Selaku orang kampungan yang berwawasan terbatas, saya harus jujur bahwa saya kadang-kadang berpersepsi keliru dan bahkan fatal. Saya akan beri satu saja contoh, semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi pembacanya.
Saat saya dinyatakan diterima S3 di Australia, dengan beasiswa 50 bulan (4 tahun), saya tidak dipersyaratkan kuliah. Saya hanya dituntut menghasilkan disertasi. Artinya semacam laporan penelitian. Wah terpikir saat itu, enak banget TIDAK KULIAH. Ini mungkin lebih mudah dari S2 saya di Indonesia. Saat saya S2, hampir tiap hari kuliah, sering belajar pagi hingga larut malam, banyak tugas menulis makalah, dan banyak ujian (UTS, UAS). Sibuk banget deh! Padahal kerjaan cuma belajar (tidak ada kerja sampingan). Lah di S3 tak ada kuliah! Enak banget ya.
TERNYATA, dasar Sitti Maesuri, si anak kampungan ini, salah kaprah.
Pikiran enak itu salah 100%. Tapi baru sadar saat menjalaninya.
Kenyataan yang ada, waktu 8 jama sehari atau 40 jam seminggu (berdasarkan panduan sukses studi S3), SANGAT TIDAK CUKUP untuk saya pribadi. Bahkan tidak jarang terpaksa bekerja hingga malam di kantor atau merenung sambil menulis diperpus hingga jam tutup perpus (jam 11 malam). Perpusnya sih nyaman banget. Kenyamanan itu tergambar di .....
Pengalaman ini pulalah yang membuat saya semakin kagum pada suami saya. Beliau selalu bilang, pokoknya kalau memang diperlukan tinggal sampai malam tinggal saja. Saya akan dampingi anak-anak. Pokoknya telp sj jk saatnya pulang. Saya akan jemput.
Kadang beliau baru tertidur, saya telp. Saya menyatakan rasa bersalah. Beliau tak pernah sedikitpun mengeluh, atau terdengar rasa keberatan. Padahal di tengah malam setelah saya pulang beliau berangkat kerja. Dia dalam beberapa kesempatan bilang, resiko dipecat dari dosen PNS pun beliau rela, demi keutuhan keluarga, demi menjalankan amanah dari Allah. Katanya masa sih mengkaji pendidikan tapi mau mengorbankan pendidikan. Saat sebelum ke Australia, kami memang menghadapi masa-masa sulit. Saya di Australia, suami sibuk kerja selaku dosen PNS, kedua anak yang masih kecil dititip di kampung di Sulsel di tempat neneknya. Beliau pun akhirnya rela beralih dari kerja selaku dosen menjadi tukang bersih atau tukang ngantar makanan di Australia, sambil beliau belajar bhs Inggris. Katanya tak perlu malu, yang penting halal. Katanya kerja sini jauh lebih mudah dari pada bertani dan jadi tukang jahit (karena pengalaman jadi petani dan tukang jahit sejak kecil-bahkan saat mahasiswa juga sambil menjahit dan ngajar walau saat itu beliau sangat aktif diorganisasi). Wajar kan jika diam-diam saya mengaguminya. Ooops kok cerita ttg suami sih. Barangkali ini pertanda istri yang terlalu kangen pada suami tercinta.
Let's back to the story of anak kampungan yang salah persepsi.
Ok, sebenarnya sebelum S3 saya dengar dari salah seorang Bapak Pendidikan Matematika, orang yang sangat berjasa dalam mendirikan program Pasca Unesa. Beliau bilang, perbedaan antara S2 dan S3, mahasiswa S3 itu harus menemukan suatu hal baru. Saya tuh baru ngeh maksudnya setelah menjalaninya.
Saya coba pakai analogi, semoga memudahkan saya menjelaskan.
Misal, Anda dituntut membuat kue tradisional Indonesia yang tak ada duanya. Artinya ada hal baru yang tidak dimiliki oleh kue tradisional se Indonesia. Nah apa artinya.
Tidak mungkin Anda mengatakan bahwa kue itu baru tanpa melakukan investigasi mendalam dan menyeluruh. Anda tentu harus mencari referensi kue-kue tradisional Indonesia. Jika ketemu tiga buku, itu kan bukan jaminan bahwa gak ada buku lain. Mungkin Anda juga perlu menemui pakar pembuat kue tradisonal dan cari ide dari mereka.
Bayangkan Anda diminta membuat kue yang baru PADAHAL bikin kue yang biasa saja belum tentu bisa. Sulit kan????Nah maka itu Pantas Anda diberi waktu 4 tahun untuk mempelajari ini, mungkin termasuk mempelajari dasar-dasar pembuatan kue, nama-nama bahan kue dst.
Sama dengan proses PhD, diharapkan bahwa dari proses 4 tahun itu Anda jadi punya keahlian, bisa tampil di depan masyarakat mengajukan argumen dan nantinya semakin mampu mengenali persoalan.
Kembali ke studi PhD dalam pendidikan misalnya, Anda perlu mengenali area yang cukup luas dalam pendidikan matematika. Dan akhirnya mempunya fokus. Semua ini mem butuhkan waktu untuk membaca. Boleh jadi tulisan kita 1 halaman tapi proses itu panjang karena itu ditulis berdasarkan pemahaman kita (mungkin dafri 10 penelitian kebih). Tentu referensi yang kita pilih ada dasrnya. Sama dengan tukang kue tadi, harus tahu bahwa penulisnya memang pakar atau tulisan mereka dapat dipertanggungjawabkan secara alamiah.
Nah proses pencarian ini sering memakan waktu yang lama. Dan tantangan lebih berat lagi adalah kemampuan mengatur waktu. Sebagai mahasiswa S3, mereka dipandang dewasa/mandiri. Tak ada yang mengawasi Anda. Tak ada yang memonitor. Tak ada absensi. Anda tidak lagi dikuliahi. Dikomandoi. Bahkan ada Prof nbilang ke para staf, kalau ada mahasiswa S3 datang mengetguk pintu Anda, maka Anda beruntung. Mengapa karena dia itu dipandang sebagai orang berpengathuan luas punya ide-ide segar.
Dalam membangun proposal mahasiswa S3, tentu mereka perlu tahu jurnal-jurnal berkualitas apa yang tersedia bukan hanya nasional tapi internasional. Dia harus nbanyak membaca dan berupaya memahami. Anda beruntung sekali jika bid penelitian Anda terkait dengan penelitian dosen pembimbing. Anda beruntung jika Anda ditunjukkan bahwa "I ni buku atau artikel" yang harus Anda baca. Saat sebelum S3 saya kesulitan mencari referensi. Tapi saat S3 salah kesulitan memilih. Apalagi artikel yang tersedia dibidang matematika itu rib uan b ahkan jutaan. Hampir setiap hari ada artikel yang terbit. Saya benar-benar kesulitaan saat itu. Belum lagi saya masih harus buka kamus saat membaca atau mau menulis.
Ini semua membawa saya membaca beberapa buktu tentang tips, strategi S3. Ini juga menyebabkan saya ikut sejumlah workshop gratis yang disiapkan secara rutin, misal workshop cara cari info, cara mengorganisir referensi, cara menggunakan M4 word tingkat advance, dan saya juga sering booking 3o menit dengan student support service utk meminta feedback pada tulisa, atau curhat kesulitan yang dihadapi dalam menulis.
Itulah studi PhD. Dia adalah proses belajar yang tidak sederhana. Dia adalah proses yang harus diseriusi. Kartena para PhD inilah yang diharapkan memimpin perubahan atau mempengaruhi perubahan yang ada dihadapannya. Jadi jangan heran misalnya S3 di Australia itu gratis bahkan teman sekantor saya dapat beasiswa utk membiasan penitipan anak di play house. Pemerintah percaya bahwa PhD adalah satu unsur yang diperlukan oleh bangsa.
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment