Friday, 22 July 2011

Draft 1: Pelatihan Guru bisa tak berarti apa-apa

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bisa tak berarti apa-apa karena program ini tidak memenuhi kriteria program pengembangn guru yang efektif antara lain (1) tidak kolaboratif, (2) tidak berorientasi pada kepentingan siswa, (3) tidak cukup untuk memperdalam materi ajar dan cara pengajaran secara tepat.

 

PLPG adalah salah satu program pemerintah yang digariskan harus dapat memberikan jaminan terpenuhinya standar kompetensi guru (1) pedagogik, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) sosial (sumber buku pedoman PLPG 2011). Pada tahun ini, sebanyak hampir 300.000 guru ditargetkan mengikuti PLPG dan kuota terbanyak adalah Jawa Timur yaitu 45.487 guru.

Terlepas dari segudang permasalahan PLPG sebagai akibat kelemahan pengelolaan, guru-guru yang lolos diundang mengikuti pelatihan 90 jam. Biasanya ini dilaksanakan selama 2 minggu dengan pelaksanaan pelatihan pagi hingga sore hari. Mereka mendapat beberapa materi berbeda yang biasanya dengan nara sumber berbeda setiap harinya. Pelatih PLPG pun telah ditetapkan dalam pedoman PLPG dengan syarat utama adalah dosen. Ini berarti, guru-guru yang mungkin jauh lebih berpengalaman dari dosen pun tidak punya hak untuk menjadi pelatih PLPG yang honornya lumayan menggiurkan bagi seorang PNS.

Berdasarkan pedoman sertifikasi, penyelenggaraan PLPG diakhiri dengan ujian meliputi ujian tulis dan ujian kinerja (praktik mengajar). Ujian tulis untuk mengungkap kompetensi profesional, sedangkan ujian kinerja untuk mengungkap kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Keempat kompetensi ini juga diharapkan dinilai selama proses pelatihan berlangsung.

Berdasarkan aturan tersebut, dapat dibayangkan bahwa peserta PLPG yang mungkin sudah berusia dan tidak selalu dalam kondisi prima, mendapat berbagai tugas yang menuntut mereka kerja lembur. Mungkin untuk setiap pelaksana PLPG tidak seragam, tetapi sebagai contoh Rayon Unesa mewajibkan guru menyiapkan Rencana Pelajaran yang dilengkapi dengan perangkatnya (misalnya media, lembar kerja siswa, lembar evaluasi, dan lain-lain) sebanyak tiga dan akan melakukan peer teaching atau praktek mengajar di depan guru-guru lain yang mungkin agak panik menunggu giliran tetapi terpaksa harus berpura-pura menjadi siswa. Situasi lebih berefek pada kepanikan, kekhawatiran, dan bukan belajar secara lebih menyenangkan.

Pertanyaan serius: Mengapa pelaksanaan PLPG ini tidak efektif?

Program Pengembangan Guru harus kolaboratif

Situasi di atas tidak mencerminkan kolaborasi karena dosen selaku nara sumber dan asesor sedangkan guru sebagai obyek yang dinilai. Meskipun terdapat dosen yang bersikap kolaboratif dan berusaha memberi masukan secara santun, namun bobot kolaborasi tetap kurang memadai. Kolaborasi seharusnya semacam kontrak untuk mencapai suatu tujuan bersama, berkolaborasi untuk benar-benar mengkaji permasalahan nyata hingga merumuskan rencana-rencana strategis untuk menyelesaikan masalah, kemudian dilaksanakan untuk tujuan dan kemanfaatan bersama.

Namun apa yang terjadi, tidak jarang kita mendengar ketegangan guru dan kepanikan, apalagi dalam waktu singkat, mereka mendengarkan model-model pelajaran yang belum pernah didengarkan sebelumnya, cara-cara penilaian siswa yang tidak sederhana dan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya di lapangan (misalnya penilaian yang berorientasi pada UNAS). Mereka pun dituntut mengemas teori-teori yang telah diajarkannya dalam suatu perangkat atau rancangan pembelajaran. Rancangan ini pun harus didemonstrasikan di depan guru-guru lainnya dan akan dinilai oleh dosen. Di mana letak kolaborasi di sini, jika dosen datang layaknya sebagai orang yang lebih pakar dalam pengajaran bidang tertentu, sedangkan guru datang sebagai obyek yang akan dinilai dan ditentukan nasib kelulusannya? Apakah ada jaminan si dosen tersebut bisa mengajar secara lebih baik sedangkan cara pengajaran dosen tersebut belum tentu pernah dievaluasi?

Program Pengembangan Guru harus berorientasi pada siswa (student-oriented)

Cita-cita dasar meningkatkan kualitas guru adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di kelas. Artinya, permasalahan pembelajaran yang dialami siswa seharusnya diatasi. Permasalahan ini bisa bermacam-macam antara lain kesulitan materi misalnya matematika, permasalahan motivasi belajar yang rendah, masalah malasnya siswa mengerjakan PR, atau masalah kesulitan guru mengajarkan materi sehingga anak pun sulit memahaminya. Masalah tersebut perlu dikaji secara bersama dan informasi dari guru sangat berarti bagi dosen. Guru perlu dibantu mengidentifikasi letak permasalahannya, merefleksi segala tindakan yang telah diambilnya, dan secara bersama-sama mencari solusi. Solusi itu pun di kaji dan indikator perubahan kinerja siswa akan menjadi salah tau ukuran pokok keberhasilan.

Dalam PLPG, para guru datang dengan permasalahan yang berbeda, dengan kondisi kelas, siswa dan sekolah yang juga berbeda-beda. Guru yang hanya dilatih dengan suatu metode baru dan telah tampil mengajar di hadapan teman-temannya dan telah mendapatkan kritik (semoga bukan kiritikan pedas!), mereka akan pulang di sekolahnya tanpa membawa perubahan dan dampak pada siswa-siswanya. Tidak jarang siswa bahkan menjadi korban karena telah ditinggalkan oleh gurunya mengikuti PLPG dan lebih celaka lagi ketika banyak guru dari sekolah tersebut mengikuti PLPG dan waktu bersamaan.

Program pengembangan guru untuk memantapkan materi ajar dan pengajarannya

Bukan rahasia, akibat latar belakang studi guru, atau perkembangan pembelajaran dan teknologi, guru harus mengajarkan sesuatu yang belum dia kuasai. Mereka pun dituntut mengajar dengan cara yang berbeda dari apa yang pernah dialaminya (misalnya, dahulunya dia lebih banyak dikuliahi/diceramahi).

Sebagai contoh di matematika, tidak jarang dosen mengeluhkan kelemahan matematika yang dimiliki oleh para guru hingga mereka ragu apakah guru ini layak lulus! Sebaliknya, tidak jarang pula mendengar komentar peserta bahwa dosen mengajarkan model-model pengajaran inovatif dengan cara tidak inovatif. Semua ini memberi keraguan bahwa proses belajar terjadi secara optimal.

Belajar atau memahami sesuatu memerlukan suasana hati menyenangkan, diperlukan waktu yang tidak singkat, dan metode yang mengakomodasi kemampuan peserta yang berbeda-beda. Artinya pengajaran secara seragam tidak dapat membantu guru tersebut belajar. Belajar akan efektif jika dia mempelajari yang dia butuhkan. Belajar dalam kondisi yang lelah yang sangat intensif bisa tidak menghasilkan apa-apa. Memberikan kuliah tentang materi matematika di PLPG dalam waktu singkat bukan hal yang tepat bagi guru tersebut.

Tidak adanya ketiga karakteristik tersebut, maka PLPG yang menghabiskan anggaran yang cukup besar bisa saja hanya menjadi program yang berbasik proyek yang hanya hadir atas dasar keputusan politik yang berkaitan dengan penggunaan anggaran dana pendidikan secara tidak efisien.

Jika pemerintah serius mau meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui peningkatan mutu gurunya, pelaksanaan PLPG ini seharusnya diikuti penelitian dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan ke publik. Sejauh mana efektivitas pelaksanaan PLPG? Sejauh mana pembelajaran PLPG berdampak pada kinerja guru, dan berdampak pada kualitas pembelajaran dan kinerja siswa? Bagaimana guru-guru tersebut mentransformasi pengetahuan mereka dalam kelas nyata? dan lain-lain.

Jika ini hanya dilaksanakan sebagai rutinitas penggunaaan anggaran negara tanpa evalusi yang jelas dan transparan, PLPG tidak memberi harapan utk perbaikan kualitas guru, tidak memberi harapan perbaikan pendidikan Indonesia. PLPG mungkin ada manfaat tetapi dibandingkan dengan biaya yg besar, ini bisa tidak berarti apa-apa. Jika ini mau efektif maka perlu program PD dimana sifatnya kolaboratif, para dosen menjadi lebih profesional karena belajar di lapangan demikian juga guru. (1039 kata)

 

No comments:

Post a Comment