Sunday, 29 January 2012

Usul boleh-boleh saja tapiiiiiiii

Dalam hidup ini, kita tentu boleh mengajukan usul. Tapi usul itu kadang diterima dan kadang ditolak. Itulah fenomena hidup. Lantas bagaimana?

Mengusulkan sesuatu memang beresiko. Bisa memunculkan persepsi yang boleh jadi positif tapi boleh jadi negatif. Tergantung bijak tidaknya yang mendengar usul kita.
Namun kita yang mengusulkan harus berpikir positiflah dan tidak perlu risau.
Mengapa?
Karena ada yang Maha Hebat, Yang Maha Tahu, Yang Maha Adil.
Dialah yang paling tahu dan Dia tak pernah lalai dalam menilai.
Dia pasti menilai kebaikan kita atau niat positif kita.

Sebenarnya yang patut juga dicermati adalah, penolakan itu bisa bersifat positif loh. Penolakan bisa didasari pada pemikiran yang logis, rasional. Pemikiran yang sangat bermanfaat untuk diri kita.

So what?
Yah kadang-kadang dalam hidup ini, kita melakukan sesuatu untuk kepuasan diri, kepuasan hati nurani, kebahagiaan. Tapi sudah kodrat kok, bahwa tidak semua keinginan itu dapat tercapai.

Apa sih sebenarnya yang paling urgen bagi diri pribadi saya.
Sebenarnya peningkatan kualitas hidup.
Contoh yang jelas, kemarin saat ke shopping center, saya membeli sesuatu, yang saya kira tak urgen. Nah hal seperti ini yang patut dihindari. Saya harus memikirkan bahwa jika saya hemat utk diri saya, saya bisa lebih banyak berbuat utk orang miskin.

Okelah, keluarga saya masih bisa hidup dengan layak, makan yang cukup, tempat tinggal yang bagus. Tapi, kan banyak sekali orang di luar sana, entah keluarga atau bukan keluarga yang miskin papa, yang makan saja tak ada. Nah, ini loh, saya harus mikir semua itu.

Bahkan, pergi ke tanah suci, mungkin walau kita mampu, masih lebih urgen barangkali untuk memberi makan orang miskin, yatim piatu.

Kepedulian sosial ini yang perlu ditingkatkan. Saya dalam usia 41 tahun ini, sudah saatnya hidup yang jauh lebih sederhana.
Pemikiran bahwa: dulu saya tak punya, dulu saya tak mampu, sekarang saatnya saya menikmati. Saya kira, pemikiran ini sangat TIDAK produktif.

Pleaaaaase, saatnya, saya hidup jauh lebih sederhana, terhindar dari sifat konsumtif. Okelah, saya harus dan harus berjuang menjadi manusia yang lebih sederhana, selalu menghadirkan bahwa di luar sana, banyak orang yang butuh. Dan saya perlu berbuat.
Untuk apa hidup ini. Hidup ini hanya sementara.

Saya kira, saya bisa demikian. Saya bukanlah wanita yang materialistis, yang terlalu perhitungan. Saya sdh menyaksikan kok banyak wanita yang begitu perhitungan, saya Insya Allah tidak. Semoga tidak. Nah, potensi itu sangat posaitif.
Saya ingat tetangga, yang cerewet banget loh pada suaminya, suaminya dimarahi seperti apa karena memecahkan lampu. Padahal suaminya itu, tiap hari bergumul dengan lumpur di empang tapi mungkin wanita itu terlalu merasa diri hebat karena seorang guru SD.

Ada juga, wanita, yang Allah minta ampun kikirnya pada keluarga suaminya, padahal masya Allah suaminya sangat baik, termasuk sangat baik sekali pada keluarga istrinya. Saya menyaksikan dengan nyata, bahkan wanita itu jauh lebih baik pada saya dari pada keluarga suaminya.
Insya Allah, semoga Allah melindungi saya dari sifat yang buruk tersaebut. Insya Allah jika hati kita dekat pada Allah, Allah akan melindungi kita.

Dulu, bagus tuh, saya niatkan setiap dapat uang, sekian persen saya transfer ke ortu (4 orang). Itu keputusan pribadi saya. Ini dilandasi dengan niat baik. Tapi perlu ditingkatkan mungkin.
Jadi saya perlu berefleksi selalu.

Ok, saya perlu juga menyadarkan diri ya, bahwa berbuat itu tidak harus dengan uang. Memberi uang bahkan bisa berakibat buruk jika pemanfaatannya atau prosedurnya salah.

Yang paling utama adalah mengempower orang loh. Artinya saya bisa berkontribusi tenaga, pikiran, waktu. Ini juga mahal sebenarnya. Nah kalau soal uang, kita bisa asal yang tepatlah caranya. Asal bisa berakibat produktif.

Teringat Kaeng almarhum. Beliau contoh yang sangat baik loh. Seingat saya beliau itu pemurah, tapi seingat saya, beliau tak pernah sekalipun memberikan saya uang. Tapi kebaikannya luar biasa. Beliau mencoba membuka jalan pada kami utk sekolah. Saya pernah tinggal di rmhnya, saya layaknya seperti pembantu. Bangun sebelum subuh, bersih rumah, bantuin di dapur dan lain-lain. Tapi bukankah itu proses pendidikan. Saya belajar dari proses itu.

Menarik, Tapi ada tetangga yang sangat miskin, sehingga dia bilang tak bisa masuk SMA. Tak ada uang. Tapi entahlah, setelah bertemu dengan Om, dia sekolah. Entah apa SPPnya dibayarkan? Kok bisa. Tapi kan Om tak pernah bilang kalau dia telah membantunya. Orang itu kini sdh berkeluarga, sdh sarjana dan punya pekerjaan yang bagus.

Hal inilah yang paling penting yang patut saya contoh.
Ok, saya usul tadi sesuatu pada seseorang. Saya bermaksud berbuat baik. Saya bermaksud membahagiakan orang yang terlalu spesial bagi saya. Tapi usul tak diterima. Jalan sendiri bukan hal yang baik. Takutnya kebaikan bisa berakibat keburukan. Jadi tak ada daya. Kembalikan pada-Nya. Banyak kesempatan untuk berbuat baik dalam bentuk lain. Allah Maha Tahu. Saya tdk mau egois karena saya mau hidup bahagia dan membahagiakan, dan dibahagiakan.
Jangan sakit hati. Jangan sedih. Boleh jadi hal baik bagi saya, tapi sebenarnya buruk. Allah kan Maha Tahu. Allah kan Maha Bijak.
Semoga Allah memberikan kesempatan banyak pada saya untuk berbuat hal-hal yang baik dunia akhirat.

Tak usah lagi bicarakan hal tadi, untuk menghindari hal buruk. Saya kembalikan pada Allah. Kita hanya bisa usaha, Tuhan jualah yang menentukan. Kita hanya bisa merencanakan, Allahlah yang menentukan.
Semoga hari-hariku di sini dalam lindunganNya. Semoga Allah terus melimpahkan rejeki halal pada keluarga kami dan semoga rejeki itu berberkah, dan mengantar kami berbuat kebaikan dunia akhirat.

Jangan khawatir, sekali lagi jangan khawatir. Allah Maha Mengetahui segala hal. Berhentilah bersedih. Jangan kecewa. Ingat pesan-pesan pribadi di atas. Itu sangat penting.
Berpikir positif, bahwa usul ditolak demi kebaikan diri. Ingat juga, kalau kita mempercayakan sesuatu pada seseorang, maka percayailah. Sepanjang kita masih percaya, maka berilah kepercayaan. Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Amiiiiiiin.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment