisa menganalisis situasi tersebut.
Kadang-kadang apa yang dilakukan oleh seseorang dianggap keuntungan bagi orang itu, padahal itu sebenarnya punya dampak social, mungkin institusi, atau bahkan masyarakat secara luas.
Saya tidak tahu. Saya pun mungkin bisa lebih parah dari itu, jika tidak punya pengalaman yang berbeda, jika saya tidak mencoba belajar dari fenomena yang ada di sekitar.
Tapi tahu nggak, apa kata Rowan, penulis buku film Harry Potter yang terkenal itu. Dia mengatakan bahwa untuk mempelajari, mencermati, untuk memaknai hidup miskin, kita tidak harus jadi miskin dulu. Kita punya kekuatan imaginasi. Artinya, untuk menjadi orang yang apresiatif, kita tidak harus merasakan perbedaan “tidak diapresiasi” dan “diapresiasi”. Kita tidak harus pergi ke luar negeri dulu untuk mencermatinya. Ini juga sejalan dengan apa kata Nelson Mandela, bahwa cinta atau mencintai sesame bisa dipelajari, bisa dikembangkan, bisa dibangun. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk berbuat baik, untuk tidak merugikan orang lain, untuk menghormati orang lain, untuk berkontribusi pada orang lain.
No comments:
Post a Comment