Suatu hari ada yang bertanya ke saya, kok Maesuri akrab sekali dengan dosen-dosen dari Makassar?
Hmm, pertanyaan ini sangat menarik membawa saya mengingat kembali masa-masa indah kuliah di IKIP Ujungpandang.
Yah, emang kenyataanya kami itu sangat akrab. Ketika ada dosen yang menikah, kami turut berpartisipasi, ketika kami di kampus, rasanya tak ada dosen yang menakutkan. Secara umum, mereka ramah, bahkan mereka suka menggoda. Saya pernah digoda tuh, khususnya yang saya ingat Pak Alimuddin dan Pak Ahmad Thalib serta Pak Ruslan dan Pak Bernard, selalu saja menjodoh-jodohkan saya dengan seorang Kakak kelas, sampai si cowok itu tampak malu-malu.
Dosen-dosen kami tidak hanya akrab dengan ketua kelas kami “ suami saya saat ini”, tapi akrab pada semua mahasiswa. Mereka itu pintar bercanda. Rasanya seperti saudara ya dengan dosen-dosen kami.
Ada satu dosen (Pak Darwis yang saat ini Kajur Matematika UNM). Saat itu tidak pernah mengajar kami karena sedang studi S2 di ITB. Tapi Masya Allah, kalau beliau datang dari Bandung, pasti kami kumpul dan kami minta beliau membimbing kami. Kadang-kadang kami baru bisa mulai belajar setelah jam 12 tengah malam. Kok gitu? Beliau kan tamunya buaaanyak sekali. Jadi baru dapat jatah waktu jam 12 malam tersebut. Ini waktu tidur beliau tapi malah digunakan untuk membimbing kami sampai pagi. Apa ini dibayar????? Tentu tidak. Satu sen pun kami tidak bayar. Malah kalau belajar di rumah beliau, kami disiapkan makanan.
Apa istrinya tidak keberatan? Justru istrinya yang guru matematika SMA itu, juga sangat akrab dengan kami. Beliau itu bisa jadi tempat curhat. Beliau itu malah keberatan kalau kita tidak mampir di rumahnya. Istrinya akrab dengan kami semua, seperti teman sebaya saja. Pasti kita banyak senyum bila ngobrol dengan istri Pak darwis karena dia suka cerita kelucuan anak-anaknya. Emang enak ya bergaul dengan orang yang tidak sok pintar, malah dia sering bilang dirinya lemah.
Kadang-kadang kami undang Pak Darwis ke salah satu rumah/asrama teman-teman. Kami cukup menyiapkan kopi. Materi yang dipelajari sulit banget loh misalnya analisis real atau kalkulus lanjut, tapi dosennya lucu, sehingga kami tidak ngantuk. Karena cara menjelaskannya enak sekali, kami sering bilang ohhhhhhhh, begitu? Sebelumnya kami sudah setengah mati belajar tapi rasanya sudah buntu. Untung ada Pak Darwis saat itu.
Momen-momen inilah yang menciptakan ikatan persaudaraan yang erat antara mahasiswa dan dosen. Dosen-dosen kami tidak sombong. Dosen-dosen kami memperlakukan kami seperti adiknya, atau bahkan seperti teman-temannya. Jadi saya tak bisa mengingat satu pun momen di mana dosen saya di IKIP Ujungpandang memarahi kami. Yang dominan di ingatan saya adalah mereka suka sekali bercanda. Nah dosen-dosen kami yang masih mudah, juga mengalami keakraban dengan dosennya dulu, salah satunya Pak Darwis itu. Jadinya keakraban antara mahasiswa dan dosen terbangun menjadi suatu budaya.
Ada satu dosen Kyai, yang juga sangat disegani. Tapi sekali lagi kami pun tetap akrab. Namanya Pak Mappaita. Beliau bukan hanya Ustad tapi juga bangsawan. Tapi tahu nggak? Saya bersama kawan-kawan juga pernah nginap di rumah beliau. Kalau tidak salah nginap 2 hari di sana? Loh kok bisa. Kami melihat Bapak itu punya banyak sekali buku sepulang studi S2 di ITB. Kami menawarkan diri mengatur buku-bukunya, menstempelnya & menomorinya. Akibatnya beliau baru tahu, ternyata banyak buku yang double, sudah beli, beli lagi karena mungkin lupa kalau beliau sudah punya. Apa Bapak itu pernah mengajar kami. Tidaaaak. Kami hanya mendengar dosen-dosen lainnya menyebutnya bahwa beliau itu juga senang membina mahasiswanya. Nah kami bersilaturahmi saja dan akhirnya kami pun akrab.
Nah, saat saya menikah, banyak dosen yang datang. Yang saya ingat, yang mendampingi pernikahan kami adalah istri Prof Arif Tiro. Lah, apa kami sudah lama akrab dengan Professor yang amat terkenal dengan kecerdasannya itu? Sebenarnya tidak juga, karena Pak Arif Tiro (Pakar Statistik UNM) belum lama pulang dari Amerika. Tapi saat beliau “naik rumah”, saya dan kawan-kawan ikutan juga bantu-bantu. Saat saya konsultasi statistik ke kantor beliau, jika beliau sudah mau pulang, kadang-kadang menawarkan kalau saya mau ikut di mobilnya. Saya saat itu segan sekali. Apalagi saat itu, Prof Arif satu-satunya Professor kami. Beliau adalah makhluk langka. Dari situ juga terasa, beliau ini hebat sekali tapi tidak sombong ya. Oh ya, kami sangat kagum beliau dengan kerendahan hatinya. Kami sudah tinggal di Surabaya. Nah pernah beliau itu dijemput motor oleh suami saya dari bandara, sampai-sampai suami saya bangga sekali karena diberi kesempatan menggonceng beliau. Suami saya sangat gembira. Bayangkan loh, seorang Prof hebat, mau dijemput pakai motor. Bahkan pernah suatu waktu keluarga beliau mau ke Jakarta dan mampir di rumah kontrakan kami. Beliau loh mau nginap di rumah walau tidurnya terpaksa di lantai, karena waktu itu kami tidak punya ranjang. Kalau keluarga beliau hanya memikirkan kenyamana materi dan tidak mengedepankan silaturahmi pada mantan mahasiswanya, pasti beliau itu nginap di hotel saja.
Yang lain, Kajur kami Almarhum Pak Renreng, beliau berbadan tinggi dan besar dan sangat di segani. Saya lihat yang tamu-tamu dari kampung itu, sampai tunduk-tunduk pada beliau dan bilang “Iye Puang” [Puang adalah panggilan untuk Bangsawan di Makassar]. Tapi beliau seperti Bapak kami. Dalam setiap acara sambutannya, dia selalu mengatakan “Ananda”. Kami dipanggil Ananda semua. Beliau berwibawa, tapi juga suka bikin ketawa. Makanya, pada hari lebaran, kami pun sering silaturahmi ke rumah beliau. Beliau sangat menghargai kedatangan kami, walau kami ini hanyalah orang kecil.
Dengan Pak Darwis, akhirnya kami seperti keluarga, adik-kakak. Demikian juga dengan dosen lainnya. Kadang kami bingung memanggil dosen kami di IKIP Ujungpandang, bilang “Bapak” atau “Kakak”, karena mereka itu selalu bilang Adik ke kami (panggilan sopan/akrab pada seseorang).
Ada dosen juga, Pak Prof Suradi. Wah ini juga gila akrabnya dengan kami. Beliau tampak serius kan? Tapi ada saja ceritanya yang membuat kami tertawa. Hmmmm, saya ingat, saya pernah pulang tengah malam dari Surabaya (saat itu sy sudah alumni). Saya nelpon ke istri beliau. Tengah malam itu juga beliau bikin kue yang enak-enak. Pokoknya asal tahu kami di Makassar, beliau nelpon minta kami ke rumahnya dan pasti kami menikmati makanan yang sangat enak. Saat Prof Suradi S3 di Surabaya, istrinya sering sekali masak makanan yang superrrrr enak dan ngundang kami makan. Masih banyak sekali dosen-dosen di Makassar, yang namanya tidak saya sebut satu per satu. Ada Pak Darwing, Pak Nurdin, Pak Rahman, Pak Awi, Pak Asdar, Pak Sukarna, Pak Hisyam, Pak Hamzah. Saat pulang ke Makassar, ada niat mengunjungi mereka semua, tetapi kebetulan saat itu kampus libur.
Begitulah, kalau pulang ke Makassar, waktu seminggu itu jauh dari tidak cukup untuk bertemu dengan semua dosen-dosen kami (yang kami kadang-kadang menyebutnya “Kakak-kakak” atau “Ayahanda-ayahanda” kami). Saat kami pulang dulu, kami diundang oleh keluarga Pak Darwis ke rumahnya. Beliau bersama istrinya dan Adik Aswi (dosen muda Jurmat) sibuk memasak berbagai macam makanan. Nah karena waktu kami sangat terbatas utk mendatangi dosen-dosen kami, Pak Darwis menelpon dosen-dosen lainnya saat kami di sana “Ini ada Adik Ihsan dan Adik Maesuri”, kami pun bertemu dengan sebagian dosen-dosen.
Pokoknya secara umum kami sangat akrab? Bahkan selama kami tinggal di rumah pribadi di karah, kami sudah sering kumpul-kumpul di sana. Malah dosen-dosen kami yang cowok-cowok itu yang masak.
Lantas gimana dengan saya? Saya kira keakraban kami dengan dosen mempengaruhi keakraban saya dengan mahasiswa. Cuma awalnya kaget juga saat sekelompok mahasiswa datang ke rumah, kami suguhi teh dan camilan sekedarnya, kok tidak di minum. Bagi orang Makassar ini sangat tidak sopan, tapi bagi orang Jawa, kata orang Jawa tetangga kami, mereka itu sungkan (apa ya bahasa Indonesia dari sungkan).
By the way, meski saya hidup di Jawa (tidak di lingkungan orang Makassar), mahasiswa saya juga sering ke rumah. Bahkan saya ingat, sebelum punya rumah sendiripun (saat saya kontrak rumah kecil di Ketintang, saya punya satu baby). Beberapa mahasiswa saya nginap di rumah. Mereka tidur di lantai di ruang tamu saya yang sempit. Saat bayi saya sudah tidur, saya bangun untuk membimbing mahasiswa saya yang sedang nulis skripsi. Saat itu saya masih dosen baru dan suami saya masih S2 di UGM. Wah di mana ya mahasiswa saya itu? Pasti mereka sudah jadi guru? Mereka telah memberi kenangan indah pada kehidupan kami.
Sepulang S3 dari Australia (setelah 2008), tidak jarang mahasiswa juga datang ke rumah bahkan bermalam. Yah, kadang-kadang mereka masak sendiri, cuci piring, lembur sampai pagi. Alhamdulillah orang tua mereka percaya “Oh kalau di rumah Bu Mae, tidak usah khawatir”, mereka sudah tahu. Mereka tahu kali ya, anaknya itu main sambil belajar di rumah. Makanya kami pernah pergi seminar bersama (satu mobil) ke Yogyakarta, ke Malang, dan ke ITS. Kami sangat bersyukur. Meskipun hidup di Jawa, kami terasa banyak saudara.
Maka itu, jika saya mendengar seorang dosen mengatakan “pokoknya mahasiswa tidak boleh datang ke rumah”, saya hanya diam dan dalam hati kecil, mahasiswa-mahasiswa ini selalu menambah keindahan kehidupan kami, apalagi kami jauh dari sanak saudara, yaitu di Sulawesi. Ini juga sangat baik bagi Fika dan Fida. Mereka jadi punya banyak Kakak.
Akhir kata, akrab dengan mahasiswa ternyata tidak mengurangi harga diri tapi menambah indahnya kehidupan.
Semoga cerita kenangan ini punya hikmah bagi pembacanya.
No comments:
Post a Comment