Thursday, 13 December 2012

Makna silaturahmi

Makna Silaturahmi

Jumat silaturahmi dengan PR 1. Sehari kemudian silaturahmi dengan Om (orang Jawa - suami dari almarhumah Tante asal Bugis), Minggu silaturahmi dengan para guru di Sumenep dan sahabat Kakak di Pamekasan. Sungguh silaturahmi ini membawa banyak hikmah.

Dengan Bu PR 1 Unesa, saya banyak mendapatkan pencerahan. Saya juga merasakan satu karakter yang patut dicontoh, seorang pejabat yang rendah hati, ramah, ibu yang lembut, cantik, dan sederhana serta memberi pelajaran melalui refleksi diri dan pengalamannya.

Silaturahmi dengan Om membawa kami berdiskusi ttg pentingnya silaturahmi, mendiskusikan hal-hal berkaitan dengan agama, membicarakan contoh kehidupan keluarga yang berkarakter baik dan sederhana, punya anak yang terus berupaya dalam hidup hingga sukses.

Sungguh momen bincang-bincang ini memperkuat ikatan kekeluargaan yang mungkin tampak longgar (tdk saling memperhatikan krn kesibukan masing-masing).

Silaturahmi dengan guru-guru di Sumenep membawa saya semakin mengerti bahwa sungguh dalam hidup ini, kita semua mengharapkan terwujudnya manusia bermoral baik. Diskusi dengan guru seakan mengindikasikan bahwa urusan no 1 dalam hidup ini adalah bermoral atau berkarakter baik. Apa pun semua kita ternyata ingin para anak bangsa kita tdk rusak moralnya.

Momen silaturahmi dengan guru-guru di Sumenep itu juga menambah bukti bahwa banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan kita, dan sayangnya banyak yang memandang keluar (melihat kesalahan di luar dirinya) dan ini perlu digeser menjadi satu pernyataan kuat "kalau begini, apa yang dapat saya lakukan untuk menjadikannya lebih baik. Bagaimana cara supaya saya punya daya utk mengubahnya".

Perbincangan dengan Kepala sekolah dan guru-guru ternyata menunjukkan kesepakatan kami bahwa membangun SDM adalah hal mendesak dan ini memang tidak mudah. Lagi-lagi dibutuhkan kepakaran atau keilmuan dalam melaksanakannya.

Sehabis seminar, saya mengunjungi sahabat Kak Eda di Pamekasan (mantan tetangga kami di Surabaya).

Saya semakin merasakan kesamaan budaya Makassar dan Madura dalam hal "sambutan hangat para tamu". Walau kami baru berjumpa kami kok merasa seperti keluarga dekat. Kami bahkan sempat mandi sore di sana, makan makanan khas Madura, minum kopi. Belum semenit loh di sana, saya sdh menggoda tuan rumah, bahwa suami saya tdk mau pulang ke Surabaya sebelum minum kopi Madura. Ah, serasa keluarga dekat.

Momen ini membawa juga pencerahan bagi saya karena Bapak dan Ibu kawan tersebut membuka TPA gratis di rumahnya dan tiap sore menyiapkan waktunya utk para anak-anak kampung itu belajar mengaji. Bagi kedua ortu itu, urusan menyekolahkan anak sudah beres. Mereka hanya ingin mengisi sisa hidupnya untuk mengabdikan diri membangun pendidikan anak-anak bangsa kita khususnya mereka yang miskin. Jadi anak-anak bisa belajar di sana tanpa dipungut dana pembayaran malah dapat baju seragam yang gratis loh. Ah, kebayang, apakah suatu saat saya juga bisa melakukan hal yang sama atau lebih dari itu. Semoga ya.

Hal lain yang lebih menarik lagi adalah metodenya utk mengendalikan perilaku anak yang suka berlomba-lomba minta giliran atau berlomba-lomba pulang.
Di tempat ini, beliau menerapkan nomor antrian. Anak yang datang cepat dapat kartu antri no 1, dst. Saat pulang, nomor ini juga yang digunakan utk mengajak mereka salaman, demikian juga antrian utk aktivitas selama proses pembelajaran. Metode ini belum pernah kubaca. Bapak itu hanya mengadopsi metode dokter dengan pertimbangan mengatasi perilaku dasar anak. Karena ini, anak jadi tdk ingin telat bahkan berlomba utk datang sebelum waktunya. Luar biasa. Saya mengecek kelasnya, rupanya fasilitas buku terbatas. Insya Allah, buku-buku Fika dan Fida bisa di bawah ke sana. Saya terlalu kagum dengan orang tua kawan saya itu.

Dari pengalaman 3 hari berturut-turut, sungguh, saya harus yakin, tak ada alasan utk mengatakan bahwa kesibukan seseorang membatasi kualitas silaturahmi. Kita harus mengatur kesibukan dan kesibukan tak boleh mengatur kita. Bukankah silaturahmi merupakan sunah rasul alias perintah agama. Untuk apa hidup ini? Bukankah hidup ini hanyalah persiapan hidup bahagia secara kekal di akhirat nanti. Mari promosikan silaturahmi agar kita saling belajar dan tumbuh rasa cinta pada sesama. Semoga Allah selalu membantu kita dalam berbuat baik. Amiin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

Post a Comment