Tuesday, 4 December 2012

Mahasiswaku

Renungan malam: Mahasiswaku yang kubanggakan

Perkuliahan di S1 hampir selesai.utk kelas pagi kemarin, tersisa dua kali pertemuan.

Berdasarkan pengamatanku dari proses pembelajaran mahasiswaku di satu kelas, saya membuat beberapa simpulan antara lain:

- kemampuan komunikasi para mahasiswaku semuanya baik. Beberapa kali mereka presentasi, omongnya jelas, sajian idenya juga jelas. Bahkan hari ini, presentasi hasil bedah kontent kurikulum matematika pada topik tertentu dan ide awal pengajaran utk satu materi kecil dapat dipresentasikan dengan lumayan baik dalam waktu 10 menit atau kurang dari 10 menit.

- saya menilai mahasiswaku sungguh-sungguh. Banyak tugas membaca, merangkum, menyiapkan bahan presentasi yang mereka lakukan dalam semester ini. Mereka selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Tak ada satu pun mahasiswa yang mengejar-ngejarku karena keterlambatan mengumpulkan tugas. Tidak ada. Hal ini sangat menggembirakan.

- Dalam diskusi, saya juga melihat mereka saling menghargai. Tak ada yang saling mencaci.

- Kehadiran mereka di kelas hampir 100 persen setiap saat dan dalam setiap pertemuan, nyaris tak ada yang telat masuk kelas.

- mahasiswaku ini semuanya sopan. Tak ada yang seperti cerita kawan saya di luar negeri bahwa mereka seperti bos, mau dilayani dan terkesan kasar. Tak ada itu.

Apa arti fenomena ini bagiku.
Oh sangat berarti. Ini terlalu penting bagiku. Ini membuat diriku optimis. Ini menunjukkan satu peluang besar bahwa pendidikan Indonesia akan bisa lebih maju.

Sudah pernah kukatakan pada mereka, bahwa apa yang kalian pelajari semester ini, mungkin sdh out of date saat Anda keluar dari Unesa. Kurikulum KTSP misalnya yang Anda diskusikan saat ini mungkin akan berbeda sekali saat Anda di lapangan.
Lantas apa yang tersisa. Apa yang urgen? Yaitu proses pembelajaran itu sendiri. Upaya sungguh-sungguh itulah yang akan Anda bawa sebagai bekal masa depan. Kemampuan memecahkan masalah, merumuskan pertanyaan dan upaya sungguh-sungguh menjawabnya. Kemampuan komunikasilah yang jadi modal hidup Anda, juga kerjasama yang baik antara sesama, serta kebaikan hati atau kebaikan diri yang selalu kalian tampakkan.

Lebih jauh saya jelaskan bahwa banyak yang dulu kupelajari saat sekolah, bahkan ada diantaranya yang dapat 100, tetapi banyak yang sdh saya lupakan dan bila Anda tanya, saya belum tentu dapat menjawabnya. Tapi kalau saya diminta mempelajari dan memahaminya, saya percaya diri karena saya sudah terbiasa mempelajari hal-hal baru secara mandiri. Saya juga sudah terbiasa bertanya atau mencari jawaban baik pada diri maupun pada orang lain. Saya sudah percaya atau yakin bahwa dengan upaya sungguh-sungguh kita akan mampu memecahkan masalah, dan saya pun tak merasa ketakutan atau malu, bila upaya saya yang maksimal hasilnya masih terbatas karena saya manusia terbatas. Yang penting bagiku, telah mengoptimalkan usaha dan saya jujur apa adanya.

Penjelasan seperti ini tak ada dalam modul bahkan tak ada dalam silabus perkuliahanku, tapi ini URGEN kusampaikan pada mereka, para calon pendidik bangsa, harapan masa depan saya, masa depan bangsa.

Satu hal menarik lainnya yang harus kuinfokan di sini bahwa lebih 75 persen dari mahasiswa di kelas pagi kemarin adalah wanita. Apa pula artinya?
Wanita!
Saya adalah wanita. Saya dulu membayangkan bahwa peranku terbatas, khususnya hanya melayani suamiku dan menjaga anak-anakku. Studi S2 sdh terlalu cukup bagiku bahkan saat saya punya dua bayi dan punya tanggungjawab berat di kampus dan pada proyek penelitian, saya sempat punya ide berhenti jadi dosen. Saat itu terpikir, untuk apa? Yang paling penting bagiku adalah memelihara bayiku. Walau kemudian saya bersabar dan mendengar nasehat suamiku untuk menjalani peran ganda secara sabar.

Suamiku mendampingiku menjaga bayiku sambil menjalankan tugasku sebagai Ibu dan istri. Suamiku bahkan menomorduakan penyelesaian S2nya demi mendampingi keluargaku. Suamiku bahkan rela melepas status Dosen PNSnya demi keutuhan keluarga kami seperti telah kujelaskan dalam note sebelumnya.

Suamiku (karena terinspirasi oleh dosen wanitanya), dia punya pikiran luas ttg wanita dan dengan pengalamannya membantuku menjaga anak-anakku sejak kecil, dia selalu berkesimpulan bahwa menjadi ibu yang mengurusi anak-anak adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak ringan, sehingga suami harus terjun membantunya dan suami harus menghargai pekerjaan mengurus anak di rumah. Suamiku, karena seorang WANITA, pikirannya berubah. Dia tidak lagi memandang wanita sebagai saingannya (saat S1 dulu, katanya saya dianggap saingannya).

Kembali ke cerita mahasiswaku tadi. Kebanyakan mereka adalah wanita. Wanita berkualitas menjadi kunci cerahnya masa depan. Bila wanita, mahasiswaku, calon guru masa depan, mampu menjadi pendidik yang profesional, sungguh besar pengaruh mereka pada nasib anak bangsaku. Karena itu, terlalu patut bagiku mendoakan mereka, agar mereka semua menjadi wanita yang mulia, karena memelihara dan memuliakan dirinya. Amiin. Semoga mereka terjaga dari pergaulan bebas karena pergaulan bebaslah yang banyak menghancurkan kemuliaan seorang wanita. Sungguh, saat ini mereka belum menjadi siapa-siapa, mereka belum terpandang, tapi 5 tahun kemudian, semoga mereka sudah bisa tampil di masyarakat menjadi motor perubahan, perubahan ke yang lebih baik buat bangsaku, dan semoga mereka menjadi makhluk Allah yang bermanfaat. Amiin.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

Post a Comment