Sunday, 8 January 2012

Fw: [cfbe] Digest Number 4765

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: cfbe@yahoogroups.com
Date: 8 Jan 2012 10:19:27 -0000
To: <cfbe@yahoogroups.com>
ReplyTo: "No Reply"<notify-dg-cfbe@yahoogroups.com>
Subject: [cfbe] Digest Number 4765

Messages In This Digest (5 Messages)

Messages

1a.

Bls: [cfbe] Re: [IGI]  [BERITA] RSBI Masih Menjadi Incaran

Posted by: "Situmorang Hotben" Benn_tumorang@yahoo.com   benn_tumorang

Sat Jan 7, 2012 4:40 am (PST)



Ide awal SBI (sebelum ada istilah RSBI) adalah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional dengan langkah adopsi atau adaptasi sistem pendidikan negara maju (OEDC).
Supaya ide ini berjalan dan berhasil maka perlu dikawal dengan berbagai dukungan, termasuk dalam dana yang berimbas pada persoalan implementasi (realisasi anggaran). Kawalan kebijakan ini juga memungkinkan setiap daerah memilih sekolah yang memang sudah baik (pavorit) sebagai tempat pelaksanaan proyek supaya lebih mudah dinyatakan berhasil (dari sisi pertanggung jawaban penggunaan anggaran).
Sekolah yang menjadi tempat pelaksanaan proyek juga tidak dipersiapkan melakukan pilihan ketiga diluar mengadopsi dan mengadaptasi tsb. Pilihan ketiga yang tertinggal itu adalah menolak. Sesungguhnya tidak semua yang ada pada persekolahan negera-negara OECD itu cocok atau layak untuk diimplementasikan di Indonesia.

benn

________________________________
Dari: Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>
Kepada: IGI Milis <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>; Keluarga Unesa Milis <keluargaunesa@yahoogroups.com>; SD Islam Milis <sd-islam@yahoogroups.com>; Dikbud Milis <dikbud@yahoogroups.com>; Surabaya Jujur <surabayajujur@yahoogroups.com>
Cc: CFBE Milis <cfbe@yahoogroups.com>
Dikirim: Jumat, 6 Januari 2012 9:18
Judul: [cfbe] Re: [IGI] [BERITA] RSBI Masih Menjadi Incaran

Tentu saja...! Mereka kan memang sekolah-sekolah terbaik di daerah masing-masing. Meski pun tanpa label 'bertaraf internasional' sekolah-sekolah ini akan tetap diburu siswa.

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

-----Original Message-----
From: Dhitta Puti Sarasvati <dputi131@gmail.com>
Sender: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
Date: Fri, 6 Jan 2012 09:10:20
To: IGI<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>
Reply-To: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
Cc: cfbe<cfbe@yahoogroups.com>
Subject: [IGI]  [BERITA] RSBI Masih Menjadi Incaran

RSBI Masih Menjadi Incaran
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/06/172584/16/RSBI-Masih-Jadi-Incaran-

SEMARANG- Meskipun Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dinilai
gagal oleh sejumlah pihak, Ketua Forum SMP RSBI Nasional Sutomo mengatakan,
RSBI di Indonesia mayoritas telah memenuhi syarat pembelajaran sesuai
undang-undang dan ketetapan.

Bahkan, RSBI masih menjadi incaran masyarakat terutama orang tua calon
siswa yang hendak mendaftarkan sekolah.
Kenapa dikatakan masih menjadi incaran? Kepala SMP 2 Semarang ini
menjelaskan, karena RSBI yang telah ada sekarang ini dari proses,
manajemen, dan kurikulum sudah berjalan dengan baik dan memenuhi, bahkan
melebihi delapan standar nasional pendidikan (SNP).

''Sekolah RSBI mulai dari fasilitas pembelajaran, prestasi, hingga lulusan
siswa sudah memenuhi ketentuan tersebut. Misalnya saja di Jawa Tengah,
untuk hasil ujian nasional (UN) kemarin nilai tertinggi diraih
sekolah-sekolah RSBI baik negeri maupun swasta. Apalagi saat penerimaan
peserta didik (PPD) pendaftar selalu melebihi kuota dari yang ditetapkan
sekolah. Di SMP 2, dari 200 kursi yang disediakan, pendaftar mencapai 725
orang,'' ungkapnya.
Syarat lainnya dalam SNP yang hampir terpenuhi dalam RSBI adalah
terakomodasinya siswa miskin yang mengenyam pendidikan di sana.

67 Sekolah

Jumlah SMP RSBI di Jateng ada 67 sekolah, terdiri atas 64 sekolah negeri
dan tiga sekolah swasta. Sebagian besar telah dievaluasi oleh Kemdikbud dan
secara pembelajaran dan SNP telah memenuhi syarat.
Kendati demikian, jumlah guru yang bergelar S-2 di sekolah RSBI memang
belum terpenuhi. Ini menjadi kegagalan dalam SK penetapan SBI.

''Pemenuhan 20% guru S-2 memang belum terpenuhi, tapi perlu disadari RSBI
terbentuk dari sekolah lama, bukan sekolah baru. Karena itu, yang sudah ada
kita berdayakan,'' ungkapnya.
Kepala SMAN 3 Semarang Hari Waluyo mengatakan, seluruh persyaratan RSBI
menjadi SBI telah dipenuhi. Misalnya, minimal 30% guru S-2 telah tercapai.
''Bahkan, jika dihitung dengan guru yang masih menyelesaikan studi,
mencapai 31%,'' ungkap Hari.

Ia tidak sependapat jika RSBI dinilai gagal. Justru jika ada RSBI yang
menemui kendala seharusnya didorong.
Terkait dengan penggunaan bahasa Inggris yang dipersyaratkan dalam proses
belajar, pihaknya menerapkan sistem bilingual pada mata pelajara Kimia,
Biologi, Fisika, Matematika, dan Ekonomi.

''Kami lebih menekankan sistem sinergitas antara bahasa Indonesia dengan
Inggris,'' katanya.
Hari mengungkapkan, SMAN 3 Semarang masuk dalam daftar 22 sekolah unggulan
yang dikeluarkan Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud. ''Oleh Kemdikbud kami
masuk 15 besar,'' tandasnya. (K3, H85-37) (*/*)

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------Yahoo! Groups Links

[Non-text portions of this message have been removed]

2a.

Bls: [cfbe] MENGUNJUNGI INDIA

Posted by: "Situmorang Hotben" Benn_tumorang@yahoo.com   benn_tumorang

Sat Jan 7, 2012 5:01 am (PST)



Mas, info yang saya dapat dari seorang trainer IB, jumlah sekolah yang mengimplementasikan atau certified IB cukup banyak walau sekolahnya sangat sederhana dalam ukuran infrastruktur, tolong info pandangan mata, ok?
Have a nice journey
benn

________________________________
Dari: Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>
Kepada: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>; keluarga unesa <keluargaunesa@yahoogroups.com>; center <cfbe@yahoogroups.com>; Milis Istiqamah <sd-smp-it-istiqomah-balikpapan@yahoogroups.com>; sdislam <sd-islam@yahoogroups.com>; Lukman AlHakim <luqmanalhakim@yahoogroups.com>; Milis RUK <R-u-K@yahoogroups.com>; Sepeda Untuk Sekolah <sepeda_untuk_sekolah@yahoogroups.com>; AJPBSI <AJPBSI@yahoogroups.com>; APTIKOM <aptikom@lists.aptikom.org>; GGMI <gerakan_guru_melek_internet@yahoogroups.com>; Dikbud <dikbud@yahoogroups.com>; milis stikom <stikom-bpp@yahoogroups.com>; Keluarga Happy <keluargaHappy@yahoogroups.com>
Cc: Son Kuswadi <sonkuswadi@gmail.com>
Dikirim: Jumat, 6 Januari 2012 10:05
Judul: [cfbe] MENGUNJUNGI INDIA


 

MENGUNJUNGI INDIA

Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saya akan
mengunjungi India. Ada urusan apa saya dengan negaranya Shahrukh Khan tersebut?
Tapi insya Allah lusa ini saya beruntung mendapat kesempatan untuk mengunjungi negaranya
Mahatma Gandhi, tokoh yang sangat saya kagumi itu. Bersama teman-teman dari
STIKOM Bali kami akan mengunjungi New Delhi dan Bangalore mulai tanggal 8 s/d
14 Januari ini. India sendiri adalah negara republik dengan jumlah penduduk terbesar
kedua di dunia setelah China dengan populasi sebesar 1 milyar lebih (1,150,000,000
jiwa). Meski demikian diperkirakan India akan menyalip China dalam soal jumlah
penduduk pada tahun 2030 (By 2030, the
population of India will be largest in the world estimated to be around 1.53
billion. http://www.indiaonlinepages.com/population/india-population.html).
Selain itu India adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah
geografis. Ekonomi India adalah
terbesar keempat di dunia dalam PDB, diukur dari segi paritas
daya beli (PPP), dan salah satu pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
India, negara dengan sistem demokrasi
liberal terbesar di dunia, juga telah muncul sebagai kekuatan
regional yang penting, memiliki kekuatan militer terbesar
dan memiliki kemampuan
senjata nuklir. (http://id.wikipedia.org/wiki/India).
Jadi dalam ukuran apa pun India itu raksasa (raksasa yang suka menyanyi
dan menari India…!)

New Delhi adalah ibukota India dengan penduduk sebanyak 10
juta orang dan merupakan sebuah kota yang metropolis. Bangalore sendiri adalah
'Silicon Valley'nya India. Di New Delhi dan Bangalore kami akan mengunjungi
beberapa sekolah IT terkenal untuk studi banding. Selain itu kami juga ingin
memenuhi undangan dari Pak Son Kuswadi, Atase Pendidikan di India. Setiap
bertemu beliau selalu mengajak kami untuk datang mengunjunginya di India sana. 'Mbok
ya dolan ke India gitu lho!' kata beliau. 'Insya Allah…!' begitu jawab kami
selalu. Akhirnya lama-lama kami jadi kepingin juga untuk datang. Ono opone sih India itu, kok Pak Son krasan di sana? (Ya betahlah. Lha wong
memang kerja di sana)

Soal film dan lagu India jelas kelas dunia. Katanya industri
perfilman di India itu bahkan jauh lebih produktif ketimbang Hollywood,
sehingga mendapat julukan Bollywood. Dalam setahun India bisa memproduksi 500
film…! Jadi dalam sehari bisa lebih dari 1 film selesai dibuat. Bayangkan
betapa produktifnya industri perfilman India. Bikin film udah kayak bikin
onde-onde saja. Mutu filmnya juga sudah jauh lebih hebat daripada negara-negara
lain, apalagi kalau dibandingkan dengan Indonesia. Favorit saya adalah film Slumdog Millionaire.  Slumdog Millionaire adalah sebuah film
yang disutradarai oleh Danny Boyle. Film ini berhasil meraih empat Golden Globes [1]
dan delapan piala oscar[2],
termasuk penghargaan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik[3].
Bercerita tentang seorang anak miskin yang besar di lingkungan kumuh (slum)
kota Mumbai yang mendadak menjadi kaya setelah memenangkan kuis Who Wants To Be A Millionaire
versi India. Sungguh sebuah film yang menggigit!

Jelas India itu raksasa dalam industri perfilman lha wong
perfilman di Indonesia saja dikuasai oleh keluarga Punjabi yang keturunan India
tersebut kok. Multivision Plus yang sinetronnya mengisi semua saluran
televisi nasional adalah sebuah perusahaan produksi film India yang didirikan
tahun 1970 di Bombay. Multivision
didirikan oleh Raam Punjabipada tahun 1990 di Jakarta dengan modal
250 juta. (Sebetulnya gak banyak-banyak amat modalnya ya) Perfilman Indonesia sendiri
hanya bisa produktif kalau bikin film 'Pocong and the gang'. Kalau bikin film
serius kayak 'Sang Pencerah' malah rugi. Dasar generasi pocong kita ini….!

Tapi kami ke sana bukan untuk nonton film India atau mau
ketemu sama Shahrukh Khan (apalagi mau ketemu sama Mahatma Gandhi…!). Kalau
cuma mau nonton film India kami bisa lakukan di bioskop Megahria atau di mana
saja. Kami datang ke India untuk melihat sistem pendidikan IT-nya. India
terkenal sebagai negara dengan pendidikan IT paling terkemuka di dunia dan programmer
lulusan India katanya mengisi lowongan di perusahaan IT terkemuka di seluruh
dunia. Mereka sekarang merajai dunia teknologi informasi dunia. Jadi di setiap
perusahaan besar dunia selalu ada tenaga ahli IT dari India mengisi posisi
pentingnya. Apa rahasianya? Ya itu yang mau kami ketahui. (Sebenarnya sih bisa
saja dicari lewat Google. Tapi edan po…?! Wong diajak mlaku-mlaku gratis kok
malah nggugel…! Yo nggugelo dewe kono nek gelem).  Jadi begitu diajak untuk berkunjung ke India
saya langsung menjawab,"Prun". 'Prun' ini versi jawaban cepat dari 'purun' (mau atau bersedia). Saking
cepatnya menjawab sehingga menjadi 'prun'.
Kuatirnya si pengajak membatalkan niatnya mengajak saya karena saya lambat
menjawab. Tak lupa saya mendaftarkan nama istri saya untuk ikut juga. Tidak marem rasanya bepergian jauh tanpa
ditemani istri. Katanya suami yang baik itu selalu mengajak istrinya bepergian (opo maneh yen dibayari toh Kang..?! Pancen
cerdas kowe..!)

Selain pendidikan di bidang IT, India juga terkenal dengan
mutu pendidikannya yang tinggi. Sarana prasarananya pas-pasan tapi mutu
pendidikannya tinggi. Aneh toh…! Biasanya kalau di negara kita kan untuk bisa
unggul mesti berstatus RSBI, nginternasional…! Mesti pakai laptop, proyektor,
AC, sistem Cambridge, bilingual, ISO 9000 mbuh piro, dll (Tapi ternyata hasil
UNAS-nya kalah dengan yang ra-ISO). Dengar-dengar di India sekolah itu sarana
prasarananya sederhana saja tapi mutu guru dan proses pendidikannya jauh lebih
bermutu dibandingkan dengan Indonesia. Mau adu bahasa Inggris sama siswa India?
Lha wong bahasa Inggris itu bahasa kedua bagi mereka. Ya mesti ngecipris bahasa
Inggrisnya. Tapi itu kan kata orang….! Kita mesti lihat sendiri dulu ke India
agar faham. Makanya kami perlu ke sana.

भारत, हम यहाँ आ जाओ (InIndia,
here we come) Acha…! Acha…!

Urusan visa ternyata tidak ada masalah
karena bisa pakai VOA (Visa On Arrival). Kita tinggal terbang ke sana dan isi
formulir untuk VOA dan tempeli foto 4 X 6, beres! Urusan mata uang juga gak
perlu risau. Meski tidak ada money
changer yang bisa memberi pelayanan penukaran Rupee (mata uang India) di
Jakarta atau Denpasar tapi katanya dolar Amerika is fully accepted. Jadi cukup bawa US dolar saja (Sst…! Katanya
kami akan disangoni juga. Wuenak pol toh…!).

Kami pikir everything is OK ketika
tiba-tiba ada informasi bahwa ternyata di India (khususnya New Delhi dan
Bangalore yang akan kami kunjungi) sedang musim dingin. Musim dingin…?! Sumpah
selama ini saya pikir India itu cuacanya kayak Indonesia saja. (Lha wong India
aja lho kok ya pakai empat musim segala toh…!). Lagipula Januari adalah puncak
dari musim dingin. Saya cek di internet ternyata cuaca di New Delhi bisa
berkisar antara 4 s/d 21 derajat Celsius. Mateng kon…!

Meski dulu saya suka sekali mendaki
gunung tapi cuaca dingin tidak pernah saya sukai. Manusia 'berdarah panas'
seperti saya ini paling tidak tahan dengan hawa dingin. Pernah sekali saya ke
Bromo dan cuacanya sangat dingin dan saya pikir sudah 0 derajat Celsius saking
dinginnya. Begitu saya cek ternyata hanya 10 derajat Celsius. Halaah…! 10 derajat
Celsius saja sudah bikin saya hampir mati beku apalagi kalau 0 derajat
Celsius…! Jadi membayangkan diri saya akan ke daerah yang dinginnya bisa
mencapai 4 derajat Celsius sungguh membuat saya makan tak enak tidur tak
nyenyak. Will I survive…?! Lha wong
AC di kamar tidur kami saja saya setel di suhu 25 derajat Celsius dan kalau
malam kami matikan karena kedinginan. Lha ini kok malah  4 s/d 21 derajat Celsius…! Hwarakadah…!

Akhirnya kami terpaksa melempar pakaian
santai yang telah kami persiapkan di koper dan segera mencari pakaian musim
dingin di FO yang menjualnya. Terpaksa kami membeli segala perlengkapan pakaian
untuk musim dingin seperti long john, jaket tebal berbulu, sarung tangan, kaos
kaki tebal, sweater, tutup kepala, dan ubo rampenya. Bagi yang tidak tahu apa
itu long john, itu adalah baju khusus untuk musim dingin yang panjang dan ketat
menutupi seluruh tubuh dan tungkai. Jadi seperti baju senam lengan panjang yang
ketat di tubuh. Kalau tidak pakai long john di musim dingin maka kita akan
menderita kedinginan meski sudah pakai baju tumpuk-tumpuk. Saya sebetulnya
berharap bisa mendapatkan kaos kutang sakti Ontokesumanya Adipati Karna yang
kebal semua senjata tersebut. Lha kalau kebal senjata apa pun mestinya kalau
cuma hawa dingin ya cemen toh. Tapi ternyata tokonya tidak menjualnya. Apa
boleh buat …, seadanya sajalah! Karena pakaian tersebut tebal-tebal maka kopor
besar yang kami bawa tidak bisa memuatnya. Lha kemasukan dua jaket musim dingin
saja kok ya langsung penuh toh! Padahal biasanya kami bepergian ke mana-mana
cukup dengan satu kopor berdua. Lha ini belum berangkat saja sudah tidak cukup.
Apalagi kalau nanti istri saya kumat hobi belanjanya di pasar New Delhi sana.
Bisa-bisa kain sari satu toko diboyong semua. Sudah jelas tidak cukup satu kopor
berdua. Keputusannya : beli kopor baru di Denpasar. Kami memang akan berangkat
dari Denpasar via Kuala Lumpur nantinya.

Masalah kedua adalah hotel.

Karena kami tidak ingin menderita oleh
cuaca dingin maka kami berharap agar hotel kami memiliki fasilitas penghangat
ruangan. Kami sebenarnya sudah pesan kamar tapi setelah kami cek di inernet
ternyata ratingnya cuma 4,6/10. Berarti bukan hotel yang 'recommended' (kalau
nilai UN berarti gak lulus). Ciloko kan…?!

Ketimbang menderita maka kami putuskan
untuk upgrade hotel kami ke Hilton. Entah berapa ratingnya lha wong bukan saya
yang ngecek. Tapi yang jelas lebih mahal. Saya sih tenang-tenang saja lha wong
dibayari. Mbok mau diupgrade ke hotel bintang tujuh diamonds are forever ya
monggo saja. Mudah-mudahan sponsor kami tidak sambat ngaruworo (mengeluh panjang pendek).

Agar tidak shock setibanya di New Delhi dan merasa seperti masuk kulkas tidak
bisa keluar maka saya dan istri berlatih agar lebih tahan dingin. Caranya
dengan menyetel AC kamar lebih dingin dan lebih lama. Kami setel ke 22 derajat
Celsius dan sebisa-bisanya tidak dimatikan kalau tengah malam.

Eeh….! Lha kok ya menggigil toh kami
malamnya. Akhirnya ya AC tetap kami matikan agar kami bisa tidur nyenyak. Latihan
kami gagal total persis seperti program RSBI-nya Kemdikbud. Wis urusan India
biar dihadapi di India saja…! Acha…! Acha…!

Surabaya, 6 Januari 2012

Salam

Satria Dharma

http://satriadharma.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

3.

Apa hubungan antara Bom Bali dan bahasa Indonesia di Australia?

Posted by: "Satria Dharma" satriadharma2002@yahoo.com   satriadharma2002

Sat Jan 7, 2012 2:08 pm (PST)



Derita Sekolah Australia Berbahasa Indonesia
Maryanto PEMERHATI POLITIK BAHASA
 
Sangat menggembirakan cerita bahasa (kebangsaan) Indonesia mulai
dikenalkan dengan sistem pendidikan sekolah Australia pada 1955. Lewat
jendela bahasa, Australia tampak ingin akrab bertetangga dengan
Indonesia. Namun ada saja gangguan terhadap hubungan akrab dua bangsa ini.
 
Dampak gangguan pun terlihat di sekolah Australia yang sekarang
menderita kemerosotan jumlah anak yang tertarik belajar bahasa
Indonesia. Ini tentu cerita duka bagi bangsa Indonesia.
 
Bangsa Indonesia patut prihatin kalau membaca laporan penelitian
Michelle Kohler dan Phillip Mahnken (2010) mengenai situasi terbaru
pendidikan bahasa Indonesia di sekolah Australia. Laporan yang berjudul
"The Current State of Indonesian Language Education in Australian
Schools" ini memuat informasi perkembangan mutakhir bahasa Indonesia di
Negeri Kanguru. Bahasa Indonesia dilaporkan sudah kehilangan rata-rata
10 ribu siswa per tahun selama empat tahun terakhir. Dari keseluruhan
populasi siswa sekolah Australia, hanya 5,6 persen atau sekitar 191 ribu
siswa yang masih memilih belajar bahasa Indonesia.
 
Menurut laporan Kohler dan Mahnken, bahasa Indonesia mulai menderita di
sekolah Australia, setelah terjadi guncangan bom Bali pada 2002. Bahasa
Indonesia makin menderita kehilangan siswa karena beberapa tahun setelah
tragedi bom Bali tersebut, pemerintah Australia berhenti mengucurkan
dana pendidikan sekolah bagi bahasa-bahasa Asia, yang di dalamnya hanya
terdapat bahasa Indonesia, di samping bahasa Korea, Jepang, dan Cina.
Derita sekolah Australia yang hendak berbahasa Indonesia ini perlu
segera diatasi oleh bangsa Indonesia, terutama pemerintah Indonesia.
 
Program bahasa Indonesia ini terselenggara tentu bukan karena keinginan
membangkitkan kembali bahasa Melayu yang pernah berjaya di kawasan Asia.
 
Di tengah krisis kehadiran siswa sekolah Australia pada program bahasa
Indonesia, telah terjadi promosi pendidikan bahasa Melayu. Seorang
diplomat yang bekerja di Australia menuturkan cerita terjadinya promosi
bahasa Melayu untuk menggantikan bahasa Indonesia. Menurut penuturan
diplomat Indonesia itu, di era pasca-tragedi bom Bali, anak-anak
Australia ditarik keluar dari Australia untuk melanjutkan program
pendidikan bahasa Indonesia yang berisi pengajaran bahasa Melayu.
Program pendidikan yang bernilai bisnis itu tidak dilaksanakan di Indonesia.
 
Tragedi bom Bali--yang dilaporkan Kohler dan Mahnken sebagai perusak
citra bahasa Indonesia di sekolah Australia-ternyata berdampak
menggoyahkan konstruksi bahasa kebangsaan Indonesia. Setidaknya di
kalangan anak Australia, sudah tidak ada kepercayaan yang kuat terhadap
bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia makin ditinggalkan para pelajar
Australia. Sementara itu, anak-anak Australia yang masih tertarik
belajar bahasa Indonesia sudah mulai dikonstruksi alam pikirannya dengan
berbahasa Melayu.
 
Bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu dalam pengertian sejarah purba. Ini
sama halnya dengan bahasa Cina dan Jepang.
Bahasa Jepang yang tertulis dalam bentuk kanji (pada abad ke-5) pernah
disebut sebagai kanbun, yang berarti "tulisan bahasa Cina". Sekarang
bahasa Cina dan Jepang--karena penuturnya masing-masing merupakan
entitas kebangsaan yang mandiri--berkembang tanpa saling mengikat.
Cina dan Jepang eksis di dunia internasional sebagai dua bangsa
dan--sekaligus-dua bahasa yang terpisah.
 
Bahasa Indonesia memang pernah bertulisan bahasa Melayu (termasuk Melayu
Arab), tapi sekarang berkembang secara mandiri. Sudah saatnya tidak ada
intervensi bahasa Melayu. Ini merupakan tugas segenap bangsa Indonesia,
terutama pemerintah Indonesia, melepaskan bahasa Indonesia dari ikatan
belenggu bahasa Melayu.
Untuk itu, program internasionalisasi bahasa Indonesia yang akan segera
dijalan Kerusakan citra bahasa Indonesia yang terjadi di sekolah
Australia bisa disebut sebagai cermin kerusakan citra bangsa Indonesia.
Hilangnya popularitas bahasa Indonesia dalam mata pelajaran language
other than English (LOTE) di Australia disebabkan oleh hancurnya citra
bangsa Indonesia sebagai akibat bom Bali 2002 dan tragedi berikutnya,
seperti peristiwa bom Marriott di Jakarta pada 2009. Di mata anak
sekolah Australia, akibat tragedi itu, wajah bahasa Indonesia tidak
menarik lagi.
 
Fakta bangsa Indonesia sebagai konsumen terbesar daging sapi Australia
tidak cukup meningkatkan daya tarik pelajaran bahasa Indonesia. Padahal,
dari segi keuntungan ekonomi nasional, pasti sangat besar hasil yang
diraup dengan memperdagangkan 70 persen sapi peternak Australia ke
Indonesia. Selain hubungan perdagangan seperti itu, sebagaimana
disebutkan dalam laporan Kohler dan Mahnken, bahasa Indonesia sangat
penting dipelajari di Australia dengan alasan kedekatan geografis serta
keamanan kawasan.
 
Di mata masyarakat Australia, citra bangsa Indonesia perlu dipulihkan.
Sekitar 600 ribu pelajar Indonesia di Australia harus berani berkata
sebenarnya bangsa Indonesia juga korban (bukan otak pelaku) bom Bali. Di
sana, untuk pemulihan citra itu, para pelajar Indonesia perlu
difungsikan sebagai duta bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Khusus
mereka yang belajar pada tingkat magister dan doktor, perlu diberi tugas
promosi bahasa serta budaya Indonesia. Sebelum mereka berangkat belajar,
wawasan kebahasaan dan kebudayaan Indonesia mereka perlu diuji terlebih
dulu. Jika tidak memiliki wawasan itu, mereka tidak perlu dikirim ke
luar negeri.
 
Di dalam negeri juga perlu ditempuh langkah-langkah penguatan citra
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Citra bahasa
persatuan ini sekarang mulai pudar, dan gejalanya tentu
 
sudah dilihat oleh masyarakat internasional, termasuk Australia. Dalam
kaitan itu, menurut Sugiyono dan kawan-kawan (2011), sangat kuat
kecenderungan bahasa Indonesia dipandang rendah atau––tepatnya—lebih
rendah daripada bahasa daerah. Bahasa daerah sekarang dinilai oleh
masyarakat Indonesia sendiri lebih penting daripada bahasa Indonesia.
 
Sikap kedaerahan yang amat berlebihan pada masyarakat Indonesia terlihat
barubaru ini dari Kongres Bahasa Jawa Ke-5 yang berlangsung di Surabaya
pada akhir November 2011. Pada kongres bahasa daerah itu, bahasa
Indonesia tidak memperoleh kedudukan dan fungsi. Bahkan pembicara yang
dianggap berbahasa Indonesia dipermalukan oleh peserta kongres.
Peristiwa kongres yang serupa dengan bahasa (daerah) Jawa akan terus
bermunculan.
 
Sudah saatnya kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia ditata kembali oleh
pemerintah Indonesia.
 
Langkah yang perlu ditempuh pemerintah ialah reorientasi perencanaan
bahasa nasional dengan mengintegrasikan bahasa daerah ke dalam wadah
bahasa persatuan Indonesia. Perbedaan bahasa lokal (daerah) dan nasional
perlu dirancang berbentuk sebuah kontinum, bukan dikotomi seperti
sekarang ini. Jika konstruksi kebudayaan bangsa ini tidak kuat dari sisi
bahasa persatuan, Indonesia akan punya citra sebagai bangsa yang
tercabik-cabik dan bahasa Indonesia akan terus kehilangan prospek jangka
panjang ke depan. Untuk belajar bahasa Indonesia, orang pun bakal malas.
 
Anak-anak sekolah Australia sudah terlihat mulai malas memilih mata
pelajaran bahasa Indonesia. Tragedi bom Bali memang menyisakan derita
bagi keberadaan bahasa Indonesia di Australia, tapi tragedi kemanusiaan
itu tentu tidak menjadi satusatunya faktor pemicu kemerosotan jumlah
pembelajar bahasa Indonesia. Daya tarik bahasa Indonesia sudah merosot
di dalam negeri sendiri.
 
Jangankan anak sekolah Australia, anak sekolah Indonesia saja sudah
enggan menerima mata pelajaran bahasa Indonesia.
 
Ketika disuruh giat belajar bahasa Indonesia, tak jarang mereka
menjawab,"Males, ah!"●
 
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/01/07/ArticleHtmls/Derita-Sekolah-Australia-Berbahasa-Indonesia-07012012009004.shtml?Mode=1

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

4a.

MENGUNJUNGI INDIA (Part 2) : Ndhesit Berlagak Khutit

Posted by: "Satria Dharma" satriadharma2002@yahoo.com   satriadharma2002

Sat Jan 7, 2012 5:18 pm (PST)



MENGUNJUNGI INDIA (Part 2) : Ndhesit Berlagak Khutit
Tulisan saya ttg rencana kami mengunjungi India mendapat beberapa komentar di milis-milis. Salah satunya adalah ttg cuaca di India. Ternyata India tidak memiliki empat musim seperti Eropa yg saya duga. Meski punya empat musim tapi tidak ada musim semi dan musim gugur (Autumn dan Fall) melainkan Summer, Winter,  Moonsoon (atau musim hujan), dan Post Moonsoon (malah ada yang bilang enam musim). Dinginnya Winter di India tidak seperti di Eropa dan hanya malam hari saja.  Atas saran Mbak Pangesti akhirnya long john saya keluarkan dari koper. 'Olaopo nggowo long john?' Katanya,'Ojo ndhesit'. Saya sampai diketawai habis sama Cak Nanang dan bilang saya ini 'ndesit berlagak kuthit'. Terbayang di benak saya dia ketawa terpingkal-pingkal saking senengnya menemukan kesalahan saya mengira India bermusim empat seperti di Eropa tersebut. Kira-kira sama kalau kita mengira mammoth itu sejenis anjing. Alangkah gembira hatinya kira-kira membayangkan saya salah kostum
masuk India! Mungkin ia akan membayangkan saya seperti Benny dan Mice yg masuk Kuta pakai dasi.)
Jadi meski pun di India ada musim dingin tapi tidak seperti di negara Eropa yg bersalju. Tak ada salju di India. Bagi yg pernah berhaji atau umrah pada musim tertentu di Saudi Arabia maka cuaca juga bisa sangat dingin. Jadi ya kira-kira seperti itulah.
Begitu membaca 'moonsoon' saya lantas sadar bahwa sebenarnya saya seringkali membaca ttg musim ini di buku-buku. 'Moonsoon' bukanlah istilah yg asing bagi saya. Tapi toh saya bisa terlewat memahami di mana musim 'moonsoon' itu berada dan mengira bahwa India memiliki empat musim seperti di Kanada. Sebelum ini saya bahkan mengira India itu seperti di Indonesia yg beriklim tropis dan baru sadar bahwa letak India di peta itu di atas Katulistiwa. Tentu saja ini kesalahan guru saya. Somebody must be blamed for this misunderstanding. Hehehe...! Jadi saya menyalahkan guru Geografi saya yg tidak bisa memberi saya pemahaman yang benar tentang letak geografis negara-negara dan iklimnya dengan baik. :-D. Lha wong kalau ditanya Indonesia punya berapa musim saya selalu menjawab,"Banyak, Pak De. Ada musim mangga, musim rambutan Binje, musim layangan, bal-balan, tawuran antar kampung, musim haji, cerai massal, dll. Pokoknya soal musim Indonesia itu topnya." Orang Jawa
punya musim yg unik yaitu musim 'rendang (rendeng)' dan 'ketiga (ketigo)'. Jadi kalau Madigondo diminta menerjemahkan kalimat 'Yen ketigo udane deres lan angine nggebes' akan menerjemahkannya menjadi 'Pada musim Ketiga hujannya deras dan anginnya nggebas.'

Jadi begitu mendengar informasi bahwa kalau siang cuaca tidak terlalu dingin maka koper kami bongkar kembali. Jaket tebal utk musim dingin yg baru saya beli tidak jadi saya bawa. Menuh-menuhin koper aja. Cukup sweater saja. (Mohon kalau ada yg tertarik utk membeli jaket tebal gres saya tersebut segera menghubungi saya. Siapa cepat dia dapat. Warna biru dongker dengan empat saku. Waktu saya pakai rasanya gagah sekali. Serasa jadi Tom Cruise di film terbarunya 'Ghost Protocol'. Apalagi kalau saya padu padankan dengan topi kerpus berlabel Nike. Wah….TOP BGT...! Saya sampai pangling dengan diri saya sendiri. Seolah perpaduan antara Roy Marthen dengan Kartolo. Wistalah...! Apik...apik! Saya beri diskon khusus. Kalau diibaratkan mobil spedometernya masih 0 km lho! Bisa pakai KPJ (Kredit Pemilikan Jaket) kalau mau.)

Selain soal cuaca saya juga diingatkan teman utk berhati-hati sama penjual India. Mereka itu ahli merayu pembeli, dan juga bisa licik. Lha wong ular kobra saja bisa dirayu utk menari sama mereka kok. Mereka bisa menguber kita utk tawar menawar sampai ke lantai bawah padahal tokonya di lantai dua. Pembeli lugu seperti saya bisa diuntal hidup-hidup. Tapi saya tidak kuatir soal ini. Istri saya itu jagonya tawar menawar. Menawar itu semacam hobi yg dikembangkannya sampai pada tahap master. Saya bahkan sering mengoloknya sebagai 'Si Raja Tega' kalau dia sedang menerapkan ilmu menawar tingkat tingginya pada penjual yg sedang sepi pembeli. Jadi ini nantinya tentu akan sangat menarik karena akan menjadi semacam pertarungan atau duel meet antar master. Saya membayangkan jurus demi jurus akan dilayangkan oleh penjual utk menghancurkan pertahanan istri saya dan istri saya akan mengeluarkan semua ilmu menawarnya sambil menjawab, "Nehi...nehi...!". Sungguh indah
membayangkannya...!

Bicara soal pendidikan, India itu paradoksal. Di satu pihak kita bisa melihat bahwa mereka memang hebat dan penduduknya punya budaya belajar yg tinggi. Sekolah-sekolahnya maju karena guru-gurunya juga memiliki kualifikasi yg tinggi. Untuk bisa mengajar mereka harus mengikuti ujian sertifikasi setiap lima tahun sekali. Keinginan belajar masyarakat India sangat kuat karena hidup di India sebenarnya susah dan penuh persaingan. Kalau tidak pintar, ya jadi gelandangan. Demikian katanya. Jadi sekolah adalah sarana untuk menaikkan status sosial dan ekonomi masyarakat. Yang hebat lagi adalah budaya bacanya yang katanya nggak kalah sama org-org Barat. Mereka pandai berargumen, kritis dan suka berdebat mempertahankan opini (Apa saya ketitisan darah India ya…?!). Mungkin kebalikan dengan orang Jawa yg suka mengalah dan tidak mau berdebat.
Tapi di sisi lain kita bisa melihat bahwa India masih menghadapi masalah pendidikan yang besar. Karena India adalah negara raksasa dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar maka permasalahan mereka juga luar biasa. Dalam pendidikan India menghadapi masalah yang sangat kompleks. Berdasarkan statistik jumlah penduduk yang buta huruf di India masih ratusan juta orang. World Bank menemukan fakta bahwa hampir separoh jumlah penduduk india tidak mengikuti pendidikan di sekolah menengah. Kemampuan membaca rata-rata siswa India juga rendah. Berbeda dengan di india, masalah gender adalah masalah besar di India. Anak perempuan dianggap kurang berharga ketimbang anak laki-laki. Dan ini mempengaruhi tingkat pendidikan anak perempuan di India. Masih sangat banyak anak perempuan yang tidak bersekolah dan otomatis jadi buta huruf. Kata wikipedia, Out of the 24 states in India, 6 of them have female literacy rates of below 60 percent. The rural state Rajasthan has a
female literacy rate of less than 12 percent.[63].  Sungguh mengerikan…!
Soal fasilitas sekolah India juga punya masalah besar. Pada sebuah studi pada 188 sekolah SD negeri ternyata 59%-nya tidak menyediakan air minum dan 89%-nya tidak punya WC dan hanya 3,5% sekolah yang membedakan WC laki-laki dan perempuan (tapi kalau mau dibandingkan dengan Indonesia tentu saja kita bakal kelabakan kalau ternyata ditemukan bahwa TAK SATU PUN sekolah SD negeri di kota-kota besar indonesia yang menyediakan air minum bagi siswanya. Urusan air minum siswa nampaknya TIDAK PERNAH menjadi masalah bagi pemerintah Indonesia).
Ada fakta lain yang menarik di india. Diperkirakan bawah pada tahun 2030 jumlah penduduk India akan dapat mengalahkan China yang sekarang jumlah penduduknya sekitar 1,3 milyar. Mengapa demikian? Ternyata ini berhubungan dengan politik negara dan masalah pendidikan. Di China ada aturan yang sangat ketat tentang jumlah anak. Setiap pasangan hanya boleh punya 1 anak. Jadi di China setiap anak itu tidak punya sepupu karena bapak dan emaknya adalah anak tunggal juga. Dengan cara ini China mampu mengerem ledakan penduduknya.
Bagaimana dengan India? India tidak memiliki kebijakan seperti itu. Lagipula katanya ternyata sekitar 50% gadis India menikah sebelum usianya mencapai 18 tahun…! Karena kebanyakan dari mereka tidak bersekolah maka oleh orang tuanya mereka segera dikawinkan saja. Jadi bayangkan betapa produktifnya wanita India dalam menghasilkan anak sebelum usia menopausenya. Hal ini tentu berbeda dengan keluarga yang berpendidikan yang cenderung untuk menunda usia menikah anak-anak gadisnya.
Apakah gadis India cantik-cantik? Aha…! Saya tahu bahwa sampeyan pasti ingin tahu yang satu ini. Jawabnya,"Ya! Gadis India cantik-cantik". Lha saya kok tahu wong belum sampai di India…?! Gampang Le…! Takono Mbah Gugel. Gadis-gadis India itu telah memenangkan 5 gelar Miss World dan 2 kali Miss Universe…! Salah seorang gadis India yang memenangkan Miss Asia dan sekaligus Miss World yang bernama Aishwarya Rai begitu cantiknya sampai-sampai Julia Roberts, artis Amerika yang dianggap jan uayu tenan itu, mengakui bahwa "Aishwarya Rai is the most beautiful woman in the world". Grogi dia berhadapan dengan si Aish ini..! Padahal Miss Indonesia Nadine Alexandra Dewi Ames yang katanya cantik uleng-ulengan itu saja gagal masuk 16 Besar Miss Universe 2011 lho…! Lha ndahniyo cantiknya Aishwarya Rai yang katanya sekarang jadi artis film India itu…!
Bicara soal teknologi Informasi…
Karena India adalah raksasa di bidang IT maka India saat ini memiliki 112 juta pengguna internet, ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. (Indonesia sendiri memiliki pengguna internet sekitar 40 juta orang dan merupakan pengguna terbesar ke lima di Asia).
The Internet and Mobile Association of India (IMAI) memperkirakan bahwa 5 sampai 7 juta pengguna baru selalu bertambah setiap bulan dan dengan pertumbuhan seperti ini, India akan memiliki lebih banyak pengguna daripada Amerika Serikat dua tahun ke depan. Bayangkan pertumbuhan ekonominya...! Tapi hal ini juga akan membawa dampak negatif lain yaitu semakin tingginya pengguna yang berpotensi menjadi penyumbang e-mail spam. Saat ini saja India sudah di peringkat pertama utk masalah spammer (dan Indonesia di peringkat kedua...!)

Pejabat pemerintah tidak mungkin bertindak tegas karena India belum memiliki undang-undang antispam. Hal serupa terjadi di Indonesia, seperti yang dikutip dari DailySocial, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik  (UU No 11 Tahun 2008/UU ITE) tidak secara eksplisit mengemukakan pasal yang berkaitan dengan e-mail spam.
Di bidang pendidikan teknologi informasi India membut langkah besar untuk memajukan dunia pendidikannya. India mengatakan konektivitas ke seluruh mahasiswa dan universitas merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan negara itu. Untuk itu India baru-baru ini mengenalkan prototipe laptop berharga 35 dolar sebagai bagian dari program menyediakan konektivitas siswa sekolah dengan gurunya di negara itu. Kapil Sibal, Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia India, menyatakan itu sebagai komputasi dan perangkat akses berbiaya murah. Dikatakannya gadget yang menggunakan layar sentuh itu dilengkapi dengan browser internet, PDF Reader dan juga fasilitas untuk melakukan video conference. Laptop tersebut akan berjalan dengan menggunakan sistem operasi Linux. Nantinya pada tahun 2011, harga gadget tersebut diharapkan dapat turun menjadi sekitar USD20 dan USD10. Gadget yang dikembangkan oleh peneliti di Indian Institute of Technology (IIT) dan the Indian
Institute of Science (IIS) ini direncanakan akan dipakai di 18 ribu sekolah tinggi dan 400 universitas. Laptop murah yang diberi nama Sakshat itu merupakan misi nasional pemerintah India yang didanai sekitar 46 Miliar Rupee. Sejumlah penerbit buku juga setuju dengan program ini. Menurut info mereka akan menyumbangkan sebagian teks buku untuk dimasukkan kedalam laptop. Jadi ini memang kolaborasi antara beberapa pihak untuk memajukan mutu pendidikan India dengan lompatan jauh ke depan.
Bagamana dengan Indonesia…?! Sampai hari ini belum jelas bagaimana terobosan pemerintah Indonesia dalam menyiasati pembelajaran teknologi informasi bagi siswa Indonesia khususnya pada penyediaan perangkat semacam ini.

Saya sendiri punya masalah dalam hal komunikasi selama di India nanti, yaitu bagaimana menyiasati agar tagihan BB dan telpon saya tidak bengkak (dan menjebol tabungan saya). Selama ini saya pakai kartu Hallo yg pasca bayar dan setiap kali ke LN tagihan telpon saya selalu tujuh dijit. Ambleg...! Saya belum sempat ke Telkomsel utk mendiskusikannya.
Tapi dari seorang teman saya disarankan untuk membeli nomor di India saja selama di sana dan mematikan nomor Telkomsel saya. Tapi saya kuatir begitu saya pencet yang keluar adalah गलत नंबर
Lha saya bisa repot nanti…!
Wis ya…! Saya tinggal dulu ke India. Jangan berkelahi sepeninggal saya. Kalau dapat rejeki ya dibagi-bagi yang rata. Sampai ketemu di India….! Acha…! Acha…!
Denpasar, 8 Januari 2011

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

4b.

Re: MENGUNJUNGI INDIA (Part 2) : Ndhesit Berlagak Khutit

Posted by: "nanang" nanang60@yahoo.com   nanang60

Sat Jan 7, 2012 5:45 pm (PST)



Ediyan peno Cak, belum nyampe India aja ndobos nggedabrus sudah satu Juz hehehe ndanio sdh nyampe sana dan ketemu Sakhrukh Khan, bisa 5 Juz sehari. Ojo lali cak, kita punya "artis bollywood" yg dicemburui bu Dirjen saking ayune.
Zuzur, ane males mbaca tulisan ente yg serius dan penuh rujukan (hidup gua udah susah, ente tambahi susah dg nyuruh baca rujukan, nehi !!), yg ini ane baca sampei khatam dan tergelak gelak dan ane bayangin kita nglayap bareng dan nulis cerita bareng, alamak asyiknya. Kita nyaingi komiknya Benny yg terbaru yuk "3 Manula Plesir ke Singapura...", lucu pol.
Selamat jalan cak, salam buat mbakyu Kajool yg semlohay tur uayu pol itu ya.

wasalam
Nanang
http://ahmadrizali.com

-----Original Message-----
From: Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>
Sender: cfbe@yahoogroups.com
Date: Sat, 7 Jan 2012 17:18:16
To: IGI<ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>; Keluarga Happy<keluargaHappy@yahoogroups.com>; keluarga unesa<keluargaunesa@yahoogroups.com>; center<cfbe@yahoogroups.com>; Milis Istiqamah<sd-smp-it-istiqomah-balikpapan@yahoogroups.com>; sdislam<sd-islam@yahoogroups.com>; Milis RUK<R-u-K@yahoogroups.com>; Lukman AlHakim<luqmanalhakim@yahoogroups.com>; Sepeda Untuk Sekolah<sepeda_untuk_sekolah@yahoogroups.com>; milis stikom<stikom-bpp@yahoogroups.com>; SMPN 2 Surabaya<SMP_NEGERI_2_SURABAYA@yahoogroups.com>; Dikbud<dikbud@yahoogroups.com>; GGMI<gerakan_guru_melek_internet@yahoogroups.com>; APTIKOM<aptikom@lists.aptikom.org>
Reply-To: cfbe@yahoogroups.com
Cc: Subur Anugerah<subura@gmail.com>
Subject: [cfbe] MENGUNJUNGI INDIA (Part 2) : Ndhesit Berlagak Khutit

MENGUNJUNGI INDIA (Part 2) : Ndhesit Berlagak Khutit
Tulisan saya ttg rencana kami mengunjungi India mendapat beberapa komentar di milis-milis. Salah satunya adalah ttg cuaca di India. Ternyata India tidak memiliki empat musim seperti Eropa yg saya duga. Meski punya empat musim tapi tidak ada musim semi dan musim gugur (Autumn dan Fall) melainkan Summer, Winter,  Moonsoon (atau musim hujan), dan Post Moonsoon (malah ada yang bilang enam musim). Dinginnya Winter di India tidak seperti di Eropa dan hanya malam hari saja.  Atas saran Mbak Pangesti akhirnya long john saya keluarkan dari koper. 'Olaopo nggowo long john?' Katanya,'Ojo ndhesit'. Saya sampai diketawai habis sama Cak Nanang dan bilang saya ini 'ndesit berlagak kuthit'. Terbayang di benak saya dia ketawa terpingkal-pingkal saking senengnya menemukan kesalahan saya mengira India bermusim empat seperti di Eropa tersebut. Kira-kira sama kalau kita mengira mammoth itu sejenis anjing. Alangkah gembira hatinya kira-kira membayangkan saya salah kostum
masuk India! Mungkin ia akan membayangkan saya seperti Benny dan Mice yg masuk Kuta pakai dasi.)
Jadi meski pun di India ada musim dingin tapi tidak seperti di negara Eropa yg bersalju. Tak ada salju di India. Bagi yg pernah berhaji atau umrah pada musim tertentu di Saudi Arabia maka cuaca juga bisa sangat dingin. Jadi ya kira-kira seperti itulah.
Begitu membaca 'moonsoon' saya lantas sadar bahwa sebenarnya saya seringkali membaca ttg musim ini di buku-buku. 'Moonsoon' bukanlah istilah yg asing bagi saya. Tapi toh saya bisa terlewat memahami di mana musim 'moonsoon' itu berada dan mengira bahwa India memiliki empat musim seperti di Kanada. Sebelum ini saya bahkan mengira India itu seperti di Indonesia yg beriklim tropis dan baru sadar bahwa letak India di peta itu di atas Katulistiwa. Tentu saja ini kesalahan guru saya. Somebody must be blamed for this misunderstanding. Hehehe...! Jadi saya menyalahkan guru Geografi saya yg tidak bisa memberi saya pemahaman yang benar tentang letak geografis negara-negara dan iklimnya dengan baik. :-D. Lha wong kalau ditanya Indonesia punya berapa musim saya selalu menjawab,"Banyak, Pak De. Ada musim mangga, musim rambutan Binje, musim layangan, bal-balan, tawuran antar kampung, musim haji, cerai massal, dll. Pokoknya soal musim Indonesia itu topnya." Orang Jawa
punya musim yg unik yaitu musim 'rendang (rendeng)' dan 'ketiga (ketigo)'. Jadi kalau Madigondo diminta menerjemahkan kalimat 'Yen ketigo udane deres lan angine nggebes' akan menerjemahkannya menjadi 'Pada musim Ketiga hujannya deras dan anginnya nggebas.'

Jadi begitu mendengar informasi bahwa kalau siang cuaca tidak terlalu dingin maka koper kami bongkar kembali. Jaket tebal utk musim dingin yg baru saya beli tidak jadi saya bawa. Menuh-menuhin koper aja. Cukup sweater saja. (Mohon kalau ada yg tertarik utk membeli jaket tebal gres saya tersebut segera menghubungi saya. Siapa cepat dia dapat. Warna biru dongker dengan empat saku. Waktu saya pakai rasanya gagah sekali. Serasa jadi Tom Cruise di film terbarunya 'Ghost Protocol'. Apalagi kalau saya padu padankan dengan topi kerpus berlabel Nike. Wah….TOP BGT...! Saya sampai pangling dengan diri saya sendiri. Seolah perpaduan antara Roy Marthen dengan Kartolo. Wistalah...! Apik...apik! Saya beri diskon khusus. Kalau diibaratkan mobil spedometernya masih 0 km lho! Bisa pakai KPJ (Kredit Pemilikan Jaket) kalau mau.)

Selain soal cuaca saya juga diingatkan teman utk berhati-hati sama penjual India. Mereka itu ahli merayu pembeli, dan juga bisa licik. Lha wong ular kobra saja bisa dirayu utk menari sama mereka kok. Mereka bisa menguber kita utk tawar menawar sampai ke lantai bawah padahal tokonya di lantai dua. Pembeli lugu seperti saya bisa diuntal hidup-hidup. Tapi saya tidak kuatir soal ini. Istri saya itu jagonya tawar menawar. Menawar itu semacam hobi yg dikembangkannya sampai pada tahap master. Saya bahkan sering mengoloknya sebagai 'Si Raja Tega' kalau dia sedang menerapkan ilmu menawar tingkat tingginya pada penjual yg sedang sepi pembeli. Jadi ini nantinya tentu akan sangat menarik karena akan menjadi semacam pertarungan atau duel meet antar master. Saya membayangkan jurus demi jurus akan dilayangkan oleh penjual utk menghancurkan pertahanan istri saya dan istri saya akan mengeluarkan semua ilmu menawarnya sambil menjawab, "Nehi...nehi...!". Sungguh indah
membayangkannya...!

Bicara soal pendidikan, India itu paradoksal. Di satu pihak kita bisa melihat bahwa mereka memang hebat dan penduduknya punya budaya belajar yg tinggi. Sekolah-sekolahnya maju karena guru-gurunya juga memiliki kualifikasi yg tinggi. Untuk bisa mengajar mereka harus mengikuti ujian sertifikasi setiap lima tahun sekali. Keinginan belajar masyarakat India sangat kuat karena hidup di India sebenarnya susah dan penuh persaingan. Kalau tidak pintar, ya jadi gelandangan. Demikian katanya. Jadi sekolah adalah sarana untuk menaikkan status sosial dan ekonomi masyarakat. Yang hebat lagi adalah budaya bacanya yang katanya nggak kalah sama org-org Barat. Mereka pandai berargumen, kritis dan suka berdebat mempertahankan opini (Apa saya ketitisan darah India ya…?!). Mungkin kebalikan dengan orang Jawa yg suka mengalah dan tidak mau berdebat.
Tapi di sisi lain kita bisa melihat bahwa India masih menghadapi masalah pendidikan yang besar. Karena India adalah negara raksasa dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar maka permasalahan mereka juga luar biasa. Dalam pendidikan India menghadapi masalah yang sangat kompleks. Berdasarkan statistik jumlah penduduk yang buta huruf di India masih ratusan juta orang. World Bank menemukan fakta bahwa hampir separoh jumlah penduduk india tidak mengikuti pendidikan di sekolah menengah. Kemampuan membaca rata-rata siswa India juga rendah. Berbeda dengan di india, masalah gender adalah masalah besar di India. Anak perempuan dianggap kurang berharga ketimbang anak laki-laki. Dan ini mempengaruhi tingkat pendidikan anak perempuan di India. Masih sangat banyak anak perempuan yang tidak bersekolah dan otomatis jadi buta huruf. Kata wikipedia, Out of the 24 states in India, 6 of them have female literacy rates of below 60 percent. The rural state Rajasthan has a
female literacy rate of less than 12 percent.[63].  Sungguh mengerikan…!
Soal fasilitas sekolah India juga punya masalah besar. Pada sebuah studi pada 188 sekolah SD negeri ternyata 59%-nya tidak menyediakan air minum dan 89%-nya tidak punya WC dan hanya 3,5% sekolah yang membedakan WC laki-laki dan perempuan (tapi kalau mau dibandingkan dengan Indonesia tentu saja kita bakal kelabakan kalau ternyata ditemukan bahwa TAK SATU PUN sekolah SD negeri di kota-kota besar indonesia yang menyediakan air minum bagi siswanya. Urusan air minum siswa nampaknya TIDAK PERNAH menjadi masalah bagi pemerintah Indonesia).
Ada fakta lain yang menarik di india. Diperkirakan bawah pada tahun 2030 jumlah penduduk India akan dapat mengalahkan China yang sekarang jumlah penduduknya sekitar 1,3 milyar. Mengapa demikian? Ternyata ini berhubungan dengan politik negara dan masalah pendidikan. Di China ada aturan yang sangat ketat tentang jumlah anak. Setiap pasangan hanya boleh punya 1 anak. Jadi di China setiap anak itu tidak punya sepupu karena bapak dan emaknya adalah anak tunggal juga. Dengan cara ini China mampu mengerem ledakan penduduknya.
Bagaimana dengan India? India tidak memiliki kebijakan seperti itu. Lagipula katanya ternyata sekitar 50% gadis India menikah sebelum usianya mencapai 18 tahun…! Karena kebanyakan dari mereka tidak bersekolah maka oleh orang tuanya mereka segera dikawinkan saja. Jadi bayangkan betapa produktifnya wanita India dalam menghasilkan anak sebelum usia menopausenya. Hal ini tentu berbeda dengan keluarga yang berpendidikan yang cenderung untuk menunda usia menikah anak-anak gadisnya.
Apakah gadis India cantik-cantik? Aha…! Saya tahu bahwa sampeyan pasti ingin tahu yang satu ini. Jawabnya,"Ya! Gadis India cantik-cantik". Lha saya kok tahu wong belum sampai di India…?! Gampang Le…! Takono Mbah Gugel. Gadis-gadis India itu telah memenangkan 5 gelar Miss World dan 2 kali Miss Universe…! Salah seorang gadis India yang memenangkan Miss Asia dan sekaligus Miss World yang bernama Aishwarya Rai begitu cantiknya sampai-sampai Julia Roberts, artis Amerika yang dianggap jan uayu tenan itu, mengakui bahwa "Aishwarya Rai is the most beautiful woman in the world". Grogi dia berhadapan dengan si Aish ini..! Padahal Miss Indonesia Nadine Alexandra Dewi Ames yang katanya cantik uleng-ulengan itu saja gagal masuk 16 Besar Miss Universe 2011 lho…! Lha ndahniyo cantiknya Aishwarya Rai yang katanya sekarang jadi artis film India itu…!
Bicara soal teknologi Informasi…
Karena India adalah raksasa di bidang IT maka India saat ini memiliki 112 juta pengguna internet, ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. (Indonesia sendiri memiliki pengguna internet sekitar 40 juta orang dan merupakan pengguna terbesar ke lima di Asia).
The Internet and Mobile Association of India (IMAI) memperkirakan bahwa 5 sampai 7 juta pengguna baru selalu bertambah setiap bulan dan dengan pertumbuhan seperti ini, India akan memiliki lebih banyak pengguna daripada Amerika Serikat dua tahun ke depan. Bayangkan pertumbuhan ekonominya...! Tapi hal ini juga akan membawa dampak negatif lain yaitu semakin tingginya pengguna yang berpotensi menjadi penyumbang e-mail spam. Saat ini saja India sudah di peringkat pertama utk masalah spammer (dan Indonesia di peringkat kedua...!)

Pejabat pemerintah tidak mungkin bertindak tegas karena India belum memiliki undang-undang antispam. Hal serupa terjadi di Indonesia, seperti yang dikutip dari DailySocial, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik  (UU No 11 Tahun 2008/UU ITE) tidak secara eksplisit mengemukakan pasal yang berkaitan dengan e-mail spam.
Di bidang pendidikan teknologi informasi India membut langkah besar untuk memajukan dunia pendidikannya. India mengatakan konektivitas ke seluruh mahasiswa dan universitas merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan negara itu. Untuk itu India baru-baru ini mengenalkan prototipe laptop berharga 35 dolar sebagai bagian dari program menyediakan konektivitas siswa sekolah dengan gurunya di negara itu. Kapil Sibal, Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia India, menyatakan itu sebagai komputasi dan perangkat akses berbiaya murah. Dikatakannya gadget yang menggunakan layar sentuh itu dilengkapi dengan browser internet, PDF Reader dan juga fasilitas untuk melakukan video conference. Laptop tersebut akan berjalan dengan menggunakan sistem operasi Linux. Nantinya pada tahun 2011, harga gadget tersebut diharapkan dapat turun menjadi sekitar USD20 dan USD10. Gadget yang dikembangkan oleh peneliti di Indian Institute of Technology (IIT) dan the Indian
Institute of Science (IIS) ini direncanakan akan dipakai di 18 ribu sekolah tinggi dan 400 universitas. Laptop murah yang diberi nama Sakshat itu merupakan misi nasional pemerintah India yang didanai sekitar 46 Miliar Rupee. Sejumlah penerbit buku juga setuju dengan program ini. Menurut info mereka akan menyumbangkan sebagian teks buku untuk dimasukkan kedalam laptop. Jadi ini memang kolaborasi antara beberapa pihak untuk memajukan mutu pendidikan India dengan lompatan jauh ke depan.
Bagamana dengan Indonesia…?! Sampai hari ini belum jelas bagaimana terobosan pemerintah Indonesia dalam menyiasati pembelajaran teknologi informasi bagi siswa Indonesia khususnya pada penyediaan perangkat semacam ini.

Saya sendiri punya masalah dalam hal komunikasi selama di India nanti, yaitu bagaimana menyiasati agar tagihan BB dan telpon saya tidak bengkak (dan menjebol tabungan saya). Selama ini saya pakai kartu Hallo yg pasca bayar dan setiap kali ke LN tagihan telpon saya selalu tujuh dijit. Ambleg...! Saya belum sempat ke Telkomsel utk mendiskusikannya.
Tapi dari seorang teman saya disarankan untuk membeli nomor di India saja selama di sana dan mematikan nomor Telkomsel saya. Tapi saya kuatir begitu saya pencet yang keluar adalah गलत नंबर
Lha saya bisa repot nanti…!
Wis ya…! Saya tinggal dulu ke India. Jangan berkelahi sepeninggal saya. Kalau dapat rejeki ya dibagi-bagi yang rata. Sampai ketemu di India….! Acha…! Acha…!
Denpasar, 8 Januari 2011

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Groups

Cat Owners Group

Join a community

for cat lovers

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Learn about issues

Find support

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
Website: http://www.cbe.or.id

Hanya menerima daily digest: cfbe-digest@yahoogroups.com
Tidak menerima email: cfbe-nomail@yahoogroups.com
Kembali ke normal: cfbe-normal@yahoogroups.com
Berhenti berlangganan: cfbe-unsubscribe@yahoogroups.com
----------------- cfbe@yahoogroups.com -----------------
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

No comments:

Post a Comment