Sent from my BlackBerry® wireless device
From: cfbe@yahoogroups.com
Date: 7 Feb 2012 12:04:39 -0000
To: <cfbe@yahoogroups.com>
ReplyTo: "No Reply"<notify-dg-cfbe@yahoogroups.com>
Subject: [cfbe] Digest Number 4795
Messages In This Digest (10 Messages)
- 1a.
- Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pe From: Dhitta Puti Sarasvati
- 1b.
- Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (P From: Situmorang Hotben
- 1c.
- Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Din From: dputi131@gmail.com
- 1d.
- Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Din From: aulia reksoatmodjo
- 1e.
- Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Di From: Situmorang Hotben
- 1f.
- Re: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usi From: aulia reksoatmodjo
- 1g.
- Bls: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Us From: Situmorang Hotben
- 2a.
- Re: Project Based Learning From: purwono@ar.itb.ac.id
- 3a.
- Re: [keluargaunesa] Secarik Pidato Sambutan yang Tercecer di Halaman From: A.A. Yudanarko
- 4.
- Aroma Konspirasi & Korupsi Dana DAK Pendidikan Kabupaten Malang Rp. From: Simpati MMS
Messages
- 1a.
-
Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pe
Posted by: "Dhitta Puti Sarasvati" dputi131@gmail.com Dhitta
Mon Feb 6, 2012 4:18 am (PST)
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
"Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)"
"Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!" kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
"Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini," sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti '*workshop*' yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUD dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias 'donat' tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film "Front of Class"
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
"Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah." Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
"Mencatat apa Bu?" tanya saya penasaran.
"Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar."
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
"Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,"
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
"Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?"
"Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. "
"Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata 'kalau
hanya untuk bermain-main – mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!"
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. "Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD."
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. "Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja."**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
- 1b.
-
Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (P
Posted by: "Situmorang Hotben" Benn_tumorang@yahoo.com benn_tumorang
Tue Feb 7, 2012 1:46 am (PST)
Put, kalau begitu seorang guru PAUD selayaknya memiliki kompetensi apa saja?
Setidaknya dari refleksi yang anda tulis ini terbayang :
1. Menguasai setidaknya 5 lagu anak-anak
2. Menguasai permainan anak-anak: permainan kertas, karet dll
3. Bercerita/berkomunikasi dengan orang tua
4. Mendongeng
5. ............ apa lagi
benn
_____________________ _________ __
Dari: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com >
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups. >com
Cc: cfbe <cfbe@yahoogroups.com >; sd-islam <sd-islam@yahoogroups.com >
Dikirim: Senin, 6 Februari 2012 19:18
Judul: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)�
“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!� kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,� sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti ‘*workshop*’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUDÂ dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class�
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
“Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.� Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
“Mencatat apa Bu?� tanya saya penasaran.
“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.�
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,�
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?�
“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. �
“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau
hanya untuk bermain-main â€" mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!�
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.�
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja.�**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
--------------------- --------- ------
---------- http://groups.yahoo.com/ ----------group/cfbe
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/ messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups. com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups. com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups. com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups. com
----------------- cfbe@yahoogroups. com -----------------Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
- 1c.
-
Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Din
Posted by: "dputi131@gmail.com" dputi131@gmail.com Dhitta
Tue Feb 7, 2012 1:49 am (PST)
Yang jelas harus bisa berkomunikasi dengan anak. Mengerti bagaimana melakukan pengenalan huruf, angka, warna, dll. Apa lagi yah? Mungkin ada teman-teman yang paham Early Childhood?
Salam,
Puti
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 17:46:24
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Put, kalau begitu seorang guru PAUD selayaknya memiliki kompetensi apa saja?
Setidaknya dari refleksi yang anda tulis ini terbayang :
1. Menguasai setidaknya 5 lagu anak-anak
2. Menguasai permainan anak-anak: permainan kertas, karet dll
3. Bercerita/berkomunikasi dengan orang tua
4. Mendongeng
5. ............ apa lagi
benn
_____________________ _________ __
Dari: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com >
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups. >com
Cc: cfbe <cfbe@yahoogroups.com >; sd-islam <sd-islam@yahoogroups.com >
Dikirim: Senin, 6 Februari 2012 19:18
Judul: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)�
“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!� kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,� sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti ‘*workshop*’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUDÂ dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class�
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
“Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.� Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
“Mencatat apa Bu?� tanya saya penasaran.
“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.�
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,�
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?�
“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. �
“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau
hanya untuk bermain-main â€" mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!�
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.�
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja.�**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
--------------------- --------- ------
---------- http://groups.yahoo.com/ ----------group/cfbe
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/ messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups. com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups. com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups. com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups. com
----------------- cfbe@yahoogroups. com -----------------Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
- 1d.
-
Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Din
Posted by: "aulia reksoatmodjo" aulia_kpai@yahoo.com aulia_kpai
Tue Feb 7, 2012 2:07 am (PST)
Mba Puti, kompetensinya banyak bangetttt ya.
Pengalaman evaluasi PAUD di NTT dan NTB sebagian besar dikelola para ortu...
Tapi ortunya juga sebelumnya di beri ketrampilan Calistung... Kalau yg lebih maju ada program Kebun + Gizi.
Karena yang ada hanya mereka di lapangann gimana duong Mba?
Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: dputi131@gmail.com
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 09:55:15
To: <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Yang jelas harus bisa berkomunikasi dengan anak. Mengerti bagaimana melakukan pengenalan huruf, angka, warna, dll. Apa lagi yah? Mungkin ada teman-teman yang paham Early Childhood?
Salam,
Puti
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 17:46:24
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Put, kalau begitu seorang guru PAUD selayaknya memiliki kompetensi apa saja?
Setidaknya dari refleksi yang anda tulis ini terbayang :
1. Menguasai setidaknya 5 lagu anak-anak
2. Menguasai permainan anak-anak: permainan kertas, karet dll
3. Bercerita/berkomunikasi dengan orang tua
4. Mendongeng
5. ............ apa lagi
benn
_____________________ _________ __
Dari: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com >
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups. >com
Cc: cfbe <cfbe@yahoogroups.com >; sd-islam <sd-islam@yahoogroups.com >
Dikirim: Senin, 6 Februari 2012 19:18
Judul: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)�
“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!� kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,� sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti ‘*workshop*’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUDÂ dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class�
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
“Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.� Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
“Mencatat apa Bu?� tanya saya penasaran.
“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.�
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,�
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?�
“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. �
“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau
hanya untuk bermain-main â€" mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!�
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.�
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja.�**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
--------------------- --------- ------
---------- http://groups.yahoo.com/ ----------group/cfbe
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/ messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups. com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups. com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups. com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups. com
----------------- cfbe@yahoogroups. com -----------------Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
- 1e.
-
Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Di
Posted by: "Situmorang Hotben" Benn_tumorang@yahoo.com benn_tumorang
Tue Feb 7, 2012 2:09 am (PST)
Ini kompetensi yang perlu didata dan diklassifikasi, dengan demikian professionalitas guru PAUD dapat dinyatakan/dijabarkan secara terukur untuk tujuan peningkatan.
benn
_____________________ _________ __
Dari: "dputi131@gmail.com " <dputi131@gmail.com >
Kepada: cfbe@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 7 Februari 2012 16:55
Judul: Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Â
Yang jelas harus bisa berkomunikasi dengan anak. Mengerti bagaimana melakukan pengenalan huruf, angka, warna, dll. Apa lagi yah? Mungkin ada teman-teman yang paham Early Childhood?
Salam,
Puti
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 17:46:24
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Put, kalau begitu seorang guru PAUD selayaknya memiliki kompetensi apa saja?
Setidaknya dari refleksi yang anda tulis ini terbayang :
1. Menguasai setidaknya 5 lagu anak-anak
2. Menguasai permainan anak-anak: permainan kertas, karet dll
3. Bercerita/berkomunikasi dengan orang tua
4. Mendongeng
5. ............ apa lagi
benn
_____________________ _________ __
Dari: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com >
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups. >com
Cc: cfbe <cfbe@yahoogroups.com >; sd-islam <sd-islam@yahoogroups.com >
Dikirim: Senin, 6 Februari 2012 19:18
Judul: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)�
“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!� kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,� sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti ‘*workshop*’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUDÂ dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class�
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
“Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.� Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
“Mencatat apa Bu?� tanya saya penasaran.
“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.�
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,�
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?�
“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. �
“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau
hanya untuk bermain-main â€" mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!�
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.�
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja.�**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
--------------------- --------- ------
---------- http://groups.yahoo.com/ ----------group/cfbe
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/ messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups. com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups. com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups. com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups. com
----------------- cfbe@yahoogroups. com -----------------Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
- 1f.
-
Re: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usi
Posted by: "aulia reksoatmodjo" aulia_kpai@yahoo.com aulia_kpai
Tue Feb 7, 2012 2:13 am (PST)
Betul Pak Ben,
Tapi kalau kondisinya seperti yg saya ceritakan bagaimana?
Mohon masukan
Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 18:09:20
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Ini kompetensi yang perlu didata dan diklassifikasi, dengan demikian professionalitas guru PAUD dapat dinyatakan/dijabarkan secara terukur untuk tujuan peningkatan.
benn
_____________________ _________ __
Dari: "dputi131@gmail.com " <dputi131@gmail.com >
Kepada: cfbe@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 7 Februari 2012 16:55
Judul: Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Â
Yang jelas harus bisa berkomunikasi dengan anak. Mengerti bagaimana melakukan pengenalan huruf, angka, warna, dll. Apa lagi yah? Mungkin ada teman-teman yang paham Early Childhood?
Salam,
Puti
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 17:46:24
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Put, kalau begitu seorang guru PAUD selayaknya memiliki kompetensi apa saja?
Setidaknya dari refleksi yang anda tulis ini terbayang :
1. Menguasai setidaknya 5 lagu anak-anak
2. Menguasai permainan anak-anak: permainan kertas, karet dll
3. Bercerita/berkomunikasi dengan orang tua
4. Mendongeng
5. ............ apa lagi
benn
_____________________ _________ __
Dari: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com >
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups. >com
Cc: cfbe <cfbe@yahoogroups.com >; sd-islam <sd-islam@yahoogroups.com >
Dikirim: Senin, 6 Februari 2012 19:18
Judul: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)�
“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!� kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,� sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti ‘*workshop*’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUDÂ dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class�
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
“Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.� Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
“Mencatat apa Bu?� tanya saya penasaran.
“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.�
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,�
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?�
“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. �
“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau
hanya untuk bermain-main â€" mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!�
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.�
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja.�**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
--------------------- --------- ------
---------- http://groups.yahoo.com/ ----------group/cfbe
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/ messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups. com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups. com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups. com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups. com
----------------- cfbe@yahoogroups. com -----------------Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
- 1g.
-
Bls: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Us
Posted by: "Situmorang Hotben" Benn_tumorang@yahoo.com benn_tumorang
Tue Feb 7, 2012 2:37 am (PST)
Pendidikan adalah intervensi terencana pada pertumbuhan siswa, sehingga pendidikan anak usia dini seyogianya dirancang memenuhi kebutuhan PAUD itu sendiri. PAUD paling dasar tentu berupa penanganan ibu yang melahirkan kepada anaknya, idealnya mungkin ibu Aulia bisa menjabarkan. Kompetensi ibu yang menangani PAUD ini tentu dengan gambaran penanganan seorang ibu ideal dalam hal nurturing her child.
Jika ibu memang membina kelompok demikian akan sangat baik mendokumentasikan apa yang baik di satu tempat dan menjadi kurikulum peningkatan kompetensi di lain tempat.
benn
_____________________ _________ __
Dari: aulia reksoatmodjo <aulia_kpai@yahoo.com >
Kepada: cfbe pendidikan <cfbe@yahoogroups.com >
Dikirim: Selasa, 7 Februari 2012 17:13
Judul: Re: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Â
Betul Pak Ben,
Tapi kalau kondisinya seperti yg saya ceritakan bagaimana?
Mohon masukan
Salam
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 18:09:20
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Ini kompetensi yang perlu didata dan diklassifikasi, dengan demikian professionalitas guru PAUD dapat dinyatakan/dijabarkan secara terukur untuk tujuan peningkatan.
benn
_____________________ _________ __
Dari: "dputi131@gmail.com " <dputi131@gmail.com >
Kepada: cfbe@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 7 Februari 2012 16:55
Judul: Re: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Â
Yang jelas harus bisa berkomunikasi dengan anak. Mengerti bagaimana melakukan pengenalan huruf, angka, warna, dll. Apa lagi yah? Mungkin ada teman-teman yang paham Early Childhood?
Salam,
Puti
Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message-----
From: Situmorang Hotben <Benn_tumorang@yahoo.com >
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Tue, 7 Feb 2012 17:46:24
To: cfbe@yahoogroups.com <cfbe@yahoogroups.com >
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Subject: Bls: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
Put, kalau begitu seorang guru PAUD selayaknya memiliki kompetensi apa saja?
Setidaknya dari refleksi yang anda tulis ini terbayang :
1. Menguasai setidaknya 5 lagu anak-anak
2. Menguasai permainan anak-anak: permainan kertas, karet dll
3. Bercerita/berkomunikasi dengan orang tua
4. Mendongeng
5. ............ apa lagi
benn
_____________________ _________ __
Dari: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com >
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups. >com
Cc: cfbe <cfbe@yahoogroups.com >; sd-islam <sd-islam@yahoogroups.com >
Dikirim: Senin, 6 Februari 2012 19:18
Judul: [cfbe] Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah Saya Temui
*Sebuah Refleksi : Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang Pernah
Saya Temui *
*Oleh Dhitta Puti Sarasvati*
*6 Februari 2012*
* *
Hari ini saya mengunjungi sebuah lembaga PAUD di daerah Sarijadi, Bandung.
Teman saya Fidi, yang baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan
Sosial, baru saja melakukan penelitian mengenai bebapa PAUD di darah
Bandung. Sekolah tersebut merupakan salah satu tempat dia melakukan
penelitian.
“Sekolah tersebut menarik, siswa-siswa bisa membayar uang sekolah dengan
sampah. Sampah tersebut diolah kembali (didaur ulang) dan hasil pengolahan
sampah ini digunakan untuk membayar SPP)�
“Saya kenalkan dengan Bu Yunyun *yah*? Dia kepala sekolah di PAUD tersebut.
Dia lagi mencari pembicara untuk mengisi seminar untuk guru PAUD di sana.
Saya merekomendasikan Kak Puti!� kata Fidi. Waduh! Saya kan tidak pernah
mengajar PAUD secara langsung. Tetapi saya mungkin bisa berbagi mengenai
kegiatan mendongeng. Itu adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh guru
PAUD mana pun. Sumber dongengnya bisa dari buku cerita bergambar, internet,
bahkan koran dan majalah bekas sekalipun. (Kalau ada yang menyumbang buku
anak untuk saya bagikan di kegiatan ini tolong kontak saya di
puti[at]igi[dot]or[dot] id ya!).
Saya juga mengajak seorang teman baik saya Valen untuk turut menjadi
pembicara pada kegiatan tersebut. Valen lebih tahu mengenai PAUD. Dia sudah
pernah mengajar PAUD, menjadi fasilitator guru PAUD, pandai membuat alat
peraga dan juga belajar mengenai PAUD di Universitas. Bu Yunyun dengan
senang hati menerima tawaran saya.
“Saya senang sekali kalau Bu Valen bisa ikut berbagi di sini,� sambut Bu
Yunyun dengan mata berbinar-binar.
Valen adalah lulusan D3 sekretaris di Tarakanita. Setelah lulus, dia
mengajar sebagai guru komputer (SD - SMP) di sebuah sekolah swasta di
Jakarta. Kemudian, Valen mengambil S1 kembali di Universitas Negeri Jakarta
(UNJ), jurusan PAUD. Sambil belajar di universitas, Valen mengajar PAUD dan
aktif mengajar anak-anak jalanan di daerah Rawamangun. Setiap minggu dia
dan beberapa teman-temannya juga pergi ke daerah Jakarta Utara untuk
sharing mengenai PAUD untuk guru-guru PAUD di daerah sana. Guru-guru PAUD
di daerah Jakarta Utara banyak yang masih sekolah, kebanyakan siswa SMU.
Kalau mereka masuk siang, mereka mengajar pagi. Kalau mereka masuk pagi,
mereka mengajar di sore hari.
Secara rutin Valen mengajari mereka berbagai keterampilan seperti membuat
kerajinan tangan, alat peraga, dan hiasan kelas. Sekali saya pernah diajak
untuk mengikuti ‘*workshop*’ yang diselenggarakan Valen. Dia mengajarkan
guru PAUDÂ dan saya (yang ikut-ikutan menjadi peserta* workshop*)
meremas-remas kertas koran dan menyulapnya menjadi makanan seperti
donat-donatan. Kami menghias ‘donat’ tersebut dengan sisa-sisa kertas dan
kain flanel warna-warni. Valen juga mengajarkan guru-guru PAUD tersebut
membuat boneka dari karton. Boneka-boneka tersebut dihias menggunakan
kertas berpola sehingga tampak seperti menggunakan pakaian tradisional dari
berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru PAUD yang masih sangat muda
tersebut bersemangat datang untuk belajar. Padahal tidak ada sertifikat
yang mereka dapatkan. Mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang bisa diterapkan di
kelas. Itu saja memuaskan hati mereka.
Beberapa tahun yang lalu (sekitar 2007) saya pernah punya pengalaman lain
dengan guru-guru PAUD di daerah Jakarta Utara. Annye, (saat itu) aktivis di
*Urban Poor Consorsium* *(UPC) *mengajak saya untuk *live in*, menginap di
rumah penduduk di perkampungan di Jakarta Utara. Saya tinggal di rumah
penduduk, seorang ibu yang juga guru PAUD. Suaminya adalah pelaut sehingga
hanya sesekali pulang. Dia sendiri mengurus kedua anaknya sambil menjadi
guru PAUD di sekitar sana.
Ibu tersebut mengajak saya masuk ke kampung-kampung sekitar. Di dalam
gang-gang sempit yang kadang pengap, nyaris tak bercaya, saya diajak masuk
ke rumah-rumah penduduk. Ternyata ada kegiatan persekolahan di sana. Bukan
hanya satu. Di masing-masing kampung ada sebuah PAUD tersendiri. Saya
menyaksikan ibu-ibu rumah tangga memegang jeruk memotong jeruk menjadi dua
dan mengajak anak-anak menggambarnya.
Di salah satu tempat yang saya kunjungi, baru saja ada penyemprotan anti
nyamuk demam berdarah. Dari sebuah PAUD (yang merupakan rumah penduduk),
anak-anak berhamburan keluar ketakutan melihat asap yang mengepul dan
membuat suasama menjadi gelap. Di dalam kecoak berterbangan ke mana-mana.
Hal ini biasa terjadi setiap selesai penyemprotan nyamuk. Bukan hanya
nyamuk yang takut dengan asap, kecoak juga. Begitu pula anak-anak yang
berlari ketakutan sambil menjerit-jerit.
Baik ibu-ibu rumah tangga maupun siswa-siswa SMU yang saya ceritakan di
atas bukan lulusan S1. Mereka secara rutin mengajar anak-anak yang tinggal
di sekitar mereka. Mereka mencoba melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Apa yang mereka tahu, mereka terapkan. Apa yang mereka bisa ajarkan, mereka
ajarkan. Mereka adalah orang-orang yang potensial, punya semangat belajar,
dan mau berkorban untuk sesama. Mereka bukan lulusan S1, tetapi kalau
mereka diberi kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas diri,
mereka akan melejit menjadi guru-guru yang lebih baik lagi.
Di tahun 2008 saya mengadakan penelitan ke daerah Carangpulang, Bogor.
Beberapa informan saya adalah guru PAUD di sekitar daerah sana. Mereka
bahkan tidak lulus SMU, tapi lulus SD. Tetapi itu bukan berarti mereka
tidak punya hati untuk belajar. Guru-guru yang saya wawancarai mau mencari
informasi dengan membaca, mengikuti pelatihan, belajar dari guru lain,
bertanya-tanya. Selain melakukan wawancara, saya juga pernah ikut
mengobservasi PAUD tempat mereka mengajar. Anak-anak begitu senang,
bernyanyi, mewarnai, bermain ke sawah, melihat sungai, dan lain-lain.
Kepala sekolah PAUD tersebut, Ibu Lisda Fauziah Harahap memang suportif
yang senantiasa mendorong para guru untuk belajar dan belajar lagi.
Kesempatan belajar ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para guru untuk
meningkatkan kualitas individu mereka. Kalau ada kesempatan, meskipun tanpa
gelar S1, mereka senang kok untuk belajar.
Desas-desus bahwa semua guru PAUD harus lulusan S1 cukup menggemparkan
mereka? Mereka bergerak secara mandiri, atas inisiatif sendiri, secara
non-formal. Kenapa tiba-tiba jadi diformalkan?
Guru-guru PAUD senang-senang saja kalau ada kesempatan untuk kuliah lagi,
tapi di mana? Berapa biayanya? Siapa yang membiayai? Kalapun ada beasiswa,
apakah semua guru PAUD bisa ikut serta? Bagaimana dengan guru yang masih
SMU atau hanya lulusan SD? Apakah mereka masih bisa mengajar? Pertanyaan
itu berkecamuk diantara guru-guru PAUD yang saya temui belakangan ini.
Tampaknya sebelum memastikan kebijakan bahwa guru-guru PAUD harus S1,
pemerintah harus secara seksama mempelajari konteks-konteks di mana
guru-guru PAUD bekerja. Mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan kapasitas guru-guru PAUD tanpa perlu meng-S1-kan mereka.
Sampai sekarang saja, akses mereka untuk meningkatkan kapasitas diri masih
sangat terbatas.* *Di banyak PAUD yang saya kunjungi, akses terhadap buku
anak yang berkualitas saja masih sangat minim, begitu juga bahan-bahan
terkait peningkatan kapasitas guru (PAUD), begitu juga dengan pelatihannya.
Di Sekolah Rumah Mentari, Carangpulang, Bandung ada kegiatan belajar
bersama untuk guru PAUD. Setiap Rabu saya memfasilitasi guru-guru PAUD di
sana. Kegiatannya sederhana, belajar bahasa Inggris, belajar lagu anak,
belajar membacakan cerita, bahkan kadang belajar membuat keterampilan dan
hiasan kertas. Pernah juga diadakan pemutaran film “Front of Class�
mengenai guru yang memiliki kebutuhan khusus yang mengajar sepenuh harinya.
Jumlah peserta bervariasi, pernah hanya 2 orang, pernah juga sampai 20
orang. Kalau mereka tidak bisa datang, tak jarang mereka meng-*sms* saya,
“Maaf *yah*, tadi lagi ada kegiatan di sekolah.� Guru-guru di sana tidak
mendapatkan sertifikat apapun tetapi mereka tetap bersemangat belajar.
Di Sekolah Rumah Mentari ada sebuah papan tulis. Papan tulis tersebut
sering digunakan untuk belajar oleh penduduk setempat. Kalau hari Minggu,
ada sekitar 60 anak-anak yang datang untuk belajar bersama di sana. Pada
suatu Rabu, saya temukan seorang guru PAUD sibuk mencatat padahal kegiatan
telah usai (waktu itu kegiatannya adalah menonton film).
“Mencatat apa Bu?� tanya saya penasaran.
“Oh itu ada catatan di papan tulis. Sepertinya bisa untuk mengajar.�
Di papan tulis ada sebuah lirik lagu. Tampaknya digunakan anak-anak untuk
belajar di hari Minggu sebelumnya. Belum dihapus. Hati saya tersentuh. Sisa
catatan semacam itu pun dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Betapa
semangatnya guru-guru PAUD ini dalam mencari ilmu.
Sebenarnya justru saya yang banyak belajar dari guru-guru PAUD yang saya
temuio Mereka punya cerita-cerita yang unik. Beberapa harus mengajar di
atas bukit. Kalau hujan dan becek, mereka harus tetap mendaki bukit untuk
belajar. Ada banyak permasalahan yang harus mereka hadapi.
“Yang penting kita terus datang untuk mengajar. Mau hujan ataupun tidak
harus tetap datang. Sekalinya guru sering absen siswa jadi malas belajar,�
kata seorang guru kepada saya.
Mereka sering bercerita mengenai kondisi di daerahnya, mencari solusi. Saya
sendiri pun tidak selalu tahu jawabannya.
“Kita sering dianggap remeh juga oleh beberapa guru lain (misalnya guru
TK). Untuk apa sih ada PAUD? *Kan* sudah ada TK? Kita kan sudah belajar di
PGTK? Karena itu kita pengen belajar, bagaimana sih caranya bisa mengajar
dengan lebih baik?�
“Di sini anak-anak kalau sudah bisa berkebun, *yah* putus sekolah. Mereka
memilih untuk menikah dan berkebun saja. Jangankan PAUD. SD atau SMP pun,
yang wajib belajar, mereka putus sekolah. �
“Kadang bingung juga menjelaskan pada orang tua. Orang tua berkata ‘kalau
hanya untuk bermain-main â€" mewarnai, menyanyi, menggambar, tidak usah
sekolah! Main-main bisa dikerjakan di rumah. Sekolah itu untuk belajar baca
tulis. Kalau tidak belajar baca tulis, lebih baik tidak usah sekolah.
Berkebun saja!�
Perasaan saya campur aduk mendengarkan cerita-cerita guru PAUD ini. Di satu
sisi, saya senang penduduk di sekitar PAUD tersebut masih mempertahankan
budaya berkebun. Anak kota seperti saya bahkan tidak terbiasa menanam dan
merawat tanaman baik berupa bumbu dapur, sayur, buah, apalagi seperti padi
dan jagung. Semua makanan sudah tersedia di pasar (atau swalayan). Saya
senang penduduk masih menghargai kegiatan bertanam seperti ini. Beberapa
murid saya, orang tuanya petani (penggarap) tetapi sudah mulai meninggalkan
tradisi bertanam. Yang penting sekolah dan belajar. Mereka ikut aliran *
mainstream.*
Di sisi yang lain, saya juga sedih karena pendidikan yang ada tidak bisa
mengakomodasi kebutuhan penduduk sekitar. Untuk apa belajar mewarnai? Untuk
apa belajar menggambar? Untuk apa belajar menyanyi? Kenapa harus sekolah
kalau tidak untuk belajar baca tulis? Untuk apa sekolah *toh* anak-anak
sudah bisa berkebun? Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Bukan hanya guru-guru PAUD, saya pun kebingungan untuk menjawabnya.
Bu Yunyun, Kepala Sekolah PAUD di Sarijadi, yang saya kunjungi hari ini,
punya cerita yang berbeda. “Guru-guru PAUD di sini, seringkali mengajar
hanya untuk mempersiapkan anak untuk masuk SD (calistung). Menurut saya
pendidikan di PAUD lebih daripada itu. Kita sedang menyiapkan anak-anak
untuk masa depan. Acara seminar dan workshop arahnya ke sana. Kegiatan di
PAUD bukan sekadar untuk menyiapkan anak masuk SD.�
Dia bersemangat menceritakan rencananya menyelenggarakan seminar dan *workshop
*untuk guru-guru di sekolahnya. “Kalau seminar dan *workshop* hanya untuk
guru sekolah ini yang jumlahnya hanya 8 orang, sayang juga, jadi saya
mengajak guru-guru lain di kecamatan ini. Kemarin kami diajak untuk
mengikuti pelatihan PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan
(setempat), biayanya mahal Rp 800.000,- jadi kita mencoba membuat pelatihan
sendiri saja.�**
Rencananya seminar tersebut akan dihadiri sekitar 100 orang guru. Saya
sendiri berencana membawa beberapa teman-teman saya Bu Melly Kiong, Bu Itje
Chodidjah, Pengurus IGI Jawa Barat, teman-teman di jaringan #twitedu Jawa
Barat, dan teman-teman lainnya untuk hadir di kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan semua bisa saling berjejaring untuk saling mendukung satu
sama lain. Sampai ketemu di Sarijadi pada 25 Februari 2012 mendatang
teman-teman!
[Non-text portions of this message have been removed]
--------------------- --------- ------
---------- http://groups.yahoo.com/ ----------group/cfbe
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/ group/cfbe/ messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups. com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups. com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups. com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups. com
----------------- cfbe@yahoogroups. com -----------------Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
- 2a.
-
Re: Project Based Learning
Posted by: "purwono@ar.itb.ac.id" purwono@ar.itb.ac.id
Mon Feb 6, 2012 8:41 am (PST)
Cak Satria,
Biasanya PBL itu dipakai untuk singkatan Problem Based Learning.
Proyek Based Learning dipraktekkan seperti di SKM, misalnya dengan membuat
mobil atau bagian dari mobil.
Di tempat saya mengajar selalu mengunakan proyek sebagai cara belajar,
tetapi tentu berbeda dengan yang anda maksud, yaitu di pendidikan dasar
dan menengah.
Salam,
EP
> Dear all,
> Saya memerlukan sebuah contoh PBL yg berhasil di sekolah. Apakah Anda
> punya contoh, dokumen, presentasi, dari Project Based Learning yg pernah
> Anda lakukan di sekolah Anda? Terima kasih sebelumnya.
>
> Salam
> Satria Dharma
> http://satriadharma.com/
>
>
- 3a.
-
Re: [keluargaunesa] Secarik Pidato Sambutan yang Tercecer di Halaman
Posted by: "A.A. Yudanarko" yudanarko@gmail.com zaydam25
Tue Feb 7, 2012 2:49 am (PST)
Ini baru calon menteri!
--
Salam,
A.A. Yudanarko
--------------------- ------
yudanarko.tk
kampungrobot.net
--------------------- -----
[Non-text portions of this message have been removed]
- 4.
-
Aroma Konspirasi & Korupsi Dana DAK Pendidikan Kabupaten Malang Rp.
Posted by: "Simpati MMS" simpati_mms@yahoo.com simpati_mms
Tue Feb 7, 2012 2:49 am (PST)
http://wartajawatimur.com/2012/ 01/jurnalhukum- aroma-konspirasi -korupsi. html
Malang,
LP (18/12) Hasil pantauan Lawang Post terhadap pelaksanaan lelang
pengadaan barang Dana Alokasi Khusus (DAK) dibeberapa daerah di Jawa
Timur, bahkan diseluruh Indonesia, menunjukkan banyaknya pengusaha yang
berminat acara lelang ini. Dapat dikatakan bahwa pengusaha yang berminat
dalam pelelangan pengadaan barang DAK ini jumlahnya bisa mencapai
puluhan perusahaan, sebagai contoh misalnya di Kabupaten Sumenep telah
mencapai 60 perusahaan. Demikian pula di Kabupaten Ngawi mencapai 49
peserta, di Kabupaten Magetan mencapai 68 peserta dan di Kota Yogyakarta
mencapai 67 peserta.
Akan
tetapi tidak demikian halnya yang terjadi di Kabupaten Malang. lelang
ulang Pengadaan Barang Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Malang
senilai 39,8 milyar kurang diminati pengusaha, hal ini dapat dilihat
dari hasil pelelangan 5 (lima) paket pengadaan yang dilaksanakan oleh
Dinas Pendidikan Kabupaten Malang ternyata hanya diminati oleh beberapa
perusahaan yang juga merupakan peserta lelang paket pekerjaan Jasa
Konstruksi.
Paket Pengadaan Meubelair Ruang Kelas Baru dengan HPS Rp.1.443.600.000,00 hanya diminati oleh 7 (tujuh) perusahaan, yaitu :
1. CV Surya Indah
2.
CV Rakyat Merdeka
3. CV Wedyakarya
4. CV Ayashovia
5. CV Karya Mandiri
6. CV Tunjang Langit
7. Panderman Dwi Jaya (pemenang lelang).
Paket Pengadaan Buku Pengayaan, Buku Referensi dan Buku Panduan Pendidik SMP/SMPLB dengan HPS Rp.13.027.215.400,00 hanya diminati oleh 7 (tujuh)
perusahaan yaitu :
1. Bakti Dwitunggal
2. CV Karya Mandiri
3. CV Sawunggaling
4. CV Kartika Fajar Utama
5. CV Adhijaya Sakti
6. CV Tunjang Langit
7. CV Adikersa (pemenang lelang).
Pakert Pengadaan Buku Pengayaan, Buku Referensi dan Buku Panduan Pendidik SD/SDLB dengan HPS Rp.9.500.000.000,00 hanya diminati 7 (tujuh) perusahaan,
yaitu :
1. Bakti Dwitunggal
2. CV Adikersa
3. CV Karya Mandiri
4. CV Kartika Fajar Utama
5. CV Adhijaya Sakti
6. CV Tunjang Langit
7. CV Sawunggaling (pemenang lelang)
Paket
Pengadaan Peralatan Pendidikan SMP (alat Lab Bahasa, alat Lab IPA, alat
peraga matematika, alat peraga IPS, alat olah raga dan alat kesenian)
dengan HPS Rp.7.500.000.000,00 hanya diminati 5 (lima) perusahaan, yaitu :
1. CV Sawunggaling
2. CV Kartika Fajar Utama
3. CV Adhijaya sakti
4. CV Tunjang Langit
5. CV Karya Mandiri (pemenang lelang).
Paket
Pengadaan Alat Peraga Pendidikan, Sarana Penunjang Pembelajaran dan
Sarana TIK Penunjang Perpustakaan Elektronik dan Multimedia Interaktif
Pembelajaran SD/SDLB dengan HPS Rp.8.445.400.000,00 hanya diminati 5 (lima) perusahaan, yaitu :
1. CV Karya Mandiri
2. CV Sawunggaling
3. CV Adhijaya Sakti
4. CV Tunjang Langit
5. CV Kartika Fajar Utama (pemenang lelang).
Dalam
pemantauan Lawang Post, pada lelang awal peserta lelang paket pengadaan
ini telah mencapai lebih dari 40 (empat puluh) perusahaan, namun pada
lelang ulang koq menurun menjadi tidak sampai 10 (sepuluh) perusahaan.
Apa yang menjadi latar belakang kejadian ini patut diselidiki dan
dipertanyakan kepada instansi terkait, mulai dari Panitia Pengadaan,
Kepala Dinas Pendidikan, LPSE Kabupaten Malang dan juga Bupati Malang.
Menurut
salah seorang tokoh pemerhati pendidikan yang aktif menyoroti masalah
pelaksanaan DAK Pendidikan di Kabupaten Malang, menurunnya jumlah
perusahaan yang berminat pada paket lelang ulang pengadaan barang ini
harus di-evaluasi lebih jauh untuk mencegah dan menghindari terjadinya
korupsi, kolusi
Dan
juga ada info,. bahwa saat beberapa paket lelang ini mulai diumumkan,
sampai saat pemasukan dokumen penawaran dan pengumuman pemenang, lpse
kabupaten Malang, sama sekali tidak bisa diakses selama lebih kurang 1
minggu. Maka ada harapan dari masyarakat agar ahli IT, bapenas dan
lembaga lain yang berkompeten untuk menyelidiki masalah ini. Karena
masalah ini sebenarnya bisa dilacak, apakah memang ada kesengajaan dari
pihak LPSE kabupaten Malang, sehingga akhirnya perusahaan tertentu saja
yang tahu pengumuman dan bahkan ada dugaan bahwa hanya jam tertentu saat
peserta yang memang diharapkan jadi pemenang dan peserta pendamping
memasukkan penawaran, akses baru dibuka, lalu setelah itu akses
dikecilkan lagi. Bahkan ada dugaan, bahwa peserta yang mendaftar dan
memasukkan penawaran dibantu up load di intern LPSE kabupaten malang.
Harapan
itu berdasar logika teknologi, karena tentunya jejak rekam akses LPSE
apakah ada kesengajaan saat mulai pengumuman lelang berlangsung sampai
dengan selesainya pekerjaan memang akses internet ke LPSE kabupaten
Malang dikecilkan, sehingga tidak bisa dibuka oleh masyarakat, dan baru
normal kembali setelah lelang selesai dilakukan.
Karena
infonya ada aroma, bahwa perusahaan perusahaan, yang tahu pengumuman,
yang yang bisa mendaftar dan yang bisa memasukkan penawaran adalah
dikelola oleh orang yang sama (bisa dilihat dalam tabel, bahwa
perusahaan peserta lelang dalam beberapa paket pekerjaan adalah perusahaan yang sama,
hanya pemenang dan peserta pendamping dari masing2 paket lelang
dibolak-balik). Apalagi ada aroma mencurigakan bahwa mulai pengumuman
lelang dan pelaksanaan dilakukan pada 2 minggu terakhir desember
2011menjelang liburan, dan pekerjaan diperkirakan akan selesai 2 minggu
kemudian, yakni akhir Desember tahun 2011.
[Non-text portions of this message have been removed]
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id
Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
No comments:
Post a Comment