Demikian pelajaran yang secara implisit bahkan eksplisit saya sampaikan pada Fida.
Loh kok Fida lagi ya.
Cerita Fika juga banyak yang menarik tapi cerita ini berkaitan dengan Fida.
Fida mengalami situasi yang menantang karena perubahan lingkungan yang kurang bisa diterimanya secara cepat.
Saat dia usia 2 tahun, dia ke Australia karena Ibunya (yaitu saya) mendapat beasiswa utk studi S3 di Australia. Sebagaimana yang umum terjadi, anak usia 2 lebih sudah dibawa ke play house dengan harapan dia mulai belajar. Dia merasa tidak nyaman, merasa asing, dan bahkan sering nangis jika saya meninggalkannya. Akhirnyapu, kami berkeputusan bahwa dia sebaiknya tinggal di rumah. Kami memberinya laptop dan membuka website permainan. Dia sibuk dengan laptop, di dampingi Ayahnya yang istirahat karena beliau kerjanya malam. Dari sana dia sangat terampil pakai komputer dan dia belajar bahasa Inggris.
Alhamdulillah dalam usianya 4 tahu kami membawanya ke TK, dan dia sudah tidak masalah lagi. Dia ternyata butuh waktu utk beradaptasi.
Saat usianya 6 tahun, saat dia begitu menikmati kehidupannya di Australia, senang bermain di sekolah, dia pun harus kembali ke Indonesia dengan situasi sekolah yang sangat berbeda. Ternyata beradaptasi di Indonesia menjadi lebih sulit ketimbang beradaptasi di Australia.
Dia pergi ke sekolah di mana dia tidak paham bahasa Indonesia, bahasa yang diomongkan oleh temannya dan gurunya. Dia harus mengikuti banyak tes, entah itu tes harian, tes tengah semester atau pun tes akhir. Dia harus menulis materi yang ditulis Bu guru walau tidak paham materi tersebut. Akhirnya dia sering minta tidak masuk sekolahv dan hanya mau belajar dengan Ibunya. Bagi dia, Ibu adalah gurunya.
Demikianlah dia jalani saja.
nah, hal yang menarik bagi saya adalah berinteraksi dengan sejumlah orang tua yang begitu panik ketika anaknya mendapatkan nilai yang rendah dalam tes. Banyak orang tua yang sangat khawatir. Bagi saya ada yang salah nih.
Fida apalagi dia baru pindah dari Australia, nilainya tentu rendah sekali. Bahkan sering 0. Nilai bahasa Inggrisnya pun amat rendah walau dia jauh lebih hebat bahasa Inggrisnya dibandingkan guru bahasa Inggrisnya sendiri. Dia tahu kesalahan omong bahasa Inggris guru, tapi nilai bhs Inggris dia rendah. Sebagai jika soalnya bilang, apa bahasa Inggris dari. Sesuatu, dia tidak tahu sama sekali pertanyaannya. Dia lihat gambar, tapi dia tidak tahu petunjuk soal yang berbahasa Indonesia.
Lantas bagaimana pikiran saya?
Yang saya ingin terjadi pada anak saya adalah rasa senang belajar, membaca, keinginan bertanya, tidak takut salah karena salah adalah bagian dari prosaes utk mengetahui sesuatu yang belum kita tahu. Saya ingin anak saya percaya diriN mempercayai dirinya bahwa dia punya kemampuan, kelebihan, kekuatan, dan bahwa dia bisa asal mau saja, dan juga dia tahu banyak cara dalam belajar.
Sehingga jika pun dia pulang membawa nilainya dengan skor 30, kami tetap mengatakan hebat karena ada kemajuan dari tdk tahu dapat nol menjadi 30. Dia tidak malu menunjukkan kesalahannya karena dia tahu bahwa salah bukan hal yang mengancam tapi salah bagian yang sangat alami.
Tentunya, perkembangan dia dipengaruhi oleh banyak faktor. Suatu ketika, dia nangis dan cerita bahwa teman-temannya mengejek ketika ada skor rendah disebutkan oleh is guru dan sebaliknya dipuji ketika skor tinggi diumumkan di kelas. Wah, di sini terjadi tarik menarik antara persaepsi yang diakibatkan lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Ini adalah hal yang terjadi dan kami walau sebagai orang yang mendalami pendidikan tidak punya kuasa mengontrol semua situasi. Tapi di sinilah pentingnya kedekatan antara ortu. Di sinilah pentingnya kita terus berkomunikasi dengan anak sehingga kita tahu perkembangannya.
Hal yang menarik adalah karena Fida ingin sekali menjadi rangking 1.
Wah, ini tantangan tersendiri karena tentu dia mempunyai persepsi tersendiri ttg rangking. Menjadi rangking 1 artinya anak saya harus selalu tinggi nilainya. Artinya pula, dia harus jago menghafal karena kebanyakan butir tesa menguji hafalan.
Ini juga berarti bahwa ada kemungkinan bebab otak saya terlalu berat karena harus banyak menghafal hal-hal yang kurang bermakna baginya, dan toh nanti dia pun lupa, dan mungkin juga tidak manfaat utk menghafalnya.
Menanggapi ini, saya mengatakan you sudah rangkin 1 bagi saya karena menjadi anak yang baik, anak yang rajin, mandiri, pintar atur waktu dan lain-lain. Namun dia juga bilang, saya ingin membuat orang tua saya bangga. Saya lumayan khawatir jika begitu under pressure.
Rassanya saat sekolah, saya juga pernah rangking tapi saya tak pernah sekali pun mendapat tekanan dari ortu. Belajar saja tidak dusruh ortu. Belajar karena kemauan sendiri sj.
Fida sempat bilang bahwa dia ingin buktikan bahwa dia rangkin 1 yang artinya dia tuh rajin belajar. Tapi saya juga bilang, you sudah rajin belajar bahkan jauh lebih rajin dari Ibu. Demikianlah, bukan karena saya tidak melihat kebaikan dari menjadi rangking 1 tapi saya menghindari persepsi yang keliru tentang keunggulan karena pada dasarnya setiap anak punya keunggulan masing-masing. Saya ingin dia mengarah ke yang lebih positif bahwa jika kita belajar, Insya Allah kita bisa. Ini yang paling penting. Dan kita harusa berusaha nmelakukan yang terbaik, dan menerima hasil akhir yang ada.
Menjelang openerimaan raport, dia minta supaya kami pergi menerima raportnya. Supaya kami menanyakan urutan rangking dari semua temannya. Wah, ini masalah lagi. Mengapa kok dia mau mengetahui rangking teman-temannya. Apa maksudnya. Apakah pada diri dia sudah ada persepsi persaingan, sudah menggunakan ukuran, siapa yag lebih pintar. Kami bernegosiasi dan berdiskusi ttg manfaat dan kelemahan mengetahui rangking dari teman-temannya. Apa yang akan muncul di pikiran dia jika dia tahu kawan yang dapat rangkin terakhir. Nah semua itu membawa saya khawatir. Bukankah setiap anak punya kelebihan. Berkembang tidaknya kreativitas dan potensi anak-anak itu tergantung pada lingkungannya.
Kami pun selalu bilang, jk tdk rangkin 1 tak apa-apa. Karena kami takut dia kecewa. Saya selalu percaya bahwa dia punya keunggulan dalam berppikir. Akhirnya, kami sepakat bahwa saya akan menanyakan siswa rangkin 1-5.
Apa yang terjadi, ternyata betul bahwa dia rangkin 1. Apa yang terjadi, saya diajak membuka raportnya kelas 1 - 4, dari nilainya yang begitu rendah berangsur-angsur meningkat, hingga akhirnya nilai dia sekarang pada umumnya di atas 80, lumayan tinggi dibanding nilai rata-rata kelas.
Saya bahagia melihatnya dan selalu mengucapkan selamat dan menandaskan bahwa Fida telah menunjukkan dirinya, bahwa seberat apapun kalau belajar, pasti bisa. Ternyata saat ini Fida mempunyai persepsi lebih baik sekolah di Indonesia karena banyak tesnya. Karena tes dia jadi belajar (emang karena ada tes dia jadi belajar) sedang katanya d Australia, tidak ada tes, jadi tidak belajar. Nah, tentu dia punya persepsi sendiri tentang belajar, misal menghafal sejumlah informas-m
Dari pandangan sosiologi, pemahaman kita bergantung dari banyak hal, termasuk di konteks di mana kita hidup. Jadi menggunakan kata yang sama bisa mempunyai makna yang berbeda bagi orang yang berbeda, walau pun dewfinisi dari kata itu seolah sudah paten.
Demikian analisis saya.
Lagi-lagi, saya belajar dari Fida.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment