Ini perlu dipelajari sungguh-sungguh, khususnya kalau menghadapi orang yang juga tidak kalah cepat bicaranya.
Saya harus belajar menerapkan rumus menjadi pendengar yang baik.
Kalau perlu pakai stopwatch atau count down.
Harus belajar seni berbicara.
Suami saya sudah mengingatkan sejak dulu cara bicara yang teratur, tapi saya masih juga belum mampu.
Tapi terbukti juga mampu ketika saya mempersiapkan dengan baik cara bicara saya, sampai orang terkagum-kagum. Untung suami mau mengkritikku dan saya terbuka dengan kritikannya.
Ini serius deh, cara bicara saya perlu dibangun.
Harus tegur diri sendiri dan didik diri sendiri.
Saya harus belajar jadi pendengar yang baik dan juga cara menghadapi orang yang bicaranya banyak secara bijaksana.
Sebenarnya, saya bisa belajar dari suami saya karena cara bicaranya jauh sering lebih teratur dan punya argumen yang kuat.
Kalau saya, disamping terbalik-balik, saya terlalu cepat ngomong dan kurang terkontrol.
Terbukti, saat Eva transcribe pembicaraan saya, banyak deh yang tak jelas. Belum selesai satu ide, sudah lonact ke ide lainnya.
Gitu juga saat diskusi dengan JA, saya dengar bicaraku kok kurang teratur.
Hey, too much keterbatasan.
Ah perlu belajar. Ya Allah bantulah hamba.
Tapi suamiku juga tuh perlu refleksi diri khususnya kalau komplain dan kritisi situasi Indonesia melulu. Saya khawatir dia dicap orang karena gara-gara pernah keluar negeri yang situasinya lebih ideal. Padahal orang di luar negeri juga banyak yang suka mengeluh. Jadi intinya manusia itu kalau suka mengeluh, ini faktor pribadi dan ini sama sekali tidak produktif, karena hanya menguras energi. Kalau mereka ya kerjanya mengkritisi karena keahliannya, itu sih lain ceritanya, mereka kerjanya memang itu bahkan dibayar untuk itu.
Tapi ini pandangan pribadiku yang mungkin tidak tepat.
Saya tidak boleh dong memandang pandanganku yang benar karena tiap orang beda-beda pandanganya.
Simpulan dari renungan singkat ini, untuk mewujudkan keluarga mawaddah warahmah, saya perlu lebih membangun komunikasi yang lebih lembut, yang lebih kalem. Saya yakin suamiku juga akan begitu. Suamiku tak akan pernah keras bila saya lembut karena suamiku penyayang dan romantis. Secara umum komunikasi saya dan suami sudah bagus, tapi saya rasa, bisa ditingkatkan kualitasnya, biar bisa jadi wanita, yang komunikasi akademik OK dan komunikasi pribadi sebagai Ibu dan anak juga jauh lebih OK. Iya nggak.
Saya yakin kok, ini ada rumusnya.
Ya Allah, bimbinglah hamba sehingga komunikasi saya jauh lebih indah, lebih bermakna, lebih bermanfaat, mencerahkan. Dan mudah dipahami oleh pendengarnya.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment