Cerita kehidupan berikut mungkin bisa bermanfaat khususnya bagi mereka yang berumah tangga dan bekerja di luar. Saya sendiri pernah berpikir ingin mejadi wanita Ibu rumah tangga biasa yang sebatas mengurusi suami dan anak. Bahkan saya pernah berencana mundur dari posisi dosen agar bisa fokus mengurusi bayi saya dan suami sy bisa punya waktu cukup menyelesaikan S2 nya di UGM. Dari perjalanan hidup berumah tangga sekitar 14 tahun, sekarang saya percaya, bahwa wanita juga bisa berkiprah di dalam dan di luar rumah, asalkan ada sikap saling pengertian dan saling mendukung antar anggota rumah tangga. Bagaimana ceritanya?
Minggu lalu, tepatnya malam jumat, seorang sahabat main ke rumah kami. Beliau, kenalan baru kami beberapa tahun lalu, seorang guru SMP di Surabaya asal Madura.
Kami bersahabat karena mempunyai ketertarikan dan kepedulian yang sama dalam membangun pendidikan. Beliau kadang-kadang mengajak guru berworkshop dan terserah waktu saya, entah Sabtu atau malam Minggu, atau bahkan hari Minggu. Terserah juga suamiku. Kalau diijinkan dan beliau bersedia mengantar, saya bergabung dengan guru-guru tersebut.
Saya senang bertemu dengan teman-teman guru sahabat saya tadi apalagi mereka punya rasa cinta yang tinggi pada anak didiknya. Sebagai bukti, mereka bertahan mengajar di sekolah pagi hingga sore dengan gaji yang relatif sangat rendah. Saya bahagia berbagi dengan mereka karena mereka antusias mau belajar. Dari berinteraksi dg mereka, saya belajar dan mendapat simpulan kuat, bahwa menjadi guru, tidak cukup dengan modal baik hati, tapi guru perlu punya pengetahuan luas ttg apa yang diajarkan dan bagaimana mengajarkan.
Singkat cerita, setelah kami makan malam bersama dan saat sahabat itu mau pamit, eh dia bilang diamanahi mencari pembicara seminar di Sumenep untuk Minggu pagi dan saya diminta menjadi pembicara. "Kok dadakan ya?" tanyaku spontan. "biasalah, di akhir tahun, banyak acara dadakan", jawab sahabat kami.
Bagaimana reaksi saya? Saya bilang terserah suami, bila beliau ijinkan dan siap mengantar, saya mungkin bisa. Wah suami balik bertanya ke saya, emangnya bisa siap materinya. Maklum suami tahu, saya banyak kerjaan. Saya hanya membalas dengan senyuman dan sahabat tadi bilang, "jangan ragu, Bu Sitti mesti bisa, karena sudah pengalaman". Suamiku malah bilang, karena pengalaman itu, Bu Sitti justru selalu butuh waktu persiapan dan selalu tak mau memandang remeh. Sahabat saya berusaha membujuk suami saya. Akhirnya suami saya merestui saya ke Sumenep. Beliau bahkan mengatakan siap mengantar ke Sumenep. Tinggal terserah kesanggupan saya pada sajian materi "Higher Order Thinking Skills"s
Sebenarnya, saat teman memohon kesediaan saya, saya fifty-fifty, artinya antara mau dan tidak. Maklum, semenjak saya pulang dari Afrika Selatan bulan Juli lalu, seusai presentasi makalah di Korea Selatan, saya rencana mau istirahat (alias kurang berpikir karena mau mainan saja dengan keluarga), ternyata sempat sibuk mempersiapkan beberapa kajian presentasi, yaitu analisis perbandingan kurikulum pendidikan matematika PT dalam dan luar negeri (presentasi di UIN Yogyakarta) serta makalah dengan topik "Internet untuk pembelajaran matematika yg menyenangkan" (presentasi di Simposium Internasional QITEP), juga presentasi budaya akademik di tempat kerja saya.
Dua faktor utama yg mendorong saya melakukan ini, (1) karena jika saya harus berbagi pada orang lain, saya harus belajar lebih banyak dan (2) saya mendapatkan kesempatan silaturahmi/membangun pertemanan dengan banyak orang berbeda. Bukankah ini modal dasar bagi saya untuk berkiprah secara lebih luas dalam membangun pendidikan anak bangsa ke depan?
Ok, kembali ke cerita kesediaan saya ke Sumenep. Setelah positif keputusan bahwa dua hari ke depan saya menjadi penyaji tunggal di seminar di Sumenep, saya berpikir, malam Sabtu, saya akan persiapkan dengan baik.
Namun rencana memang tidak selalu terwujud. Ceritanya gimana?
Malam Sabtu sehabis makan malam, anakku yang besar tanya:
"Do you have lots of things to do before Monday?" Maksudnya, ada banyak nggak kerjaan yang harus saya selesaikan sebelum hari Senin. Pertanyaan itu membuat saya tiba-tiba serius. Saya tanya, Wah ada apa? Saat saya bertanya dan menunggu jawaban anakku, di kepalaku bermunculan list kerjaan yang hrs kukerajakan dan kekhawatiran bahwa anakku berpikir akhir pekan pun Ibu pasti sibuk kerja. Saya juga menduga dengan cepat, barangkali anak saya mau belajar. Sejak kecil, saya memang jarang nungguin anak saya belajar. Saya biasakan mereka belajar MANDIRI. Tapi saat dia mau belajar dan minta waktu belajar dengan saya, saya selalu berusaha melayaninya. Itu kan berarti ada keingintahuan pada sesuatu.
Supaya saya tdk bohong, saya tak menjawab kalau saya tak punya kerjaan. Saya jawab, "I have time for you. Even though I am busy, I really have time for you." Maksudku saya benar-benar punya waktu untuk mereka walau saya sibuk. Dia lantas bilang "but I need 2 hours Mummy". Meski saya berusaha meyakinkan bahwa saya benar-benar punya waktu untuk mereka, si Kakak ragu sambil berkata "TETAPI saya butuh waktu Ibu sekitar 2 jam"
Setelah saya tanya lebih lanjut, oalah .... rupanya anakku tuh ngajak nonton film yg di komputernya bersama-sama semua orang di rumah. Walah, kirain apa :) saya jadi tertawa sendiri. Dia juga bilang, itu film ttg pendidikan loh. Hmmm, anakku tahu betul apa yang menjadi kepedulian utamaku.
Yah, akhirnya kupenuhi. Saya bersegera mengambil BB ku dan IPADnya Fida. Maksud hati, saya kan bisa nyambi, sambil nonton bisa cek email atau baca artikel bahan seminar. Ini terbaca oleh anakku si Kecil. Dia pun merebut BB dari tanganku dan menyimpannya. Saya ngerti maksud anak-anakku untuk kami benar-benar santai dan nonton bareng. Gitulah, akhirnya kami nonton bareng, eh, malah saya jadi ikut nangis-nangis, seperti anakku juga. Saya benar-benar larut menonton film India yang saya lupa judulnya. Itu benar-benar film pendidikan, dan pencerminan dari kehidupan nyata. Akhirnya malam Sabtu terlewat tanpa diisi persiapan seminar.
Nah, terpikir, hari Sabtulah saya ngerjakan persiapan seminarku. Tapi saya tergoda utk ikut suami dan Om ke service centre Toyota. Suami rutin membawa mobil kami ke sana demi keamanan dan keawetan kendaraan. Katanya, di tempat servis saya bisa bikin makalah, ada wifi dan ruang kerja yang enak. Tapi kami di sana malah ngobrol banyak hal menarik.
Akibatnya apa, saya baru sempat menyiapkan dan serius berpikir utk seminar pada malam minggu. Saya pun hanya sempat tidur selama 2 jam, sebab sekitar jam 4 subuh kami harus berangkat agar bisa tiba di lokasi sekitar pukul 8.30am. Suamiku sedikit stres karena khawatir kalau saya tdk bisa tampil optimal. Persiapan terbatas, kurang tidur lagi.
Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kami pun tiba. Suamiku kali ini tdk mau meninggalkanku di ruang seminar. Biasanya, kalau ngantar gini, beliau tuh cenderung berkeliling mengekplorasi daerah yang dikunjungi, atau bawa kerjaan dan pergi ke mesjid utk mengerjakannya. Kali ini tumben, beliau tinggal bahkan menvideokanku.
Alhamdulillah, seminar berjalan lancar, rasa ngantuk dan lelah saya hilang saking semangatnya bertemu para guru-guru Sumenep. Kali ini, saya menerima lebih banyak pujian dari suami. Biasanya, agak banyak kritikan membangun. Apa kata saya, "ah gombal, pasti tuh ada maksudnya memujiku". Kalau digitukan, suamiku pasti tambah melucu. Yah sudah umum dikenal orang sih, dia memang suka melucu dan dia cukup mempengaruhi pembawaanku yang cenderung serius.
Inti dari segalanya, saya tak bisa banyak berkiprah tanpa dukungan dan pengertian keluargaku. Karena itu ucapan terima kasih khususku, bukan hanya pada dinas pendidikan Sumenep, kepala sekolah, atau guru-guru, tapi di hadapan peserta seminar, saya juga menyampaikan rasa terima kasih spesial pada suamiku yang terus mendampingiku dalam berkiprah, termasuk mendukungku untuk bersilaturahmi dengan para pelaku/penanggungjawab pendidikan anak bangsa di Madura.
Semoga cerita ini bisa menginspirasi para lelaki di luar sana, untuk tak henti-hentinya mendukung istrinya berbuat baik, bukan hanya sebatas dalam rumah, tapi juga di luar rumah. Semoga para wanita juga bisa semakin percaya diri bahwa kiprahnya sangat diperlukan dalam membangun masa depan bangsa kita.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sitti Maesuri Patahuddin, PhD.
Dosen Jurusan Matematika Universitas Negeri surabaya
Postdoctoral fellow di University of the Witwatersrand,
Johannesburg Afrika Selatan
No comments:
Post a Comment