Ya Allah terima kasih atas segala kesempatan dan limpahan rejeki pada hamba, yang dengan anugrahmu, hamba belajar. Dari membaca sejumlah referensi hari ini, semakin jelas bagaimana para pakar mengkomunikasikan idenya dan melakukan analisis pada fenomena yang ada.
Kata Prof Adler, kita memerlukan cara atau alat untuk menjelaskan fenomena yang terjadi.
Misalnya, fenomena bagaimana efek kebijakan RSBI. Fenomena cara guru memanfaatkan teknologi, fenomena respon para masyarakat terhadap Unas.
Untuk menjelaskan semua ini kita perlu teori.
Tapi kadang dalam upaya menggunakan teori itu, justru diketahui letak kelemahan teori itu. Teori tak cukup sehingga terjadilah revisi atau pengembangan.
Persoalan yang kritis dalam pembelajaran kita adalah ketika kita tidak diajak berfikir kritis, mengkritisi teori yang ada.
Kita menanggapi teori layaknya sebagai resep ampuh yang harus dilaksanakan.
Padahal, munculnya teori itu merupakan hasil pengembangan dari situasi tertentu, konteks tertentu. Teori itu sendiri kadang2 terlalu padat, hasil pemadatan dari sejumlah deskripsi panjang. Tak bisa dihindari juga bahwa teori tsb kadang-kadang diinterpretasi secara berbeda pada penulisnya. Penulisnya pun kadang-kadang sulit menjelaskan apalagi kalau sipengembang teori tsb sdh meninggal.
Okelah. Ini adalah proses belajar. Karena di sinilah hakikat dari PhD, harus punya wawasan yang luas, harus kuat dalam berargumen.
Lantas apa yang akan saya tulis utk konferensi ICME. Jangan panik.
Masih ada waktu untuk berpikir. Semoga Allah menolongku untuk merumuskannya.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment