Di sana saya akan menceriterakan dan mengajak diskusi teman-teman dosen dan guru matematika berkaitan dengan perbandingan kurikulum UIN Sunan Kalijaga dan kurikulum luar negeri
Saya membuat 3 pertanyaan utama:
Bagaimana konteks pendidikan guru?
Bagaimana perbandingan struktur kurikulum?
Apa yang dapat kita pelajari dari perbandingan tersebut?
Utk konteks guru, ini utk reviu singkat saja yang intinya, utk menjadi guru, diperlukan usaha serius, karena tugas pengajaran mrp tugas yang kompleks. Guru adalah suatu profesi, artinya pekerjaan guru memerlukan ilmu tersendiri (specialised content knowledge)
Nah mari kita lihat beberapa negara yang saya rangkum dari bbrp tulisan Darling Hammond, pakar pendidikan terkenal di Amerika.
Beberapa negara yang saya sajikan, Prancis, Jerman, Jepang, Taiwan.
Bagaimana dengan Indonesia.
Esensinya ke depan, seseorang utk menjadi guru hrs melewati program PPG.
Selanjutnya saya akan mencoba mencermati struktur kurikulum berbagai negara. Saya mengacu pada satu tulisan Chung and Mu tahun 2010 yang mencoba menganalisis struktur kurikulum 3 negara yaitu USA, Singapore, and Cina.
Seperti itulah kira-kira inti presentasi saya.
Apa target saya? What do I want them to understand?
- pendidikan guru selayaknya jangan terlalu teoretis. Jangan secara terpisah. Perlu integratif. Perlu pemberian pengalaman.
Bagaimana dengan kurikulum UIN.
Bapak Ibu UIN sudah tentu punya pertimbangan khusus. Pikiran saya, berdasarkan eksplorasi saya terhadap sejumlah kurikulum dari sejumlah universitas di luar negeri, mereka juga berbeda-beda. Dan biasanya mrk punya program andalas. Misalna CSU di New South Wales mengandalkan distance learning sehingga teknloginya menunjang.
Sama halnya dh UIN, pasarnya di mana? Banyak institusi pendidikan guru. Kekhasan apa yang dapat ditawarkan oleh UIN dalam hal pendidikan matematika.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
No comments:
Post a Comment