Monday, 14 May 2012

Hakekat hidup

Renungan singkat:

Ketika kita berposisi sebagai orang tertindas atau sebutlah orang yang tak memiliki kuasa, tak memiliki suara, maka kita pun tak punya kuasa untuk membuat keputusan. Kita hanya menjalankan apa pun keputusan yang ada. Keputusan boleh jadi berpihak pada kebaikan kita, tapi juga bisa merugikan bahkan menimbulkan penderitaan pada diri kita.

Nah sebaliknya, ketika kita punya posisi, kita punya kuasa, yang artinya kita berpeluang membuat keputusan.
Tampaknya enak karena kita punya kuasa. Tapi sesungguhnya ini hal kritis. Mengapa? Karena kita harus mempertimbangkan banyak hal untuk pembuatan keputusan ini. Pertimbangan ini kadang-kadang tidak perlu dipertanggungjawabkan dalam hidup di dunia ini dan untungnya/celakanya akan memberi dampak positif/negatif.
Aha, pertimbangan pengambilan keputusan ini bisa karena kepentingan kebaikan banyak orang (tanpa pandang bulu), atau pertimbangan kepentingan pribadi (misal, berapa uang yang masuk di kantong saya dari keputusan ini, itu?), atau pertimbangan kepentingan keluarga atau kawan baik dan lain-lain (dengan alasan aji mumpung ...)

Inilah fenomena sosial. System akan terus berubah dan banyak sekali dipengaruhi oleh karakter pengambilan keputusan tadi dan dipengaruhi sejauh mana setiap individu punya kesempatan membuat keputusan.

Di sini pulalah peran penting pendidikan untuk melahirkan manusia yang punya kuasa membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Pendidikan itu hak setiap individu. Dia tak boleh mengenal latar belakang keluarga, misal miskin, kaya, turunan pejabat, turunan bangsawan.
Setiap individu telah diperlengkapi oleh Sang Maha Penciptanya, memiliki akal pikiran, memiliki penglihatan sekalipun di antara mereka ada yang buta, memiliki pendengaran sekalipun diantara manusia ada yang tuli, dan memiliki modal untuk mengekpresikan pikiran dan perasaan baik melalui gerak tubuh maupun dengan kata-kata.

Sayangnya, hal mendasar ini yang sering kabur bahkan tak tampak dalam pandangan mata kita, sehingga kadang-kadang kita berpersepsi, hanya orang kaya yang bisa menikmati pendidikan, hanya pejabat yang punya kekuasaan.

Jangan heran dengan fenomena sosial ini. Saya pun terlambat menyadari hal ini.
Saya sering hanya mengikuti arus kehidupan, seakan semua harus terjadi seperti itu saja. Persepsi terbatas saya tentang takdir membuat pandangan saya terbatas, sehingga seakan membawa saya pasrah: LAh sudah takdir hidup miskin", sudah "takdir orang itu mati kecelakaan motor", "sudah takdirnya dia di penjara karena melawan penguasa", "sudah takdir dia hamil di luar nikah"
Saya katakan pandangan takdir ini terbatas karena jika dicermati, seakan manusia ini diperlakukan tidak adil oleh Allah padahal bukankah Allah itu Maha Adil? Maha Pengasih? Maha Penyayang?
Bukankah Allah mengatakan bahwa kuciptakan Engkau sebagai khalifah di muka bumi ini dan Allah tahu menjadi khalifah itu tidak mudah. Maka Allah memperlengkapi kita dengan segala sesuatu.

Artinya apa?
Mari kita sejak sekarang bahwa sungguh kita pada saat diciptakan, kita otomatis diberi kesempatan yang sama untuk membuat keputusan dalam hidup kita.

Jangan katakan diri kita tak punya kuasa. Diri kita hanya obyek. Kita harus mendengar suara hati nurani kita.
Hati nurani ini adalah kuncinya.
Nah hati nurani ini harus bersih supaya kita mampu mendengarkannya dengan baik.
Untuk soal ini, saya pribadi mencermati penjelasan Buya Hamka:

Hati layaknya cermin.
Kita tak bisa melihat wajak kita kalau cermin itu kabur atau banyak kotoran, sama halnya, kita tak bisa mendengat bisikan hati nurani yang suci ketika hati kita kotor.

Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment