Monday, 30 January 2012

Konseptualisasi pengetahuan matematika Guru dalam pengajaran

Alhamdulillah, saya sdh baca bab ini. Rasanya paham sih isinya. Artinya bisa mengikuti jalan ceritanya sampai habis. Mungkin seperti nonton film ya, bisa ikuti ceritanya.

Persoalan yang lebih sulit adalah mampukah kita menceriterakan ulang jalan cerita film tersebut tanpa kita mengubah maksud dari sipembuat film.
Nah mampukan saya menceriterakan ulang isi bab ini tanpa mengubah maksud yang disampaikan oleh sipenulis.

Nah saya yakin ini masalah karena:
-Nama penulisnya saya belum bisa ingat
-Nama yang dipaparkannya saja belum bisa ingat hingga 50%
Jadi sepertinya saya perlu membacanya lagi dan membacanya lagi. Itulah proses belajar, butuh waktu, butuh pengulangan utk lebih paham.

Ok, ijinkan aja sih saya cerita pemahaman sepintas yang saya peroleh. Utk selanjutnya, saya akan mengakhiri catatan ini dengan pertanyaan atau pun catatan tindak lanjut.

- penulis mengatakan bahwa ada sejumlah kajian yang berbeda dalam MKiT, atau pengetahuan yang diperlukan oleh guru matematika untuk bisa mengajar secara efektif.

- kajian ini menjadi ramai setelah tulisan dari Shulman bersama kawannya yang menegaskan ada "missing paradigm" dalam penelitian terdahulu dalam bidang ini. Dan dia kenalkan satu istilah baru yaitu PCK. Dia mendaftarkan 7 kategori pengetahuan yang perlu dimiliki guru namun dalam papaernya dia fokus mendisakusikan pengetahuan yang berkaitan kontent, yaitu SMK, kurikulum dan pck. Nah pck ini dianggap suatu yang unik yang menentukan bisa tidaknya guru mengajar matematika yang memungkinkan para siswanya paham, baik termasuk cara representasinya, antisipasi miskonsepsi, keputusan cara menjawab pertanyaan siswa dan lain-lain.

Istilah pck ini menjadi santer. (Ulisan Shulman pun telah dikutip lebih dari sumber, dengan interpretasi dan penhgembangan yang berbeda.

Is penulis mengatakan, jika kita tdk punya konsep yang jelas/seragam, atau dipahami secara bersama-sama (pemahaman yang sama), maka sulit dong untuk menjawab permasalahn penelitian.

Untuk itu kesan saya penulis mencoba mereviu beberapa penelitian utama di beberapa negara yang berbeda, memberi catatan tentang kontribusi dari konsep hasil elaborasi dari penulis lainnya dan sekaligus mengkritisi. Nah saya kira kontribusi inilah yang perlu catat dan kritik apa yang diperoleh oleh masing-masing penulis.

Misal Ball dkk, kontribusinya adalah memberikan bukti penelitian bahwa ada hubungan antara prestasi siswa dan tingkat pengetahuan matematika guru dalam pengajaran. Kontribusi kedua adalah dia mengembangkan alt ukur untuk mengukur pengetahuan matematika guru untuk pengajaran, dalam bentuk soal pilihan ganda.

Ball dan kawan-kawan mengajukan pemetaan pengetahuan berupa diagram yang terdiri dari 2 domain utama yaitu SMK dan PCK. Nah PCK sendiri terdiri dari KCS, pengetahuan ttg isi dan siswa serta KCT, pengetahuan ttg isi dan pengajaran, serta pengetahuan kurikulum. Domain SMK dibagi menjadi 3, SCK, specialised content Knowledge, nah ini saya kira temuan signifikan dan didasarkan pada bukti lapangan. Komponenlainnya CCK, common content knowledge dan knowledge at mathematical horizon. Menari k membacanya karena penulis sekaligus menggarisbawahi bahwa konsep ini masih memerlukan pengembangan karena penulis sendiri masih belum yakin sepenuhnya dengan pengkategorian tersebut.

Nah kajian ini membantu saya utk mendalami satu area konsep yang diajukan oleh Ball dkk.

Ini juga membantu saya mengenali sepintas ttg KQ, yaitu indikator yang dikembangkan di Inggris oleh Rowland dkk. Yang berbasis pada mahasiswa calon guru.

Dan selain itu, dia juga menjelaskan konsep yang diajukan oleh Fennema, yang mengiintegrasikan masalah belief.
Pada akhirnya penulis mengajukan model, lebih cenderung pada berbasis pada model Fennema, dan menarik karena dia ajukan alasan mengapa model ini bagus tetapi juga mengingatkan implikasi atau keterbatasan model ini. Dia tekankan bahwa ketika model ini diterapkan, kita harus memperhatikan konteks budaya setempat. Konsep kunci yang diajukan adalah bahwa ada interaksi antara pengetahuan itu.

Oke, saya kira saya belum menceriterakan isinya secara bagus tapi saya bisa mengatakan, jika And ingin tahu ttg pengetahuan guru matematika yang diperlukan utk bisa mengajar efektif, maka revviu tulisan ini bisa menjadi starting point. Juga ini bisa menjadi satu argumen bahwa kajian cukup mendalam ini lepas dari konteks teknologi.

Nah apa yang bisa saya lakukan.
Baca lagi secara cermat. Hal yang bisa membantu jika ini saya tulis dengan bhs Indonesia dengan 2 alasan: mempertajam pemahaman saya dan kedua bisa saya share ke para pendidik matematika Indonesia, bahkan bisa membantu saat saya mau menulis dalam bahasa Indonesia.
Sent from my BlackBerry® wireless device

No comments:

Post a Comment