Tuesday, 24 January 2012

Apa yang saya pikirkan

Hari ini, apa yang saya kerjakan.
pertama, saya mengedit paper untuk MERGA. Ada beberapa hal yang memerlukan perhatian, khususnya bagaimana supaya menjadi maksimal 8 hal dan mengupdate isinya, serta memberi latar belakang tentang apa yang saya temukan dalam penelitian saya.

Kedua, Alhamdulillah, saya bersama Pat pergi ke Pick and Pay. Di sepanjang jalan kita bicara ttg produk market di mana China sangat pintar membuat barang tiruan, yang celakanya kualitas rendah sehingga banyak menghasilkan sampah.

Ketiga, saya coba baca tulisan mahasiswa S3, menarik pengantarnya karena topik ini di pilih sebagai akibat kesulitannya mengajar matematika di SMA menggunakan teknologi meskipun dirinya merasa kompeten dan percaya diri pada penggunaan teknologi.

Tulisan ini lumayan menarik, tapi saetelah membacanya agak lama, menjadi kurang menarik saking banyaknya referensi yang dia muat. Ini ngomng itu dan ini dan seterusnya. Ini memang membawa orang melihat bahwa dia telah banyak membaca referensi, tapi selanjutnya kita sebenarnya ingin memakani secara mendalam. Saya tidak merasakan pencerahan dari membaca tulisan ini.

Keempat, karena rasa bosan saya menonton video yang saya download dari TED. Ini yang amat menarik bagi saya, membawa pencerahan dan menginspirasi atau membawa saya berpikir lebih jauh.
Apa yang menarik dari video ini atau mengapa video ini menarik bagi saya.

* video ini bicara soal kenyataan antara lain bahwa persekolahan tidak membawa manusia mengenali potensinya. Dia katakan bahwa bukan SDA kita saja yang kritis dan perlu penangan tapi juga SDM. Pendidikan kita tidak saja memerlukan transformasi tetapi revolusi.

** video ini menjelaskan bahwa ada dua tipe manusia, yaitu melakukan sesuatu dalam hidupnya tanpa menikmatinya. Sedangkan yang kedua dia menikmati dan menyukai apa yang disenanginya. Sayangnya jenis manusia kedua jauh lebih sedikit. Ahh ini mengingatkan saya berjumpa dengan sejumlah orang yang pergi kuliah, bukan karena senang belajar, tetapi hanya sekedar ingin meNndapatkan ijasah. Walau dia tidak senang dengan lingkungan perguruan tinggi yang diikutinya, dia mengenali jeleknya kualitasnya, tapi dia pergi saja. Dia tak menikmati, dia berharap dapat ijazah, seakan ijzah menjadi jaminan bahwa dengan demikian dia akan mendapatkan kerjaan yang lebih baik, lebih terhormat menurut masyarakat. Walau dia tahu banyak yang berijazah namun gagal mendapatkan pekerjaan yang "terpandang".

Ini menarik sebenarnya untuk dicermati.
Ada satu contoh yang dipaparkannya, seorang staf pemadam kebakaran. Sejak kecil ingin menjadi orang yang bekerja seb agai pemadam kebakaran. Namun saat di SMA, ada seorang guru yang bilang ke dia, kamu harusnya masuk PT, mendapatkan pekerjaan yang lebih terpandang, lebih profesional. Namun setamat SMA, dia tetap melamar menjadi staf pemadam kebakaran. Lalu, dia bilang begini, 6 bulan lalu, dia berhasil menyelelamatkan nyawa sang guru tadi dalam kecelakaan kebakaran. Dia bilang, mungkin guru tadi sudah lebih baik pikirannya terhadap status pemadam kebakaran.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment