Saya sendiri tak pernah menduga kalau saya berada di benua yang jauh. Perjalanan dengan pesawat menghampiri 15 jam.
Ah, saat pulang libur yang lalu, saat balik ke Afsel, saya berangkat sendiri. Tentu suami tak mungkin ngantar lagi. Kan mahal ya. Sekali jalan biaya pesawat bisa 7 jutaan, atau pp 12 juta lebih.
Yah apa boleh buat, pergi sendiri. Padahal saya tipe istri yang tak biasa jalan sendiri. Kata orang, ini ke mana-mana di antar oleh suami. Kalau pun tidak, suami suka nitipin saya ke kawan lain. Intinya memastikan ada yang dikenalnya bersama saya. Maklum saya orang kampungan.
Maka itu, kadang-kadang kalau naik bis .Misal ke Jombang saja, telp sering sekali berdering dan tanya "sudah di mana?". Maklum dia tahu keterbatasanku. Lah kalau saya di pesawat, dia tak bakal bisa nelpon. Jadi tidak mudah juga. Kalau di Joburg, paling sering terima pesan "Ibu di mana?" Ya, paling jawabnya di kantor, atau di rumah, atau bepergian dengan kawan A, B dst.
Ah nulis kok malah ke mana-mana. Sebenarnya niatku tuh mau cerita pengalaman di atas pesawat.
Bahwa saya beruntung duduk dengan seorang nenek-nenek. Saat di bandara di Surabaya di tanya sih, mau duduk di mana. Saya hanya bilang, mau duduk dekat jendela, tapi kalau boleh yang penting duduk dekat wanita. Trus dia cek. Ada nih Mba, tapi nenek-nenek usia sekitar 80. Lah waktu itu saya okekan saja walau pun mikir juga. Yang terpikir, nenek-nenek tua kan biasanya sudah sakit-sakitan. Wajar juga kan saya mikir gitu?
Ah doa saja deh, semoga tidak ketularan. Mau gimana lagi.
Tapiiiii, apa yang terjadi, ternyata nenek-nenek yang kutemani itu adalah nenek-nenek yang sangat hebat, yang sangat tinggi jam terbangnya, sudah berpuluh negara yang pernah dikunjunginya. Sejak suaminya pensiun, mrk sering bepergian, berwisata menikmati keindahan dunia. Dia sangat lincah bahkan saat di bandara di Joburg, saat orang-orang turun tangga lift, dia malah jalan kaki padahal jaraknya sangat lumayan. Ah saya terpesona dibuatnya.
Mungkin dia tak tahu kalau dia jadi fokus observasiku di dalam pesawat, termasuk cara makan dia yang sangat licah dan dengan cekatan minta ini itu pada pramugari. Nah, sempat selama dipenerbangan itu, pesawat guncang banget. Dulu saat bersama suami, saya kan bisa megangi tangan dia. Suami bisa mencoba menenangkan saya. Lah, ini sendiri. Saya hanya bisa pasrah, sambil mikir, saya kan nggak punya utang ya. Semogalah pikirku. Kalau hidupku berakhir di sini, saya pasrahkan saja. Duh, pesawat guncang seperti ini membuatkuy ngeri tapi juga membuatku hanya pasrah semata.
Lah, si nenek itu tenang saja, seperti tak terjadi apa-apa.
Akhirnya, saya pun tak tahan utk bertanya: "Aren't you panic?" Kutanya kamu nggak panik toh.
Dia lalu jawab, lah ini nggak ada apa-apanya dibandingkan pengalaman cuaca buruk yang pernah kualami. Percayalah, naik pesawat itu jauh lebih aman dari pada naik kendaraan di darat. Dia jelaskan, pilot tuh sudah tahu. Kadang-kadang sejam hanya berkeliling utk menghindari cuaca baruk itu. Tenang saja. Ini biasa.
Saya pun jadi tenang dibuatnya.
Apa artinya, lagi-lagi pikiran itu bisa berbeda karena pengalaman.
Pikiran itu bisa berbeda karena pengetahuan.
Jadi jangan ragu mencari pengetahuan sekalipun harus nyeberang benua.
Jangan ragu terlibat dalam berbagai macam pengalaman.
Hal yang sama bisa dipandang/dilihat secara berbeda oleh orang yang berbeda.
Artinya pula, pandangan yang berbeda perlu dihargai.
Ini toh yang dinmaksud perbedaan adalah rahmat.
Catatan pagi ini
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment