DR. Neville Alexander, Professor Jill adler dan Professor Hamzah Venkat.
Presentasi pertama mencerahkan dengan alasan:
1. Saya terkesan sekali pembukaan pembicaraanya bahwa bahwa kita semua hadir di sini, meskipun kita punya pandangan yg berbeda kita punya kesamaan bahwa kita mau negeri ini menjadi lebih demokratis, bahwa setiap orang punya kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang akan memberi dampak dalam kehidupan mereka. Mereka melihat dirinya punya kesempatan kerja yang luas dan kemampuan utk melakukannya.
2. Saya terkesan dengan kutipan dari seorang pakar linguistik dari Harvard University meski saya tidak bisa mengingat semuanya.
Bahwa anak menggunakan bahasanya ketika dia lapar, ketika dia mengekspresikan emosinya, ketika dia bicara mama papa.
Bahasa anak berbeda dengan bahasa orang dewasa sekitarnya, bahasa anak berbeda dengan bahasa yng digunakan guru dalam pengajarannya.
So what? Gimana anak bisa paham. Iya nggak
3. Sy terkesan dengan pernyataanya bahwa kita bisa membayangkan jika anak atau murid di sekolah diajar dengan bahasa yang mereka tidak pahami, ini merugikan baik dari aspek kognitif, jalan pikir anak, maupun aspek psikologis.
4. Dia kemudian menayangkan film dari berbagai guru suatu proses belajar mengajar dgn bahasa Inggris yang siswa jawab berbeda sekali dengan apa yang ditanyakan.
- dalam video itu juga tergambar siswa yang yang belajar dengan bahasa ibu mereka, tampak bersemangat, nyambung, interaktif dengan wajah yang juga begitu sempurna.
- video yang juga sangat menarik, di sekolah yg tampaknya semua kulit putih dengan bahasa Ibu mereka bahasa Inggris, didatangkan guru yang kelihatan begutu bagua dalam mengajar tapi pakai bahasa afrika lain. Terjadi banyak tanya jawab, tapi tampak lucu, karena tidak nyambung atau salah ucap.
Sejumlah mereka diwawancarai dan antara lain mengatakan, jk sy harus belajar dg bahasa tersebut maka saya akan pergi dari negara ini. Betapa sulit menjawab pertanyaan karena sy sulit sekali memahami maksud guru, dan juga mengesankan pengakuan seorang anak menyatakan sedih karena semua pelajaran dan buku diajarkan dalam bahasa Inggris, dan bagaimana nasib kawannya yg tdk ngerti bahasa tersebut, betapa sulitnya bagi mereka.
Juga sejumlah komentar guru antara lain:
Kesulitan mrk mengajarkan karena faktor bahasa, mereka tdk mengerti bahasa Inggris sedangkan semua pelajaran berbahasa Inggris.
Adalah tidak fair, kita diminta berbahasa Inggris karena kita diminta memahami mereka tetapi mereka tidak mau memahami kita. Ini tidak adil.
Jadi tampak jelaslah di sini pentingnya bahasa.
Hal lain, dikatakan bahwa tidak perlu kita membuktikan bahwa pengajaran terbaik menggunakan bahasa Ibu. Sudah terbukti, orang belanda mengajar dsg bahasa belanda, orang jepang mengajar sdg bahasa mereka dll, mereka sukse dan maju.
Penelitian pun telah menunjukkan bahwa investasi uang yang banyak utk belajar dengan bahasa kedua telah terbukti gagal.
Hal yg juga sangat mengesankan bagi saya adalah pernyataan bahwa ...m eh lupa tadi mau nulis apa.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment