Thursday, 13 December 2012

Antara keluarga, sahabat, dan seminar

Minggu lalu, tepat malam jumat, seorang sahabat datang ke rumah. Beliau seorang guru SMP, kenalan baru kami beberapa tahun lalu.
Kami bersahabat karena punya ketertarikan dan kepedulian yang sama dalam membangun pendidikan. Beliau kadang-kadang mengajak guru utk workshop dan terserah waktu saya, entah Sabtu atau malam minggu, atau bahkan hari Minggu. Terserah juga suamiku. Kalau diijinkan saya bergabung dengan guru-guru tersebut.
Saya senang krn mereka mau kumpul atas inisiatif sendiri dan atas keinginan mrk utk belajar.

Singkat cerita, setelah kami makan malam bersama dan sahabat itu mau pamit, eh dia sampaikan pesan kalau dia dapat amanah mencari pembicara seminar dan saya dimintanya. Kok dadakan? Itu tak biasanya. Yah rupanya karena seminar itu diadakan oleh instansi pemerintah, biasalah katanya, akhir tahun itu, banyak acara dadakan.
Jawab saya terserah suami, bila beliau ijinkan dan siap mengantar. Wah suami balik bertanya ke saya, emangnya bisa siap materinya. Maklum beliau tahu kalau saya banyak kerjaan, apalagi koreksian ujian-ujian mahasiswaku juga belum selesai. Saya hanya membalas dengan senyuman dan sahabat tadi bilang, "jangan ragu, kalau Bu Sitti mesti bisa, karena sudah pengalaman". Suamiku malah bilang, karena pengalaman itu, Bu Sitti justru selalu butuh waktu persiapan dan selalu tak mau memandang remeh. Dia tuh orangnya selalu menyiapkan dengan serius. Akhirnya suami saya terbujuk juga utk merestui saya ke Sumenep. Dia pun siap ngantar.

Terpikir, malam Sabtu, saya akan persiapan. Namun rencana memang tidak selalu terwujud.
Malam Sabtu sehabis makan malam, anakku yang besar tanya:
"Do you have lots of things to before Monday?" Maksudnya, ada banyak nggak sih kerjaan yang harus saya selesaikan sebelum hari Senin. Walau pertanyaan itu tampak murni, saya sedikit sensitif. Wah ada apa? Saat di kepalaku bermunculan list kerjaan yang hrs kukerajakan, saat yang sama, saya juga mikir, barangkali anak saya mau belajar. Sejak kecil, saya memang jarang nungguin anak saya belajar, tapi saat dia mau belajar, saya pasti upayakan melayani, karena kalau kita bantuin dia saat dia sendiri yang ingin tahu, hasilnya efektif.
Supaya tdk bohong, saya tak menjawab kalau saya tak punya kerjaan. Saya jawab, "I have time for you. Even though I am busy, I really have time for you." Dia lantas bilang "but I need 2 hours Mummy". Saya juga bilang, "Ok".
Lalu diperjelasnya, dia tuh ngajak nonton film bersama-sama semua orang di rumah. Walah, kirain apa :)
Dia bilang, itu film ttg pendidikan. Hmmm, anakku tahu betul apa yang menjadi kepedulian utamaku.

Yah, akhirnya kupenuhi. Saya duduk dekat si kecil. Saya bawa Hp dekat saya, pikir bisa nyambi cek email gitu loh atau baca artikel bahan seminar. Si kecil malah ngambilin HP ku trus di simpan. Maksudnya, ya fokus deh. Gitulah, akhirnya kami nonton bareng, eh, malah saya jadi ikut nangis-nangis, seperti anakku juga. Saya benar-benar larut menonton film yang saya lupa judulnya.

Nah, terpikir, hari Sabtulah saya ngerjakan persiapan seminarku. Tapi saya tergoda utk ikut suami dan Om ke service centre Toyota. Suami memang rutin membawa mobil utk service di tempat resmi, demi keamanan dan keawetan kendaraan. Katanya, di sana saya bisa bikin makalah, ada wifi dan ruang kerja yang enak. Tapi kami di sana malah ngobrol banyak hal menarik

Akibatnya apa, saya baru menyiapkan dan serius berpikir utk seminar di malam harinya. Akibatnya malam itu saya pergi tidur setelah jam 2 pagi, dan jam 4 subuh, kami berangkat. Suamiku jadi khawatir dan sedikit stres karena khawatir kalau saya tdk bisa tampil optimal.

Setelah sekitar 4 jam perjalanan, kami pun tiba. Suamiku kali ini tdk mau meninggalkanku di ruang seminar. Biasanya, kalau ngantar gini, dia tuh cenderung berkeliling mengekplorasi daerah yang dikunjungi, atau bawa kerjaan dan pergi ke mesjid utk mengerjakannya. Kali ini tumben, beliau tinggal bahkan menvideokanku.
Alhamdulillah, seminar berjalan lancar dan rasa ngantuk dan lelah saya hilang saking semangatnya bertemu para guru-guru Sumenep. Kali ini, saya menerima lebih banyak pujian dari suami. Biasanya, agak banyak kritikan membangun. Apa kata saya, "ah gombal, pasti tuh ada maksudnya memujiku". Kalau digitukan, suamiku pasti tambah melucu. Yah sudah umum dikenal orang sih, dia memang suka melucu dan dia cukup mempengaruhi pembawaanku yang cenderung serius. Sekarang, saya kadang2 juga kocak, kata saya, tercemar oleh Pak Ihsan. He he he ...
Inti dari segalanya, saya tak bisa banyak berkiprah tanpa dukungan dan pengertian keluargaku. Karena itu ucapan terima kasih khususku, bukan hanya pada dInas pendidikan, kepala sekolah, atau guru-guru, tapi juga terutama pada suamiku yang terus mendampingiku dalam berkiprah.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

Post a Comment