Ada hal yang velum terwujud dalam hidupku, yaitu menulis utk di koran dan menulis buku. Mengapa saya tak punya nyali. Adakah saat yang akan datang untuk ini?
Saya memang bukan penulis sejak kecil. Tapi studi S3 telah merubah diriku. Telah banyak bukti bahwa saya bisa melakukan hal yang dulu pernah tak sanggup kulakukan, bahkan tulisan ku utk paper Internasioanl sudah lumayan karena lebih dari 3. Ya, kalau dipikir, ini adalah hasil kerja keras. Bahkan bbrp tulisan ku lolos tanpa revisi. Artinya apa, mengapa saya meragukan diriku. Bukankah bukti-bukti itu telah menunjukkan pada saya bahwa dengan upaya sungguh-sungguh saya bisa.
Pertanyaan yang penting sekarang harus dijawab, mengapa mau nulis di koran? Apa karena mau terkenal? Apa krn mau honor? Atau ada tujuan yang besar di balik itu?
Sebenarnya utk jadi terkenal, tidak juga. Terkenal malah bisa menyusahkan. Mau honor, nggak juga karena Alhamdulillah saya bersama keluarga cukuplah bisa hidup bahkan bisa berkontribusi utk org lain dengan uang yang ada. Saat kami pun sangat terbatas, kami tak pernah mengeluh, seharusnya apa lagi saat ini.
Lalu kenapa?
Saya kan galau, prihatin dengan situasi masyarakat, khususnya pemerintah. Nah, lewat tulisan kita dapat kesempatan utk berkontribusi. Ini adalah membuka peluang utk mengubah orang, dan siapa tahu dengan tulisan kita ada sejumlah pembaca yang mendapat pengaruh. Siapa yang tahu. Bisa anak sekolahan, bisa guru yang sedang lelah lalu bangkit lagi, bisa dosen, bisa anak yang di jalan yang tak punya sekolah, bisa pedagang yang di pasar yang lagi menjaga dagangannya, bisa Ibu rumah tangga yang membungkus belanjaannya dengan kertas koran yang berisi tulisan saya, atau bisa anak sekolah yang mencari bahan, bisa keluarga saya, bisa teman-teman.
Bisa bayangkan segala kemungkinan kan?
Apa saya tak cukup puas dengan FB atau blog? Seharusnya tidak, karena pengguna FB itu terbatas. Itu pun talk dijamin banyak yang membacanya karena mereka semua sibuk berbincang dengan teman dekatnya. Walau pun saya harus tetap rajin posting hal yang bermanfaat, semuanya ini menambah peluang untuk dibaca orang, walau tak ada jaminan banyak yang membaca.
Bagian 2:
Jadi jelas ya mengapa saya perlu menulis di koran. Jelas pula tulisan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat. Maksud saya, bahasa seperti apa yang seharusnya saya gunakan. Ada hal bagus pada diri saya antara lain bahwa tulisan saya itu jelas pesannya. Maksud saya hal bagus yang kadang-kadang saya lakukan adalah memperjelas apa tujuan saya, mengapa, dan ide utama apa yang ingin saya ajukan. Nah ini adalah modal bagi saya untuk mampu menjadi penulis yang baik.
Lantas mengapa tidak menulis di koran. Mengapa tidak berusaha? Mengapa tidak mencoba? .Mengapa tidak?
Entahlah, kemauan itu ada dan sering timbul tenggelam. Apakah saya perlu belajar dari seseorang? Apa saya perlu belajar teori, perlu training? Entah, karena sebenarnya walau banyak training tapi jika tak dilakukan, maka tetap sulit.
Pertanyaan lain, mengapa mau nulis buku? Untuk apa? Nah saya kira ini penting juga. Ada hal yang kadang muncul, sudah doktor, tapi kok tak punya satu pun buku. Ada sih, buku, tapu buku teks matematika bersama rombongan lain, buku yang dibuat dari tesis. Tapi buku yang dibangun dari nol, kok tak ada? Apakah saya kurang bahan utk saya sumbangkan pada pembaca.
