Monday, 30 January 2012

Pertanyaan PCK dll

Inti persoalan adalah apa sebenarnya yang menentukan efektif tidaknya dari suatu pengajaran matematika. Atau sebutlah apa yang mempengaruhi tingkat keberhasilan dari suatu pengajaran matematika. Diskusi lebih jauh adalah kapan dikatakan suatu pengajaran matematika itu berhasil?

Mungkin ada yang mengatakan, yang berhasil ini ditandai dengan mampu tidaknya siswa mengerjakan tes. Tapi pertanyaan lagi? Seperti apa tes yang dibuat itu? Bukankah tes bisa mudah dan bisa sulit. Mana yang lebih berhasil siswa mampu menjawab tes yang kompleks hanya 30% tapi siswa penasaran setelah tes, membawa mereka diskusi yg panjang antar temannya, atau siswanya dapat 100 dengan jenis tes yang hanya menuntut ingat dan prosedur-prosedur rutin yang sebentar lagi juga dilupakan. Atau ada yang mengatakan bahwa pembelajaran yang berhasil itu adalah yang berhasil mencapat standar kompetensi yang ditetapkan kurikulum. Apa itu standar kompetensi? Apakah dia hanya rumusan kalimat ttg apa yang harus dicapai siswa yang bisa diinterpretasikan secara berbeda. Misal, siswa mampu menerapkan rumus abc dalam memecahkan masalah. Masalah yang bagaimana? Mungkin ada yang menginterpretasi soal terapan biasa yang sudah dilatihkan di kelas hingga anaknya cukup mengingat-ngingatnya, atau soal cerita, atau soal yang kompleks yang menuntut pemahaman berbagai konsep berbeda dan memerlukan daya pikir kritis.
Jadi alasan pengajaran efektif yang didasarkan pada pencapaian standar kompetensi juga perlu dicermati secara hati-hati atau secara mendalam.

Permasalahan inilah sebenarnya yang membawa diskusi para ilmuan hingga tataran internasional sejak ratusan tahun lalu. Masalah ini memang tidak sederhana.

Undang-undang menggariskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengajaran yang berkualitas yang juga berarti bahwa pemerintah wajib dong menyediakan guru yang berkualitas. Ini tantangan yang sangat berat pada siapa pun yang duduk di pemerintahan di Indonesia. Fakta yang ada, kebanyakan guru-guru kita dari aspek kualifikasi saja, kebanyakan tidak sarjana, yang mencerminkan tidak cukup untuk memberi pengajaran yang berkualitas dalam era globalisasi yang menambah kekompleksan tugas pengajaran.

Nah untuk itu, saya ingin berbagi kepada pembaca kajian literatur saya tentang bagaimana arena diskusi yang berkaitan dengan pengajaran matematika yang efektif tersebut.
Kajian banyak mengacu pada hasil-hasil penelitian luar negeri (karena tidak mudahnya mendapatkan hasil penelitian dalam negeri ttg kajian ini)-harus tunjukkan upayanya dulu dong!!!.
Kajian ini akan berfokus pada mathematicak knowlewdge in teaching.
Sebagai titik awal, saya berangkat dari tulisan ..... Yang mencoba mengajukan model hasil sintesisnya tentang pengetahuan matematika yang diperlukan guru dalam pengajarannya.

Walau pun secara pribadi sebenarnya, saya berpikir, jika saya jadi guru matematika SMA sekarang ya, saya mungkin bisa menjadi guru yang efektif, guru yang membawa anak saya senang dan termotivasi belajar matematika walau pun yang tak mengauasai betul materi itu karena ketersediaan teknologi. Saya tidak lagi berpandangan bahwa yang akan dipelajari siswa harus ada di kepala saya, tetapi saya berpandangan bahwa bisa saja saya dan siswa saya baru mempelajarinya secara bersama-sama. Pengalaman ini rasanya terjadi pada diri saya, menjadi guru PBM dan dosen bahasa Inggris.

Saya amat sangat senang, dengan pernyataan, knowledge growth in teaching.

Pertanyaan yang hendak saya jawab adalah:
1. Bagaimana sebenarnya teori pengetahuan yang diperlukan oleh guru oleh Shulman? Mengapa Shulman mengajukan ini? Atas dasar apa dia mengajukan konsep pck yang memberi pengaruh besar pada dunia penelitian, hingga lebih ribu dalam 10 tahu mengutip tulisan dia.

2. Bagaimana sebenarnya konsep hasil pengembangan dari Ball dkk yang dia kembangkan dalam proyek penelitian yang lumayan panjang. Ball telah menghasilkan lebih 10 tulisan berkaitan dengan hal, berargumen bahwa konsep yang diajukannya didasarkan pada praktek pengajaran.
Bagaimana sebenarnya jalan cerita proyek dia. Apa kerangka teori, apa asumsi yang digunakan. Apa temuan dan argumennya dan dimana letak keterbatasannya.

Demikian juga yang lainnya
++++
Ooooops.
Saya juga jadi ingat apa yang saya baca bahwa teori ini tdk bisa lepas dari konteks.

Coba ya, kalau mereka menghasilkan indikator tentang ciri guru efektif, yang dikembangkan di negara mereka, tentu tidak mungkin dong kalau saya tidak mengadopsinya. Iya nggak?
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment