Sunday, 5 February 2012

Guru yang terlahir

Saya pernah mendengar pandangan bahwa "guru itu memang terlahir", yang artinya bahwa guru itu memang dilahirkan, atau ditakdirkan menjadi guru. Artinya bahwa tidak sembarang orang yang mampu menjadi guru yang baik. Kalau dia terlahir sebagai guru maka kelak akan jadi guru yang baik.
Setujukah Anda dengan pernyataan tersebut?

Bagi saya kalaupun keyakinan itu tidak bisa saya salahkan 100%, namun saya bisa menunjukkan kelemahan serius dari pernyataan atau keyakinan tersebut.
1. Jika kita percaya dengan hal ini, seakan kita mengklaim bahwa Allah Sang Maha Pencipta hanya memberikan kesempatan pada orang tertentu menjadi guru yang baik, dan ini berimplikasi pada sebuah klaim bahwa Allah tidak adil dong.

2. Jika kita menggunakan pikiran atau akal sehat, keyakinan tersebut mengandung kelemahan yang cukup serius. Katakanlah, itu benar bahwa guru itu terlahir. Kita di dunia dihadapkan pada kebutuhan yang mendesak akan guru yang baik. Persoalannya adalah bagaimana kita (pengambil kebijakan/institusi guru/kepala sekolah dan lain-lain) menentukan atau menyeleksi guru yang disebut terlahir tadi? Apa indikatornya? Bagaimana mengoperasionalkannya? Sulit kan?

3. Jika saya mencermati pengalaman pribadi saya, hingga sekarang saya pun sulit mengatakan bahwa saya terlahir jadi guru. Bisa jadi saya tertarik jadi guru hanya karena melihat Bapak saya guru SD, disenangi atau dihargai oleh masyarakat di desa atau di pulau yang terpencil. Beliu kadang didatangi dan dimintai pertimbangannya oleh tokoh masyarakat dan beliau selalu dipanggil TUAN GURU. Dan di tengah keterbatasan hidup, saya senang banget pada saat hari kenaikan kelas, Bapak saya pulang ke rumah membawa kue-kue pemberian murid-muridnya. Sungguh suatu kejutan yang sangat besar. Di pikiran saya "sungguh enak jadi guru"

Kalau pun ada yang bilang bahwa saya lahir sebagai guru, mengapa saya pernah melakukan kesalahan serius dalam mengajar? Saya mempunyai 4 adik dan saya bertugas mengajari adik-adik saya mengaji. Saya masih ingat betapa kejamnya saya. Saya masih bisa membayangkan adik saya meneteskan airmata alias menangis sambil mengaji akibat cubitan bertubi-tubi dari saya. Bahkan kadang-kadang saya menarik telinganya dengan keras. Setiap kesalahan baca yang dilakukannya diikuti dengan pukulan dari saya. Sungguh jahat dan kasarnya saya. Hingga suatu ketika saya menyadarinya bahwa ini SALAH BESAR. Saya tak mampu menahan air mata saya (air mata penyesalan) saat perkuliahan psikologi pembelajaran matematika di program Master IKIP Surabaya. Saya menjadi sadar bahwa apa yang saya lakukan itu salah besar.
Itu satu momentum besar yang merubah pikiran saya tentang pengajaran. Untung saya bisa berubah. Fika dan Fida (kedua putri saya) bisa mengaji tanpa pernah sekalipun mendapat cubitan atau bentakan dari saya. Kedua anak-anakku begitu rajin belajar dan menunjukkan prestasi yang lumayan tanpa sekalipun saya cubit atas kesalahan belajar yang dibuatnya. Bahkan saya berusaha membangun kepercayaan dirinya dengan mengatakan "kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Yang penting kita tahu apa yang salah, mengapa salah dan yang benar yang bagaimana, dan bagaimana supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama".
Kadang-kadang kedua anak saya melaporkan bahwa salahnya di "sini" dan kesalahan itu akibat kurang cermat dalam membaca petunjuk soal.

Pengalaman pribadi ini menjadi pelajaran, bahwa saya sebagai guru (jika pun saya dianggap guru atau dosen yang baik) berdasarkan survey oleh mahasiswa, itu didasari pada suatu pemahaman tentang konsep pengajaran yang baik.

Contoh lainnya seorang guru Kupang yang pernah ikut dalam pelatihan dengan saya, datang ke saya dengan penuh penyesalan karena sebagai guru matematika, dia sangat sering menampar siswanya yang tdk mengerti matematika. Pembelajaran dengan saya membawanya menyadari bahwa sungguh tindakan itu salah.
Artinya, apa? Kesempatan menjadi guru yang baik terbuka pada siapa saja asalkan kita mau belajar menjadi guru yang baik.

Sebagai penutup saya beri link satu video seorang guru yang begitu saya kagumi walau saya belum pernah bertemu dengannya.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment