Dia punya banyak kebaikan.
Dia pun selalu berbuat baik dalam hidupnya.
Dia engkau beri banyak kelebihan.
Ada perilakunya yang kurang kusenangi tapi saya memaafkannya.
Bukankah saya juga punya banyak kelemahan?
Ya Allah, dia mengalami kecelakaan yang berat. Tapi Engkau masih memberinya kesempatan hidup.
Dia dalam pengembaraan yang disertai cita-cita.
Dia ingin lepas dari hidup miskin dengan cara yang dia percayai.
Dia punya mimpi walau mungkin jalan yang dilaluinya bukan jalan yang tepat, atau bahkan jalan yang dilaluinya itu merugikan dirinya atau bahkan dia korban dimanfaatkan oleh orang lain.
Ya Allah, Engkau Yang Maha Tahu.
Hamba hanyalah adiknya, adik yang sudah merasakan banyak kebaikannya.
Adik yang sdh menjadi saksi hidupnya bahwa sejak dulu, dia adalah pekerja yang selalu mencari rejeki halal dari Allah, bahkan rela dalam statusnya sebagai mahasiswa, dia pergi kerja jadi tukang batu. Dia bukan peminta-minta. Dia laki-laki tampan dan sangat pemberani serta tak mengenal gengsi. Tapi harga dirinya juga tinggi. Dia rela mati ketika dia berjuang dalam kebenaran. Dia pernah minta uang pada saya tapi dia dalam keadaan terjepit, ini pun karena lotalitasnya terlibat dalam partai, rela berangkat ke Jakarta demi tanggungjawab pada kelompoknya.
Ya Allah,
Saya membuka mata hatiku, dan saya percaya bahwa dia hidup dengan kebaikan-kebaikan.
Semoga dengan cobaan kecelakaan ini menjadi puncak atau ujung kegagalan hidupnya dan menjadi titik balik baginya utk melakukan kebaikan.
SURAT UNTUK KAK AHMAD:
Yang saya cintai Kak Ahmad,
Pertama, maafkan adikmu karena belum sempat menemui Kakak. Semoga surat ini sementara bisa menjadi pengganti kehadiranku utk bercakap denganmu.
Kak Ahmad yang kucintai,
Masih ingat kan kita sering bersama sejak kecil bahkan hingga besar. Kita saling tahu. Kita sama-sama punya kelebihan dan punya kelemahan. Kita jarang bertengkar. Kak Ahmad bukan Kakak yang jahat.
Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin mengingatkan masa-masa lalu utk mengungkap kebenaran yang saya percayai antara lain:
Kak Ahmad adalah anak yang patuh pada orang tua, bukan seorang penantang orang tua. Kakak punya bakat bela diri, punya keberanian dan sangat berminat menjadi polisi tapi Bapak kita tak pernah memberi kesempatan karena takut anaknya makan dari uang haram, karena takut bakat keberaniannya semakin tumbuh, maka kakak nurut utk disekolahkan di pesantren bahkan hingga IAIN.
Kak Ahmad adalah orang yang mandiri, bukan peminta-minta. Ingat kan? Saat Kakak kuliah di IAIN, berstatus mahasiswa. Kakak tak mau menyusahkan orang tua, Kakak rela jadi tukang batu demi hidup.
Kak Ahmad juga pelindung. Kak Ahmad selalu mau menjaga saudaranya dan orang yang lemah, atau orang yang direndahkan. Kak Ahmad setia ngantar saya ke mana saya perlu, misal ke rumah teman utk belajar. Teman-temanku semua senang pada Kak Ahmad, karena kakak tidak sombong, kakak ramah, dan suka melucu. Ah itu kenangan indah. Walau kita keluarga miskin, tapi kekompakan itu sungguh satu kenangan manis.
Kak, kita terus menjalani hidup, hingga saya adikmu menemukan orang yang kucintai bahkan kami telah hidup dengan dua anak. Demikian juga Kak Ahmad dan lebih unggul karena punya anak 4 yang cakep dan semuanya cantik.
Kita sama-sama terus berjuang dalam hidup dan saya yakin, kita berdua berjuang dalam hidup dengan niat kebaikan semata, baik utk diri, untuk keluarga, untuk banyak orang.
Saya sadar, Kakak ditimpa cobaan besar.
Kak, andai peristiwa ini menjadi pertanda bahwa kita gagal, ketahuilah, banyak orang yang sukses karena belajar dari kegagalannya.
Kak, hanya sedikit pertimbangan dari adikmu. Dalam menghadapi masalah, dalam menganalisis sesuatu, akan sangat baik jika kita mau memandang dari sudut pandang yang berbeda. Jika kita mau berpikir dari banyak arah.
Saya telah berusaha mencermati apa yang Kakak kerjakan, berdasarkan dari berbagai sumber. Saya memburuh informasi dari berbagai tempat. Saya adikmu hanya ingin mengingatkan, janga sampai, kebaikan hati Kakak, loyalitas Kakak, dimanfaatkan secara tak baik oleh orang lain.
Sungguh, terlalu banyak kasus penipuan di luar sana yang memungkinkan kita tertipu secerdas apa pun kita. Karena itu, dekatkan hati pada Allah. Untuk itu, dekatkan diri pada orang tua dan memohon didoakan dalam kebaikan.
Untuk itu jauhkan diri kita dari sikap sombong atau semakin rendahkan diri kita di hadapan-Nya. Kita terlalu kecil. Kita terlalu banyak tidak paham apa yang nampak dan tidak nampak. Kita bukan siapa-siapa. Tapi kita juga percaya, bahwa Allah masih memberikan kesempatan hidup pada kita utk kita gunakan melakukan yang terbaik yang kita bisa.
Maafkan adikmu yang terlalu terbatas dalam banyak hal. Semoga surat ini akan membantu Kakak utk berefleksi, dan membaca kekuatan diri utk bangkit dalam melakukan segala kebaikan.
Saya menyayangi Kakak dan Kakak tak pernah sekalipun menghilangkan nyawa seseorang. Kecelakaan itu semoga menjadi titik balik dalam hidup untuk menjadi orang yang memanfaatkan setiap detik kehidupan dalam kebaikan, di mana pun dan kapanpun.
Maafkan adikmu Suri
Sent from my BlackBerry® wireless device
No comments:
Post a Comment