Monday, 11 June 2012

Baca Anna Sfard

* tujuan kegiatan matematika adalah menghasilkan narasi yang bisa disetujui atau dilabel sebagai sesuatu yang benar dan akhirnya dikenal sebagai "math fact"

* Kata narasi ini digunakan utk menandai sebarang urutan ucapan (dalam bentuk oral maupun tertulis), dimaksudkan sebagai deskripsi dari obyek, hubungan antara obyek, aktivitas dengan atau oleh obyek.

Apa maksudnya oleh obyek (JA)

Kalau begitu, kita harus menangkap obyek matematika dan mencermati kata-kata apa yang berkaitan dgn obyek itu (yang datang dari guru atau pun siswa).

Dalam discourse matematika sehari-hari, narasi ini sering didukung dengan bukti empiris. Misal kesamaan 2+2=4 ditunjukan dengan dua benda konkrit di gabung dengan dua benda konkrit lainnya dan setelah dihitung keseluruhannya ada empat.

Nah dalam tingkat yang lebih tinggi, suatu narasi dapat diterima kebenarannya (endorsable), bila dapat diturunkan atau ditunjukkan menggunakan narasi yang lain yang telah diterima kebenarannya, misal aksioma, definisi, atau teorema.

Nah persoalan dalam T1, menggunakan definisi. Bila definisi itu benar, tapi penyajiannya yang bermasalah, yang didasari dengan maksud baik, pertimbangan yang hati-hati, lantas apa jadinya.

Dalam T2, dia menggunakan narasi yang kelihatannya berlaku umum, menjadi bahasa yang diterima, namun dipersepsi secara berbeda, maka itu yang terjadi.

Demikian dalam kasus T3, dia sebenarnya menarasikan hukum atau teorema yang benar, namun mungkin sulit diterima oleh siswa.

Curhat Prof.

Hi Prof,
Let me say.
Based on my personal experiences, I will say that the writing by Anna Sfard is difficult. In this information era, where information is everywhere, is quick, I myself will embrace the easier but helpful things in my life.
Please convince me if this is a good thing to proceed.
It is not only that Anna Sfard has her own communication/vocabs (sometimes not available in dictionaries), but I could see how detail analysis. I am not sure if it is affordable. I even found easier to read Otte's writing (no need to open dictionary/to back so often).
Compare also with other math educators (Ball, Runesson, Mason, Borko, Paul Cobb etc.). Their ideas may be easier to accept.

If, our analysis or our writing require people to understand Anna Sfard, I worried it make difficult for "normal people" or novice to understand.

If one day, you want to write another book, please do not make as difficult as Anna Sfard.

Apakah ini seperti matematika? Di mana saya kadang-kadang atau sering butuh waktu memahaminya. Saya lakukan berbagai cara, misal mencatatnya, mengulang-ulanginya, mendiskusikannya.

Mengajar matematika itu salah satu bentuk bercerita. Nah, cerita kan biasa kita sebut narasi. Narasi ini bisa dalam bentuk ucapan dan bisa dalam bentuk kata-kata tertulis. Namanya cerita, ada awal dan ada akhir. Namanya cerita, ada sesuatu tujuan yang hendak disampaikan. Di sini ada obyek matematika yang ingin diceritakan. Persoalannya adalah siapa yang mempengaruhi kebenaran cerita itu. Yang terjadi di kelas, yang punya power adalah guru, dan guru biasanya berpengaruh sekali dalam memutuskan atau memikirkan benar-tidaknya sesuatu itu. Maka kadang-kadang cerita itu salah tapi karena guru yang bercerita, maka dianggaplah benar. Kebenaran ini akan dibawa oleh siswa dan akan mempengaruhi proses belajar berikutnya.

Ada data yang menarik. Seorang siswa ditanya berapa 7935 + 96. Anak itu lantas diam dan berpikir lalu bilang 8031 (ini jawaban benar).
Dia lalu ditanya:
Dari mana kamu dapat jawaban ini?

Begini, ini agak susah. Jadi saya cari akal. Saya buat 7996 (maksudnya dia tukar 35 dengan 96).

Jadi saya hitung 7996 dan 35. Nah saya terus ambil 5 dari 35 itu sehingga jadi 8000. Setelah itu saya tambahkan dengan yang tersisa yaitu 31, maka hasilnya 8031.

Anak itu lalu diminta coba kamu tulis cara menghitungnya.
Dia tulis dua bilangan itu secara bersusun tapi susunannya tidak tepat, 96 diletakkan di bawah ribuan dan hasilnya: 17535

Dari kedua itu, yang mana yang benar.
Lihat katanya, caraku itu sulit, dan ini cara dari guru saya. Maka yang benar, pastilah guruku.
Saya pikir, yang berbahaya adalah apabila guru membangun budaya, hanya menekankan benar atau salah, hanya memperhatikan benar atau salah.
Ketika dia mengajukan pertanyaan, bila anak menjawab salah, dihiraukan, bila anak menjawab benar, lalu dibenarkan dan ditutup percakapan itu, lalu lanjut dengan pembicaraan lain. Ini bisa berbahaya. Karena akan mempengaruhi anak, mencoba memberi jawaban dengan titik berat pada pertimbangan guru, guru membenarkan atau menyalahkan. Padahal jalan pikir guru saja belum tentu benar. Guru perlu bergeser menunjukkan rasa penasaran, menunjukkan bahwa dia adalah pendengar yang baik, ingin mendengarkan jalan pikir anaknya, akan menghargai anaknya, bukan semata salah atau benar, tapi ingin tahu jalan pikirannya.

Budaya kelas yang juga berbahaya adalah budaya kacau, siswa satu di minta bicara, siswa lain juga bicara. Siswa masih bicara, guru juga bicara.

Budaya yang lain, pokoknya guru bicara, anak hanya duduk mendengar, seakan guru berasumsi apa yang dibicarakannya, di dengar oleh anaknya, dimengerti dan bicaranya baru selesai saat bell bunyi. Siswa pun lega, rasanya ingin segera bubar. Hati lega. Atau pelajaran berakhir dengan rasa kecewa karena adanya PR, sedang tugas yang diberikan itu sulit.
Itulah fenomena pengajaran yang kadang-kadang terjadi.
So what?
Mau cerita apa lagi?
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment