Saya lalu terbangun. Kuperhatikan orang sekitarku. Ada yang sudah terlelap hingga ngorok, ada yang asyik nonton film, main game. Saya sendiri memutuskan utk duduk, berpikir, sambil nulis-nulis. Kali itu saya tak mau berurusan dengan teknology seperti BB, IPAD, monitor video. Saya hanya berselera menulis di kertas. Kunyalakan lampu baca, kubuka meja, serta kurapikan selimut. Kali ini saya tak selera nonton movie walau saya tahu ada banyak movie pilihan. Sesekali saya hanya nengok layar lebar depan dan dari situ saya tahu kecepatan pesawat (a.l. 800 km/jam, suhu udara luar negative 52 derajat dst).
Saya menggunakan kesempatan ini utk memikirkan apa yang ingin saya presentasikan di simposium. Ini harus jelas sebelum mendarat di Indonesia krn saya sadar saya punya banyak tugas menanti, baik mengajar maupun membimbing di Unesa.
Saya mulai menulis sejumlah pertanyaan: siapa sih audience simposium itu, pesan utama apa yang ingin saya sampaikan dan mengapa pesan itu urgen diketahui dan dipahami mereka, dan apa cara terbaik utk menyampaikan pesan tsb?
Saya biarkan jariku menulis apa saja.
Di tengah kesibukan menulis tersebut, sekali-kali saya memencet tombol dan pramugari pun segera datang menawarkan bantuan. Saya minta jus nenas, jus apel, atau jus tomat. Saya memesan snack berupa coklat, vegetarian sandwich, apel.
Tanpa dipanggil pun, pramugari sesekali jalan menawarkan berbagai macam jus atau air putih. Yah, penumpang memang dimanjakan, layaknya sebagai raja atau ratu. Pramugari(a) selalu berwajah ramah dan menunjukkan kesediaannya utk menolong.
Saya jadi ingat perjalanan dengan SQ yang pertama kali loh. Lucu. Saat itu, saya nonton video. Tidak jauh dari tempatku, kulihat anak muda yang sering didatangi pramugari, dibawain makanan dan jus. Saya sempat sih berpikir kalau anak muda itu beli. Ah, saya nggaklah, nunggu jadwal makan berikut.
Lama-lama heran juga melihat org itu tak berhenti ngemil. Lalu ku buka buku menu yang dibagikan di awal-awal penerbangan. Hmmm ternyata utk menu malam disebut refreshment dan kita bebas minta. Beginilah kawan pentingnya membaca atau setidaknya pentingnya bertanya. Atau hikmah yang lebih jauh, kalau kita pelayan, jangan sebatas berasumsi bahwa info yang disediakan itu dibaca. Apalagi dalam era globalisasi dan informasi. Banyak info di luar sana yang bersaing utk dibaca orang.
By the way, jus tomatnya SQ enak banget. Kental dan segar banget.
Ada yang menarik loh. saya menulis di catatan saya "kita perlu belajar dari orang yang lebih tahu atau lebih mampu", tapi saya segera mengkritik ide saya sendiri. Saya nulis lagi, kita bisa kok belajar dari siapa saja, baik dr orang yang dianggap lemah, bodoh, miskin, berpenampilan compang camping. Kita bisa kok belajar dari orang yang punya status sosial rendah. Kok bisa? Saya pun sibuk menjawab pertanyaan diri saya sendiri.
Caranya adalah mencari dan mengambil hikmah dari fenomena tersebut. Misalnya memikirkan: mengapa hal itu bisa terjadi? Apa manfaat berstatus sosial rendah dan apa kerugian. Jika kerugian semata, lantas mengapa itu bisa terjadi dan bagaimana kita lepas dari status tsb.
Lantas apa yang dapat kita lakukan secara individu dan secara sistem.
Artinya, fenomena ini menjadi tantangan dan mencoba menjawab tantangan dalam hidup adalah proses belajar yang signifikan.
Jadi apa belajar itu? Mungkin Anda duduk tertib dan mendengar kuliah dosen, tapi Anda tak belajar. Mungkin Anda sudah memegang diktat berjam-jam dan memegang pulpen, tapi Anda tak belajar, mungkin Anda di kelas dan guru hadir di kelas itu dan sibuk menulis di papan tulis, tapi tak terjadi belajar.
Aneh ya.
Emang definisi belajar itu banyak dan sungguh sulit disepakati arti dari kata itu. Namun bagi saya, belajar adalah aktivitas yang melibatkan pikiran yang membawa perubahan pada diri. Entah perubahan pada pikiran maupun pada perilaku.
Perubahan merupakan inti dari suatu belajar termasuk berubah menjadi lebih banyak mengetahui, berubah ke perilaku yang lbh baik, lebih bersifat humanis.
Saya terus menulis hingga hampir 10 halaman. Beberapa kali saya nulis "back to point" maksud saya saya ngajak diri saya kembali memikirkan makalah, dan bukan yang lainnya. Sesekali saya mendengar pengumuman bahwa akan ada sedikit guncangan. Tapi saya tidak seberapa takut lagi. Perjalanan yang lalu saat saya ke Joburg, goncangan pesawat lumayan keras sampai2 tak ada layanan utk air panas misal teh atau kopi. Saat itu saya panik dan pasrah, terbayang gimana kalau saya tak bisa kembali bertemu keluarga. Cuman saat itu, nenek tua yang duduk dekatku bilang, ah itu nggak ada apa-apanya. Maklum dia jam terbangnya sangat tinggi, sudah keliling dunia. Dia bilang, percayalah, naik pesawat jauh lebih aman dari naik kendaraan di darat. Betul juga ya kawan. Pesawat itu apalagi SQ, kan punya standar keamanan, dipiloti oleh orang profesional, dilengkapi dengan alat canggih. Kata nenek itu, pilot tahu kok bahwa depan sana ada yang kurang bagus sehingga dia akan cari calan lain, kalau perlu mutar-mutar dulu demi menghindari bahaya di depan. Betul juga pikirku. Kalau di tempat kita, kan banyak juga ya yang punya sim tapi belum layak utk itu. Trus, kita hati-hatipun, banyak orang lain hati. Beberapa bulan lalu, kami mengendara dengan hati-hati tapi ditabrak oleh truk dr belakang. Tadi sore saat ngantar tamu dari Selandia baru, kami hati-hati, tapi ada anak muda pengendara motor yang nabrak kaca spion mobil kami dan si anak muda itu loh, nancap motornya padahal lampu merah. Hmmmmm moga-moga tak ada mahasiswaku yang berperilaku di luar sana. Lagi-lagi kawan, kita tuh tak boleh mikirin sulksesnya diri kita saja atau keluarga kita saja, karena kalau pun kita kerja keras utk keluarga kita demi kebahagiaannya, percayalah, kebahagiaan itu ditentukan oleh lingkungan. Kaya, hebat, sukses dalam karir, tapi hidup di tempat yang tak aman, sama aja boong kan.
Udah deh curhatnya.
Itulah teman FB ku, sedikit tentang catatan perjalanan saya dari Johannesburg ke ke Indonesia dua minggu lalu
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment