Semoga saya sekeluarga dan teman-teman FB terpelihara dari hal tsb.
Katanya lagi, yang selingkuh itu banyak antara bos-bos dan pegawai-pegawai honor atau yang masih muda. Para wanita itu pun tak peduli kalau sang laki-laki ada istri bahkan tak jarang laki-laki juga paham kalau selingkuhannya punya suami. Trus, pikir demi pikir, sepertinya cerita itu bukan tak mungkin. Lantas mengapa semakin banyak orang yang menunjukkan gejala perselingkuhan??? Semoga kita semua selalu lapang dada untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran, termasuk dalam menghindarkan diri pada perselingkuhan.
Kita memang perlu mawas diri. Kita harus berupaya utk tdk membuka kesempatan yang demikian. Karena ada hal yang harus kita yakini, bahwa Allah yang tahu hati kita dan apa pun yang kita lakukan pasti ada balasan. Artinya kita tak perlu takut pada siapa-siapa, tapi harus takut, hanya pada Allah.
Suami saya kemarin bilang, karena itulah, kita harus selalu mengingat akhirat. Jgn khawatir dunia, tapi khawatirlah pada akhirat, karena di akhirat hanya ada dua pilihan, surga atau neraka. Pilihan itu ditentukan dalam kehidupan dunia kita. Di sinilah peran agama. Semoga kami suami istri selalu terjaga. Amiin.
Satu hal, saat saya jauh dari suami, di kepala atau di hati saya selalu hadir suami dan anak. Saya sering melihat pergaulan bebas di sekitar saya. Karena itu, saya sibuk bekerja dan menghindari minta bantuan pada laki-laki. Saya tak pernah mau duduk berdua di kantor dengan lawan jenis, walau itu mungkin hal biasa bagi orang di Afrika Selatan. Bahkan, saat kunjungan 2 minggu kemarin, saya menolak diberi kantor yang di dalamnya berpenghuni laki-laki. Ini mungkin tampak kaku. Tapi semua ini demi upaya menghindarkan diri dari fitnah dan hal-hal negatif. Hal lain, dalam berinteraksi dengan orang lain, saya sesegera mungkin mengenalkan diri bahwa saya sdh bersuami dan punya dua anak dan mengatakan suami saya orangnya baik dan selalu mendukung saya. Ini bukan hanya bicara apa adanya tetapi sekaligus membentengi diri. Ini pun kita harus selalu berdoa agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak baik.
Satu hal menarik, karena saya anak kampungan dan tdk terbiasa dengan pentingnya cincin, saya kadang-kadang tdk pakai cincin. Bahkan suatu ketika saat cincin saya patah, terpaksa jari manis kiri saya tak pakai cincin selama beberapa minggu di Afsel. Suatu ketika ada anak muda di Afsel menegur saya. Entah apa yang ditanyakan. Yang pasti saya bilang, saya segera pulang berlibur ke Indonesia karena sudah kangen dengan suami dan anak. Dia pun kaget dan bilang, apa saya serius saya tuh sdh bersuami. Katanya, saya mengira Anda masih single?
Saya baru menyadari beberapa waktu kemudian, baik cewek maupun cowok mengira saya single karena tak pakai cincin di jari manis kiri. Padahal mrk tak tahu, cincin di jari manis kiri kadang saya lepas utk kenyamanan tak pakai cincin, bahkan kadang saya pindahkan cincin ke jari kanan saat saya bersih-bersih, bukan dengan maksud mengubah indikasi status nikah. Gara-gara inilah, saat pulang ke kampung, saya sengaja ke Makasaar (di Somba Opu) beli satu lagi cincin yang cocok utk jari manis kiriku dan sejak itu, saya selalu berusaha pakai cincin di jari manis kiri.
Saat saya belajar bhs Inggris di Bali, saat pertama kali sering pisah suami dalam seminggu, saya sdh mulai sadar tantangan situasi perselingkuhan. Saya sdh merasakan pentingnya berhati-hati, dan saya putuskan lebih baik belajar sendiri dari pada belajar bersama dengan teman laki-laki. Kalau berkelompok, mungkin masih bisa ditolerir, tapi kalau berdua, tentu bisa berdampak negatif setidaknya terhadap pandangan orang lain. Perilaku saya ini yang mungkin membuat suami mempercayai kesetiaanku hingga kini, walau kadang-kadang saya tetap digodanya.
Saya pikir, perselingkuhan bisa dihindari kalau hal di atas dipertimbangkan. Cara lain adalah dengan terus membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Prinsip kami, suami istri perlu terbuka. Sampaikanlah apa yang disukai dan tidak disukai. Kami juga terbiasa saling cerita tentang aktivitas-aktivitas yang kami jalani sehari-hari. Meskipun suami dan saya berjauhan, contohnya saat saya postdoc di Afrika Selatan.
Bagaimana kalau terjadi salah paham antara suami dan istri. Atau terjadi marah antara suami dan istri? Saya pernah baca, dalam situasi seperti ini, jangan pernah curhat pada orang lain yang berbeda jenis kelamin, misal pada teman cowok. Kalau saya sih, saya hindari curhat kepada siapapun kecuali pada suami sendiri saat saya tidak marah. Atau yang terbaik adalah menulis, memberi kesempatan pada diri saya melampiaskan perasaan secara tertulis, tapi juga saya berusaha memandang persoalan dlm berbagai sudut, dan mengakhirinya dengan pertanyaan: TRUS APA?
Ujung-ujungnya, saya sering berkesimpulan, marah itu tak ada gunanya. Lagian kalau saya marah, tubuh saya jadi lelah karena mungkin syaraf tubuh banyak yang putus. Jadi saya kadang-kadang nimbang-nimbang, kalau nerusin marah, apa manfaatnya, kalau batalin marah apa manfaatnya. Dan tips manjur adalah, ingatlah semua kebaikan pasangan, tampung semua kebaikan itu di memori, tapi hapus semua kelemahan atau kesalahan pasangan di memori.
Yang pasti, kenyamanan dalam keluarga memang menjadikan hidup rumit di luar menjadi terasa ringan saat berkumpul dengan keluarga.
Kalau komunikasi kita baik, kalau rasa sayang selalu kita tunjukkan pada pasangan. Kalau rasa saling pengertian dan saling mendukung pada pasangan terus kita bangun, Insya Allah, kita terhindar dari gejala perselingkuhan. Semoga Allah tetap memelihara kesetiaan kita pada pasangan-pasangan kita karena Allah semata.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
No comments:
Post a Comment