Monday, 30 January 2012

Jangan hina mereka karena ketaktahuannya karena kita juga banyak tak tak tahu

Tidak jarang saya menemukan pengajar/pendidik mengeluhkan peserta ajar/peserta didiknya, bahwa mereka itu terlalu lemah, sulit mengerti, terlalu kurang dan banyak tidak tahunya sehingga sulit dan jadi tidak nyaman mengajarnya. Tidak terkecuali dosen yang kadang mengeluhkan keterbatasan guru-guru yang dihadapinya.

Mungkin kita perlu bertanya dengan sungguh-sungguh dan jujur pada diri kita: apa ini salah? Apakah kalau saya tidak tahu sesuatu, itu salah? Saya terlalu banyak tidak tahunya, bahkan materi yang akan saya ajarkan, kadang-kadang saya juga tidak atau belum tahu. Apa ini salah??? Kenyataannya saya tidak tahu. Kenyataannya, perjalanan hidup ini terus bergerak dari tidak tahu menjadi lebih tahu, atau menjadi lebih paham.
Apa perlu malu mengatakan tidak tahu kalau saya memang tidak tahu? Kenapa malu? Itu adalah hal yang alami yang selalu terjadi dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, saya kadang berkata, beruntunglah kalau sebagai pengajar, kita menemukan kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika misalnya, karena ini sungguh memberi informasi berharga bagi kita sebagai pengajar. Sama beruntungnya ketika dokter bisa segera mendeteksi penyakit pasien, dan tidak perlu menunggu waktu yang lama atau tidak perlu pakai alat canggih dan mahal untuk mengenali penyakit pasien.

Seorang pengajar mengeluh, “kan gara-gara siswaku banyak tidak mengerti, maka saya tak bisa capai target kurikulum!!!” Wah, kita harus tanya diri kita: untuk siapa kita mengajar? Untuk siapa kita mendidik. Apa kita bekerja untuk kurikulum, atau kehadiran kita untuk membantu anak didik kita. Adakah formula bahwa mengajar adalah untuk menuntaskan kurikulum tak peduli anak paham atau tidak? Kan TIDAK ADA ITU!!! Pengajar berabad yang lalu, yang tradisional pun menggunakan waktunya, pikiran dan tenaganya untuk membantu orang lain paham.

Begitu juga dosen yang mengeluhkan hal ini. Iyalah, guru-guru itu banyak tak tahunya. Maka syukur dia ada di hadapan kita, setidaknya memberi indikasi baik bahwa dia mau belajar, dia mau tahu. Jika perlu katakan bahwa kita juga banyak tidak tahunya. Ciptakan kesan dan bangun rasa percaya diri bahwa “asal mau belajar pasti bisa”. Sadarkan mereka bahwa belajar BUTUH WAKTU DAN PROSES.

Lagi-lagi saya ingin mengambil hikmah dari perjalanan hidup saya. Bisakah membayangkan bahwa saya ditakdirkan belajar di luar negeri yang harus pakai bahasa Inggris, harus baca sumber bahasa Inggris, harus nulis pakai bahasa Inggris, sedangkan mengarang cerita bahasa Inggris utk level anak SD saja saya TAK MAMPU. Apa saya mau disalahkan dengan takdir ini, dimana saya mulai belajar bahasa Inggris di SMP, itu pun hanya sedikit, hanya berlatih tensis, berlatih membuat kalimat positif sederhana, mengubahnya ke kalimat negatif dan kalimat pertanyaan. Hingga SMA, saya tidak pernah mengarang cerita dalam bahasa Inggris, hingga akhirnya saya masuk IKIP Jurusan matematika, tentu tidak ada mata kuliah bhs Inggris. Apakah saya mau disalahkan dengan kebodohanku atau kelemahanku itu. Takdir membawaku sekolah di luar negeri.

Saat tiba di Australia, saya menonton TV, saya tak paham apa yang dibicarakan. Apakah saya salah? Saat membaca artikel, saya baca berkali-kali, saya sering buka kamus. Saya kesulitan memahaminya. Akibatnya saya harus berjuang setiap hari. Saya harus belajar keras. Saya harus bersabar. Saya hanya yakin bahwa ada kemauan pasti ada jalan. Itulah proses untuk mengetahui sesuatu, butuh waktu, butuh proses, butuh kesungguhan dan kemauan.

Apa hubungannya dengan cerita keluhan di atas? Bahwa peserta didik yang di hadapan kita, yang penuh keterbatasan buat kita, JANGAN pernah membiarkan diri kita untuk  menghinanya, mencelanya, atau merendahkannya. Tapi jadikan ini tantangan bagaimana membantunya, supaya mereka melihat dirinya punya potensi, punya kapasitas, punya kepercayaan diri bahwa mereka pasti bisa, ASAL MAU.

 

Semoga karena kita mereka paham bahwa belajar itu tidak linier, tidak sederhana, tak beraturan (messy process), BUTUH WAKTU. Semoga mereka akan lebih paham bagaimana cara membelajarkan orang lain, TANPA HARUS TERTEKAN, bahwa seakan hidupnya dan karirnya utk menuntaskan kurikulum.
Mari terus belajar, membelajarkan diri kita, supaya kita semakin sukses dalam membelajarkan orang lain (belajar dalam arti yang sesungguhnya).

 

No comments:

Post a Comment