From: Sitti Maesuri Patahuddin [mailto:s_maesuri@yahoo.com.au]
Sent: 19 July 2011 08:02 PM
To: Sitti Patahuddin
Subject:
Chapter ini ditulis oleh Prof Adler.
Tulisan lumayan tinggi tingkatannya bagi sy. Entah karena ini sesuatu
yang baru bagi sy atau ini lumayan abstrak karena pada tatanan teori.
Tapi biarlah sy mencoba memaknainya dan menantang diri saya dengan
sejumlah pertanyaan.
1. Pesan apa sih terpenting yang hendak disampaikan oleh penulis.
Biarlah sy menerkanya:
- dia mungkin mau mau mengatakan pengetahuan apa yang dipakai di
lapangan. Misal dari dua kasus yg dia tunjukkan, bahwa guru mengajarkan
prosedur yg baginya penting, misal karena berdasarkan butir tes yg
selalu muncul. Jadi misal dalam menggambar grafik persamaan linier,
tentukan saja koordinat titik potong sumbu x dan sumbu y. Pasti itu
benar, tanpa menjelaskan kok demikian ya.
Kasus yg cukup kontras yaitu mengedepankan pada pendekatan investigasi
yg membawa anak pada pekerjaan membuktikan.
Artinya, kedua guru tersebut membelajarkan siswa pada cara yang berbeda
dan keduanya membuka ksesempatan pada siswa secara berbeda dalam
memasuki dunia penalaran matematika.
Lalu apa hubungannya dengan istilah resources. Nah di sini salah satu
sumber pengetahuan penting adalah guru itu sendiri, pemahaman guru pada
matematika dan cara pengajarannya.
Nah apa sih hikmahnya bagi diri sy pribadi? Yaitu ketika kita bicara
dalam tataran pengajaran matematika, kuncinya ada pada guru sehingga
pandangan siswa ttg mat itu sendiri bisa beragam.
Apa yg sebenarnya terjadi pada mahasiswa PPL sy adalah, bahwa sering
sekali apa yang mereka pelajari di kampus tdk bisa diterapkan di PPL
karena mereka merasa metode yg paling mungkin adalah guru menjelaskan
dan siswa mengerjakan soal-soal yang ada. Apa hubungannya?
2. Coba saya lihat lagi
Dia berbicara textual resources dan digital resources.
Menjadi pertanyaan apakah textual res ini maksudnya non-digital?
Bagaimana dg text yg sifatnya digital.
Dia menjelaskan bahwa resource sebagai kata benda dan juga kata kerja.
Masuk di akal, kata benda yaitu sumber2 belajar tapi jika kata kerja
yaitu bekerja atau berinteraksi dg sumber2belajar, bagaimana dia
memahaminya dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi cara pengajaran
matematikanya.
3. Menurutnya apa yg menarik bagi Prof adalah:
- mat apa yg diajarkan dan bagaimana matematika diajarkan?
- pengetahuan profesional apa yg digunakan dan bagaimana penggunaannya
dalam pengajaran mat?
- dan bagaimana ini mempengaruhi jenis pembelajaran yg disiapkan oleh
guru tersebut?
4. Dia menjelaskan ttg sumber-sumber pengetahuan
Dia mulai menyajikan makna yg luas dari R., yang terdiri:
-Human resources
-material resources
- everyday resources (money)
Social and cultural resources
-theoretical resources
Namun yg menjadi perhatian utama di sini adalah:
- human resources, yakni guru itu sendiri, pengetahuan dasar yg ia
miliki dan yang yang dipraktekkannya.
Pernyataan yang menarik adalah:
Apa yang menjadi masalah pada pembelajaran dan pengajaran adalah bukan
hanya pada sumber2 apa yg tersedia, yang mana yg diambil guru dr sumber
yg ada, tetapi yang lebih signifikan dari itu adalah bagaimana berbagai
sumber itu dapat dan perlu tampak atau tak tampak. Tampak artinya bisa
dilihat atau tersedia sehingga mungkin utk digunakan. Tak tampak artinya
dilihat melalui obyek matematika yg dimaksudkan dari materi matematika
tertentu atau represenatsi verval).
Ini perlu sy tanyakan pada Prof, maksudnya sebenarnya apa.
Saya setuju bahwa yg penting bukan hanya tersedianya sumber2 belajar,
bukan hanya pada apa yg digunakan guru, tetapi untuk siswa dapat
mengakses matematika, mempelajari matematika maka yg sangat perlu
bagaimana semua resources itu tampak bagi anak, bisa diakses oleh anak,
atau tidak tampak tapi tetap bisa diakses oleh anak.
Mungkin secara konkrit adalah, bukan hanya tersedia sumber itu, tapi
bagaimana kejelasan sumber itu. Artinya juga bukan hanya guru perlu
hadir di kelas sehingga bisa ditanyai oleh siswa, bisa digunakan
membantu siswa, tetapi juga guru itu perlu paham tentang apa yg
sesungguhnya perlu dipahami oleh siswa itu. Obyek matematika yg perlu
bagi siswa.
Ada teori Bernstein yg baru bagi saya. Menurut Prof, implikasinya adalah
pengetahuan matematika dibentuk oleh institusi sekolah, kurikulum, dan
oleh aktifitas pengajarn di dalamnya. Konsekuensinya diperlukan suatu
matode atau cara melihat pengetahuan yg digunakan dl pengajaran.
Ada pernyataan yang sangat menarik bahwa pedagogik discourse berproses
melalui pedagogic judgement.
Artinya ketika guru dan siswa berinteraksi ada sesuatu pesan/obyek yg
tersampaikan dan ketika ada masalah berkaitan obyek tersebut maka cara
penyelesaiannya didemonstrasikan. Ketika guru menyiapkan kesempatan utk
terlibat mempelajari obyek itu, maka pada setiap langkah guru2 tsb
membuat keputusan bagaimana meresponsiswa, apa yg ditawarkan berikutnya,
atau apa langkah berikut, berapa lama ini dibicarakan dan seterusnya.
Menurut Davis, semua pedagigic judment itu menyampaikan kriteria tentang
apa yg dimaksud matematika.
Misal saja: siswa mengatakan. Utk menyelesaikan itu pindahkan semua suku
sg variabel x ke kiri dan konstantanya ke kana. Ada guru yg menyatakan
itu cukup, ada yg tidak.
Apa yg dimaksud valid tdk pernah netral.
Dia juga menjelaskan 4 domain of knowledge. Ini sangat penting karena
ini kemudian yg digunakan dalam menjelaskan dua kasus itu.
Aha, pebelajaran berharga di sini adalah bahwa Prof hanya memuat sedikit
data penelitian utk menjelaskan teorinya.
Juga menarik karena dari sejumlah besar kerjaan itu, maka ada bagian yg
menjadi latar belakang dan fokus, namun mampu memberi kejelasan ttg
kedalaman penelitian, dan disini fungsi dari footnote tersebut.
Ok, kembali ke laptop.
Tampaknya sy perlu cari dan tahu lebih banyak ttg pedagogic discourse
oleh Basil Bernstein.
Nah ada 4 domain of knowledge:
1. Math k
2. Everyday k
3. Professional k
4. Curriculum k
Math knowledge:
* math object has properties, math actv follow convention
* procedural knowledge, actv-rehearsing
* math justification can be empirical
* math just involve generalasation and proving.
Domain kedua pengetahuan/praktek sehari2 yg belum tentu sesuai dg konsep
mat.
Domain ketiga, teacher's own professional knowledge/experiencial
knowledge
Curriculum knowledge.
Satu pernyataan dalam penutup,
Jika kita ingin memperbaiki pendidikan guru mat, kita perlu memahami
makna potensial yg dibuka atau ditutup dalam konteks sekolah.
Perlu paham bagaimana yg dipelajari di PT berhubungan dg apa yg
dipelajari di sekolah.
Ini juga bermanfaat bagi kita penyedia PD tentang kesesuaian intervensi
yg kita berikan pada para guru.
Sent from my BlackBerry(r) wireless device
<html><p><font face = "verdana" size = "0.8" color = "navy">This communication is intended for the addressee only. It is confidential. If you have received this communication in error, please notify us immediately and destroy the original message. You may not copy or disseminate this communication without the permission of the University. Only authorized signatories are competent to enter into agreements on behalf of the University and recipients are thus advised that the content of this message may not be legally binding on the University and may contain the personal views and opinions of the author, which are not necessarily the views and opinions of The University of the Witwatersrand, Johannesburg. All agreements between the University and outsiders are subject to South African Law unless the University agrees in writing to the contrary.</font></p></html>
No comments:
Post a Comment