Oke, buku apa sih yang kamu maksudkan? Buku yang bisa dibaca oleh mahasiswa. Hmm, bukankah mhasiswa butuh buku bagaimana strategi belajar, khususnya bila mereka mahasiswa baru. Saya kira ini penting banget. Bayangkan mahasiswa yang tak ngerti bagaimana mengatur waktu, berinteraksi dengan lingkungan baru. Bayangkan mahasiswa yang miskin, tapi dengan pinjam buku ini pada kawannya dan membacanya lantas mereka bangkit, lantas mereka berjuang keluar dari kemiskinannya. Banyak orang yang bertanya, bagaimana bisa studi ke luar negeri, bagaimana bisa sukses di luar, bagaimana membangun network. Terlalu banyak yang pantas dibagi.
Soal penelitian misalnya, banyak yang bingung sdg buku penelitian yang ada terlalu formal.
Atau bayangkan juga guru-guru di lapangan, yang ingin dapat ide tapi terbatas banget buku untuk itu. Bukankah saya dapat manfaat dari buku-buku yang saya baca. Jadi buku ini bisa mencapai banyak orang, bisa menjapai banyak generasi. Bayangkan buku-buku yang saya baca, banyak dari mereka telah tiada puluhan tahun lalu. Bgm kok saya bisa tahu atau dapat manfaat dari idenya, karena lewat buku. Jadi tunggu apa lagi? Mengapa tidak nulis buku untuk itu. Lagi-lagi nulis ini bukan utk cari uang. Kalau pun ada uangnya bisa saya manfaatkan utk pendidikan.
Part 3
Yah, saya harus punya cita-cita besar. Harus menghadirkan pembaca. Bukankah pendidikan di Indonesia carut marut. Bukankah saya bisa membangunya lewat tulisan. Istilahnya, gunakanlah segala kesempatan yang ada untuk membangunya. Tunggu apa lagi. Tak ada kata telat. Jadi saya harus target misalnya, saya ingin mendidik masyarakat tentang hal tertentu. Nah caranya bagaimana? Apa yang perlu saya didikkan. Saya kira terlalu banyak hal yang bisa dibagi ke mereka. Banyak ide di kepalaM Ada org bilang, banyaklah membaca. Saya kira saya tak perlu persiapan khusus utk membaca dan membaca lagi. Saya harus menentukan tujuan, lalu fokus ke situ, barulah saya membaca jika diperlukan.
Ok, saya lebih paham sekarang tapi bagaimana caranya. Maksud saya kapan waktunya? Saya akan banyak kerjaan lain? Saya kan sibuk?
Nah ini aasan yang sepertinya masuk akal. Mengapa? Seakan tak ada waktu utk itu. Hmmm, kok saya bisa nulis artikel, kok saya bisa nulis paper. Kan sibuk tapi kok bisa. Kok saya bisa nulis note yang kalau digabung itu sudah seratus halaman lebih. Nah, saya pernah baca, bahwa justru org sibuklkah itu yang justru menulis. Jadi jangan pakai alasan ini, buku-buku yang dirbitkan oleh banyak orang, mrk tuh sibuk banget dan bisa jauh lebih sibuk dari saya? Ayooooooo.
Satu hal lagi, seperti saat ini, saya kan nulis. Begitu mudahnya krn bantuan teknologi. Saya bisa nulis saat baru bangun tidur, saat di bis, saat dijalan. HP ini handy banget. Saya tak perlu nulis di kertas lalu ngetiknya. Bahkan ini lebih baik dari laptop, dengan 2 jari, saya bisa mengetik cukup besar. Jadi saat balik di Indonesia, mungkin saya bisa melakukannya di mana saja asalkan jela, apa yang saya mau tulis.
Dalam bahasa apa?
Nah kalau melihat kebutuhan, bhs Indonesia tentunya, katrena pembaca saya di sana. Pembaca yang banyak membutuhkannya adalah orang Indonesia. Kalau bhs Inggris, mungkin hanya alasan karir. Tapi ingat, karir bukan tujuan semata. Karir kita yakin akan tambah baik bila kita banyak berbuat baik.
Jadi tulislah buku. Kapan ya.
Berapa usia saya saat ini. Saya mungkin termasuk telat masuk dalam kancah tulis menulis, namun tak apa. Usia sekarang 41. Belum 45 kok. Belum 50 tahun. Masih mudah lah. Kalau Allah memberi usia 63 tahu, masih panjang kesempatan. Jangan tunggu pensiun seperti terpikirkan suatu waktu. Kalau bisa sekarang, jangan tunggu esok. Hmmm, bagus nih, jika hari ini bisa melakukan kebaikan, mengapa harus nunggu besok.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment